1. Beranda
  2. /
  3. Harian Indoprogress
  4. /
  5. Page 154

Harian Indoprogress

Warisan kekerasan 1965 dan pembangunan ekonomi yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam membentuk politik Indonesia hingga kejatuhan Suharto pada 1998 dan sesudahnya.
Kebebasan penilaian seseorang yang kelangsungan jabatannya ditentukan oleh pihak yang dinilainya dibatasi oleh kondisi struktural, apa pun keyakinan pribadi orang tersebut.
Akses terhadap hunian bergantung pada aliansi kekuasaan sementara warga Sleman tidak memiliki kekuatan tandingan yang memadai.
Negara yang berorientasi pada pembangunan tidak cukup hanya memiliki kemampuan untuk melakukan intervensi. Ia membutuhkan institusi yang mampu mengarahkan dan mendisiplinkan kapital.

Harian Indoprogress

Merindu Orba

BEBERAPA  waktu lalu, Prabowo Subianto, calon presiden (capres) Partai Gerindra dengan percaya diri mengatakan bahwa jika Soeharto masih hidup dan mencalonkan diri sebagai capres, maka

Fenomena Jokowi dan Konstelasi Politik 2014

MENJELANG musim pemilu suhu politik di tanah air semakin menghangat. Pasca pencalonan resmi Jokowi sebagai calon presiden (capres) dari PDIP, konstelasi politik terutama di antara

Diplomasi Militer dan Masa Depan Perdamaian Dunia

‘Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan, apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir? Seolah-olah, bila kita membagi sejarah,

Marxisme: Metode Ilmiah dan Praxis Emansipasi

Tanggapan Atas Martin Suryajaya Dalam tulisannya yang berjudul Marxisme dan Propaganda, Martin Suryajaya memaparkan bagaimana seharusnya propaganda Marxis itu dijalankan. Titik berangkat propaganda Marxis, menurut

Pemimpin Kuat

BEBERAPA waktu lalu, wartawan senior Michael Vatikiotis di harian The New York Times (2/21/2014) menulis tentang kondisi demokrasi di Indonesia yang dianggapnya sangat rapuh. Kerapuhan

Menolak Bodoh

PERTAMA, kami hendak meminta maaf terlebih dahulu atas keterlambatan kami dalam merancang dan meluncurkan gerakan ini. Semestinya, gerakan ini lahir lebih cepat. Sayangnya, kami hidup

Penghancuran Buku dalam Sejarah Umat Manusia

‘MENGAPA manusia menghancurkan buku?’ Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalu hadir dalam setiap zaman, dalam setiap konteks sosial historis yang pernah ada, semenjak manusia mengenal cara merekam pengetahuan yang dimilikinya dalam media tertentu. Kini pertanyaan ini kembali mengemuka ketika beberapa waktu lalu terjadi peristiwa yang merupakan repetisi dari segala jaman yang merasa terganggu dengan lahirnya pengetahuan tertentu: pelarangan mendiskusikan buku tentang Tan Malaka oleh sekelompok ormas yang mengatasnamakan Pancasila dan Islam. Meskipun pelarangan mendiskusikan buku tersebut tidak diikuti dengan penghancuran buku dimaksud, tetapi pada akhirnya peristiwa tersebut adalah suatu contoh bagaimana buku menjadi arena kontestasi antara arus utama dan the others, antara kelas yang berkuasa dan kelas yang dikuasai, antara keperluan untuk melanggengkan hegemoni dan upaya untuk menggugat status quo.

Patriarki Jawa dalam Kisah Rakyat Jawa

TAHUN 2005, antara bulan Mei-Juli, saya berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Sekedar mencari tahu cerita yang pernah diceritakan oleh Mohamad Charis (Kakek dari pihak

Membaca Kerja Kapitalisme di Teluk Benoa

SEJAK permulaan abad ke-21, perekonomian Asia Pasifik ditandai oleh dua fenomena besar. Pertama adalah booming tambang di Australia yang ditandai dengan investasi besar-besaran di bidang

Wajah Lain Jagal

SEJAK dirilisnya film Jagal (The Act of Killing), Peristiwa G30S untuk pertama kalinya menjadi perhatian serius masyarakat internasional. Sebelumnya, peristiwa genosida dan barbarik itu di

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.