Memahami ‘Kelas Menengah’ Indonesia

Print Friendly, PDF & Email

ARTIKEL Made Supriatma, Hipokrisi Kelas Menengah, kembali menguak perhatian kita perihal status kelas menengah Indonesia. Made secara jenaka mengungkap kemunafikan ‘kelas menengah’ Indonesia yang lebih banyak muncul sebagai kolektif sosial yang “sombong” (snob), yang hendak membedakan dirinya dengan kondisi masyarakat Indonesia kebanyakan. Pembedaan mereka terhadap yang lain merupakan upaya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah entitas yang terpenting yang ada dalam masyarakat. Padahal, kalau diperhatikan secara seksama, justru banyak aktivitas mereka sangat membutuhkan keberadaan kalangan kelas menengah ke bawah. Disinilah Made secara cermat menunjukkan kemunafikan kelas menengah: karena anggapan bahwa mereka ada sebagai posisi kelas yang khusus termentahkan semenjak mereka juga tetap membutuhkan keberadaan entitas sosial yang lain.

Penjelasan ini, bagi saya, berkontribusi penting untuk memajukan pengetahuan kelas pekerja yang membutuhkan penjelasan mengenai mengapa ‘kelas menengah’ sangat mudah untuk bersikap tidak peduli dan sangat narsis secara sosial. Namun, presentasi seperti ini saya pikir tidak mencukupi. Eksposisi analisa kelas yang digunakan Made sangat terbatas dalam kerangka ‘status sebagai kelas sosial’ Weberian, dimana posisi kelas dipahami sejauh apa yang dikonsumsinya. Posisi analitis ini membuat absennya penjelasan mengenai apa kondisi material yang membuat ‘kelas menengah’ dapat mewujudkan dirinya dalam bentuknya yang ada sekarang selain karena status konsumsi mereka. Problem ini penting diajukan mengingat eksposisi berbasis ‘status sebagai kelas sosial’ berpotensi untuk mengabaikan dimensi relasionalitas dalam kelas itu sendiri, dimana suatu posisi kelas dapat dijelaskan terpisah (atau otonom) dengan posisi kelas yang lain yang akhirnya mereduksi kelas sebagai kategori deskriptif yang statis. Selain itu, posisi ini juga membuat kesadaran adalah konsekuensi otomatis dari status yang dimiliki. Implikasi dari argumen ini adalah kemunafikan ‘kelas menengah’ adalah inheren dalam kategori ‘kelas menengah’ itu sendiri. Suatu posisi argumen yang, menurut saya, fatalis karena justru menutup kemungkinan bagi perubahan kesadaran mereka yang dianggap sebagai ‘kelas menengah’.

Untuk mengatasi problem ini, menjadi penting untuk mengajukan posisi teoritis analisa kelas yang lain, yang memperhatikan secara eksplisit relasi antar kelas-kelas sosial yang ada. Alih-alih melihatnya secara terisolir sebagai pengkondisian status qua konsumsi, kelas justru perlu diperiksa mendalam dalam kaitannya dengan dinamika ekonomi politik kapitalisme. Kontradiksi dalam aras produksi antara kapital dengan kerja (labor) menjadi fondasi relasi yang memungkinkan keberadaan serta kesadaran kelas-kelas sosial sekarang. Disinilah kita bisa melihat serta memahami kelas sebagai suatu proses yang dinamis dan selalu berubah, dan ‘kelas menengah’ salah satunya.

 

Kelas dan Kesadaran Kelas dalam Kapitalisme

Sebelum memeriksa bagaimana ‘kelas menengah’ Indonesia, kita perlu melakukan klarifikasi terlebih dahulu bagaimana kelas sebagai kategori sosial dapat dipahami. Kelas, sebagaimana kita ketahui, ada sebagai posisi kolektif yang ditempati individu dalam konteks sosio-ekonomi tertentu. Karena konteks ini, kelas sosial memiliki stratifikasi dimana terdapat golongan yang memiliki banyak atau berlimpah sumber daya ekonomi serta golongan yang memiliki tidak banyak atau sedikit sumber daya ekonomi.

Hal lain yang perlu diperhatikan dari stratifikasi ini adalah posisi kelas-kelas sosial tidak berdiri terpisah antara satu dengan yang lain. Dengan kata lain, suatu posisi kelas hanya dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan posisi kelas yang lain. Kelas bawah hanya dapat dikatakan bawah karena ada kelas atas, dan begitu juga sebaliknya. Disinilah kelas muncul sebagai suatu kategori yang relasional.

Dalam konteks sosio-ekonomi kapitalistik, tendensi umum dalam relasi yang menciptakan stratifikasi kelas sosial tentu saja adalah relasi produksi yang tidak terdamaikan antara kapital dengan kerja. Antagonisme ini membuat keberadaan antara satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan. Secara empirik, relasi ini dapat dilihat dalam relasi upahan antara kapitalis dengan pekerja. Kapitalis atau pihak pemilik kapital hanya akan dapat berkembang jika ia melakukan eksploitasi atas pekerja; kelas pekerja hanya dapat ada sejauh ia bekerja dalam relasi produksi yang eksploitatif yang dikuasi oleh pihak kapitalis. Dalam hal ini, terdapat kondisi objektif produksi yang mengondisikan terciptanya kelas-kelas sosial dalam masyarakat sekarang.

Akan tetapi proposisi ini belum berarti mencukupi. Suatu kelas hanya dapat dikatakan sebagai kelas sejauh individu-individu yang ada dalam relasi yang ada muncul sebagai kolektif yang memiliki kesadaran kelas. Oleh karenanya, kondisi objektif produksi harus diiringi dengan proses subjektif, dimana para pekerja mulai mengorganisasikan diri mereka sebagai satu entitas kelas pekerja yang memposisikan dirinya berseberangan secara kepentingan dengan kelas kapitalis. Hal ini dimungkinkan karena kondisi objektif dimana proses produksi dalam kapitalisme berlangsung secara massif dan mensyaratkan keberadaan banyak pekerja dalam ruang dan waktu yang sama, memfasilitasi proses berbagi pengalaman antar pekerja yang akhirnya menciptakan kesamaan pengalaman serta kesadaran di antara mereka.

Dalam tradisi Marxian, keterorganisiran ini sangat menentukan. Semakin kuat organisasi kelas pekerja, semakin kuat pula kapasitas mereka dalam mengubah situasi hidup mereka. Marx mengajukan proposisi kelas dalam-dirinya-sendiri (class in-itself) dan kelas untuk-dirinya-sendiri (class for-itself). Kelas dalam dirinya sendiri ketika mereka secara kolektif memperjuangkan kepentingan normatif, seperti upah dan kondisi kerja, melawan kelas kapitalis di tempat kerjanya. Sementara kelas untuk-dirinya-sendiri dimana organisasi kelas pekerja mulai memperjuangkan kepentingan luas kelas pekerja yang berhadapan dengan kekuasaan kelas kapitalis

Apa yang hendak dikemukakan dalam argumen ini adalah posisi kelas pekerja dalam kondisi objektif tidak melulu mensyaratkan adanya kesadaran kelas. Premis ini menjadi penting karena banyak kalangan yang menganggap bawa posisi kelas dengan kesadaran kelas adalah suatu hal yang sifatnya terberi dan otomatis dari kondisi objektif yang ada. Oleh karenanya, ketika kita hendak membicarakan kelas sebagai suatu kategori yang relasional, penting untuk menjangkarkan pemahaman tersebut dalam dinamika gerak kelas dalam kaitannya dengan perkembangan kesadaran dari kelas itu sendiri. Di sini, keberadaan organisasi kelas harus diikusertakan dalam setiap upaya memahami dinamika kelas dan kesadaran kelas yang berkembang.

 

Siapakah itu ‘Kelas Menengah’ Indonesia?

Eksposisi analitis yang diajukan bukan dimaksudkan untuk menyatakan satu posisi vulgar bahwa kelas-kelas sosial di era kapitalisme hanya menciptakan dua kelas saja, yakni kelas kapitalis dan kelas pekerja. Akan tetapi justru kita perlu melihat kelas sebagai suatu proses dinamis yang geraknya sangat dipengaruhi oleh antagonisme dua kelas ini. Dalam kondisi statis, sebagai suatu kategori, kelas sosial tertentu bisa saja tidak terdeskripsikan secara sama dengan posisi kelas kapitalis atau kelas pekerja. Namun jika dilihat secara dinamis, dimana keberadaan posisi kelas tersebut terkait dengan perkembangan kapitalisme, maka antagonisme antara kelas kapitalis dengan kelas pekerja sangat memengaruhi keberadaan suatu posisi kelas yang berbeda tersebut.

Asumsi ini juga berlaku pada bagaimana kita memahami kategori ‘kelas menengah’. Menurut saya, kategori ini bisa muncul dan berlaku berbeda dengan konstruksi dualitis terhadap kelas sosial yang dominan karena perkembangan tertentu dalam kapitalisme yang ada di Indonesia. Booming ekonomi yang dialami kapitalisme Indonesia pasca pemulihan krisis ekonomi 1998, menciptakan kondisi kesejahteraan yang relatif lebih tinggi pada lapisan tertentu dari posisi kelas pekerja pada umumnya. Bagi para kapitalis, bonanza ekonomi ini memungkinkan mereka untuk mengupah lebih tinggi dan memberikan kondisi kerja yang relatif lebih baik ke lapisan kelas pekerja tersebut.

Di tingkatan kesadaran, perbedaan pendapatan ini membuat lapisan kelas pekerja ini tidak bisa secara langsung berbagi pengalaman dengan kelas pekerja lainnya. Selain itu, pendapatan yang lebih tinggi ini membuat kecenderungan konsumsi mereka menjadi lebih tinggi dibanding keberadaan kebanyakan kelas pekerja. Hal ini kemudian menciptakan status sosial yang berbeda antara lapisan kelas pekerja ini dengan kelas pekerja pada umumnya, misalnya kaum buruh.

Dalam posisi ini, proses kesadaran kelas yang dialami oleh lapisan kelas pekerja ini juga berbeda. Daya beli yang tinggi membuat mereka tidak mudah untuk disamakan dengan keberadaan kelas pekerja kebanyakan. Kondisinya semakin diperumit ketika organisasi kelas pekerja yang ada tidak cukup kuat untuk memaparkan kepentingan kelas pekerja terhadap lapisan kelas pekerja ini. Alih-alih, di tengah lemahnya kapasitas organisasi kelas, lapisan kelas pekerja ini justru secara mudah terpapar dalam pengaruh serta ideologi kepentingan kelas berkuasa yang ditransimisikan oleh agen-agen atau aparatus ideologi yang sudah menguasai kekuasaan negara. Hal inilah yang menyebabkan mengapa aspirasi mereka terlhat sangat sejajar dengan kepentingan kelas berkuasa yang ada.

Lalu apa implikasi dari pembacaan ini bagi konsepsi ‘kelas menengah’ itu sendiri? Bagi saya, ‘kelas menengah’ yang ada di Indonesia lebih merupakan konstruksi politik dibandingkan sebagai suatu posisi kelas yang mengakar dalam dinamika kapitalisme Indonesia. Ia adalah hasil dari pengaruh ideologi kelas berkuasa yang kemudian mengkerangkakan pengalaman kolektif lapisan kelas pekerja tertentu dan selanjutnya didefinisikan sebagai suatu posisi kelas yang dikenal sebagai ‘kelas menengah’. Gagasan ini menjadi penting untuk diproduksi (dan direproduksi) oleh rezim pengetahuan yang berkuasa karena kegunaannya sebagai instrumen’ propaganda kelas berkuasa tentang kebaikan kapitalisme, yakni pada dasarnya menguntungkan masyarakat; bahwa kualitas hidup rakyat akan terangkat karena kapitalisme. Disinilah kemudian kategori ‘kelas menengah’ menjadi kategori yang instrumental untuk membelah dan memecah posisi pekerja sebagai kelas.

 

Kesimpulan

Semenjak ‘kelas menengah’ adalah kategori yang dihasilkan dari konstruksi politik, maka tidak ada kesadaran yang inheren dalam ‘kelas menengah’ itu sendiri. Di sini, ke-ngehek-an mereka adalah buah dari lemahnya organisasi kelas pekerja secara luas. Kelemahan ini yang kemudian diisi oleh gagasan ideologi kelas kapitalis. Akan tetapi sebagaimana kita sadari, kondisi ini tentu saja tidak akan berlangsung selamanya. Kontradiksi antara kapital dan kerja yang melandasi keberadaan lapisan kelas pekerja yang masuk sebagai ‘kelas menengah’ akan tetap ada. Dalam konteks perkembangan kapitalisme yang lebih luas, booming ekonomi bukanlah sesuatu yang permanen. Krisis kapitalisme selalu akan mengancam operasi kapitalisme itu sendiri. Itulah sebabnya gagasan akan ‘kelas menengah’ adalah gagasan yang rapuh fondasinya.

Konsekuensi pemahaman ini membuat ‘kelas menengah’ secara prinsip tidak bisa dikeluarkan dari agenda pengorganisiran kelas secara luas. Namun kita harus mengakui bahwa ada kondisi tertentu yang perlu diperhatikan ketika mengorganisir mereka. Dalam artian proses pengorganisiran lapisan kelas pekerja ini menjadi sangat tergantung dengan penerapan strategi taktik pengorganisiran yang kontekstual.

Pada akhirnya, mudah untuk menyiyir ketidak-pedulian ‘kelas menengah’. Akan tetapi penekanan berlebihan akan ketidak-pedulian mereka akan membuat kita abai bahwa mereka adalah juga bagian penting dari perjuangan kelas pekerja secara keseluruhan. Sekali lagi, kategori sosial ‘kelas menengah’ adalah konstruksi politik kelas kapitalis. Untuk mengatasi ekses-ekses sosial yang muncul dari kategori ini, mensyaratkan adanya pertarungan politik kelas terhadap ‘kelas menengah’ itu sendiri. Tanpa ada upaya untuk melakukan perjuangan ini, jangan terlalu berharap bahwa ilusi, serta kesadaran munafik, dari ‘kelas menengah’ bisa dihancurkan.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus