Kerja Tekun Kristen Progresif: Usulan Trayektori

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp.International Unlimited)


MELALUI tulisan ini, saya hendak menyumbangkan usulan tentang trayektori penelitian yang strategis untuk dikerjakan di bidang teologi atau keagamaan Kristen, yang kiranya dapat mendukung perjuangan kelas pekerja di Indonesia untuk membebaskan diri dari kapitalisme. Seperti telah sering disebutkan dalam situs ini, kelas pekerja di Indonesia mengenal istilah ‘kerja tekun’ dalam tradisi pergerakannya, merujuk pada upaya pengorganisasian pengetahuan emansipatoris yang tidak bisa diabaikan di samping ‘kerja kobar’ pengorganisasian massa.[1] Setelah gelombang protes mahasiswa, pelajar STM, elemen gerakan buruh dan petani pada bulan September lalu relatif mereda, mungkin ada baiknya jika energi-energi perlawanan yang masih menggelora disalurkan sebagian ke jenis kerja ini.

Apa saja yang baiknya dikerjakan dalam bidang teologi Kristen? Dalam bayangan saya ada lima sub-bidang yang bisa digarap, yaitu penelitian empiris tentang dinamika kekristenan hari ini, tafsir Alkitab, teologi sistematika, sejarah kekristenan di Indonesia, serta kritik budaya populernya. Berikut ini adalah penjelasannya.


Penelitian Empiris

Seorang Marxis harus berpijak pada kenyataan. Teolog idealis-borjuis bisa mengabaikan tuntutan ini dan memperlakukan teologi sebagai wacana tertutup yang membenarkan dirinya sendiri serta membentengi diri dari perkembangan dunia dan pengetahuan di luarnya, atau bersandar pada ide-ide luhur dan moralitas, namun tidak demikian dengan mereka yang bermetodekan materialisme dialektis. Rancangan strategi dan trayektori penelitian demi emansipasi kelas pekerja harus berjangkar pada dinamika perjuangan kelas pekerja itu sendiri, dan karena itu penelitian empiris punya peran krusial di sini.

Apa saja pokok-pokok yang terkait dengan teologi Kristen dan dinamika perjuangan kelas yang baik untuk diteliti? Dalam bayangan saya, kita perlu memetakan pola-pola hegemoni ideologi kelas penguasa lewat teologi Kristen. Gambaran ini bisa diperoleh lewat penelitian terhadap para pekerja beriman Kristen. Ayat-ayat Alkitab apa, dengan tafsiran seperti apa, dan kerangka teologis yang bagaimanakah yang mengaburkan kesadaran mereka tentang pertentangan kelas, mendorong sikap berpasrah, atau memoderasi semangat berlawan? Dari sumber-sumber mana dan lewat media-media apakah kesadaran tersebut ditanamkan? Langkah selanjutnya adalah memetakan aktor-aktornya. Siapa saja aktor-aktor utama penyebaran ide-ide tersebut? Lewat institusi-institusi apa mereka beroperasi? Bagaimana mereka terhubung dengan jejaring oligarki atau kelas pemodal di Indonesia? Di sektor-sektor produktif manakah jejaring mereka ini mengakumulasi modalnya? Bayangkan jika kelas pekerja di Indonesia bisa terekspos pada dokumenter-dokumenter seperti hasil produksi WatchDoc, dengan konten pemetaan pola-pola hegemoni ini beserta jejaring aktornya. Atau dalam bentuk publikasi ilmiah seperti disertasi doktoral almarhum Wijaya Herlambang yang mengungkap kepentingan politik di balik persebaran ide-ide humanisme universal di Indonesia beserta jejaring aktor dan institusinya.[2] Tak kalah pentingnya juga adalah penelitian tentang proses eksploitasi yang terjadi di ‘korporasi-korporasi’ Kristen, semisal megachurch. Untuk yang terakhir ini tentu kita membutuhkan kerangka teori dan perangkat analisis yang mumpuni guna mengukur derajat eksploitasi secara akurat di industri spesifik ini, termasuk menjelaskan proses-proses yang terjadi di ranah afeksi dan subjektivitas, misalnya. Pokok-pokok ini bisa kita diskusikan dan pertajam bersama.


Tafsir Alkitab

Bagaimana dengan tafsir Alkitab? Idealnya, pemetaan lewat riset-riset empiris yang dijelaskan sebelumnya akan menunjukkan teks-teks Alkitab manakah yang perlu ditafsir kembali untuk kepentingan rakyat pekerja dan tafsiran-tafsiran seperti apakah yang menjadi kontestan. Dari sana kemudian kita bisa mengupayakan tafsir-tafsir tandingannya. Dalam tradisi teologi pembebasan di Amerika Latin, ada praktik pembacaan Alkitab partisipatoris-emansipatoris dalam komunitas-komunitas basis. Praktik ini selalu bisa diterapkan kembali dalam konteks Indonesia. Selain itu, penting juga untuk mendiseminasikan produk-produk dunia kesarjanaan tafsir Alkitab yang progresif. Kita perlu menginventarisasikan bacaan-bacaan dan nama-nama pakar di bidang ini yang telah membedah Alkitab dengan mengeksplisitkan konflik kelas dalam cerita dan proses pembentukannya, serta menunjukkan aplikasi pendekatan Marxian dalam pembacaan Alkitab. Alangkah baiknya jika ada yang me­-review karya klasik penafsir Perjanjian Lama Marxis Norman K. Gottwald, The Tribes of Yahweh, atau karya-karya yang lebih kontemporer seperti dari Richard Horsley dan Roland Boer, untuk kolom Left Book Review di situs ini, atau bahkan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.


Teologi Sistematika

Teologi sistematika berusaha menjelaskan konten iman Kristen serta menunjukkan koherensi dan aktualitasnya. Dengan kecurigaan Marxis, kita bisa melihat bahwa obsesi terhadap koherensi dan sistematisnya suatu gambaran ideologis itu pada dasarnya berwatak idealistik dan merupakan bagian dari agenda kelas penguasa untuk melanggengkan posisinya. Pokok ini dijelaskan oleh Althusser dalam How to be a Marxist in Philosophy. Menurutnya, seorang pemikir materialis yang berpijak pada kenyataan pertentangan kelas justru akan melihat kontradiksi-kontradiksi dalam gambaran-gambaran ideologis yang berpretensi menyuguhkan suatu gambaran utuh.[3]

Alih-alih membangun teologi dengan model preskripsi atas suatu permasalahan, kita bisa membongkar kontradiksi kelas dalam skema-skema teologi sistematis yang beredar dan dikanonkan. Kita eksplisitkan watak kelasnya, angkat kepentingan kelas pekerja yang direpresinya, lalu ajukan itu sebagai gugatan atasnya. Penting juga untuk diingat bahwa banyak di antara para teolog ‘besar’ ini yang posisi kelasnya mengambang, sehingga rentan memunculkan ekspresi-ekspresi yang ambivalen. Apalagi teks Alkitab dan tradisi teologi yang menjadi sumber pemikirannya pun penuh dengan ambivalensi. Luther, misalnya, menggelorakan narasi pemberontakan terhadap kekuasaan Gereja Katolik Roma, namun represif terhadap pemberontakan petani. Kita bisa mengeksploitasi kebimbangan-kebimbangan semacam ini. Contoh pembacaan model semacam ini bisa kita temukan, misalnya dalam buku Roland Boer tentang Calvin, Political Grace.[4] Alih-alih meneruskan perdebatan-perdebatan di masa lalu tentang seberapa konservatif atau progresifnya Calvin, di mana dalam surveinya ia bahkan menunjukkan adanya studi-studi yang mengait-kaitkan Calvin dengan Marx dan Gramsci, Boer memilih untuk mengeksplisitkan ambivalensi Calvin serta dinamika elemen protes maupun represif dalam tulisan-tulisannya. Kita bisa menerapkan proses serupa pada teolog-teolog lainnya hingga dokumen-dokumen utama gereja. Supaya tepat sasaran, akan lebih strategis apabila teolog atau dokumen gereja yang hendak dibedah punya pengaruh yang cukup luas di Indonesia.

Selain upaya-upaya membongkar kontradiksi, ada juga kerja-kerja yang sifatnya lebih ‘membangun’. Dalam segala keterbatasan yang ada pada model-model teologi Kristen kiri, saya pikir kita tetap membutuhkan yang semacamnya. Selain menjadi jembatan untuk mereorientasikan kelas pekerja dari ‘ketersesatan’ ideologisnya, ia juga dapat menolong mereka yang membutuhkan imajinasi lebih dalam perjuangannya. Warisan teologi pembebasan Amerika Latin, teologi politik Eropa, kelompok Thomis-kiri Inggris, Barthian-kiri Jerman-Belanda, perlu lebih dipopulerkan dan dikembangkan.


Sejarah Kekristenan di Indonesia

Buku Wijaya Herlambang yang saya sebut sebelumnya menunjukkan kepada kita bagaimana konsolidasi kekuasaan Orde Baru di level kebudayaan adalah topik yang menarik dan penting untuk dibahas. Alangkah bermanfaatnya jika proses serupa ditelusuri juga dalam dunia teologi dan gereja di Indonesia. Menurut saya, disertasi Julianus Mojau, Meniadakan atau Merangkul?,[5] adalah pintu masuk yang sangat baik. Sebagian buku tersebut membahas teolog-teolog Protestan penting di masa lalu yang turut melegitimasi Orde Baru. Buku Memori-Memori Terlarang: Perempuan Korban dan Penyintas Tragedi ’65 di Nusa Tenggara Timur[6] juga menunjukkan kepada kita gambaran tentang peran gereja dan kekristenan dalam hiruk-pikuk sekitar 1965. Namun yang tidak boleh dilupakan dalam rekonstruksi-rekonstruksi sejarah semacam ini, dalam agenda perjuangan kelas pekerja, adalah bagaimana meletakkannya dalam sejarah pertentangan kelas, dan bukan mengerangkakannya hanya sebagai tragedi kemanusiaan atau membebankan kesalahan semata-mata kepada figur-figur jahat.

