
Krisis Hunian dan Permainan Kuasa di Daerah Istimewa
Akses terhadap hunian bergantung pada aliansi kekuasaan sementara warga Sleman tidak memiliki kekuatan tandingan yang memadai.
HomeLiputan Khusus

Akses terhadap hunian bergantung pada aliansi kekuasaan sementara warga Sleman tidak memiliki kekuatan tandingan yang memadai.

Eksploitasi, perbudakan, dan perdagangan manusia terhadap buruh migran bukan sekadar akibat lemahnya penegakan hukum, melainkan bagian dari struktur ekonomi-politik kapitalisme yang menempatkan buruh sebagai komoditas dan negara turut melegitimasi serta menikmati akumulasinya.

Kita tidak boleh terjebak dalam dikotomi palsu antara “menyelamatkan bumi” versus “membela masyarakat adat”. Dua hal ini bukan musuh.

Di Tano Batak, kehadiran Toba Pulp Lestari mengubah tanah dari basis hidup komunal menjadi medan akumulasi, sementara hukum dan adat bekerja sebagai perangkat seleksi yang menentukan siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus disingkirkan. Dari proses inilah lahir Subjek Kriminal, bukan sebagai pelaku kejahatan moral, melainkan sebagai posisi sosial yang dilekatkan pada mereka yang mengganggu ritme produksi kapital. Ketika identitas adat terfragmentasi oleh diferensiasi kelas, penjara dan kontrak menjadi dua wajah pendisiplinan yang sama, menegaskan bahwa dalam konflik agraria, kelas berbicara lebih keras daripada sekadar perkara asal-usul.

Perjuangan serikat buruh sering kali dimanipulasi oleh pimpinan yang memiliki pengaruh dan hak prerogatif dalam organisasi, termasuk memecat anggota yang dianggap berseberangan dengan ketua serikat, meskipun anggota tersebut memiliki cara pandang yang lebih maju.

Protes dilakukan warga untuk menggagalkan operasi perusahaan, termasuk terhadap kriminalisasi dua warga masyarakat adat Negeri Haya yang dituduh merusak dan membakar fasilitas perusahaan. Perusahaan melaporkan mereka karena beberapa fasilitas terbakar akibat protes. Namun warga menolak keterlibatan sengaja.

Melalui lensa konseptual kekerasan kolonial dan pengalaman historis orang Yéi, tampak jelas bahwa masa lalu dan masa kini merupakan satu kesatuan kontinuum dari praktik kolonial yang sama. Kesinambungan inilah yang pada akhirnya membuka jalan bagi keruntuhan sebagian, bahkan seluruh, kehidupan dan kebudayaan Yéi-nan di Selatan Papua.

Selama lorong-lorong rusun masih menyimpan perlawanan, kota belum sepenuhnya dikuasai kapital.

Hidup orang gunung tak seharmonis yang dilihat oleh orang luar. Di dalamnya terdapat pula dinamika kelas.

Kerusakan ekologis di Pantura kian gawat, begitu pula para buruh yang bekerja di sana.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.