Media Kolektif dan Politik Kelas

Media Kolektif dan Politik Kelas
Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Illustruth


KESADARAN politik saya bermula dengan cerita sandal jepit. Pada awal 1990-an, setiap habis makan malam, keluarga saya duduk di depan TV untuk menonton Berita Nusantara yang mengudara setiap hari di satu-satunya TV nasional, TVRI. Seringkali agenda berita ini dibatalkan karena ada pidato presiden Suharto. Saya yang masih anak-anak tidak banyak mengerti apa yang dibahas oleh presiden. Tapi, saya menduga-duga keseriusan isinya bukan dari intonasinya yang monoton, gerak tubuhnya, atau matanya yang merekat erat di kertas yang dibacanya, namun dari jumlah sandal jepit yang bapak saya lempar ke TV.

Hingga meninggal dunia beberapa bulan setelah lengsernya Suharto pada Mei ’98, bapak saya adalah pegawai negeri yang patuh. Tetapi, memori tentang sandal jepit yang melayang selalu menghantui saya. Kenapa bapak saya mendedikasikan hidupnya pada pemimpin yang sepertinya tidak dia sukai? Kenapa dia tidak pernah menunjukan kebenciannya pada rezim Orde Baru di luar rumah? 

Hampir kebanyakan dari kami, anggota dewan redaksi baru IndoPROGRESS, lahir pada zaman Orde Baru. Kami mengalami sendiri bagaimana kekuasaan negara dilancarkan dengan mengeksploitasi perbedaan ras dan gender, perbedaan politik, kekerasan, dan akses pada sumber daya publik yang tidak setara berdasarkan ketaatan pada rezim diktator dan sikap pilih kasih. Salah satu panggung kekuasaan rezim saat itu adalah media massa. Setiap tahun pada bulan September, saya dan anak-anak lainnya diwajibkan menonton film anti-komunis yang penuh kekerasan dan menunjukkan dibunuhnya tujuh jenderal di tangan kelompok komunis. Hanya setelah lengsernya Suharto saya menyadari bahwa narasi tunggal tentang komunisme yang dilancarkan rezim Orba menutupi fakta pembunuhan terhadap setengah sampai satu juta rakyat Indonesia yang dianggap komunis selama 1965-66.

Ketika demonstrasi ’98 terjadi, kebanyakan kami masih anak-anak dan buta politik. Windu Jusuf bercerita ke saya bahwa saat itu dia masih main kelereng dengan teman-temannya. Saya sendiri tetap masuk sekolah karena saya sedang mondok di pesantren. Jika kami tidak ada hubungan dengan partai komunis yang sudah dihabisi pada 65-66—jauh sebelum kami lahir—dan kalau kami besar dengan diindoktrinasi pendidikan dan budaya antikomunis, lalu apa yang membuat kami tertarik dengan Marxisme, yang notabene merupakan sumber pemikiran yang membuahkan politik komunis? Jawabannya sederhana: kami menjadi Marxis karena membaca.

Sebagai pendekatan keilmuan, Marxisme adalah filsafat atau kerangka berpikir yang berdasar pada analisis kelas. Marx sendiri adalah seorang filsuf dan scholar sebelum nantinya menjadi wartawan. Jadi, Marxisme adalah ilmu pengetahuan dan tentunya bukan sekte, kultus, atau bentuk militansi politik yang dogmatis. Sebagai pengetahuan, kerangka berpikir, metode, serta data yang menggunakan pendekatan marxisme tentu bisa diverifikasi dan direplikasi oleh orang lain. Mengapa 153 tahun setelah bukunya berjudul Capital Volume I diterbitkan, pemikiran Marx justru semakin populer saat ini? Itu karena teori dan konsepnya justru semakin relevan hari ini ketika sistem kapitalisme semakin sukses direproduksi secara global. Sebagai ilmu, senjata utama Marxisme adalah kritik berdasar analisis yang mumpuni. A ruthless criticism of everything existing (kritik tajam terhadap segala yang ada) (Marx, 1978: 13) bagi kami termasuk kritik keras dan evaluasi terhadap tradisi Marxisme yang ada dan IndoPROGRESS itu sendiri.

Tidak ada satu pun bidang keilmuan sosial dari sosiologi, sejarah, antropologi, kajian budaya, dan bahkan linguistik yang tidak beririsan dengan pemikiran Marxis dan analisis kelas. Kami melihat ini sebagai salah satu akar masalah mandegnya pengembangan keilmuan di Indonesia. Dengan minimnya akses khalayak luas terhadap bacaan-bacaan Marxis, kita tidak dapat bergulat dalam perdebatan yang sehat tentang keadilan sosial dan demokrasi di Indonesia. Sehingga, politik dan kebijakan pun terus mengeksploitasi kelas pekerja; yang terpinggirkan terus digerus untuk kepentingan kapitalis dan penguasa.

Jadi, daripada dimakan rasa takut akan ‘hantu komunis’, baca, kritik, dan berdebatlah!

