Fatsun atau Vulgaritas?

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: http://blog.angsamerah.com/

 

BEBERAPA hari yang lalu, tepatnya tanggal 7 Desember 2016, Bloomberg memuat surat imajiner dari bos Foxconn Terry Gou kepada Presiden AS terpilih, Donald Trump. Di dalam surat tersebut “Terry Gou” mengomentari sesumbar Trump untuk “memaksa Apple” merelokasikan beberapa pabriknya ke AS. Hal ini disampaikan Trump di depan publik awal tahun lalu sewaktu masih menjadi kandidat, dan juga ditekankannya lagi beberapa hari yang lalu, kali ini setelah memenangkan pemilihan umum. Sebagai CEO perusahaan subkontraktor yang mengerjakan ide-ide briliant dan mutakhir dari para pekerja kreatif Apple di Amerika dan yang menjadikan ide-ide tersebut barang yang kongkrit, “Terry” menyatakan “bisa mengatur” supaya keinginan Trump tersebut terwujud. Tentu saja, syarat dan ketentuan berlaku.

Surat itu sengaja ditulis sebagai pesan satir kepada sang presiden terpilih akan betapa menggelikannya ide untuk memindahkan pabrik pembuatan Apple ke Amerika Serikat. Menggelikan, setidaknya dari perspektif dominan mengenai efisiensi produksi di dalam rantai produksi global. Seperti kata “Terry,” “saya tidak mendirikan pabrik di Cina hanya karena lebih murah, namun karena ribuan pemasok ada di sana dalam jarak sekali meludah saja dari pabrik saya.” Bukannya Trump tidak paham logika produksi berantai ini, namun nampaknya ia menggunakan perspektif yang lain. Demikianlah, apabila perspektif bergeser, maka mana yang mungkin dan yang mustahil pun juga bergeser. Namun, kemanapun ia bergeser, pastinya itu membuat Bloomberg dan para pelanggan setianya tertawa.

Namun yang menarik perhatian saya sebenarnya bukan substansi dari surat satir nan sarkas plus imajiner dari “Terry Gou” tersebut, melainkan justru mediumnya—gaya dan langgam bahasanya. Satu kata yang mewakili untuk ini: vulgar. Secara vulgar “Terry” menyombongkan kekuasaannya dengan mengatakan kalau nanti Trump berteleponan dengan Taiwan lagi, pastilah dengan dirinya dan bukan dengan Ibu Presiden. Vulgaritas machois juga diselorohkan “Terry,” “kita memiliki banyak kesamaan, anda dan saya. Kita sama-sama milyuner (walau saya lebih kaya), kita sama-sama menciptakan sesuatu, sama-sama menikahi wanita cantik yang lebih muda dari kita, dan kita sama-sama membenci Wall Street.” Memang, keduanya sama-sama vulgar dan tidak malu-malu menyampaikan isi hatinya di depan publik, tanpa perlu pikir panjang.

 

Fatsun

Nampaknya si penulis memang sengaja mengatur gaya penyampaiannya secara vulgar untuk “mengimbangi” sang presiden terpilih yang juga sama (bahkan lebih) vulgarnya. Mengatakan senator Ted Cruz sebagai “pussy” di depan publik, dan berulang-ulang kali menyebut rivalnya, Hillary Clinton, sebagai “crooked,” adalah sedikit contoh dari keseharian vulgaritas Trump. Contoh lainnya, saat mengomentari kematian Fidel Castro, Trump tidak bergaya kenegarawanan seperti saat Obama melakukannya. Sopan-santun dan hal-hal normatif tentu bukan trademark-nya. Sebaliknya, tanpa tedeng aling ia menyebut Castro sebagai “diktator brutal” yang warisannya adalah “regu penembak mati, pencurian, penderitaan yang tak terbayangkan, kemiskinan dan pelanggaran HAM.”

Vulgaritas publik ini mengingatkan kita pada Hugo Chavez saat berpidato di PBB 2006 yang lalu. Di podium, ia mengatakan “saya mencium bau sulfur di sini. Ada setan datang berbicara di sini kemarin. Di meja tempat saya berdiri ini.” Setan tersebut tidak lain adalah George W. Bush Jr., yang saat itu adalah presiden AS. Vulgaritas demikian juga mencirikan seruan dan komentar mereka-mereka yang berada di luar sorotan publik, aktivis misalnya. Tentu bukan barang langka mendengar aktivis menggilir pejabat dengan nama-nama satwa di kebun binatang. Namun tidak hanya di seruan aktivis, pembicaraan vulgar juga biasanya dilakukan di tempat tertutup, sambil berbisik, atau setidaknya disampaikan sambil berseloroh. Yang pasti, ia tidak dilakukan secara terus terang, tanpa sensor, di depan umum dan dilakukan oleh figur publik. Singkat kata, inilah yang kita kenal dengan fatsun politik, atau sopan-santun/kepatutan politik.

Kini ceritanya menjadi berbeda saat seorang figur publik top seperti presiden terpilih Donald Trump yang merabas fatsun ini, dan dengan tegas melakukannya. Atau lainnya, komentar tervulgar dalam kronik perjuangan kelas Amerika, yaitu dari trilyuner Warren Buffet saat mengatakan mengenai krisis 2008, “Ya baiklah, memang ada pertempuran kelas. Tapi adalah kelas saya, kelas orang kaya, yang membuat peperangan ini, dan kami memenangkannya”—dan itu disampaikannya ke harian publik ternama AS, the New York Times. Tren vulgaritas ini tentu saja bisa ditemukan di banyak tempat lainnya, sehingga saat Trump melakukannya, maka kita yang terbiasa dengan sopan-santun sudah harus memersiapkan diri menerima sopan-santun publik disobek-sobek sambil diiringi tawa menggelegar. Karena itulah yang setidaknya saya rasakan sebagai “warga dunia” yang mana penguasa adidayanya adalah dua orang yang sedang bersurat-suratan ini—Trump, sebagai presiden negara superpower, dan Gou sebagai CEO perusahaan manufaktur elektronik terbesar di dunia.

 

Publikasi Vulgaritas

Saat membaca surat imajiner tersebut, saya mencoba mengais-ngais di mana kira-kira saya diposisikan di dalam pembicaraan mereka. Dua orang besar bertukar bicara, berkelakar, membicarakan hajat hidup saya sebagai sebuah “permainan” belaka—sebuah perlakuan yang kata “Terry” kepada Trump “sudah sama-sama kita tahu.” Dalam surat tersebut bahkan Indonesia disebut secara khusus. “Terry” menceritakan keberhasilannya melemparkan umpan kepada Indonesia sehingga memercayai bahwa Foxconn akan berinvestasi US$ 5-10 milyar di sana. Umpan tersebut ditangkap oleh Mendag Gita Wiryawan saat itu, dan dibanggakannya di depan media. Umpan tersebut adalah trik “Terry” untuk membuat pejabat Indonesia menjadi harus merengek pada Foxconn saat sang CEO memainkan kartunya dengan meminta hal-hal yang mustahil diberikan Indonesia. Pemerintah Indonesia, merasa “harus” menyelamatkan wajahnya di publik, harus memutar otak mencari cara bagaimana supaya Foxconn jadi berinvestasi di sana. Jadi, jika Trump ingin punya bahan untuk dipamerkan ke konstituen melalui akun Twitternya—kontrak investasi multi-milyar dolar misalnya—tinggal sebut saja berapa nominalnya, kata “Terry”. Poinnya tetap sama: semuanya bisa diatur.

Memang benar surat ini imajiner, sehingga belum tentu merefleksikan apa yang benar-benar hendak dikatakan Terry Gou dan bagaimana ia akan mengatakannya. Namun demikian, sekalipun Terry Gou yang sebenarnya tidak sevulgar ini, tapi tetap saja kenyataan bahwa ada termuat surat seperti ini di media publik internasional sekelas Bloomberg menandakan bahwa vulgaritas sedang ngetren. Dan kenyataan bahwa Bloomberg bisa menerka-nerka kira-kira seperti apa Terry Gou akan menjawab, dan bahwa terkaan tersebut merupa dalam sebuah vulgaritas, tentu membuat kita harus menyeriusi tren vulgaritas ini dalam mengubah wajah perpolitikan dunia, yang dampaknya juga sampai ke tanah air. Menyimpang sedikit dari topik, bisa jadi vulgaritas Ahok juga turut mengikuti tren ini, sehingga mengatakan secara publik akan membunuh 2000 orang “di depan anda” apabila membahayakan 10 juta orang yang dipihakinya menjadi “wajar.” Kembali lagi ke Terry dan Trump.

Satu hal yang melatar-belakangi tren vulgaritas ini tidak lain adalah maraknya sopan-santun dan kepatutan politik di pelataran publik. Tumpah ruah dan ritual fatsun politik yang sarat dengan kemunafikan, tentunya membuat banyak orang muak. Terutama mereka yang berjumpa langsung dengan realitas yang coba dihaluskan dan disamarkan melalui fatsun tersebut. Suplai fatsun yang semakin berlebih dan semakin mubazir dengan sendirinya menciptakan prakondisi yang mana permintaan akan keterus-terangan semakin meningkat. Dan, dengan sendirinya, memberi jalan politik bagi mereka-mereka yang mampu berterus-terang di depan publik, dan mengudar kebohongan-kebohongan publik penguasa terdahulu. (Kemampuan ini, tentu saja, bias kelas; menjunjung tinggi integritas, umumnya, adalah privilese mereka yang sudah aman perut dan masa depannya).

Sebelum membicarakan vulgaritas, kita mesti jelas dahulu apa “dosa-dosa” fatsun politik. Fatsun politik sebenarnya, di realitanya, adalah manuver bahasa. Intinya adalah bagaimana menyamarkan kenyataan yang tidak berterima di pelataran publik, kemudian membungkusnya dengan idiom dan langgam yang tidak membuat publik berjengit. Kiasan dan eufimisme adalah teknik-teknik yang sering dipakai, misalnya, menyamarkan antagonisme kelas yang tersirat dalam kata “buruh” dengan kata “pekerja.” Lainnya, “pembantu” dengan “asisten rumah tangga.” Atau “kerja serabutan yang tidak menentu” sebagai “ekonomi berbagi” (sharing economy), dst. AS pun melakukan ini, menyamarkan “teroris” dengan “unlawful combatant,” misalnya. Itulah fungsi fatsun politik: menyamarkan realitas yang berkebalikan dengan retorika yang disampaikan, menetralisirnya, dan meredam kegaduhan yang bisa disebabkannya saat ia muncul di, misalnya, ruang gala dinner pejabat dengan pengusaha.

Dalam perkembangan politik belakangan ini, dengan semakin parahnya keadaan yang coba disamarkan kepatutan politik ini, tentu saja cadar fatsun politik menjadi semakin tidak dapat dipertahankan. Kiprah Wikileaks tentu saja turut andil dalam mengacak-acak kerapian tata krama politik tersebut. Alhasil, keterus-terangan dan kemuakkan bersintesa dalam wujud vulgaritas. Tapi pertanyaannya kemudian, apakah vulgaritas ini lantas mengubah keadaan bobrok yang dipelihara dan ditututup-tutupi oleh fatsun politik?—pertanyaan ini terlalu ambisius saya kira. Saya kecilkan sedikit debit ambisinya: apakah vulgarisme ini lantas tidak mengulangi penyamaran realitas sebagaimana yang dilakukan oleh fatsunisme politik? Saya cukup pesimis untuk hal ini.

Memang, vulgaritas adalah kejujuran yang tidak bisa dibendung oleh kemunafikan talkshop pejabat yang menjunjung tinggi kepatutan politik. Memang, vulgaritas adalah kenyataan yang selalu ditutupi oleh eufimisme fatsun liberal. Ia juga adalah keterusterangan yang selalu dipelintir dalam retorika sopan-santun borjuasi. Namun mengumbar vulgaritas tepat setelah rezim kepatutan politik dilengserkan justru menandakan bahwa vulgarisme ini akan meneruskan penyamaran realitas yang tadinya ditutup-tutupi oleh kenegarawanan liberal. Vulgaritas pasca-fatsun liberal tidak lebih dari sekedar olok-olok reaksioner untuk menutupi kenyataan ketidak-tahuannya akan program alternatif yang jelas.Vulgaritas pasca-fatsun liberal tidak akan mengubah kondisi apapun.

Mengapa demikian? Bayangkan anda adalah buruh Foxconn yang “diperlakukan lebih parah dari mesin” dan anda membaca surat “Terry Gou” ini. Tentu saja anda akan merasa seperti sebutir debu di semesta raya. Persis seperti almarhum saudara saya yang sempat mendengar bagaimana ia diperbincangkan sebagai “barang rusak” oleh para dokter di kamar operasi, setelah beberapa jam sebelumnya ia dihibur dengan kata-kata manis dari dokter yang sama. Adalah perasaan tak berdaya yang kita dapatkan saat dihadapkan dengan vulgaritas. Seketika kita menjadi sadar, bahwa mengetahui kebenaran yang ditutup-tutupi ternyata tetap tidak akan mengubah nasib hidup kita. Seketika kita harus menerima nasib untuk selalu hidup dalam jangkauan ludah Terry Gou.

Tapi satu hal harus saya luruskan, kita sebenar-benarnya telah selalu mengetahui bahwa kondisi yang kita alami seakan mustahil untuk diubah. Eufimisme dan fatsun liberal sebenarnya adalah pembenaran bagi kita untuk pura-pura tidak mengetahui ini, atau bahkan menyangkalnya. Kita membutuhkan fantasi palsu (yang kita tahu memang palsu) dari mereka untuk menenangkan kita. Fantasi bahwa kita hidup di era demokratis, sehingga kita merasa punya peluang untuk “melawan”; fantasi bahwa seolah-olah kita bisa berbicara secara setara dengan pengusaha, sehingga kita merasa dihargai dan diwongke. Seolah-olah kita yakin dengan terus mendesak pemerintah, lantas para penguasa akan berada di pihak kita untuk melawan kapitalisme. Seolah-olah kita yakin dengan menghardik pengusaha, lantas mereka bergidik dan membagikan kue-kue yang mereka simpan di lemari makan mewah mereka.

Tentu saja kita tahu bahwa itu semua tidak akan terjadi. Tapi tetap saja, “setidaknya kita melakukan sesuatu,” sebagaimana ungkapan populer. Ungkapan ini sekaligus menandakan bahwa sesungguhnya kita tidaklah benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. Dan vulgaritas pasca-fatsoen adalah yang mengeksplisitkan apa yang selama ini disembunyikan oleh sopan-santun liberal, yang ironisnya selama ini kita tahu: yaitu tidak akan pernah ada alternatif dari penguasa dan pengusaha! Terlebih dari itu, kejayaan fatsun liberal adalah penanda dan sekaligus berhutang pada kegagapan kaum progresif dalam merumuskan alternatif.

Tepat di sinilah Trump dan kaum vulgaris lainnya memanfaatkan momen. Seraya mewakili kebenaran dan keterusterangan, mereka memandu manusia-manusia yang kebingungan ini dan memberikan arahan yang seolah “jelas.” Lihat bagaimana Trump menyapa pendukung Bernie Sanders yang bisa dibilang progresif itu, “untuk seluruh pemilih Bernie Sander yang sudah ditinggalkan begitu saja oleh sistem pendelegasian partainya, kami menyambut anda semua dengan tangan terbuka.” Namun ketimbang jalan untuk keluar dari sistem yang eksploitatif ini, ia justru mengantarkan kita kembali ke pabrik-pabrik tempat kita dieksploitasi kembali—hanya saja kali ini oleh manajemen yang berbeda. Jika sebelumnya oleh rezim profit, kali ini atas nama ‘Kembalinya Kejayaan Amerika’ (MAGA—Make America Great Again—adalah semboyan kampanye Trump), atau atas nama kebangsaan, atas nama pembangunan, dst. Vulgaritas kembali mengaburkan eksploitasi, pertama-tama dengan mengambinghitamkan fatsun politik (dan menjadikannya false enemy), dan kedua dengan memfantasikan kapitalisme tanpa eksploitasi. Umpan pertama dimakan para progresifis yang muak dengan kemunafikan penguasa, sementara umpan kedua dimakan para kelas menengah liberal naïf. Dan jadilah Trump presiden Amerika.

 

Alternatif

Bagi kaum progresif yang tetap berkomitmen di jalur transformasi sosial, maka apabila dalam rezim sopan-santun liberal perlawanan tampak tidak mungkin (karena musuhnya terkaburkan imaji-imaji dermawan), kini di dalam vulgarisme justru perlawanan menjadi hal yang memfrustrasikan. Pasalnya, kita berjumpa dengan kemustahilan yang sama dengan sebelumnya. Malahan, kali ini, kita harus terang-terangan menerima bahwa kenyataan bahwa kita adalah selalu dalam jarak ludahan Terry Gou menjadi terpublikasikan secara terang-terangan.

Namun demikian, vulgarisme pasca-fatsun liberal ini bisa jadi hal positif kalau kita menggeser perspektif kita. Bukankah dengan rontoknya justifikasi bagi kita untuk pura-pura tidak tahu (bahwa kita tahu perjuangan kita adalah tanpa arah) membuat kita tidak lagi memiliki alasan untuk terus menunda membicarakan suatu alternatif yang benar-benar sistemik dan programatik? Bukankah dengan diculaskannya kemunafikan pemerintah dan pengusaha oleh vulgarisme politik membuat kita tidak lagi memiliki alasan untuk bermalas-malasan memikirkan strategi alternatif yang tanpa mengharapkan belas kasihan penguasa, sedekah pengusaha, dan sokongan donor? Semoga saja surat Terry Gou ini menampar dan menyentakkan kita untuk sadar dan mulai memikirkan suatu keadaan baru yang mana kita tidak perlu terus diludahi seperti sekarang ini. Soalnya, berterima kasih kepada vulgarisme politik hari ini, kini semua orang bisa melihat jelas bagaimana hidup kita adalah selalu berputar-putar dalam jangkauan ludah mereka yang mengeksploitasi kita.***

 

Penulis adalah peneliti di Koperasi Riset Purusha, dan psikoterapis di Minerva Co-Lab


comments powered by Disqus