1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 56

Paling Sering Dibaca

Siapakah Yang Sampah? Komunisme atau Fasisme?

Jawaban untuk Sastro Al-Ngatawi   “KAOEM IGAMA! Partij Komunis Indonesia tidak memoesoehi Igama jg. Bagaimanapoen bentoeknja. Djangan pertjaja kepada Provocatie dari imperialis-Belanda dan fascist Djepang”

Memahami ‘Kelas Menengah’ Indonesia

ARTIKEL Made Supriatma, Hipokrisi Kelas Menengah, kembali menguak perhatian kita perihal status kelas menengah Indonesia. Made secara jenaka mengungkap kemunafikan ‘kelas menengah’ Indonesia yang lebih

Politik Kelas vs Politik Identitas

MOMEN kontestasi Pilkada DKI kini memasuki putaran yang makin garing, yakni bergulirnya kembali sentimen SARA setelah sebelumnya tertimbun oleh isu ketidakadilan sosial dan diskriminasi yang

Ustadz dan Muslim Tanpa Pesantren

SANGAT mungkin pasar ‘profesi’ ustadz diramaikan oleh calon da’i otodidak yang sumber keilmuannya didapat dari buku-buku Islam berbahasa Indonesia. Dalam dunia industri media (baca: komersialisasi budaya pop) hukum pasar adalah norma tertingginya. Asalkan sang ustadz bisa menyampaikan dakwah secara menarik dan menghibur, ia akan diterima pasar. Apakah ia benar-benar paham pesannya sendiri, tak jadi soal. Oleh karenanya, istilah ustadz selebriti, ustad gaul, bahkan ustadz cinta kian tak terelakkan. Dengan sendirinya, media menjelma pasar yang menggiurkan bagi banyak calon da’i untuk berlomba-lomba menjadi ustadz, karena keuntungan material-duniawi yang dijanjikan maupun popularitas yang ia dapatkan. Profesi ustadz dengan sendirinya harus tunduk pada hukum pasar yang berlaku, dan oleh karena itu, ia disejajarkan dengan profesi artis dalam televisi.

Negara dan HAM: Satu Perjuangan Politik

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)   Tanggapan untuk Umi Ma’rufah MEMBACA tanggapan Umi Ma’rufah (selanjutnya Umi), saya ragu hendak mulai menanggapi dari mana? Karena semua

Jalan Berliku Para Elite Papua

Eliezer Jan Bonay di rumahnya di Kota Wijhe, 31 Desember 1988. Kredit foto: John Rumbiak/ Suara Papua Nomor 5, Maret/April 1990/dokumentasi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda

Pembangunan dan Perebutan Ruang Kota

Perebutan ruang kota, sebagai ruang hidup bagi rakyat miskin, memang merupakan lakon utama dalam proses pembangunan kota. Meningkatnya intensitas penetrasi kapital ke dalam ruang-ruang publik, termasuk yang ada di dalam kota, menjadi faktor utama di era MP3EI (Master Plan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia). Pembangunan infrastruktur (termasuk jalan, dll.) demi memuluskan investasi menjadi prioritas dalam MP3EI. Hal ini tentu berkonsekuensi langsung pada perebutan ruang, termasuk ruang kota. Baru-baru ini, misalnya, saya ikut terlibat aktif dalam advokasi penggusuran paksa para pedagang stasiun Jabodetabek yang dilancarkan oleh PT KAI dalam rangka privatisasi transportasi publik demi kelancaran proyek MP3EI. Perebutan ruang nampak jelas di sana. Paradigma pembangunan ala Orde Baru Soeharto, nampaknya masih menjadi satu-satunya paradigma hingga saat ini, termasuk dalam hal penataan ruang kota.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.