Menyingkap Kabut Kecantikan: Usaha Melawan Kapitalisasi Kecantikan

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: www.flickr.com


RABU, 23 Oktober 2019, menjadi hari berbahagia bagi para Menteri beserta isteri-isterinya. Betapa tidak, hari itu adalah momen “istimewa” mereka (para Menteri) pasca dilantik sebagai pembantu Presiden Jokowi yang berhasil menyingkirkan sekaligus memeluk lawannya dan melanjutkan misi pembangunan di pelosok-pelosok daerah. Bukan suatu hal yang mengejutkan memang jika lawan menjadi kawan dalam perpolitikan.

Tidak ketinggalan sorotan kepada para isteri menteri paling anyar. Apalagi kalau bukan kecantikan mereka yang lebih menjual dari pada intelektualitas seorang perempuan. Berbagai lensa kamera dari media mainstream seakan ditadirkan untuk tertuju pada tubuh para isteri menteri tersebut. Tanpa penjelasan apa pun, gambar-gambar itu sudah mampu ditafsirkan oleh para netizen yang budiman. Tidak lain adalah seksualitas, karena memang itu yang laku di pasar Indonesia (bahkan dunia) sekaligus menjadi komoditi penghasil surplus ekonomi yang sebanding dengan sumberdaya alam. Sekali sorot berjuta mata melirik, apa lagi disertai judul yang seksis, para netizen tak sungkan untuk jadi marketing tanpa bayaran demi berbagi link untuk memancing netizen lainnya saling berbagi link yang serupa. Maka, maha benar netizen dengan segala pikiran seksisnya yang menjadi algoritma pembenaran bagi netizen lainnya.

Tubuh merupakan fetish, bukan hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Masyarakat produktif tanpa kepemilikan alat produksi kini telah berganti menjadi masyarakat konsumtif, masyarakat yang didorong untuk menemukan diri mereka di dalam barang-barang yang diiklankan oleh media (John Storey, 2017:114). Bagi laki-laki, seksualitas perempuan terwujud pada tubuh yang seksi, langsing, putih, dan ideal (sesuai konstruksi kapitalis) yang perlu dikonsumsi. Sedangkan bagi perempuan, seksualitas perempuan berada pada proses menuju tubuh yang seksi, langsing, putih dan ideal, yaitu produk-produk yang ditawarkan oleh kapitalis untuk mewujudkan tubuh ideal. Kenapa mereka, laki-laki dan perempuan, sampai kepada pemahaman seperti itu? Kapitalislah yang menyuapi mereka dengan sugesti, bahwa “diri” mereka hanya ditemukan pada apa yang dikonsumsi, bukan yang dihasilkan. Sedangkan untuk menemukan “diri” mereka, laki-laki dan perempuan harus mengonsumsi barang-barang yang hanya bisa mereka dapatkan dari kapitalis. Laki-laki menemukan “diri” mereka pada tubuh perempuan yang disediakan oleh media kapitalis, sedangkan “diri” perempuan ditemukan pada berbagai macam produk kosmetik dan perawatan tubuh yang tidak lain untuk memenuhi ekspektasi seksual laki-laki.

