
Feminisme Itu Bukan Sekadar Pilihan Personal!
Perdana Putri, kuliah sastra Rusia UI tingkat akhir, bekerja di Remotivi. Anggota SEMAR UI & Komune Rakapare. Judul buku : Fortunes of Feminism: From

Perdana Putri, kuliah sastra Rusia UI tingkat akhir, bekerja di Remotivi. Anggota SEMAR UI & Komune Rakapare. Judul buku : Fortunes of Feminism: From

Bentuk utopia ala Marx dan Engels bergantung pada dinamika perjuangan terhadap kondisi sejarah yang ada. Mereka menjadikan utopia sebagai sebuah kemungkinan historis yang terbuka dan bukan sebagai imajinasi yang statis.

“Persoalan pajak adalah soal keadilan yang fundamental bagi sebuah masyarakat. Oleh karenanya tidak akan pernah ada cara mudah untuk mengatasi kerumitannya. Political will saja tidak akan pernah memadai untuk keperluan ini. Dibutuhkan pula political capabilities dan economic savvy untuk melihat persoalan pajak.”

Deru debu di Kawasi memang sudah memberi nafkah bagi ribuan orang, tapi ratusan di belakangnya harus rela bernapas tersengal-sengal.

TULISAN ini lahir setelah melalui diskusi dengan teman saya Nias Phydra. Diskusi yang bermula ketika Maarif Institute merilis hasil penelitiannya tentang Indeks Kota Islami. Hasil

Eksil menawarkan perspektif mendalam dan sering kali tidak terdengar tentang satu episode sejarah yang karena sensitif biasanya hanya dilihat dari satu sisi. film ini juga menyoroti pentingnya terus mempertanyakan narasi-narasi yang membentuk identitas kita hari ini.

Selain dapat meluruskan berbagai kesalahpamahan yang terjadi di masyarakat tentang kelas buruh, riset tentang kelas pekerja dengan perspektif kelas dapat menjadi salah satu amunisi penting dalam aktivisme sosial.
Dalam pengertian yang paling umum sekalipun, kerap dilihat bahwa tak ada dua posisi pemikiran politik-ekonomi yang lebih berlawanan secara demikian kontras ketimbang antara Marxisme dan libertarianisme. Ambil contoh mengenai cita-cita masyarakat yang hendak dicapai. Libertarianisme menggagas masyarakat dengan peran negara yang minimal, dimana distribusi sumber daya ditentukan oleh kemampuan masing-masing individu melalui mekanisme pasar. Sementara Marxisme menggagas masyarakat tanpa perbedaan distribusi sumber daya dan karenanya juga tanpa negara, tetapi kondisi ini dicapai melalui penguasaan dari mereka yang lemah secara ekonomis terhadap negara. Demikian pula dalam pengertian keduanya tentang penindasan atau eksploitasi. Bagi seorang libertarian, eksploitasi terjadi dalam sistem dimana orang kaya diwajibkan meluangkan hasil kerjanya untuk membantu orang miskin, sementara bagi seorang Marxis, eksploitasi terjadi dalam sistem dimana para pekerja tidak memperoleh hasil yang setara dengan nilai hasil kerjanya. Singkatnya, libertarianisme adalah filsafat kelas kapitalis, sementara Marxisme adalah filsafat kelas pekerja.
Ilustrasi oleh Alit Ambara AKHIR-akhir ini publik Indonesia disuguhi wacana pengangkatan presiden kedua Indonesia, Soeharto sebagai pahlawan nasional. Salah satu pihak yang serius mengangkat
Kritik Amartya Sen terhadap Pendekatan Behavioral dalam Teori Ekonomi PERBINCANGAN mengenai self-interest tetap memikat. Ini karena konsep self-interest menyeruak ke tengah arena diskursus secara dinamis,

Lukács dan teorinya tentang reifikasi. Kredit ilustrasi: Platypus Reifikasi dan Reduksi Waktu ke dalam Ruang REIFIKASI adalah konsep yang paling diasosiasikan dengan filsafat Lukács di

Pemilu Thailand menghasilkan pemenang baru. Pemenang yang menjauhkan dari politik kelas. Apa yang mereka yakini adalah: “tidak apa mengeksploitasi asal sesuai aturan.”
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.