1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 127

Paling Sering Dibaca

Bangsa Ratu Adil

SEORANG Caleg menghamili seorang gadis SMP. Beberapa kejap saya tertegun dan selanjutnya memaki diri. Betapa tidak? Dengan tertegun saya seolah-olah tidak tahu kejadian-kejadian yang sering

Mengapa Politikus Harus Membaca Multatuli?

Kredit foto: adambeeldenva1900.blogspot.com   “SEORANG politikus tidak mengenal Multatuli praktis tidak mengenal humanisme, humanitas secara modern. Dan politikus tidak mengenal Multatuli bisa menjadi politisi kejam.

Metode Membaca Capital

Karl Marx tentu saja tidak membiarkan pembacanya terpelanting ke sana-sini dalam membaca karyanya itu. Dalam Capital, ia secara tidak langsung memberikan petunjuk pada pembacanya, bagaimana harusnya membaca Capital dan apa perangkat ilmu yang tepat untuknya. Petunjuk itu ia sisipkan dalam catatan kaki untuk mengomentari filsuf Inggris Jeremy Bentham. Di sana Marx mengatakan, ‘untuk mengetahui apa yang berguna buat seekor anjing, maka seseorang mesti menginvestigasi terlebih dahulu asal-usul anjing tersebut.‘ (1990:758).

Bagi yang menggeluti persoalan metodologi Marxis, pernyataan Marx ini memberikan pesan yang sangat jelas bahwa untuk bisa mengerti karya-karya Marx secara utuh, maka kita pertama-tama mesti mengetahui bagaimana metodologi pemikiran Marx itu sendiri. Dalam suratnya kepada Maurice Lachâtre, editor dari edisi I Capital berbahasa Prancis, Marx mengatakan bahwa ia memang menerapkan metode dialektika materialis ini dalam studi masalah-masalah ekonomi. Dengan demikian, jika kita ingin mengerti Capital dengan benar, maka tak ada cara lain, kita mesti mengerti dulu apa itu metode dialektika Marx. ‘Tetapi, untuk bisa mengerti metode dialektika Marx,’ demikian Harvey (2010), ‘maka kita mesti membaca Capital keseluruhan karena di situlah sumber-sumber aktual praktis berada.’

Rekonstruksi Kembali Agenda Gerakan Kita

fight to vote, vote to fight. Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)   LAGI-LAGI Gerakan Rakyat di Indonesia dan berbagai belahan dunia kembali berada di dalam

Enam Mitos Keuntungan Investasi Asing

Kredit ilustrasi: ekonomski.mk   BEBERAPA waktu lalu, Fitch Rating, sebuah lembaga pemeringkat yang berbasis di Hongkong, mengeluarkan daftar peringkat utang luar negeri  jangka panjang Indonesia.

Housework Bukan Kodrat Perempuan! Bring Back to Commons!

KENANGAN apa yang kita ingat tentang ibu kita sewaktu kita masih kecil? Yang segera muncul adalah kenangan tentang ibu saya yang selalu memasak sepulang ia mengajar di sekolah, atau mencuci pakaian semua anggota keluarga, mencuci piring-piring kotor, dan menyiapkan baju kerja ayah saya. Lalu, kenangan apa yang kita ingat tentang ayah kita sewaktu masih kecil? Saya selalu teringat ayah saya yang mengomentari makanan buatan ibu saya, meminta ibu saya membuatkan kopi, dan menanyakan lokasi dasi miliknya di dalam lemari. Kenangan semacam itu tentang sosok seorang ibu dan ayah mungkin bukan hanya kenangan milik saya, mungkin juga kenangan anda, dan yang pasti, kenangan Silvia Federici, yang menulis buku yang sangat bagus mengenai posisi perempuan dalam housework dalam hubungannya dengan kapitalisme: Revolution at Point Zero: Housework, Reproduction, and Feminist Struggle.

Fatsun atau Vulgaritas?

Kredit ilustrasi: http://blog.angsamerah.com/   BEBERAPA hari yang lalu, tepatnya tanggal 7 Desember 2016, Bloomberg memuat surat imajiner dari bos Foxconn Terry Gou kepada Presiden AS

Pembangunan dan Kemiskinan Imajinasi

Di Indonesia, secara sosiologis, kita hidup dalam dunia yang dwiwujud: koeksistensi sektor formal dan informal tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi sebagaimana dikupas dalam pandangan Boeke, tapi pada seluruh dunia sosial; tak sepenuhnya modern namun menyangkal tuduhan untuk disebut tradisional. Jika ditelaah secara seksama, di dalam Indonesia yang kita diami, terdapat banyak ‘dunia paralel’ yang hanya mampu dipersatukan oleh gagasan Indonesia sebagai negara bangsa. Di dalam ragam ‘dunia paralel’ tersebut, pemaknaan manusia terhadap sumber daya dan ‘kapital’ pun berbeda. Dengan demikian, yang seharusnya kita cari adalah sistem pembangunan yang lentur dan dapat menyesuaikan diri. Hibrid dan adaptif. Karena tiap-tiap sistem adalah rekaan manusia, maka seharusnya ia bisa dipasifksan atau disesuaikan, terutama dengan budaya masyarakat di mana ia beroperasi.

Jejak Hitam Keraton di Kulonprogo

BUS KECIL  butut yang saya tumpangi mulai meninggalkan Terminal Giwangan, Yogyakarta pada suatu pagi di bulan Agustus.  Kursinya tak empuk. Joknya pun sobek di sana-sini.

Yang Mati Dipagut Ular

TEPAT sepekan lalu, 3 April 2016, sebuah kisah sedih datang dari sebuah desa di Karawang, Jawa Barat. Seorang biduan dangdut bernama panggung Irma Bule –

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.