1. Beranda
  2. /
  3. Harian Indoprogress
  4. /
  5. Page 162

Harian Indoprogress

Konsolidasi politik Indonesia pada 1950-an hingga awal 1960-an, kebangkitan PKI dan mobilisasi massa, hingga upaya Sukarno menempatkan Indonesia sebagai kekuatan antikolonial di tengah Perang Dingin.
Perjalanan intelektual Airlangga Pribadi adalah pencarian politik pembebasan untuk melampaui demokrasi liberal dan relasi kuasa oligarkis. Ia menghubungkan kritik ekonomi-politik, gerakan sosial, dan penafsiran atas Marhaenisme Soekarno.
Eksploitasi, perbudakan, dan perdagangan manusia terhadap buruh migran bukan sekadar akibat lemahnya penegakan hukum, melainkan bagian dari struktur ekonomi-politik kapitalisme yang menempatkan buruh sebagai komoditas dan negara turut melegitimasi serta menikmati akumulasinya.
Dalam kondisi ketika sektor formal tidak mampu menyediakan pekerjaan yang memadai, sektor informal menjadi pilihan untuk bertahan hidup di tengah dinamika kota yang bergerak cepat.

Harian Indoprogress

Sukarno: Pemersatu atau Pembelah?

SEJAK SAYA mulai belajar sejarah Indonesia di University of Sydney tahun 1969, saya selalu diajari para dosen bahwa Sukarno adalah seorang permersatu. Bahkan mereka, baik dosen Australia, Indonesia atau Belanda, cukup banyak yang menyebut Sukarno – dengan nada minor – gandrung persatuan. Dalam bulan Juni 2011 lalu – dengan banyak spanduk yang menyatakan ini bulan Sukarno – masalah persatuan, apalagi dalam menghadapi ‘asing,’ suka disebut-sebut lagi.

Baik sebagai seorang akademisi yang ‘Indonesianis’ maupun sebagai warga dunia yang berkewajiban berideologi, saya menyatakan sebelumnya bahwa saya termasuk seorang yang sangat menghargai kepemimpinan Sukarno serta pikirannya, meskipun saya juga berpendapat dia bukan manusia sempurna: pernah juga melakukan kekeliruan dan kadang-kadang analisa yang salah. Sebagai seorang yang menilai peranan Sukarno secara umum sangat positif, saya mau menekankan bahwa gambaran atau stereotipe Sukarno sebagai seorang pemersatu adalah keliru total. Sukarno bukan pemersatu bangsa, dia adalah seorang yang membelah bangsa dan negeri Indonesia.

Kegagalan Negara? Ketidak-Jelasan Nasib TKI?

ISU MENGENAI kemalangan Tenaga Kerja Indonesia kembali lagi mencuat ke permukaan. Kali ini dengan menghadirkan tragedi pemancungan Ruyati-Darsem. Ruyati dipancung oleh pemerintah Arab Saudi atas tuduhan pembunuhan majikannya yang mencoba memperkosanya. Sementara Darsem sedang berharap mujizat 4,7 Miliar untuk menyelamatkannya dari pisau jagal negara yang benderanya bergambarkan pedang itu.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.