Tepat 100 tahun yang lalu, Partai Komunis Hindia melahirkan tradisi komunikasi revolusioner di mana rakyat jelata membahas pemikiran Marxis dan komunis di rapat-rapat umum dan koran. Sebagaimana telah dikemukakan Takashi Shiraishi dan Ruth McVey, tradisi ini kelak melahirkan perjuangan anti-kolonial yang populer dan ide-ide kemerdekaan (Shiraishi, 1990; McVey, 1965). Propaganda anti-komunis harus dilawan bukan hanya karena menyebarkan kebohongan, tetapi juga karena wataknya yang anti-intelektual.

Untuk mengisi kebutuhan di atas, IndoPROGRESS hadir sebagai media intelektual pengembangan pemikiran Marxis dan analisis kelas yang berdasar pada kondisi ekonomi politik di Indonesia. Pengembangan pengetahuan Marxis dan analisis kelas bagi kami harus berkaitan erat dengan gerakan kelas. Begitu juga, gerakan kelas yang radikal harus terus dibimbing oleh analisis dan kritik. Dalam sejarahnya, tradisi media radikal (radical media) atau media alternatif memiliki peran utama dalam memotori gerakan sosial. John Downing mendefinisikan konsep media radikal sebagai media “yang mengekspresikan visi alternatif dari kebijakan, prioritas, dan perspektif [kelas] yang hegemonik”. Media ini menjadi media alternatif karena bertujuan khusus merespons kekuasaan yang menindas dan menyediakan wahana kreatif untuk orang-orang yang termajinalkan, baik untuk membantu mereka memahami struktur kekuasaan yang opresif maupun menyediakan platform untuk mengekspresikan suara dan tuntutannya.

Dalam praktiknya, media radikal memiliki struktur organisasi yang beragam. Setidaknya ada tiga macam sumber pendanaan, yakni pemerintah, seperti Telesur yang dibiayai oleh Venezuela dan Al-Jazeera oleh Qatar; berlangganan, seperti Monthly Review, Socialist Register, Historical Materialism, dan koran Sinar Hindia 1918-1926; dan yayasan atau LSM, seperti majalah Prisma dan Jurnal Perempuan. Tentu ada juga sumber tradisional yaitu dengan menggunakan iklan yang dalam era digital dapat dialihfungsikan untuk membiayai kerja-kerja gerakan. Sumber-sumber ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Tantangan paling besar untuk media radikal adalah memastikan kebebasan dan kemandirian bersuara apapun sumbernya. IndoPROGRESS hingga saat ini tidak dibiayai oleh pihak manapun. Kami menerima donasi secara sporadis dari pembaca untuk membiayai hal-hal teknis; sementara seluruh operasi editorial dilakukan secara sukarela. Ada beberapa media serupa seperti Jadaliyya, sebuah ezine independen yang fokus pada isu Palestina dan kajian Timur Tengah, yang diproduksi oleh para editornya secara sukarela. Namun, kami tetap membuka kemungkinan adanya sumber pendanaan baru.

Sebagai media alternatif, kami mengadopsi sistem kerja kolektif. Kami melihat media sebagai the commons (milik bersama). Sistem ini menjadi kompas dalam memutuskan bentuk organisasi dan alur kerja. Kami terus bereksperimen untuk memastikan kebutuhan awak redaksi terpenuhi seraya tetap berdiri pada nilai-nilai demokratis. Karena dilakukan secara sukarela, kerja-kerja tiap editor IndoPROGRESS seringkali dilakukan dalam ruang dan waktu pekerjaan formal mereka, termasuk pada malam hari dan akhir pekan ketika seharusnya mereka beristirahat. Dalam kesehariannya, dapur redaksi berjalan seringkali dengan kerja-kerja butuh konsentrasi yang monoton, yang menghirup tenaga, pikiran, dan waktu. Kerja-kerja untuk IndoPROGRESS ini dipersembahkan semata-mata untuk tujuan pengembangan ilmu dan politik kelas di atas. Mengutip Jodi Dean, perjuangan kelas adalah infrastruktur afektif (affective infrastructure) yang memberikan daya dorong kepada kerja kolektif ini. Memahami kerja-kerja ini dari kacamata labor membantu kita untuk tidak meromantisir aktivisme.

Kebanyakan dari kami telah lama aktif di IndoPROGRESS, terutama sejak 2012 ketika IndoPROGRESS mengadopsi situsweb baru. Beberapa dari kami bergabung dalam kanal-kanal khusus seperti Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS (LKIP) dan Left Book Review (LBR). Latar belakang kami beragam: ada wartawan, dosen, peneliti, rohaniawan, astronom, seniman, desainer, hingga mahasiswa. Sejak Januari 2020 ini, praktis kerja-kerja harian dipegang penuh oleh generasi baru dengan anggota Fathimah Fildzah Izzati, Windu Jusuf, Iqra Anugrah, Daniel Sihombing, Rio Apinino, dan Tri Astraatmadja. Kerja-kerja editorial IndoPROGRESS juga didukung oleh tiga ilustrator handal: Deadnauval, Illustruth, dan Jonpey.

Akhir kata, terima kasih kami haturkan kepada Coen Pontoh, Sari Safitri Mohan, dan Alit Ambara yang telah melahirkan dan membesarkan IndoPROGRESS.

A luta continua.***


×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus