Aparat yang Heroik adalah Aparat yang Fiktif

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh M. Awaludin Yusuf, “I will paint living people who breath and feel and suffer and love”. Karya-karyanya dapat dijumpai di sini


ADA yang lebih menghibur hari-hari ini ketimbang membuka laman media sosial Bude Sumiyati, Tahi Lalats atau Doraemon Hari Ini. Ketik “#tnipolribersamarakyatkomik2019” di pencarian Instagram Anda. Anda akan diantarkan ke unggahan-unggahan yang sangat menawan.

Saya tidak bercanda. Membaca hasil lomba Komik Polisi ini lebih menyenangkan hati daripada disadarkan betapa toxic-nya lingkungan pergaulan Nobita atau mendapati Bude menebar cinta kepada Anda, wahai netizen. Oh, yang satu ini misalkan amat lucu. Kegalakan dan ketegasan polisi digambarkan merupakan avatar agar mereka disegani kejahatan dan ketidakadilan. Semua ditampilkan dengan gaya ilustrasi, pengisahan, dan dramatisasi yang sebelumnya hanya dapat Anda temukan di manga shojo.

Belum lagi yang satu ini. Kalau Anda pembaca Naruto, Anda wajib membacanya dan mengomentarinya.

Anda malah senewen dan tidak terhibur? Maaf. Saya lupa bilang, saya terhibur persisnya karena komik-komik ini menginsafkan saya, imajinasi awam tentang polisi dan tentara memang fantastis!

Kita, sementara itu, tak punya imajinasi sefantastis itu. Propaganda? Hoaks? Provokasi? Radikalisasi? Dan… polisi membantu kita selamat menyeberangi jalan bertaburan bahaya-bahaya eksistensial tersebut?

Yang kita tahu dengan imajinasi miskin kita, bahaya-bahaya ini kebanyakan bukan ulah musuh yang nyata. Cermati komik-komik yang diunggah untuk kompetisi tersebut. Dari puluhan komikus yang menggebu-gebu memvisualisasikan heroisme polisi dan tentara, tidak ada yang adekuat memvisualisasikan bahaya-bahaya yang dihadapi. Beberapa memvisualisasikannya lewat wejangan atau simbolisasi. Banyak yang lain menggambarkannya dengan musuh yang tak realistis atau, bahkan, tak berbentuk yang tengah menggempur aparat.

Dan seperti yang sudah bisa ditebak, ada yang menggambarkannya dengan insan yang jarang bergaul di lingkungan sekitar seperti saya.

Semua bahaya tersebut adalah visualisasi komposit—gado-gado, bahasa gampangnya—citra-citra klise yang rajin disiarkan berita kriminalitas, penyergapan teroris, termasuk juga wejangan via media sosial maupun pengumuman di balai kampung. Tak sedikit pula mereka dirembesi imajinasi spektakuler kiriman Hollywood dan manga Jepang—dua sejoli industri fantasi paling kolosal di dunia.

Kenyataannya? Televisi Anda tidak menayangkan proses peradilan mereka yang ditangkap (dan, oh, korban salah tangkap tidaklah sedikit, Bambang). Media sosial resmi di bawah Polda Metro Jaya pernah turut menyebarluaskan hoaks brutal. Intoleransi? Pembubaran ibadah dan penyegelan gereja oleh ormas dibiarkan. Dan tak usahlah lagi kita menceritakan dengan rinci represi, kriminalisasi, serta diskriminasi aparat terhadap masyarakat sipil. Kita sudah menghafal mereka dengan cara yang menyakitkan.

Komik-komik kesayangan kita itu memperlihatkan heroisme yang tak mensyaratkan fakta. Heroisme semata membutuhkan pemeran antagonis, tak peduli musuh ini pada dasarnya fiktif, serta pertempuran dramatis mengalahkannya.

Hilangkan pemeran antagonis dari semua komik yang Anda baca. Bruce Wayne cuma akan jadi anak orang kaya penikmat privilese berlimpah sasaran julid netizen kemarin-kemarin. Simba Lion King sama saja—dia akan jadi raja dunia binatang yang manja. Kalau Naruto, mungkin dia akan jadi tukang mie ayam.

***

Namun, heroisme semacam merupakan formula yang tak dapat ditampik mujarab buat membius khalayak. Tak ada yang menyangka sebelumnya Superman akan memesona begitu banyak orang. Tokoh ciptaan Jerry Siegel dan Joe Schuster itu awalnya dianggap “kekanak-kanakan” dan “konyol”.

Selepas mulai diterbitkan oleh Action Comics, tak butuh waktu lama bagi Superman untuk menggondol hati khalayak. Klub Superman marak di kota-kota Paman Sam pada 1939. Anak-anak muda memakai mantel Superman. Ada satu anak muda yang jatuh dari atap (dan selamat) karena terobsesi terbang meniru sang pahlawan super. Penerbit-penerbit lain mencetuskan pahlawan super mereka, mengundang DC untuk melayangkan tuntutan kepada mereka satu-persatu.

Formula Superman sederhana. Superman tak perlu karakter yang kompleks, alur yang meyakinkan, konflik yang mencekam. Watak sang tokoh utama seperti anak OSIS teladan—sempurna dan membosankan. Kekuatannya jauh di atas musuh-musuhnya. “Semuanya mudah buat Superman,” ujar Lex Luthor tentang Superman.

