Korona dan Kuba

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh Atalayar.com


BEBERAPA bulan terakhir manusia dihadapkan oleh kenyataan bahwa dirinya tak sekuat yang dibayangkan selama ribuan tahun. Suatu kekuatan tak kasat mata yang enggan diusir lewat mantra dan jampi-jampi kini berdiri di ambang pintu peradabannya. Virus. Ia pernah menghantui bumi beberapa kali dengan berbagai wujudnya, namun tak semengerikan hari ini. Sampai tulisan ini diketik, virus korona yang sempat diremehkan mulai unjuk gigi menampar keangkuhan manusia dengan mencabut puluhan ribu nyawa. Generasi ini menyaksikan langsung kekuatannya yang menyapu berbagai ibukota dunia, yang biasanya bergelimangan cahaya lampu kini bagaikan kota hantu. Sihirnya memblejeti kemahsyuran kapitalisme. Perekonomian dan panggung politik makin terguncang, dan rakyat pekerjalah yang tetap terkena imbasnya.

Ketika segenap penduduk bumi bersiaga, negara-negara mulai kewalahan dengan jumlah korban jiwa, satu negara pulau di sebelah utara Karibia tak gentar dan malah berani ambil sikap. Pertengahan Maret 2020, kapal pesiar MS Braemar dari Britania Raya dengan kurang lebih 700 penumpangnya ditolak merapat di setiap pelabuhan di kepulauan Karibia karena diduga membawa penumpang yang terinfeksi virus korona. Aneh tapi nyata, Kuba malah mempersilahkan kapal tersebut bersandar di Havana. Selain membantu evakuasi mereka pun mengirimkan tenaga medis untuk menanganinya. Setelah itu mereka bahkan menerbangkan tenaga medisnya ke Italia dan Spanyol.

Mengapa mesti Kuba, negara komunis yang menjadi momok di belahan benua Amerika selama hampir lebih dari setengah abad terakhir ini, yang melakukan misi-misi kemanusiaan ini? Dalam kesempatan ini, saya akan mencoba menjawab dengan sedikit obrolan soal sistem kesehatan di negara asal duo kakak beradik Fidel dan Raul Castro yang legendaris itu.

Wajah Kuba yang kita kenal hari ini merupakan hasil riasan mereka yang berjuang dalam Movimiento 26 de Julio atau Gerakan 26 Juli pada pertengahan 1950-an yang diinisiasi oleh Fidel Castro dan kawan-kawannya. Setelah revolusi diraih, mereka bersama seorang dokter Argentina bernama Ernesto Guevara merombak negara dari nol. Bukan hanya menasionalisasi alat-alat produksi dan mencanangkan reforma agraria, pemerintah revolusioner ternyata menjadikan sistem perawatan kesehatan universal sebagai prioritas perencanaan pembangunan. Che Guevara melalui pidatonya On Revolutionary Medicine tahun 1960 menyerukan “Pekerjaan yang hari ini dipercayakan kepada Kementerian Kesehatan dan organisasinya yaitu menyediakan pelayanan kesehatan masyarakat untuk sebanyak-banyaknya orang, menyusun program kesehatan yang bersifat preventif, dan berorientasi kepada masyarakat dengan pelaksanaan praktik higienis.” Seusai mangkatnya sang dokter revolusioner itu, Fidel dan para kameradnya mulai menerapkan suatu sistem pelayanan kesehatan yang unik dibandingkan dengan negara lainnya di Karibia dan Amerika Latin.

Mulai dari 1960 hingga 1969 lewat komite khusus serta Kementerian Kesehatannya, Kuba mulai membangun pusat kesehatan desa yang berfokus pada kegiatan preventif dan promotif. Antara lain perawatan ibu, kesehatan anak dan pengendalian penyakit menular. Lewat vaksinasi, imunisasi, dan edukasi, pada 1963 Kuba berhasil memberantas polio. Disusul pemberantasan malaria pada 1968 serta difteri, lalu tetanus dan rabies pada akhir tahun 1970. Selanjutnya, Kuba mulai mengembangkan poliklinik pada setiap provinsi yang mana dilengkapi petugas kesehatan mulai dari dokter yang khususnya spesialis dalam pediatri, kesehatan internal, ginekologi dan obstetri. Berkat ini Kuba mengurangi tingkat kematian anak karena gastroenteritis dari 4.157 jiwa pada 1962 hingga hanya 761 saja pada tahun 1975.

Pemerintah pun melengkapi sistem kesehatan yang berpusat pada poliklinik dengan sistem personal berbasiskan komunitas sejak tahun 1984. Model perawatan berorientasi pada komunitas ini membuat sistem kesehatan lebih rasional dan secara sosial relevan untuk masyarakat Kuba saat itu. Model ini memanfaatkan para ahli yang mampu mengkombinasikan kompetensi dalam bidang perawatan, pencegahan penyakit, epidemiologi, etika, dan sains tentang perilaku manusia.

Di sinilah keunikan sistem kesehatan di Kuba, yaitu bentuk pelayanan kesehatan dengan menghadirkan ratusan poliklinik yang bekerjasama dengan sistem dokter keluarga di setiap komunitas warga untuk pencegahan penyakit dan melayani mereka yang terpencil. Sistem ini memiliki tingkatan dalam sistem kesehatan nasionalnya yang terdiri dari komunitas yang merupakan kumpulan dari individual dan keluarga, tim dokter dan perawat keluarga, tim kerjasama, poliklinik komunitas, serta rumah sakit dan institusi kesehatan.

Sejalan dengan apa yang disampaikan sang commandante sebelumnya, di Kuba haruslah terdapat para dokter serta perawat yang tinggal di antara komunitas alias calon pasiennya. Dengan demikian, mereka akan lebih mengenal lebih dekat satu dengan yang lain dan memudahkan kegiatan preventif serta promotif kesehatan warga, khususnya dalam menghadapi wabah penyakit.

Tak berhenti di sana, pada tahun 1998 Kuba mendirikan Escuela Latinoamericana de Medicina (ELAM) atau Sekolah Kedokteran Latin Amerika yang merupakan sekolah kedokteran terbesar di dunia dengan hampir 20.000 pelajar dari 110 negara di dunia belajar secara gratis. Inilah salah satu alasan Kuba surplus tenaga medis sehingga mampu mengirimkan ratusan dokter ke setiap penjuru dunia. Lantas apa yang bisa kita pelajari dari negerinya para commandante ini?

Pertama, tentu saja sebuah ungkapan lama yang rupanya masih saja relevan. Sedia payung sebelum hujan dan mencegah lebih baik ketimbang mengobati. Ini yang diantisipasi oleh Kuba sejak awal, menyadari bahwa kehidupan, khususnya kesehatan tak pernah dapat diprediksi maka mereka mempertimbangkan kemungkinan terburuk dengan menempatkan aspek kesehatan sebagai prioritas. Dalam masyarakat sederhana atau yang disebut pra-industri, kebiasaan modern perawatan rutin mesin pabrik, perbaikan berkala kendaraan bermotor atau renovasi bangunan belum menjadi prioritas. Sehingga perawatan kesehatan atau upaya pencegahan penyakit pun bukanlah hal yang penting dalam kehidupan masyarakat pra-industri. Begitu pun di Kuba sebelum revolusi, saat tingkat kematian masih tinggi dan harapan hidup masih rendah. Warga tak mampu mendapatkan akses kesehatan, ditambah lagi pengetahuan kesehatan modern masih minim. Selepas revolusi hal itu diperbaiki dengan mengirimkan tenaga medis ke pelosok pulau untuk melakukan kegiatan preventif dan promotif. Namun mengirimkan para ahli ke kampung-kampung tidaklah serta merta membuat perubahan pemahaman warga akan pentingnya kesehatan, lalu bagaimana cara mereka sehingga berhasil meyakinkan warga?

Kuncinya, dan ini merupakan poin kedua dari refleksi kita soal hak atas kesehatan di Kuba, adalah koordinasi dan komunikasi dengan warga. Dalam pemahaman serta pengobatan penyakit, setiap masyarakat memiliki sistem medis beragam termasuk sistem medis non-Barat. Karenanya, terkadang sistem medis modern sulit diterima oleh warga lokal. Bagaimana Kuba melampaui halangan ini? Yaitu dengan menyusun struktur koordinasi yang telah saya ceritakan di atas, sehingga kebijakan medis yang dipercayakan kepada petugas medis bisa sampai dan diterapkan kepada setiap warga bahkan dalam tingkatan RT atau RW setempat. Dengan menerapkan sistem dokter keluarga yang menempatkan para dokter dan perawat di desa-desa, perlahan mereka akan mengenal satu sama lain. Sehingga petugas kesehatan akan memahami kesehatan warga secara mendalam dan warga pun akan terbuka kepada mereka serta mendengarkan setiap arahan mereka dalam rangka pencegahan penyakit. Maka bukanlah hal yang sulit bagi pemerintah Kuba menjalankan kebijakan sistem kesehatan universalnya, khususnya dalam kegiatan preventif dan promotif. Lantas apa sesungguhnya tujuan Kuba memprioritaskan kesehatan warganya?

Jawabannya terdapat pada poin ketiga, bahwa manusia lebih penting ketimbang kapital atau keuntungan semata. Sejak semula cara berpikir realistis ini sudah diterapkan, bahwa ekonomi tidak dapat berjalan dengan sendirinya tanpa manusia yang menjadi agennya. Bahkan sebelum deklarasi Alma-Ata, Kuba telah menerapkan kesehatan universal, yaitu suatu kewajiban kepada setiap pemerintah, pekerja medis, dan komunitas dunia untuk melindungi serta mempromosikan kesehatan kepada setiap orang. Di sini Anda mungkin akan mengajukan pertanyaan mana yang lebih dulu ayam atau telur. Bukankah keuntungan lebih penting dan kapital dapat menyelamatkan umat manusia? Atau bukankah manusia lebih penting ketimbang keuntungan semata? Di sinilah letak kegalauan mereka yang terjebak dalam ilusi borjuis.

Aristoteles dalam karyanya Politics menjelaskan definisi oikonomike atau ekonomi merupakan ilmu pengelolaan rumah tangga, yang tak lain berkenaan dengan soal pemenuhan alamiah kebutuhan hidup manusia. Hari ini kita dikaburkan oleh kabut pengertian ekonomi era kapitalisme yang meyakinkan kita bahwa ekonomi adalah perkara akumulasi keuntungan lewat perdagangan.

Namun, ekonomi bukan selalu soal untung rugi dan merkantilisme. Ekonomi lebih substantif dari itu, yaitu soal pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat lewat produksi pangan, sandang, dan papan. Apabila definisi ekonomi sesuai dengan apa yang diterangkan Aristoteles maka tepatlah jika manusialah yang merupakan prakondisi dari adanya ekonomi itu sendiri, sehingga kelangsungan hidup manusia lebih prioritas ketimbang kelangsungan akumulasi kapital. Sebab robot Sophia nampaknya akan kewalahan dalam hal menanam dan memanen padi atau mengakali mesin yang rusak di pabrik sambil membaca dinamika pasar modal.

Inilah cara berpikir realistis yang dianut pemerintahan Kuba dalam menghadapi ketidakpastian negaranya kala itu di tengah badai perang dingin. Bahwa satu jiwa manusia lebih berharga ketimbang kekayaan milik orang terkaya di dunia dan prinsip inilah yang selalu dipegang oleh sebagian besar dokter serta perawat di Kuba sampai hari ini.

Tak bisa dipungkiri, memang masih banyak kekurangan yang dimiliki Kuba dan beberapa informasi yang tidak kita ketahui. Salah satunya dari masih kurangnya ketersediaan infrastruktur, ketersediaan obat-obatan yang memadai dan rendahnya penghasilan tenaga medis sehingga mereka dengan senang hati dikirim ke luar negeri dengan harapan mendapatkan uang lebih untuk keluarga atau bahkan lebih ekstrimnya untuk melarikan diri dari Kuba. Kita mengetahui bahwa hampir setiap negara memiliki logika untuk mempertahankan eksistensinya. Mulai dari instrumen-instrumen seperti peraturan yang sifatnya memaksa hingga penggunaan kekerasan. Saya pikir ini yang sedang dilakukan pemerintah Kuba sebagai sebuah negara, terhadap Amerika Serikat mereka tak gentar namun kepada kritik rakyatnya mereka gemetar. Terlepas dari pro kontra itu, kita mesti fokus kepada hal yang patut kita pelajari, yaitu bagaimana sistem kesehatan yang mereka terapkan dan pendekatannya kepada setiap warga. Sistem kesehatan yang memungkinkan Kuba dapat ikut berkontribusi kepada dunia dan membuktikan bahwa mereka tak bisa dipandang sebelah mata.

Kali ini, tulisan sederhana ini saya dedikasikan untuk para dokter, perawat, relawan serta semua petugas medis di nusantara dan seluruh dunia. Juga untuk mereka yang telah gugur dan mereka yang hari ini masih berperang melawan korona. Supaya lewat mereka kita belajar bahwa hidup manusia mesti diperjuangkan dan supaya lewat Kuba kita belajar bagaimana materialisme dialektis dan historis masih relevan bahkan pada akhirnya dapat berguna untuk kemanusiaan. Sejalan dengan seruan Che Guevara dalam pidatonya: cara terbaik dalam menunjukan sesuatu adalah dengan melakukannya.***

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.