Tidak heran jika pada pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju, tubuh seksual isteri para menteri menjadi sorotan media sebelum acara selesai. Seksualitas serasa menjadikan kondisi dunia kerja laki-laki seperti akhir pekan, menjadi sebuah destinasi rekreasi untuk menghilangkan penat dalam otak atas rutinitas kerja. Seperti yang digambarkan Lacan dengan ideologi roman, yaitu misi pencarian cinta. Cinta melambangkan ketidakpenuhan diri, ada sesuatu yang hilang pada tubuh dan harus segera dilengkapi. Budaya konsumerisme menawarkan sebuah kehilangan dalam diri setiap orang yang harus dilengkapi untuk menjadikannya sempurna. Bagi laki-laki, seksualitas perempuan merupakan sebuah kehilangan yang harus segera ditemukan, sedangkan perempuan menemui kehilangannya ketika tidak mendapatkan perhatian khusus dari laki-laki. Ini merupakan transisi dari pemenuhan diri yang imajiner menuju simbolik. Imaji-imaji yang seksis diciptakan kapitalis berupa tubuh perempuan yang “ideal” sebagai simbol ketubuhan yang hilang dari diri setiap konsumen (masyarakat). Fenomena ini menjadi sebuah keanehan tersendiri, masyarakat berusaha melengkapi sesuatu yang hilang dalam diri dengan menjadikan sesuatu yang di luar dirinya sebagai pengganti, seperti seksualitas perempuan (bagi laki-laki), kosmetik (bagi perempuan). Masyarakat bersenang-senang dalam keterasingan mereka yang seharusnya menjadi keprihatinan bagi setiap orang.


Devaluasi Perempuan Dan Usaha Menjadikannya Bernilai

Pesona “kecantikan” isteri Menteri seolah menjadi kabut bagi perempuan di waktu yang sama sedang berjuang mempertahankan  ruang hidupnya. Standar kecantikan telah menjadi standar kelayakan perempuan untuk diliput oleh media. Tidak ada alasan lain selain komoditi, keuntungan media, seluruh tubuh perempuan adalah komoditi yang teramat sayang untuk sekadar dilihat. Sedangkan perempuan yang sedang berjibaku dengan terik matahari demi memberi warning kepada publik – terkhusus pemerintah— bahwa kecantikan biodiversiti lingkungan perlu mendapat perhatian, bagi media tidak memenuhi standar ideal kecantikan perempuan. Masyarakat sudah terlanjur memesan pesona perempuan yang dilumuri bahan kimia diwajahnya, lipstik di bibirnya, pakaian “anggun” yang menyelimuti tubuhnya, sepatu dengan cagak di belakang yang menghiasi kakinya. Dan ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk mengucapkan, “Teruslah melawan perempuan pejuang lingkungan.”

Counter argument yang ditawarkan Angela McRobbie untuk melawan standarisasi pesona kecantikan dengan menghadirkan wacana baru perihal kecantikan. Mengusung kembali wacana lingkungan sebagai cermin kecantikan, sama halnya melawan kapitalisasi kecantikan dan perusakan lingkungan. Pesona kecantikan yang dihadirkan oleh kapitalis merupakan kombinasi eksploitasi alam, ekonomi, politik dan media yang menjadi wacana sempurna untuk mendiskon feminisme. Mengatasnamakan kebebasan yang diinginkan perempuan di ruang publik, kapitalis bermimikri seolah ia hadir membantu perempuan untuk memperoleh otoritas tubuh sebagaimana yang diperjuangkan feminisme radikal. Apakah penggunaan produk kecantikan menjadikan perempuan memiliki otoritas atas tubuh? Tentunya tidak, itu merupakan kebebasan palsu seorang perempuan, tubuh mereka terbelenggu dalam wacana kebebasan kapitalis yang sebenarnya mendorong para perempuan untuk saling menjatuhkan, terutama standarisasi kecantikan.

Kembali kepada isteri menteri, apakah mereka merepresentasikan feminisme atas kebebasannya dalam mengekspresikan tubuh? Tidak secara keseluruhan (untuk tidak mengatakan tidak sama sekali). Kapitalis mengadopsi kebebasan perempuan tetapi tidak dengan perawatan alam, dimana produktivitas perempuan tradisional berada pada alam di sekitar mereka, seperti sawah, pegunungan, atau laut. Perempuan tradisional kehilangaan sumber perekonomian mereka yang juga akan berimbas pada relasi laki-laki perempuan dalam kehidupan sosial. Jangan berfikiran bahwa kapitalis hanya menyerang perempuan kelas atas, mereka juga menyerang perempuan tradisional dengan eksploitasi alam dan penggusuran lahan untuk menggantikan gaya hidup lama dengan gaya hidup “modern.” Cara mudah memahaminya, perempuan tradisional digiring ke pusat (modern) untuk meninggalkan daerah pinggiran yang sebenarnya di sanalah bahan baku “kecantikan” berada.

