
Ketika Ilmu menjadi Ideologi (2)
Kredit ilustrator: Alit Ambara (Nobodycorp) MESKI cuma sepintas, di tulisan saya sebelumnya diceritakan bagaimana jijiknya orang-orang Inggris ketika mengetahui praktik kawin orang Nayar di

Kredit ilustrator: Alit Ambara (Nobodycorp) MESKI cuma sepintas, di tulisan saya sebelumnya diceritakan bagaimana jijiknya orang-orang Inggris ketika mengetahui praktik kawin orang Nayar di
Barangkali bisa dikatakan bahwa usulan penyederhanaan partai yang berbasis politik aliran memang bisa mempermudah proses transaksi politik, tetapi saya berpendapat bahwa itu belum sepenuhnya menjawab persoalan irasionalitas politik di Indonesia.
Saya cenderung berpendapat bahwa penyederhanaan partai dari aspek kuantitas semestinya juga mensyaratkan adanya proses rasionalisasi dalam aspek kualitas kepartaian. Karena itu, usulan penyederhanaan partai secara demokratis diharapkan tidak diletakkan dalam pengelompokan politik aliran.
Pengantar redaksi: Kami menerima kiriman makalah dari penulis yang disampaikan pada Diskusi Panel ‘Tinjauan Kritis Masa Depan Gerakan Kaum Marhaenis’, dalam rangka Pengukuhan Presidium 2006-2008
Tambahan untuk Martin Manurung ”… dosen-dosen ekonomi di Universitas telah “berdosa” mengajarkan ilmu ekonomi secara keliru atau bahkan mengajarkan “ilmu ekonomi yang keliru.” (Prof.Mubyarto, 2003)
“Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau Indonesia Merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyat sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup

TRILOGI Boris Kagarlitsky dengan judul di atas adalah sebuah gedoran atas kebekuaan pemikiran yang semakin terkungkung dengan realitas politik global awal abad ke-21, dan menantang pesimisme apakah ada jalan lain di luar keyakinan ekonomi [masyarakat] pasar yang seolah menjadi ‘kenyataan tak terhindarkan’ dari sejarah abad ke-21. Keruntuhan Uni Soviet pada dekade 1980an dan munculnya Republik Rakyat Cina sebagai kekuatan ekonomi dunia yang mengadopsi sistem pasar dengan kontrol negara seperti membunyikan lonceng kematian cita-cita dan praktek politik ‘kiri’ yang menjadi marak sejak pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Kredit foto: Presiden RI “Socialismo, o muerte! Socialismo o muerte!” (sosialisme atau mati!) FRASE ini merupakan jargon andalan Hugo Chávez, Evo Morales dan Rafael
Pengalaman Cina Hidup bebas dari ancaman ketidakpastian, ketakutan, agresi, kemiskinan, dan ketidakadilan, adalah impian semua orang. Menjadi bebas, adalah tujuan tertinggi dari seluruh pergulatan pemikiran
ANALISA EKONOMI POLITIK “9 Mei 1993, di sebuah gubuk di Hutan Wilangan, Nganjuk, ditemukan sebuah mayat yang terkapar dengan kondisi sangat mengenaskan. Vaginanya hancur, tulang panggul
SEJENAK mari kita menengok sejumlah kabar di negeri orang. Margaret Thatcher, mantan Perdana Menteri Inggris, meninggal dunia April tahun lalu. Kemudian, belum lama ini, di

Pendahuluan SEBELUMNYA telah kita bahas bersama-sama kondisi gerakan sosial di tanah air dalam konteks politik yang baru, yaitu pemerintahan Jokowi-JK. Kemudian, kawan Ridha juga sudah

GAGASAN pembangunan partai elektoral alternatif kembali bergaung kencang dalam peringatan mayday tahun ini. Indikasinya dapat dilihat dengan deklarasi komitmen aliansi buruh yang tergabung dalam Gerakan
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.