1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 82

Paling Sering Dibaca

Bertolt Brecht dan Keluhan Profetik

Pembaca yang rajin beribadah di gereja dan berteduh setiap hari mungkin terkejut ketika membaca puisi di atas. Judulnya berbunyi ‘Himne kepada Allah’, tetapi isinya jauh dari puji-pujian dan pengagungan akan kebesaran Allah. Dalam puisi itu, kita malah menemukan semacam gugatan atas kebijaksanaan Allah serta eksistensi-Nya. Klaim-klaim teologis tentang kemahakuasaan, kebaikan, serta kedaulatan Allah yang memelihara sejarah, dibenturkannya dengan potret kenyataan yang penuh dengan kemiskinan, penderitaan, dan kematian manusia.

Banyak Orang Menebang Hutan

Saut Situmorang lahir 29 Juni 1966 di sebuah kota kecil di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, tapi ia dibesarkan sebagai “anak kolong” di Asrama Kodam I/Bukit Barisan, Medan Sunggal, Medan. Pendidikan S1 (Sastra Inggris, Film, dan Creative Writing) dan S2 (Sastra Indonesia yang tidak selesai) dilakukannya di Selandia Baru yang menjadi tempat ia hidup merantau sebagai imigran selama 11 tahun. Saut mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia selama beberapa tahun di almamaternya, Victoria University of Wellington dan University of Auckland, Selandia Baru.

Media Kolektif dan Politik Kelas

Media Kolektif dan Politik Kelas

“Sebagai ilmu, senjata utama Marxisme adalah kritik berdasar analisis yang mumpuni: A ruthless criticism of everything existing”

Hutannya Boleh, Orangnya Trada

Kredit ilustrasi: suara dari hati – WordPress.com Sejarah kehutanan negara dan kenyataan pemanfaatan hutan menunjuk pada ketegangan antara negara dan petani tentang akses dan kendali.

Memahami Inflasi Dari Perspektif Marxis

Informasi mengenai inflasi akan selalu penting bagi rakyat pekerja Indonesia. Hal ini disebabkan karena inflasi berkonsekuensi pada kenaikan harga sehingga menyebabkan semakin sulitnya rakyat pekerja Indonesia dalam memenuhi kebutuhan keseharian mereka. Karena inflasi, upah nyata mereka menjadi tergerus sebab harus mengikuti tingkat inflasi ini. Akhirnya, belanja kebutuhan dasar rakyat pekerja harus berkurang dan situasi ini akan membuat terjadinya penurunan kualitas hidup rakyat pekerja itu sendiri. Dari sini kita bisa melihat bahwa inflasi memiliki keterkaitan yang sangat erat bagi kehidupan rakyat pekerja dalam epos kapitalisme sekarang.

Implikasi praktis dari pendekatan Marxian dalam memahami inflasi adalah pentingnya upaya sosialisasi alat produksi dalam mengatasi inflasi. Kegagalan kelas borjuasi untuk meningkatkan nilai kapital konstan membuktikan bahwa dalam konjungtur perkembangan kapitalisme tertentu, kelas borjuasi tidak mampu menjalankan fungsi ‘revolusionernya’ untuk melakukan revolusionarisasi alat produksi. Kegagalan untuk meningkatkan kapasitas alat-alat produksi tersebut berimplikasi secara struktural terhadap seluruh kelas yang hidup dalam kapitalisme. Dalam hal inilah dorongan struktural untuk mengambil-alih alat-alat produksi oleh kelas pekerja dapat merupakan jawaban untuk mengatasi maraknya inflasi.

Mengenang Oey Hay Djoen (1929-2008)

OBITUARI   17 Mei 2008 pagi hari. Telepon berdering. Oom Oey – demikian saya memanggil Oey Hay Djoen – menyapa. Ia memang sering telepon, setidaknya

Masihkah Meragukan Maaf Gus Dur?

MAAF adalah kata yang ringan diucapkan. Saya pernah secara tidak sengaja membaca surat Cecilia, anak saya yang masih kelas 4 Sekolah Dasar. Dia menulis permintaan

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.