Tapi, Superman menjajakan kepada pembacanya fantasi yang ternyata mereka inginkan. Fantasi bahwa di tengah kehidupan yang medioker ini ada seorang insan berkekuatan super yang siap menjaga keselamatan orang banyak, tak menyalahgunakan kesaktiannya itu meskipun ia mudah saja menguasai dunia dengannya. Ia akan menyembunyikan identitasnya saat tugas besarnya selesai dan hidup bersahaja sebagai Clark Kent, sang jurnalis.

Formula ini cukup. Umberto Eco menyebut formula ini “universalitas estetik” yang memungkinkan Superman beresonansi dengan khalayak luas.

Saya sendiri tak kebal dari iming-iming formula ini. Fakta bahwa saya getol mengonsumsi Dragon Ball serta Avengers adalah bukti ide pahlawan super yang membela kita dari marabahaya dan bertanggung jawab dengan kekuatannya memantik api dalam diri saya. Fakta bahwa barang-barang ini merupakan hits global memperlihatkan saya tidak sendiri. Dan kenyataannya pula, kita akrab dengan sosok Satrio Piningit sebelum mengenal Superman.

Tapi, ada saat-saat di mana obsesi naif semacam terejawantahkan secara kelewat menjengkelkan dan gawat. Saya ingat, seorang budayawan bilang Indonesia lebih baik menerapkan monarki ketimbang demokrasi. Pembenarannya? Ia tahu sosok monark yang tunduk kepada rakyatnya dan menjalankan pemerintahan yang lebih bajik ketimbang para politisi pilihan sistem demokrasi.

Lucunya, bagaimana ia benar-benar tahu tentang sosok monark bersangkutan bila tak ada yang diperkenankan menulis si sosok dengan nada miring? Kalaupun memang ada monark sejenis itu—yang saya tak terlalu yakin—bagaimana dia bukan produk dari lemparan dadu yang tak akan terulang?

Makhluk semacam sang budayawan, sayangnya, wajar belaka. Dunia politik kita, Anda tahu, dicemari oleh orang-orang yang bilang zaman Suharto adalah zaman yang sempurna. Orang-orang ini percaya para pemegang “kekuatan super” dengan sendirinya akan bertanggung jawab dengan kekuatannya. Keunggulan figur-figur terkecuali ini tidak akan membelokkan mereka dari komitmen mereka kepada rakyat.

Andai saja mereka tahu, Suharto tak segan bilang bisa menghilangkan anggota DPR di pidato terbukanya.

Kata Ucok Homicide, fasis yang baik adalah fasis yang mati.

***

Superman, setidaknya kita tahu, adalah omong kosong. Khalayak boleh mengelu-elukannya. Mereka boleh menganggapnya pahlawan tanpa cela. Pada akhirnya, ia hanya tinta dan ilustrasi yang tertuang di atas kertas.

Tapi, aparat korup, represif dan tengah berusaha memulihkan kembali kekuasaan politiknya bukanlah omong kosong. Fantasi-fantasi pahlawan super yang kita proyeksikan ke aparat menyelimuti dosa dan kebobrokan yang semestinya dipertanggungjawabkan ini. Berapa kali Anda melihat kritik terhadap aparat ditembak jatuh oleh netizen acak dengan klaim aparat sudah mengorbankan jiwa raga untuk membela negara? Bahwa aparat membahayakan diri saat rakyat tidur tenang dalam perlindungannya? Dan bahwa tidak ada yang membela HAM tentara maupun polisi?

Saya jawab saja: banyak.

Anda pun bisa menulis kajian akademik panjang lebar betapa fiktifnya bahaya-bahaya tersebut (dan kenyataannya, mereka sudah ada, tebal, serta banyak). Sialnya, seperti yang sudah saya bilang, perdebatan selesai sesegera klaim aparat sebagai pahlawan super ditumpahkan ke kuali.

Ya, benar, negara bukan cuma punya statistik, intelijen, editor, panggung, media. Narasi pahlawan super juga berpihak kepada mereka. Di gudang pengetahuan mereka, Anda akan menemukan bahaya imajiner sudah ditumpuk menjulang tinggi. Jumlahnya lebih banyak bahkan dibanding data yang mereka punya. Sewaktu-waktu glorifikasi aparat sebagai pahlawan dibutuhkan, mereka tinggal memilih bola boling bahaya imajiner yang ingin digelontorkannya.

Dan romantisasi kepahlawanan aparat, salah satunya yang dilakukan Komik Polisi kesukaan Anda itu, tidak akan membuat kehidupan lebih baik. Ia melapangkan jalan untuk pengawasan total dan negara polisi karena rakyat digambarkan bak anak-anak, tak berdikari dan mustahil bisa menjaga diri. Ia membuka kembali pintu hak politik istimewa untuk tentara karena mereka yang dianggap bisa mengatur dan memimpin.

Kata almarhum Gus Dur, hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia. Polisi tidur, patung polisi dan Hoegeng.

Oh iya, kini ada empat: polisi dalam komik Polisi.***


Geger Riyanto, Mahasiswa Ph.D. Institut Antropologi Universitas Heidelberg

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus