
Pemekaran dan Proses Pemusnahan Manusia Papua Melalui Pendidikan
”Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa

”Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa

“Setelah tragedi 1965, ratusan orang yang sedang ditugaskan pemerintah Sukarno untuk sekolah, bekerja maupun melakukan lawatan dinas di luar negeri terhalang pulang. Paspor mereka dicabut dan akses komunikasi ke dalam negeri, bahkan untuk berhubungan dengan keluarga pun, diputus. Melalui wawancara dengan Agam Wispi, seorang penyair terkemuka, para pembaca diajak menelusuri sejarah tragedi ’65, bukan dari angka dan fakta-fakta besar, tetapi dari pengalaman pribadi yang sarat rasa dan asa. Bagaimana bentuk pencarian identitas sebagai “eksil” setelah tercerabut dari ‘akar’? Bagaimana pengalaman ini dituangkan dalam karya sastra, terutama “karya sastra eksil”, dan apa pengaruhnya dalam eksperimen bentuk dan isi? Juga, bagaimana imajinasi, frustrasi, dan harapan seorang eksil tentang “Indonesia”, “tanah air”, “masa lalu”, dan “kekinian”?”

Foto: Goodreads SAYA ingin menulis obituari untuk Daniel Dhakdiae, seorang Flores yang baru saja meninggalkan dunia untuk selamanyapada 6 April 2021 dalam usia ke-76, yang mungkin berbeda. Semua obituari yang

Judul buku : Ekonomi Revolusi Che Guevara Penulis : Helen Yaffe Penerjemah : Ronny Agustinus Penerbit : Marjin Kiri, Tangerang, 2015 Tebal

Saya wajib cemas mengingat Jokowi baru saja nge-prank kita dengan menaikkan kembali BPJS Kesehatan.

TULISAN kecil ini sengaja dimulai dari sebuah pertanyaan tentang kegunaan mendasar ilmu sosial (termasuk juga ilmu-ilmu keagamaan). Kenapa? Ada dua alasan yang ingin dikemukakan di

SECARA sederhana, arti demokrasi adalah partisipasi luas publik. Membicarakan demokrasi yang menyangkut dengan keikutsertaan warga di dalamnya, menjadi landasan yang penting. Karena demokrasi sejatinya tidak

Kredit foto: Media Indonesia PADA 28 Januari 2018 lalu, sebuah kegiatan sosial jemaat Gereja Santo Paulus di Bantul, Yogyakarta, dihentikan oleh sejumlah orang dengan
‘REVOLUSI bukan sebuah acara makan malam,’ begitu kata Mao Zedong. Dan Rakyat Mesir sekarang memahami benar pernyataan Mao ini. Revolusi Mesir memang bukan sesuatu yang menyenangkan bagi siapapun yang menginginkan kenyamanan, layaknya acara makan malam. Ketika banyak kalangan aktivis kini mengamini begitu saja pernyataan Emma Goldman mengenai ‘revolusi sebagai tempat kita menari,’[1] maka Rakyat Mesir mengambil jalan yang sungguh tidak nyaman dalam membangun revolusinya sendiri. Revolusi mereka bukan parade bersenang-senang di jalan, sambil meneriakkan slogan anti pemerintah dengan harapan bisa dengan tenang kembali ke kondisi rutin masing-masing di keesokan harinya. Revolusi Rakyat Mesir justru mengajukan problem revolusioner paling rumit untuk dijawab oleh siapapun yang menghendaki revolusi sekarang: ‘apa yang akan terjadi di esok pagi setelah mobilisasi popular ini usai?’

Kredit foto: Tirto (Cerita Pribadi tentang Kapitalisme di Sekolah dan Kampus di Flores) PADA masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda dulu, pernah ada pengumuman di

Dengan demikian, kita yang mempelajari Marxisme mesti belajar banyak dari sepenggal cerita dari negeri sakura tersebut, bahwa gerak dan perubahan merupakan sebuah kepastian karena jika kita tetap nyaman dengan dongeng heroik dan dogma, tentu saja kita akan tersapu zaman dalam kegamangan bagaikan ronin atau samurai tak bertuan.

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) LEDAKAN bom di Surabaya pada 13 Mei 2018 membuka kembali ingatan 20 tahun lalu di Jakarta. Persis 13-14 Mei
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.