
Trump, Proteksionisme, dan Konflik Imperial dalam Kapitalisme Global: Wawancara dengan Michael Roberts
Trump tidak bisa mengembalikan AS ke posisi sebagai pemimpin utama dalam ekonomi manufaktur global. Kesempatan itu telah berlalu.

Trump tidak bisa mengembalikan AS ke posisi sebagai pemimpin utama dalam ekonomi manufaktur global. Kesempatan itu telah berlalu.
MENYAMBUT undangan Wendy Prajuli dalam sebuah tulisan, Membicarakan Negara: Kritik atas Tulisan Muhammad Ridha, melalui coretan ini saya mencoba berpartisipasi dalam ‘pembicaraan tentang Negara, yang terproblematisasi dalam konteks kasus Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Jika dicermati dalam tulisannya, Kegagalan Negara? Ketidak-Jelasan Nasib TKI: Sebuah tawaran untuk perubahan paradigma, terasa semangat Hizkia Yossie Polimpung untuk memberikan kontribusi dalam suatu proyek emansipasi atau bahkan perlawanan terkait dengan nasib TKI. Dalam tataran praksis, terdapat sebuah kesan bahwa ia berupaya untuk meletakkan perubahan cara pandang terhadap Negara sebagai landasan aktivitas advokasi terhadap persoalan TKI.

LENIN ketika meringkas sejarah pemikiran Karl Marx, mengatakan bahwa ada tiga sumber pemikiran Marx: filsafat Jerman, ekonomi politik Inggris, dan sosialisme Prancis. Dari ringkasan Lenin ini, tak terhitung gunungan buku yang mengulas bagaimana ketiga sumber pemikiran itu memberi basis bagi pemikiran Marx.
Di sini, kami ingin mengutip sepenggal pengaruh ekonom Inggris terkemuka David Ricardo kepada Marx. Ia bahkan meluangkan waktu lebih panjang untuk karya Ricardo ketimbang karya Adam Smith. Menurut Ricardo masyarakat kapitalis dalam perkembangan yang penuh terdiri atas tiga struktur kelas: pemilik tanah, kapitalis, dan buruh. Yang menarik, Ricardo melihat bahwa masyarakat kapitalis ini memiliki ciri-ciri: tingkat keuntungan yang cenderung menurun (the declining tendency of the rate of profit), antagonisme kelas (class antagonism), dan hubungan antara pengangguran dan teknologi (the relation between technology and unemployment). Tetapi pada saat yang sama, Ricardo juga percaya bahwa masyarakat kapitalis adalah sebuah masyarakat yang kekal, sehingga ketika ia melihat hukum kerja Malthusian, ia meratapi bahwa kelas buruh akan tetap miskin, walaupun mereka membanting tulang dengan sangat keras setiap harinya.

Mari kita singkirkan ego antarorganisasi progresif dan rumuskan arah politik bersama.
Krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada 1997-1998 lalu ternyata tidak lebih dari sebuah isapan jempol belaka. Demikianlah kesan pertama yang muncul dalam benak saya ketika
Sejak rejim Soeharto dilengserkan pada 21 Mei 1998, gerakan buruh menikmati ruang demokrasi yang relatif lebar. Buruh kini bebas beroganisasi, bebas berekspresi, dan juga bebas

BEBERAPA hari lalu, merespon desakan pengungkapan secara tuntas kasus pembunuhan Jopi Peranginangin oleh prajurit TNI Angkatan laut, Panglima TNI Jenderal Moeldoko dengan entengnya mengatakan Jopi
RUBASLOV, seorang Bolshevik tua, dijebloskan ke penjara. Tuduhan yang ditimpakan pada dirinya cukup gawat: menyingkirkan pemerintah dari tanah air revolusi. Pengadilan Moskow memutuskan—tanpa ragu: Rubaslov
SAYA lahir tahun 1987. Jadi, kira-kira hanya 11 tahun lamanya saya ‘menikmati’ narasi Orde Baru tentang Tragedi 1965, yang digelar tahunan lewat film Pembantaian G30S/PKI.
Meratapi Hari Sumpah Pemuda SATU setengah tahun lalu, di London School of Economics and Political Science, ada geger intelektual yang datang dari sebuah ceramah di
PERNYATAAN mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang dimuat Pembaruan (13 Maret), perihal ketiadaan konsep pemerintah dalam bidang industri, sungguh tepat dalam menggambarkan situasi saat ini. Belum
Problem utama dari argumen Basri adalah ia secara sengaja abai akan hal penting tentang relasi ekonomi politik yang sudah menciptakan jebakan pendapatan menengah yang kemudian menjadi masalah aktual bagi pembangunan kapitalis di Indonesia. Model pertumbuhan yang menciptakan situasi ini adalah ‘kondisi kemungkinan’ bagi pembangunan kapitalisme di Indonesia. Ridha (2012) menunjukkan bahwa pertumbuhan serta pembangunan kapitalisme di Indonesia pasca reformasi 1998 justru hanya dapat terjadi ketika rezim ekonomi politik secara sadar melakukan eksploitasi masif atas sumber daya alam dan sumber daya manusia melalui alokasi tenaga kerja ke sektor yang menguntungkan. Untuk itu aspirasi Basri mengenai kepemimpinan visioner adalah harapan kosong yang tak bermakna sama sekali, karena Basri tidak secara jelas memberikan pentunjuk mengenai rezim ekonomi politik seperti apa yang yang mampu menciptakan kualitas sumber daya manusia yang baik yang dianggap dapat mengatasi jebakan pendaptan menengah.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.