Perempuan pusat menjadi pelanggan setia dari produk kapitalis yang berasal dari pinggiran yang pengawasan atas alam telah hilang akibat perempuan tradisional dihilangkan dari daerahnya. Perempuan tradisional berfungsi sebagai panopticon, dalam istilah Michel Foucault, untuk mengawasi alam dari usaha kapitalis dalam mengekstraksi “kecantikannya”. Modal serta relasi kuasa yang dimiliki kapitalis tentunya sangat mudah untuk sekadar menggilas para pejuang lingkungan. Bukan hanya kapitalis, perempuan pejuang lingkungan cukup dikonfrontasikan dengan perempuan budak kapitalis yang terus mengonsumsi produk kecantikan dan memperjuangkan wacana standar kecantikan. Dengan begitu kekalahan telak perempuan pejuang lingkungan berbanding terbalik dengan pihak kapitalis yang permintaan produk kecantikannya mengalami eskalasi. Ini merupakan efek domino antara permintaan pasar yang direspon kapitalis dengan mengekspansi wilayah ekstraksi daerah pinggiran untuk memenuhi permintaan pasar. Negara dan korporat merupakan perkawinan haram yang menghasilkan perusakan lingkungan dengan iming-iming kesejahteraan bagi masyarakat hilir (masyarakat terdekat yang terkena dampak dari kebijakan politik).

Dewi Candraningrum menekankan bahwa berbagai macam tubuh perempuan tidak bisa ditentukan oleh satu standar kecantikan, melainkan ditentukan oleh tubuh individu yang menandakan biodiversitas adalah wujud kecantikan. Mereduksi jenis kecantikan menyebabkan perempuan saling bersaing dan menjatuhkan untuk menjadi ratu kecantikan (queen bee). Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang mampu berfikir memiliki tanggungjawab untuk merawatnya, bukan malah mendevaluasinya. Kita harus mulai mewacanakan bahwa perjuangan menyelamatkan alam adalah aktivitas yang sangat bernilai. Sedangkan perilakunya merupakan pesona kecantikan yang mampu menyihir perempuan-perempuan modern untuk melebur menyuarakan penyelamatan lingkungan. Perjuangan melawan wacana status quo memang bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti pesimisme didahulukan dari pada optimisme.

Memulai dari menentukan kecantikan berasal dari (dalam) diri sendiri, bukan dari luar diri merupakan usaha melawan standarisasi kecantikan yang monoton. Bagi perempuan tradisional, petani, misalnya, menanam adalah aktivitas yang meningkatkan kecantikan, sedangkan bagi nelayan, kecantikan ditentukan oleh cara mereka mengolah hasil tangkapan. Kecantikan pada akhirnya adalah kepedulian para perempuan dalam merawat lingkungan, bukan pada tubuh yang sangat rentan dikapitalisasi. Itulah mengapa kapitalis membeli feminisme hanya tubuh perempuan saja dan memotong bagian lain yang tidak bisa dimanfaatkan, seperti kepedulian terhadap lingkungan, minoritas sosial dan seksual. Persaingan perempuan bukanlah seperti yang dihadirkan oleh media-kapitalis (kecantikan), tapi pada kebersamaan perempuan dalam menganalisa bagian tubuh feminisme mana lagi yang akan dipotong serta usaha apa yang efektif untuk melawan kapitalis. Jadi sudah cukup jelas di mana letak nilai perempuan dan mana yang tidak bernilai untuk memetakan mana yang harus diperjuangkan.***


Miftahul Huda adalah juru grebek tindak pemerkosaan tubuh dan lingkungan oleh negara, mengadili dengan tulisan

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus