1. Beranda
  2. /
  3. Harian Indoprogress
  4. /
  5. Page 48

Harian Indoprogress

Hongxuan memperlihatkan bahwa Islam dan Marxisme bukan sekadar pernah bersentuhan, tetapi juga membangun berbagai bentuk kompromi, mulai dari sintesis teoretis hingga strategi retoris yang menekankan kesamaan tujuan: melawan kolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme.
Bagaimana jika teori justru bertolak belakang dengan kenyataan yang tersaji di luar pikiran? Apakah teori harus berubah agar menyesuaikan diri dengan kenyataan, atau justru kenyataan yang berbeda itu diabstraksikan lalu dilampaui keberadaannya di dalam ranah pemikiran?
Jika pada masa lalu represi terhadap warga dilakukan secara terbuka melalui komando teritorial seperti Kodam atau Korem, kini praktik serupa dijalankan melalui rezim hukum kedaruratan dan satgas ad hoc.
Kebijakan politik etis justru membina banyak individu yang pada akhirnya akan menantang kekuasaan kolonial dan membayangkan masa depan di luar imperium.

Harian Indoprogress

“SMK Bisa!”: Jalan Menuju Mobilisasi atau Marginalisasi?

“Inferioritas SMK semakin menjadi dengan banyaknya stigma sosial yang disematkan ke pelajar SMK. Sepanjang tahun 2020, misalnya, publik ramai mencap negatif partisipasi pelajar SMK di aksi menentang omnibus law. Partisipasi mereka dianggap sebagai kenakalan remaja, alih-alih memahami bahwa memang karena omnibus law berdampak negatif pada nasib mereka di pasar tenaga kerja kelak.”

Jalan Terjal Komune Paris (Bagian I)

Ilustrasi: Illustruth KAUM borjuis Prancis telah lama meraih kemenangan. Sejak revolusi 1789, mereka adalah kelompok yang meraup kekayaan, sementara kelas pekerja secara terus-terusan harus menanggung

Marxisme dan Nadezhda

“Namun, organisasi seperti yang seperti dimaksud Nadezhda tidaklah dibangun hanya dari sekedar diksi-diksi dan teriakan revolusi, sebab hari ini kapitalisme bersama pion-pionnya berinovasi tanpa henti sementara kita semua punya perut untuk diisi dan perjuangan berdasarkan perencanaan kolektif tidak bisa berhenti.”

Untuk Rosa Luxemburg, Untuk 150 Tahun Kelahirannya

“Rosa Luxemburg adalah seorang kosmopolit dari masa depan. Ia mengaku kerasan “di seluruh pojok dunia, di mana pun ada awan dan burung dan air mata manusia.” Ia penggila botani dan sangat mencintai hewan. Surat-surat Rosa ditulis oleh seorang perempuan yang memiliki kepekaan luar biasa, dengan jati dirinya yang tetap utuh di tengah sederet pengalaman pahit.”

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.