
Refleksi Peristiwa 27 Juli 1996, Sebuah Catatan
Foto: Utara Times PAGI ITU, sekitar pukul 05.30 pagi, aku terbangun karena suasana terdengar agak gaduh dan tegang. Beberapa kawan yang tidur di sebelahku juga

Foto: Utara Times PAGI ITU, sekitar pukul 05.30 pagi, aku terbangun karena suasana terdengar agak gaduh dan tegang. Beberapa kawan yang tidur di sebelahku juga

Kredit ilustrasi: Monthly Review I. Melawan Penyimpangan sosial-demokratik Pada akhir 1874, sebuah berita surat kabar diterima Marx yang mengabarkan bahwa Asosiasi Umum Buruh Jerman, yang

KEHADIRAN Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai partai baru peserta pemilihan umum (pemilu) 2019 yang mengusung jargon ‘partai politik milenial’ menarik perbincangan publik karena bagi sebagian

Tapi ini bukan Putri Marino, ini Denny J.A.

Kredit ilustrasi: suara dari hati – WordPress.com Sejarah kehutanan negara dan kenyataan pemanfaatan hutan menunjuk pada ketegangan antara negara dan petani tentang akses dan kendali.

APA BEDANYA hasil dari mesin fotokopi dan pemikir? Kebaruan, kata Martin Suryajaya. Yang baru hanya muncul dari pemikiran. Menjadi pemikir berarti harus dapat melampaui kemampuan mesin fotokopi dalam sekadar mereproduksi. Menurut Martin, menjadi Marxis berarti berani menjadi pemikir. Tantangan yang diajukan Martin bukan perkara sepele. Sebagai pemikir, para Marxis harus mampu memunculkan hal-hal baru karena apabila tidak; apabila kita hanya mengulang-ulang apa yang sudah dikatakan Marx, maka mesin fotokopi jelas lebih Marxis ketimbang siapa pun karena kesanggupannya mengulang-ulang secara sempurna.

“Sebagai ilmu, senjata utama Marxisme adalah kritik berdasar analisis yang mumpuni: A ruthless criticism of everything existing”

TESIS utama buku Martin Suryajaya yang berjudul Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer adalah materialisme dialektis atau ekonomi sebagai satu-satunya epistemologi atau teori pengetahuan Marxisme yang sahih di mana setiap pemikiran yang mengklaim diri Marxis harus lulus dari ujian epistemologi dan metodologi materialisme dialektis atau ekonomi. Dengan kata lain, Materialisme Dialektis adalah rekonstruksi ulang teori pengetahuan Marxisme yang dicetuskan Vladimir I. Lenin lewat Materialisme dan Empirio-Kritisisme dengan memanfaatkan pemikiran Quentin Meillassoux dan Bertrand Russell.

TAHUN 2005, antara bulan Mei-Juli, saya berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Sekedar mencari tahu cerita yang pernah diceritakan oleh Mohamad Charis (Kakek dari pihak
Informasi mengenai inflasi akan selalu penting bagi rakyat pekerja Indonesia. Hal ini disebabkan karena inflasi berkonsekuensi pada kenaikan harga sehingga menyebabkan semakin sulitnya rakyat pekerja Indonesia dalam memenuhi kebutuhan keseharian mereka. Karena inflasi, upah nyata mereka menjadi tergerus sebab harus mengikuti tingkat inflasi ini. Akhirnya, belanja kebutuhan dasar rakyat pekerja harus berkurang dan situasi ini akan membuat terjadinya penurunan kualitas hidup rakyat pekerja itu sendiri. Dari sini kita bisa melihat bahwa inflasi memiliki keterkaitan yang sangat erat bagi kehidupan rakyat pekerja dalam epos kapitalisme sekarang.
Implikasi praktis dari pendekatan Marxian dalam memahami inflasi adalah pentingnya upaya sosialisasi alat produksi dalam mengatasi inflasi. Kegagalan kelas borjuasi untuk meningkatkan nilai kapital konstan membuktikan bahwa dalam konjungtur perkembangan kapitalisme tertentu, kelas borjuasi tidak mampu menjalankan fungsi ‘revolusionernya’ untuk melakukan revolusionarisasi alat produksi. Kegagalan untuk meningkatkan kapasitas alat-alat produksi tersebut berimplikasi secara struktural terhadap seluruh kelas yang hidup dalam kapitalisme. Dalam hal inilah dorongan struktural untuk mengambil-alih alat-alat produksi oleh kelas pekerja dapat merupakan jawaban untuk mengatasi maraknya inflasi.

“Rosa Luxemburg adalah seorang kosmopolit dari masa depan. Ia mengaku kerasan “di seluruh pojok dunia, di mana pun ada awan dan burung dan air mata manusia.” Ia penggila botani dan sangat mencintai hewan. Surat-surat Rosa ditulis oleh seorang perempuan yang memiliki kepekaan luar biasa, dengan jati dirinya yang tetap utuh di tengah sederet pengalaman pahit.”

Kredit foto: Public Seminar Pada musim semi 1861, politik dunia diguncang oleh pecahnya Perang Saudara di Amerika Serikat. Perang itu meletus tak lama setelah Abraham
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.