Sejarah kekristenan kiri di Indonesia juga penting untuk didokumentasikan. Amir Sjarifuddin, misalnya, adalah sosok yang penting untuk diangkat, karena jejak kirinya di institusi-institusi ‘pusat’ kekristenan Indonesia.[7] Selain itu juga orang-orang Kristen yang terlibat dalam Lekra sebelum 1965. Tidak kalah pentingnya juga adalah ekspresi-ekspresi Kristen dengan semangat pembebasan di level akar rumput yang mungkin dapat ditemukan di lokasi-lokasi ketertindasan, misalnya Papua. Dokumentasi tentang nubuatan-nubuatan yang pernah dilontarkan namun terbukti tidak terjadi mungkin juga menarik untuk dibuat.


Kritik Budaya Populer

Last but not least, kita harus menyadari kemungkinan bahwa hegemoni atas kelas pekerja melalui teologi Kristen lebih mungkin dimediasi oleh ekspresi-ekspresi populernya seperti lagu-lagu rohani, khotbah-khotbah pendeta idola, dan buku-buku renungan, daripada buku-buku teks teologi akademik (apalagi jurnal-jurnal ilmiahnya). Karena itu kritik-kritik yang bersemangatkan perjuangan pembebasan kelas pekerja atas ekspresi-ekspresi ini justru sangat penting untuk dikerjakan. Kolom Kristen Progresif di situs IndoProgress tidak harus diisi dengan ulasan tentang buku-buku teologi yang tebal-tebal dan berbahasa asing, tetapi juga lagu-lagu Sidney Mohede, khotbah-khotbah Philip Mantofa, buku-buku John Piper, hingga edisi-edisi Renungan Harian. Materinya banyak sekali dan mudah diakses. Secara garis besar, prosedur kritiknya kurang lebih sama seperti dalam penjelasan sebelumnya: kita eksplisitkan watak kelasnya, kita cari ambivalensinya, kita gumuli tafsir alternatifnya, kita runut problem sosial yang diasumsikannya lalu menunjukkan jalan pembebasannya, kita bongkar kontradiksinya, kita selidiki posisi kelasnya dalam tatanan sosial yang ada beserta jejaringnya, kita pegang posisi kelas pekerja yang direpresinya lalu kita gugat dari sana, atau kita cari elemen-elemen narasinya yang bisa direbut untuk kepentingan kelas pekerja. Menarik juga untuk dianalisis kespesifikan metode dan bentuk penyebaran ekspresi-ekspresi ini, mulai dari penataan ruang ibadah, model pujian dan penyembahan, jenis musik dan forma lirik lagu, penggunaan mimbar atau panggung, gaya dan struktur khotbah, tema-tema yang dibahas, hingga literary form dari buku-buku renungan.


Penutup

Dalam tulisan ini saya telah menunjukkan trayektori penelitian yang menurut hemat saya strategis untuk dikerjakan di bidang teologi atau keagamaan Kristen. Saya harap usulan sederhana ini dapat memicu kerja-kerja tekun di bidang ini. Ada banyak topik yang bisa dikerjakan, dan tidak harus digarap oleh teolog profesional. Jika ada yang hendak menambahkan atau mempertajam, silakan menulis tanggapannya di kolom Kristen Progresif ini.***


Daniel Sihombing bergiat di Kristen Hijau


————-

[1] Bdk. Iqra Anugrah, ‘Kerja-Kerja Riazanov’, https://indoprogress.com/2016/12/kerja-kerja-riazanov/; ‘Martin Suryajaya: Materialisme Dialektis Sebagai Metode’, https://indoprogress.com/2012/08/wawancara/. Lihat juga roadmap dari Martin Suryajaya tentang pengembangan karya almarhum Wijaya Herlambang dalam obituarinya di Martin Suryajaya, ‘Yang Saya Kenang dari Wijaya Herlambang’, https://indoprogress.com/2015/12/yang-saya-kenang-dari-wijaya-herlambang/.

[2] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film (Serpong: Marjin Kiri, 2013).

[3] Louis Althusser, G. M. Goshgarian, and Louis Althusser, How to Be a Marxist in Philosophy (London ; New York: Bloomsbury Academic, 2017).

[4] Roland Boer, Political Grace: The Revolutionary Theology of John Calvin (Louisville: Westminster John Knox, 2009).

[5] Julianus Mojau, Meniadakan atau Merangkul? Pergulatan Teologis Protestan dengan Islam Politik di Indonesia (Jakarta: BPK-GM, 2012).

[6] Mery Kolimon&Liliya Wetangterah(eds.), Memori-Memori Terlarang: Perempuan Korban dan Penyintas Tragedi ’65 di Nusa Tenggara Timur (NTT: Yayasan Bonet Pinggupir, 2012).

[7] Bisa mulai dengan dua artikel Martin Hutagalung tentang Amir di Islam Bergerak, https://islambergerak.com/2016/08/amir-sjarifuddin-seorang-komunis-sekaligus-kristen-taat-bagian-1/, dan https://islambergerak.com/2016/10/amir-sjarifuddin-seorang-komunis-sekaligus-kristen-taat-bagian-2/.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus