Rezim Teknologi Kapitalis dalam Perspektif Manifesto Komunis

I

SALAH SATU  sebab kekaguman Marx kepada kapitalisme ialah keengganannya yang obsesif terhadap kemandegan. Kemajuan dan senantiasa perubahan itu ibarat mandor yang mondar-mandir ke setiap relung dunianya kapitalis, melecuti setiap hal yang ada di dalamnya untuk terus bergerak. Tidak boleh ada yang tidak berubah selain kekuasaannya kelas kapitalis.

Di bawah naungan kapitalisme, semua yang beku dicairkan; segala yang baru segera saja menjadi jadul bahkan sebelum ia menguap lenyap. Semua tempat dibuka, ditingali, dan dirombak supaya kapital tetap bisa menggelembungkan diri terus-menerus. Semua yang pernah dibuka, ditinggali, dan dirombak kembali, dibuka, ditinggali, dan dirombak. Semua ini terkait dengan soal ‘hidup dan matinya’ dunia kapitalis. Borjuasi, satu dari dua kelas dominan dalam kapitalisme, ‘tidak bisa ada tanpa senantiasa merevolusionerkan perkakas produksi dan juga hubungan produksinya, dan bersamaan dengan itu pula [merevolusionerkan] keseluruhan hubungan kemasyarakatan’ (Marx & Engels, 2008: 38). Salah satu ‘hubungan kemasyarakatan’ yang telah dan terus direvolusionerkan oleh kapitalisme ialah teknologi.

 

Kapitalisme tidak hanya dibangun di atas pengusiran-pengusiran dan pengkaplingan tanah (enclosure), kolonisasi dan berondongan pelor. Ia juga dihidupi semangat pembebasan. Seruan terpenting revolusi borjuis ialah kemerdekaan, kesetaraan, dan persaudaraan. Demi pembebasan manusia dari penindasan, sebagai kelas tertindas di dalam formasi sosial feodal, borjuasi berjuang penuh semangat memenggal semua kepala naga feodal dalam perang panjang mereka. Mereka tebas leher Louis XIV dan mendirikan parlemen; mereka runtuhkan kuasa Paus dan mencetak Alkitab untuk umat awam; mereka lepaskan uang dari kerangkeng perupetian kuno dan meruntuhkan Merkantilisme untuk membiakkan pasar-bebas; mereka juga berhasil ciptakan ilmu dan teknologi modern yang mengubah pandangan tentang bumi dan menjadikannya salah satu tumpuan proyek industrialisasi (Marx & Engels, 2008: 40). Dihapuslah segala mitos tentang omong-kosong indahnya hirarki dan sucinya bumi. Semua manusia setara di hadapan kapitalisme, dan bumi bukanlah Bunda Agung atau ladang semaian kasih Tuhan, tetapi sekadar sumberdaya yang harus dikeruk sedapat mungkin demi produksi kemakmuran dalam bingkai pranata kepemilikan pribadi formal.

Kapitalisme telah memberangus semua sumber derita dan cerita-cerita palsu yang pernah hidup di jaman sebelumnya. Penetrasi kapital ke tanah dan pertanian serta pembiakkan sistem pabrik di Inggris, di akhir abad ke-18, telah membebaskan para petani-penggarap dari belenggu upeti dan ikatan-ikatan perhambaan. Keluarga-keluarga petani kini lepas dari kewajiban-kewajiban hina untuk menghamba pada tuan tanah. Tuan-tuan tanah bebas memerdekakan hamba dan menjual atau menyewakan tanah-tanah yang telah mereka kapling sebagai milik pribadi. Para hamba yang telah bebas ini betul-betul bebas untuk bekerja atau tidak; untuk hidup atau mati. Perempuan-perempuan di dalam keluarga mereka juga bebas untuk bekerja ataupun tidak. Para tuan feodal tidak lagi punya hak untuk meniduri mereka tanpa membayar. Bagi borjuasi, keluarga batih monogami dan cinta romantis adalah pranata suci dengan pelacuran sebagai purgatorinya. Di dalam kapitalisme, lepas sudah derita panjang perempuan feodal sebagai makhluk nista. Sejak matahari cerah sistem pabrik dan industrialisasi menyingsing di Inggris dan kemudian menyebarkan kehangatannya ke penjuru dunia lewat kolonialisme dan imperialisme, perempuan menjadi setara dengan laki-laki. Perempuan boleh bekerja dan menjual dirinya bila menghendaki. Bila pun tidak, itu bukan soal. Pilihan ada pada perseorangan dan dijamin oleh sistem hukum formal berlandas kepemilikan pribadi atas apapun, termasuk tubuh. Tetapi mesti diingat, satu-satunya sumber kehidupan bagi siapa saja yang tidak memiliki kapital atau tanah atau sarana produksi ialah menjual tenaganya kepada yang punya.

Kapitalisme itu pembebas. Namun, anehnya, kapitalisme tidak menyentuh naga besar penjaga peti roh penindasan paling kuno yang selalu diserang kaum feminis, yakni patriarki. Mereka juga hanya membuat pingsan naga penjaga peti roh hirarki. Mereka malah mengenakan jubah baru pada roh hirarki tua itu dan memberinya minuman keras sampai dia mabuk sepanjang siang di pabrik-pabrik, koloni, wilayah jajahan, dan tatanan masyarakat pada umumnya. Kapitalisme telah hapuskan kelas petani-hamba (serf), tetapi menciptakan proletariat yang bebas untuk bekerja kepada kapitalis atau mati. Kapitalisme telah bebaskan perempuan dari kewajiban nista feodal, tetapi menjadikan mereka komoditi yang bebas menjual diri bila perlu. Bagi kaum feminis-marxis, kelindan penghisapan terhadap pekerja dan penindasan jenis baru terhadap perempuan merupakan satu kesatuan utuh yang menjadi wajah asli kapitalisme. Oleh sebab itu, pembebasan dari kapitalisme bukan hanya pembebasan manusia dari belenggu sistem kerja-upahan dan perekonomian berlandaskan penghisapan nilai-lebih demi senantiasa mengakumulasi kapital, tetapi juga pembebasan perempuan dari belenggu patriarki; patriarki kapitalisme yang anggun dan canggih. Namun, betulkah ada jalan menuju ke sana?

II

Pertanyaannya: dari mana Kapitalisme mendapat kekuatannya membentuk masyarakat baru yang ‘membebaskan’ itu? Inovasi teknologi, tentu saja. Seperti diulas Karl Marx (1990) penghisapan nilai-lebih, akumulasi kapital, dan ekspansi kapital hanya dimungkinkan dengan peningkatan kekuatan produktif. Meski bukan satu-satunya, teknologi adalah satu kekuatan produktif yang memungkinkan munculnya sistem pabrik, imperialisme, dan akhirnya, pasar global. Tujuan akhir pengembangan teknologi adalah meningkatkan dan melindungi akumulasi dan ekspansi kapital dari maut yang paling ditakuti, yaitu kemandegan. Teknologi diupayakan untuk menghapus semua batas-batas, geografis, temporal, maupun mitologis. Ruang, waktu, dan psikologi dipampatkan sedemikian rupa sehingga pengekang gerak kapital sepenuhnya (atau paling tidak hampir seluruhnya) ditumbangkan. Teknologi modern adalah agen pembebas kapital. Semuanya dibebaskan, terutama kekang kapital. Hanya melalui gerbang nilai paling mulia dalam kapitalisme inilah segalanya lewat. Tidak ada kartu pas untuk tujuan lain.

Teknologi modern yang perkembangannya didorong logika akumulasi dan ekspansi kapital punya satu ciri pokok: ia tidak akan berhenti berkembang. Hanya tuhan dan siluman yang bisa menghentikannya. Selama keduanya tidak turut campur, teknologi kapitalis akan terus-menerus berkembang. Mengapa? Bukan karena fitrahnya ia berkelakuan demikian. Ia hanya ‘sesuatu’ buatan manusia. Akarnya tidak berada dalam teknologi itu sendiri. Segala hal di dunia ini sejak peradaban Jerikho hingga sekarang, ialah pantulan dari tatanan dan dinamika masyarakat, dan kalbu terdalam tatanan dan dinamika masyarakat adalah produksi-distribusi-pertukaran; ringkasnya ekonomi-politik pertarungan kelas di relungnya. Copernicus, misalnya, tidak diperlukan sejarah selama pandangan dunia masyarakat masih melihat bumi itu datar seperti meja sehingga eksplorasi sumber-sumber kekayaan terhalang oleh naga-naga samudra penjaga tepi bumi. Ia dilahirkan sejarah ekonomi-politiknya. Begitu pula sistem kredit dan ekonomi spekulasi beserta Internetnya sekarang ini. Jadi, dari mana teknologi memiliki daya linuwih mengembangkan dirinya terus-menerus?

Bagi kaum pesimis, teknologi memanggul kutukan ketika ia pertama kali disentuh tangan kapitalisme. Ruh Absolut Kapitalisme atau nilai pemandu gerak kehidupannya ialah akumulasi dan ekspansi kapital. Seperti bocah manja yang dilahirkan dari keluarga kaya yang boros, kapitalisme akan selalu meminta lebih dan lebih tanpa pembatas selain kematiannya sendiri. Akumulasi kapital hanya mungkin dengan ekspansinya. Ekspansi kapital hanya mungkin lewat akumulasi penghisapan nilai-lebih. Akumulasi penghisapan nilai-lebih hanya mungkin dengan memeras tenaga kerja. Pemerasan tenaga kerja hingga tetes terakhirnya tidaklah mungkin. Tenaga kerja tidak boleh diperas sampai kering sebab kematiannya akan merusak semua roda mesin kapitalisme. Lalu apa yang bisa dilakukan? Peningkatan produktivitas kerja, tentu saja. Caranya ialah meningkatkan efektivitas dan efisiensi dengan meningkatkan teknik dan teknologi.

Peningkatan produktivitas atau dengan istilah lain ‘pembebasan kapital dari halangan untuk berakumulasi dan berekspansi’ ternyata seperti Marduk yang telah membebaskan peradaban Babilonia dari sopan-santun terhadap Dewi Bumi Tiamat. Ia meminta korban. Tidak tanggung-tanggung, korban yang diminta adalah manusia. Di dalam Discipline and Punish, Michel Foucault mengajukan pandangan bahwa teknologi produksi saja tidak cukup untuk menjaga akumulasi kapital. Kapitalisme memerlukan cara baru menata proses akumulasi kapital ini dengan teknik akumulasi manusia sebagai sumberdaya atau apa yang disebutnya sebagai ‘teknologi pendisiplinan tubuh.’  Akumulasi kapital dan akumulasi manusia tidak bisa dipisahkan. Tidaklah mungkin pemecahan masalah akumulasi manusia dibereskan tanpa pertumbuhan perangkat produksi yang memungkinkan keberlangsungan hidup dan pemanfaatannya. Sebaliknya, teknik-teknik yang memungkinkan akumulasi kapital didukung oleh pemanfaatan teknik-teknik pelangsungan dan pemanfaatan manusia. Dengan kata lain, mutasi-mutasi teknologis perangkat produksi, pembagian kerja, dan penerapan teknik-teknik pendisiplinan merupakan satu kesatuan yang memungkinkan kapitalisme tetap hidup sebagai sebuah sistem totaliter (Foucault 1978, 216-228).

Teknik pendisiplinan seperti apa yang (harus) berkembang dalam kapitalisme? Yaitu yang meresapkan pengawasan sampai ke tulang sum-sum atau Foucault menyebutnya dengan Panoptisisme. Teknik ini jauh lebih manusiawi, halus, elegan, dan canggih ketimbang teknik-teknik jaman feodal atau perbudakan. Tubuh tidak dikurung secara fisik, dilecut, dicambuk, atau dihancurkan, tetapi ia disusupi miliaran menara pengawas gaib yang menuntun tubuh untuk patuh bahkan sebelum ia menyadarinya. Tubuh di sini bukanlah badan wadag semata. Ialah tubuh-berkesadaran, kesadaran-menubuh, tubuh-tubuh populasi, dan dinamika kuasa atasnya. Biopolitik, kata Foucault. Mengapa harus demikian? Senjata ideologis yang dulu digunakan melawan tirani feodal tentu tidak bisa dilenyapkan. Kemerdekaan, kesetaraan, dan persaudaraan malah menjadi salah satu ikatan nilai pokok dalam kebudayaan borjuis. Tentu tidak istiqomah bila nilai-nilai mulia ini hanya untuk mereka. Bukankah mereka berjuang sebagai wakil umat manusia di muka bumi?

Dalam persoalan pendisiplinan tubuh, teknik ‘manajemen sumber daya manusia’ yang dikembangkan di universitas-universitas dan diterapkan di perusahaan-perusahaan hanya salah satu teknik pendisiplinan. Sekolah, media massa, persekutuan agama, partai politik, keluarga, bahkan serikat-serikat buruh adalah aparatus-aparatus pendisiplinan yang penting. Bukan hanya proletariat yang didisiplinkan, tetapi semua. Bukan hanya mereka yang di pabrik dan kantor yang didisplinkan oleh kapitalisme, tetapi semua orang, semua golongan, baik di kafe, sekolah, lembaga penelitian, kampus, pos ronda, rumah, parlemen, pengadilan, atau markas serikat buruh. Merekalah pengawas-pengawas tata tertib dan keteraturan. Semua orang adalah kadet-kadet siap perang demi akumulasi dan ekspansi kapital. Seperti Mungkar dan Nakir, aparatus pendisiplinan mencatat dan melaporkan segalanya kepada Kapitalisme. Saluran catatan dan laporan ini salah satunya ialah ilmu (pengetahuan).

Henri Lefebvre, dalam the Survival of Capitalism, mengajukan dua kesimpulan terkait dengan peranan ilmu dalam Kapitalisme. Ilmu ialah kepanjangan tangan dari teknik akumulasi dan ekspansi kapital. Ilmu sosial, misalnya, menjadi alat kendali politik dari ibadah Kapitalisme ini. Hal ini berlaku bagi ekonomi, politik, psikologi, sosiologi, dan tentu saja antropologi. Ada pembauran antara ilmu ideologis dan siasat akumulasi kapital. Contohnya, di dalam babak Kapitalisme-lanjut dari 1950 hingga 1970-an, sosiologi menjadi alat kendali kehidupan sosial secara tak langsung, terutama lewat dominasi teori-teori fungsionalisme dan interaksi simbolik-nya yang masyur itu. Secara langsung, ilmu-ilmu sosial menjadi pemasok data (terutama yang dibangun lewat statistik) yang dijual ke pengguna melalui media bank datanya. Ilmu-ilmu kealaman bahkan berada dijantung akumulasi itu sendiri. Ilmu kealaman secara langsung menyatu ke dalam produksi lewat teknologi dan pengembangan permesinan demi akumulasi. Akhirnya Lefebvre menyimpulkan bahwa kapitalisme tidak lagi soal akumulasi sederhana kekayaan atau peningkatan perkakas-perkakas produksi, tapi juga soal akumulasi teknik, informasi, dan pengetahuan pada umumnya untuk mengendalikan manusia dan alam demi kapital (Lefebvre 1976, 111-112).

Di luar ilmu, media massa, terutama televisi yang merupakan anak kandung perkembangan teknologi elektronika modern dan disebut Lefebvre tiada lain sebagai ‘piranti produksi tontonan’, memeragakan atau menjelaskan nilai-nilai dan norma-norma kapitalisme melalui tampilan ‘sederhana’ (Lefebvre 1976, 74-5). Media massa bukan saluran jutaan informasi demi memenuhi kebutuhan pemirsa, tapi lebih sebagai podium ‘pengkhotbahan’ yang mewartakan Kabar Baik, menuntun, dan merekayasa kebutuhan pemirsa. Media massa menempatkan pemirsa sebagai umat awam yang pasif menerima curahan berkah dari kerangka pikir dan cara hidup yang selaras dengan kebudayaan kapitalisme.

Dalam pandangan Herbert Marcuse (1964), kebudayaan kapitalisme tiada lain adalah kebudayaan komoditi; kebudayaan yang berbasis pengejaran laba yang berlari ibarat bayang-bayang di depan proses produksi. Di bawah naungan kebudayaan ini semua nilai ditakar dengan takaran komoditi atau laku-atau-tidaknya di pasar. Tujuan kehidupan bermasyarakat seperti kerja, produksi barang, produksi budaya dan penciptaan seni, pendidikan, dan lain-lain berada di bawah pengawasan hukum besi komoditi yang tidak untuk memenuhi kebutuhan manusia yang sebenarnya, tetapi kebutuhan semu yang direka-reka. Segala tujuan diarahkan dan diperjuangkan sepanjang ‘laba’ menghendaki. Produksi umum bukan untuk memenuhi kebutuhan manusiawi tetapi agar terjual. Kebutuhan manusiawi yang sebenarnya, terutama komunikasi dan kebersamaan, malah tidak terpenuhi. Dalam kebudayaan komoditi, “manusia tidak (perlu) lagi saling berhubungan sebagai sesama manusia. Benda-benda material telah mengambil alih hubungan antarmanusia yang seharusnya manusiawi itu” (Sitorus 2004, 71).

Bagi Marcuse, teknologi bermain penting dalam pengendalian dan rekayasa keinginan. Teknologi kapitalis menggiring manusia seperti seorang gembala menggiring domba-domba patuhnya ke dalam kerangkeng yang menjadikan dimensi-dimensi manusia yang beraneka itu cuma tinggal satu: sebagai komoditi belaka (Marcuse 1964). Manusia yang dipandang sebagai benda akhirnya ikut memandang dirinya (tanpa disadarinya) tak lebih dari sekadar benda. Ketika sedang mengkritisi teknologi kepatuhan rezim-rezim otoriter, F. Budi Hardiman menyimpulkan bahwa  ‘Dalam era industrialisasi dan teknologisasi masyarakat, manusia mengadaptasi dirinya dalam dunia teknis dan memperlakukan dirinya sendiri sebagai suatu komponen dalam sebuah sistem produksi’ (Hardiman 2005, 117). Akhirnya, mengambil perumpamaan Theodore Adorno, manusia di bawah rezim kebudayaan Kapitalis berperilaku ‘… seperti narapidana yang mencintai kerangkengnya karena tidak ada hal lagi yang bisa dicintai’ (dikutip Hardiman 2007, 108).

Di dalam rezim teknologi kapitalis, seperti dalam agama-agama totaliter, keluar jalur berarti murtad dan hukumnya jelas: pembasmian. Di dalam pandangan Marcuse dan kaum pesimis lainnya, tidak ada sekam menyala sepercikpun yang bisa menerangi kegelapan dalam kebudayaan kapitalis. Semua bara telah dipadamkan. Semua pintu telah terkunci. Kita yang berada di dalamnya haruslah terbiasa dengan dan mencintai kegelapan. Ideal revolusi proletariat yang pernah menjadi bara pembakar kini telah padam. Ia telah menjadi sejarah abad ke-20; sudah menjadi mitos serta dongeng sebelum tidur yang hanya cocok untuk meredakan lelah setelah sepanjang hari menjadi sekrup di mesin kapital. Walter Benjamin, seorang pesimis lainnya, tidak sedang bernubuat ketika menulis: “Pertentangan-pertentangan yang ditimbulkan oleh modernitas melawan bakat-bakat kreatif manusia [… dan] melampaui batas kekuatan-kekuatan manusia. Dapatlah dimengerti kalau manusia menjadi lelah dan mencabut nyawanya sendiri” (dikutip Hardiman 2007, 88-9). Dia sedang membaca koran pagi ini.

III

Dalam kepustakaan Marxis, ada Grudrisse, buku setebal kitab suci yang isinya ancangan kasar, komentar-komentar, dan catatan-catatan terkait dengan penulisan buku tentang ekonomika. Grundrisse menyimpan gagasan tentang munculnya tatanan masyarakat jenis baru di dalam kapitalisme yang berlandaskan perkembangan teknologi paling maju yang disebutnya tahap otomasi (automation) (Marx 1973: 692-95).

Menurut Grundrisse, otomasi akan meluas sehingga mesin-mesin canggih berswadaya sanggup menggantikan tenaga manusia. Produksi tidak lagi bertumpu kepada manusia, tetapi kepada teknologi sebagai porosnya. Bila di masa sebelumnya mesin hanya bisa ‘bekerja’ di bawah kendali manausia, maka dalam tahap otomasi teknologi, mesin-mesin bisa ‘bekerja’ sendiri dan manusia sekadar ‘membantunya’. Mesin dan teknik-teknik produksi modern memungkinkan produksi efisien dan sedikit saja membutuhkan tenaga kerja manusia sehingga banyak waktu luang yang dihasilkan. Dalam keadaan seperti ini manusia tidak lagi diperbudak oleh ekonomi dan bisa meluangkan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang tidak terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidup. Namun sayangnya kekuatan produktif baru yang semestinya membebaskan manusia dari kerja-fisik tersebut ternyata tidak untuk kemaslahatan semua orang. Tujuan pokok dalam pengembangan teknologi bukanlah meringankan beban manusia, tetapi semata-mata untuk meningkatkan daya hisap kegiatan produksi atas nilai-lebih. Seperti dijelaskan dalam Manifesto Komunisbahwa “seiring dengan peningkatan dalam penggunaan permesinan dan pembagian kerja, beban kerja juga meningkat, entah melalui perpanjangan waktu kerja, dengan peningkatan pengepasan kerja di dalam waktu kerja yang ada atau karena kecepatan permesinan, dan sebagainya” (Marx & Engels, 2008: 43). Bagi kelas pekerja, waktu kerja bukannya menjadi semakin berkurang, tapi malah bertambah, dan waktu luang yang dihasilkan teknologi otomasi hanya dimanfaatkan untuk akumulasi dan ekspansi kapital lebih lanjut. Meminjam istilah Anthony Giddens (2004), ekonomi kapitalis adalah ‘ekonomi tunggang-langgang’ yang terus berlari mengejar bayangan kepalanya sendiri, dan di dalam sistem ekonomi seperti ini perkembangan teknologi seperti apapun justru merupakan malapetaka ketimbang juru selamat.

Selain itu, tahap otomasi juga diiringi oleh terbentuknya kelas-kelas pekerja baru yang lebih terampil, berpendidikan, dan akrab dengan teknologi tinggi. Kelas pekerja baru ini akan menggeser kelas pekerja tradisional manufaktur. Kelas pekerja lama ini pada akhirnya akan menjadi setumpuk cadangan industrial yang ‘berguna’ untuk mempertahankan rata-rata pengeluaran kapital-variabel di masa-masa krisis. Kebutuhan akan jenis pekerja baru yang berpendidikan tinggi pada ujungnya mengharuskan kapitalis memperdulikan persoalan pendidikan yang selama ini masih menjadi ‘eksternalitas’ dalam perhitungan ekonomi mereka. Paling tidak, kapitalis harus mendesak Negara sebagai lembaga yang dikhayalkan otonom itu untuk mengerjakan pekerjaan kapitalis menghasilkan tenaga-tenaga kerja jenis baru ini. Tentu saja, proses menghasilkan tenaga-tenaga kerja jenis baru ini tidak boleh dilepaskan dari rancangan untuk menghasilkan ‘sumberdaya manusia’ yang patuh karena reproduksi kapital harus selaras dengan reproduksi sumberdaya manusia seperti yang disinyalir Foucault.

Di sisi lain lembaga-lembaga pendidikan bukan lagi sekadar lembaga sosial yang bertujuan meningkatkan martabat pembebasan manusia di dalam dunia modern ini. Dengan meningkatnya ketergantungan kapitalisme kepada pengoperasian teknologi canggih, maka lembaga-lembaga pendidikan lebih merupakan lembaga produksi jasa penghasil komoditi yang bernama “pengoperasi teknologi”. Ilmu pengetahuan menjadi semakin terkomodifikasi dan terkena langsung oleh hukum pasar kapitalis. Ilmu menjadi semakin teknis dan ilmu-ilmu yang semakin dekat dengan proses sirkulasi kapital akan semakin berkembang, sementara ilmu-ilmu yang jauh dari sirkulasi kapital semakin surut. Sejak akhir dasawarsa 1980-an, jenis ilmu terapan baru, teknik informatika, muncul dan berkembang pesat. Tentu saja bukan karena kurikulum, kualitas pengajar, dan sumbangsihnya bagi kemanusiaan yang membuat administrasi niaga, hukum bisnis, manajemen resiko, dan psikologi industri lebih berkembang ketimbang arkeologi, antropologi, filologi, atau filsafat. Sebabnya jelas terkait dengan perubahan corak sirkulasi kapital.

Selain itu, dengan berubahnya sirkulasi kapital berupa kecenderungan ekonomi dunia yang bergerak ke arah ekonomi spekulasi finansial berbasis internet atau yang dalam istilah Giddens disebut ekonomi-elektronik-global (global-electronic-economy/GEE) (Giddens 2004: xv), teknik-teknik manajemen sumberdaya manusia juga harus berubah. Tidak lagi untuk mengendalikan tubuh-tubuh pekerja upahan di pabrik-pabrik, tetapi untuk mengontrol pikiran sehingga di manapun mereka bekerja, maka mereka bekerja sesuai dengan kepentingan kapital.

Sekali lagi, perkembangan teknologi hingga pada tahap otomasi yang semestinya membebaskan manusia dari beban kerja fisik dan menyumbang pada peningkatan waktu luang yang dihasilkan peningkatan produktivitasnya, ternyata tidak untuk manusia, tapi untuk kepentingan berhala kapital yang kini semakin mirip dengan Marduk, tuhan yang diciptakan peradaban Babilonia yang telah membebaskan manusia dari penghambaan terhadap batas-batas alamiah Bunda Bumi Tiamat. Seperti juga Marduk, kapital dipuja. Doa-doa dan kurban bakaran dipanjatkan. Kurban itu adalah manusia sendiri.

IV

Dari sudut pandang pesimis, di dasar kotak Pandora rezim teknologi kapitalis tidak ada lembar harapan. Kelangsungan formasi sosial kapitalisme tidak cukup dengan terpenuhinya kebutuhan akan bahan baku, pasokan tenaga kerja murah, dan pasar dunia yang terbuka lebar, tetapi jauh lebih dalam lagi terkait persoalan penyeragaman-kesadaran melalui berbagai aparatus ideologis yang menyusupkan ke dalam tubuh satu generasi ke generasi berikutnya tentang segala kewajaran dunia sosial dalam kapitalisme. Teknologi kapitalis tidak hanya berperan sebagai alat dalam mewujudkan kesuraman nasib manusia ini. Ia mungkin satu-satunya pemeran paling penting sebab ia berada di tangan kapital yang senantiasa bertarung dengan tenaga kerja yang dicinta sekaligus dibenci. Ia telah mengangkut manusia dari kedudukan sebagai pencipta menjadi sekadar ciptaan. Ia mengasingkan manusia dari perannya sebagai pelaku dan pembentuk kehidupan menjadi sekadar sekrup-sekrup bisu yang bergerak kesana-kemari mengikuti gerak mesin kapital. Di dalam rezim teknologi kapitalis, “proletariat dibikin menjadi pelengkap mesin” belaka (Marx & Engels, 2008: 43).***

Dede Mulyanto, Dosen Universitas Padjajaran, Bandung.

Kepustakaan

Foucault, Michel, 1978, Discipline and Punish: The Birth of the Prison, terjemahan Alan Sheridan, New York: Pantheon.

Giddens, Anthony, 2004, Dunia yang Lepas Kendali: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita, Jakarta: Gramedia.

Hardiman, F. Budi, 2005, Tubuh dan Mesin: Mengurai Teknologi Kepatuhan, dalamMemahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, hlm. 114-146, Jakarta: Penerbit Kompas.

Hardiman, F. Budi, 2007, Filsafat Fragmentaris, Jogjakarta: Kanisius.

Lefebvre, Henri, 1976, The Survival of Capitalism, New York: St. Martin’s Press.

Marcuse, Herbert, 1964, One Dimensional Man, Boston: Beacon Press.

Marx, Karl, dan Friedrich Engels, 2008, The Communist Manifesto, London: Pluto Press.

Marx, Karl, 1973, Grundrisse: Foundations to the Critique of Political Economy, terjemahan dan pengantar oleh M. Nicolaus, Harmondsworth: Penguin Books dan New Left Review.

Marx, Karl, 1990, Capital: a critique of political economy, Vol. 1, London: Penguin Books.

Sitorus, Fitzgerald K. 2004, Menuju Dunia yang Filosofis: Rekonstruksi Historis Lukacs atas Roh Absolut Hegel, Jurnal Filsafat Driyarkara, XXVII No. 2, hlm. 63-77.

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus