Teologi Al-Alaq*

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: aliexpress.com

 

SYAHDAN, Antonio Gramsci pernah menulis bahwa, “langkah pertama dalam memerdekakan diri sendiri dari perbudakan sosial dan politik adalah dengan membebaskan pikiran…. Masalah pendidikan adalah masalah kelas yang paling utama”[1]. Dalam teks klasiknya yang terkenal, Dari Mana Kita Mulai? Lenin juga menulis sebagai berikut, “…titik tolak dari aktivitas kita… yang memungkinkan kita membangun, memperkuat, dan memperluas organisasi, adalah membentuk sebuah koran politik yang menjangkau seluruh Rusia..”[2] Di sini, Kita punya dua kata kunci: pendidikan dan kora

Mengapa ‘pendidikan’ dan ‘membaca koran’ penting bagi gerakan sosial manapun –tak peduli apapun bentuk organisasi dan gerakannya? Syahdan, membentuk koran berarti menyuruh kader rajin membaca, menulis, dan mendidik rakyat. Ikhwanul Muslimin mungkin bukan organisasi kiri, tapi mereka tahu betul betapa pentingnya koran. Hasan Al-Banna menggerakkan majalah mingguan Al-Ikhwanul Muslimun, yang terbit selama kira-kira 6 tahun. Menyusul kemudian majalah An-Nadzir dan Ash-Shihab pada tahun 1938. Sampai Al-Banna meninggal, Ikhwan punya tradisi memaparkan pandangan-pandangannya, dari soal agama dalam hidup sehari-hari hingga politik. Bahkan hingga sebelum Morsy jath di pertengahan tahun 2013, Ikhwan masih menerbitkan koran kepada kader-kadernya, dan menyampaikan gagasan-gagasan mereka lewat media elektronik dan cetak.

Namun, hari ini bukan tahun 1930 ketika debat-debat gerakan berlangsung di koran dan media-media cetak. Hari ini, kita menghadapi banyak sekali praktik-praktik ‘kebodohan’ dan ‘anti-intelektual’ yang ditradisikan secara massif, banyak di antaranya yang berlangsung di bawah todongan senjata. Beberapa mungkin perlu disebut –pembakaran buku kiri atau penggrebekan penerbit hanya karena dianggap ‘kiri’ atau ‘liberal’. Praktik lain yang mencuat di Eropa adalah Islamophobia –perilaku ‘rasis’ yang sangat sempit dalam memahami Islam, seakan-akan keduanya adalah dua hal yang berbeda. Kedua hal tersebut adalah satu dari sisi mata uang, yang bermuara pada minimnya tradisi literasi di alam modern saat ini.

Bagaimana nalar kritis seorang Muslim yang hidup di abad ke-21 menjawab masalah ini? Di sini, saya ingin memberikan sebuah alternatif landasan teologis dari tradisi literasi dalam Islam, yaitu Teologi Al-Alaq –lima ayat pertama Surah Al-Alaq. Saya ingin membangun argumen bahwa Teologi Al-Alaq, yang dibangun melalui ‘trilogi’ menulis-membaca-mengajarkan pengetahuan bersifat fondasional dalam Islam, ‘Hulu’ dari Islam adalah ‘membaca’, yang perlu dikontekstualisasikan dalam zaman yang kian berkembang dan berubah. Terusannya – Surat Al-Muddatsir: 1-7, menyerukan untuk bangkit dari ‘selimut’, bergerak, dan melawan kezaliman yang ada di masyarakat.

 

Islam di Abad ke-21

Islam di abad ke-21 ditandai oleh perjumpaannya yang begitu kental dengan teknologi. Hal ini ditandai oleh semakin massifnya teknologi jejaring (internet) yang terintegrasi dengan data dan informasi. Semakin terhubungnya teknologi komunikasi (telepon genggam) dan teknologi informasi (internet) mengokohkan tren tersebut. Klaus Schwaab, dedengkot World Economic Forum, menulis bahwa ‘revolusi digital’ diprediksi akan menjadi semacam ‘revolusi industri keempat’ dan menuntut manusia untuk siap menghadapinya. Istilah ‘revolusi digital’ mungkin agak berlebihan, tapi satu hal yang jelas: platform-platform berbasis teknologi dan informasi kini menjadi moda produksi kapitalisme terbaru, yang memerlukan respons dari segenap gerakan kapitalisme.

Munculnya moda kapitalisme digital bukan hal baru. Terbitan IndoPROGRESS terbaru telah mengingatkan pada kita bahwa perubahan cara-cara manusia dalam bekerja dan mengolah sesuatu –dengan kata lain, “teknologi”— telah melahirkan bentuk-bentuk fenomena baru yang juga harus direspons oleh gerakan progresif yang ingin membangun perubahan sosial.[3] Syahdan, Benedict Anderson melihat bahwa pada dasarnya modernisasi yang terjadi di awal abad ke-20 dipicu bukan hanya oleh industrialisasi yang kian pesat dan kemajuan teknologi, tetapi juga ‘kapitalisme cetak’.[4] Perkembangan ini tidak mengherankan. Hubungan antara manusia dan alam untuk bertahan hidup –dalam berbagai bentuknya yang berevolusi secara historis— telah menghasilkan teknologi yang sedemikian rupa.

Sejak revolusi Industri yang mengakibatkan munculnya ‘kapitalisme’ di Eropa pada tahun 1740-an, perubahan dunia semakin cepat dan tak terprediksi. Namun, keberadaan teknologi tersebut tidak hanya terletak pada ‘nilai pakai’ yang ia berikan untuk mencukupi kehidupan manusia, tetapi juga berkembang menjadi ‘nilai tukar’ bahkan, meminjam istilah filsuf Slovenia Slavoj Zizek, ‘penikmatan’ (jouissance).[5] Pada akhirnya, kita akan melihat bahwa kecanggihan teknologi saat ini bukanlah semata ‘kemajuan’ peradaban manusia sebagaimana sering diklaim oleh penganut teori modernisasi, tetapi justru bisa menjadi sesuatu yang lain.

Dengan kemajuan teknologi, kita melihat sesuatu yang agak mengerikan: tergerusnya agama dari masyarakat. Agama tidaklah hilang dari masyarakat. Ia tetap eksis namun kehilangan ruh ‘kemanusiaan’ dan ‘pembebasan’-nya. Agama, jika melihat perkembangan budaya pop, lebih banyak menjadi alat untuk ‘menyegarkan jiwa yang kering’ di tengah arus modernisasi. Jadilah penceramah-penceramah agama yang kemudian muncul bukan dari institusi pendidikan, tetapi justru dari TV dan media-media sosial.

Dampaknya sebetulnya bisa jadi positif dan negatif. Saat ini, kecanggihan teknologi telah memungkinkan agama masuk pada ruang-ruang publik dan komunikasi massa. Namun, perkembangan kapitalisme saat ini telah mengakibatkan agama berubah fungsi menjadi sarana komersial. Di saluran televisi, kita sering sekali melihat acara bertajuk kegamaan. Kita mungkin bisa mengambil makna positif dari hal tersebut: semakin diliriknya ‘agama’ oleh masyarakat dan kian semaraknya syiar Islam dalam media komunikasi dewasa ini. Media sosial yang semakin berkembang di kalangan umat Islam

Namun, di belakang itu, kita melihat sesuatu yang lain: agama menjadi sebuah ‘komoditas’ yang bisa diubah menjadi keuntungan, karena dengan rating televisi yang semakin tinggi, keuntungan yang diperoleh semakin banyak. Kita juga bisa melihat semakin eratnya pertautan agama dengan budaya populer, yang menyebabkan agama ‘berubah wajah’ menjadi semakin pop, menyesuaikan selera masyarakat (terutama anak muda), dan spirit yang dibawa menjadi sangat materialistik dan duniawiyah.

Kondisi semacam ini menunjukkan, peradaban modern sebetulnya memberikan ‘pedang bermata dua’ terhadap agama. Ia bisa membuat agama berjaya karena agama bisa diterima oleh masyarakat. Namun, jika tidak disadari, lambat laun agama juga bisa tertikam oleh sistem masyarakat yang menghendaki pemenuhan hasrat duniawiyah melalui penikmatan-penikmatan (jouissance) yang akhirnya membuat agama kehilangan ruh emansipasinya. Pada titik inilah, muncul pertanyaan: apakah agama sedemikian lemahnya hingga harus tergerus oleh kapitalisme yang mengubah cara hidup manusia? Bagaimana menghidupkan dimensi ‘perlawanan’ agama di abad ke-21?

 

Teologi Al-Alaq

Syahdan, wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad adalah Surah Al-Alaq: 1-5. Ayat tersebut dimulai dengan satu perintah: Iqra’, yaitu membaca. Hal ini bisa jadi sudah sering diutarakan oleh banyak penceramah di bulan Ramadhan, tapi perlu direnungkan kembali di tengah krisi literasi umat, ketika Islam harus berhadapan dengan revolusi digital di abad ke-21.

Di ayat tersebut, Allah memerintahkan kita untuk setidaknya melakukan dua hal. Pertama, bacaan, ditegaskan oleh Allah dalam tiga ayat pertama surah tersebut (Iqra’). Kedua, menulis, disebutkan di ayat keempat (‘allama bil qalam). Ketiga, mengajarkan kepada orang lain tentang apa yang tidak diketahui oleh mereka (‘allamal insaana maa lam ya’lam). Ketiga elemen ini membentuk pilar ‘tradisi literasi’ dalam Islam. Ketiga hal ini membentuk apa yang akan kemudian saya sebut sebagai ‘Teologi Al-Alaq’. Mengacu pada surah Al-Alaq, tradisi literasi dalam Islam punya tiga hal yang sangat penting.

Dimensi Pertama: Membaca

Pertama, “membaca”. Dalam surah al-Alaq, ada tiga ayat yang bicara soal ‘membaca’. Ayat pertama, Iqra’ bismirabbikalladzii khalaq, “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang telah mencipta.” (ayat 1). Buya Hamka menafsirkan ayat ini dengan satu makna penting, bahwa dengan membaca, telah terbuka kepentingan pertama di dalam perkembangan agama ini selanjutnya.

Ayat kedua bicara secara lebih spesifik, Khalaqal insaana min ‘alaq, “Menciptakan manusia dari segumpal darah.” (Ayat 2). Ayat ini bicara tentang hakikat penciptaan manusia dan, yang terpenting, adalah kelanjutan dari ayat sebelumnya. Artinya, untuk memahami ayat ini, kita perlu mengaitkannya dengan ayat sebelumnya. Maknanya: ‘membaca’ tidak hanya sekadar membaca secara tekstual, tetapi juga membaca hakikat penciptaan secara lebih luas.

Ayat ini memberikan sebuah ilustrasi menarik, yaitu tentang hakikat penciptaan tentang manusia sebagai segumpal darah. Hal ini memberikan satu isyarat: membacalah untuk mengetahui hakikat kita sebagai seorang manusia. Ini berarti membuka cakrawala kita lebih luas tentang ‘sains’ dan ‘kemanusiaan’.

Di satu sisi, “membaca” adalah gerbang untuk mengetahui apa yang ada di dunia ini. Ia memungkinkan adanya sains dan pencarian kebenaran ilmiah. Di sisi lain, Membaca adalah gerbang untuk membuka keterbatasan-keterbatasan kita sebagai manusia. Dengan membaca, kita akan mengetahui bahwa hakikat kita sebagai manusia hanya segumpal darah yang eksistensinya hanya dimungkinkan oleh ruh yang ditiupkan oleh Allah. Membaca memungkinkan kita untuk memahami materialitas diri kita dan materialitas dunia, sekaligus juuga memahami batas-batasnya.

Ayat ketiga, Iqra’ wa rabbukal akram. “Membacalah, dan Tuhan engkau itu adalah Maha Mulia.” (Ayat 3). Ayat ini mengulang perintah di ayat pertama: “membaca”. Namun, ada satu dimensi yang ditekankan di ayat ini: Kemuliaan Tuhan! Ayat ini memberikan batas bagi materialitas manusia yang ditekankan di ayat pertama, yaitu manusia yang berada di bawah kekuasaan Tuhan. Inilah tujuan kita membaca, yaitu tidak hanya memahami dimensi eksistensial dan material dari manusia, tetapi juga esensi-nya, yaitu sebagai makhluk Tuhan.

Dimensi Kedua: Menulis

Ketiga ayat ini kemudian menjadi sandaran penting untuk memahami ayat keempat, yaitu Alladzi ‘Allama bil Qalam, “Yang Mengajarkan Manusia dengan Pena” (Ayat 4). Dengan memahami kemuliaan Allah, kita disadarkan untuk tidak hanya sekadar membaca sebagai aktivitas individual, tetapi juga membaca sebagai aktivitas sosial. Instrumennya satu: pena (Al-Qalam).

Ayat ini, secara tidak langsung, sebetulnya mendorong kita untuk menulis! Jika membaca adalah gerbang untuk untuk mengetahui apa yang ada di dunia ini, maka menulis adalah kuncinya. Ia tidak hanya memungkinkan kita untuk menyebarkan pengetahuan, tetapi juga mengolah gagasan. Tradisi Islam menghargai bentuk-bentuk literasi; dari penerjemahan teks-teks klasik Yunani yang dilakukan oleh intelektual Baitul Hikmah di abad ke-9 hingga penerbitan kitab-kitab ulama Nusantara di masa keemasan Jawi.[6]

Dimensi Ketiga: Mengajarkan Pengetahuan

Ayat kelima membangun tradisi yang melengkapi kedua tradisi di atas, yaitu, ‘Allamal Insaana Maa Lam Ya’lam “Mengajarkan manusia apa-apa yang tak diketahuinya” (Ayat 5). Ayat ini berarti mentradisikan ‘pengajaran’, atau dengan kata lain ‘diskusi’ sebagai pelengkap membaca dan menulis. Membaca penting sebagai fondasi dalam tradisi literasi, yang kemudian diartikulasikan melalui tulisan. Namun, keduanya takkan lengkap jika ia tak diajarkan kepada manusia yang lain.

Seorang Muslim, dengan demikian, punya tanggung jawab keilmuan kepada manusia lainnya dan harus berupaya keras untuk mempertahankannya dari intervensi kekuasaan. Teologi Al-Alaq, dengan demikian, berupaya untuk menyadarkan manusia akan hakikat kemanusiaannya, sebagai makhluk ciptaan Allah, dengan pengetahuan. Seorang manusia, tak peduli dari manapun ia dan siapapun ia, punya hak dan kewajiban untuk berpengetahuan, dan menjadi keharusan bagi siapapun yang berpengetahuan untuk mengajarkannya pada orang lain.

Sebagaimana sebuah hadits, “Sebaikbaik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya”.[7] Tentu saja, ‘pengajaran’ tak hanya diartikulasikan di ranah-ranah lembaga pendidikan formal seperti yang saya sebut di atas. Ia bisa jadi dilakukan di mana saja. Namun, yang terpenting adalah semangatnya: mencerahkan manusia dengan pengetahuan, dan mengajarkan manusia sesuatu yang tidak diketahui oleh mereka. Inilah tugas sains. Pengetahuan tidak hanya terbatas pada sesuatu yang sifatnya fisik, tetapi juga sosial dan kebudayaan.

Inilah sebabnya, membaca dan menulis juga perlu dilembagakan dalam forum-forum diskusi/pengajaran. Inilah yang, bisa jadi, menjadi fondasi bagi tradisi keilmuan Islam di abad pertengahan, ketika pengetahuan diproduksi di halaqah-halaqah ulama semacam Imam Syafii, Imam Ahmad, maupun murid-muridnya. Di Indonesia, kita punya tradisi semacam ini dalam bentuk pesantren-pesantren, lengkap dengan Santri, Kyai dan perangkat-perangkat pendidikannya. Gerakan pembaharuan semacam Muhammadiyah kemudian mengartikulasikannya dalam bentuk pembangunan-pembangunan Universitas. Hal-hal ini bermuara pada satu hal yang sama: ‘Allamal Insaana Maa Lam Ya’lam!

 

Dari Pengetahuan ke Gerakan

Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa tradisi literasi dalam Islam ditopang oleh tiga kata kunci penting: Iqra’ (Membaca), Al-Qalam (Pena), dan ‘Allamal Insaan (Pengajaran). Tiga hal ini adalah kunci dari pintu gerbang dunia dan fondasi untuk membangun peradaban. Jika tiga hal ini terjalin dengan rapi, maka terbangunlah satu peradaban yang kokoh –untuk menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Teologi Al-Alaq menuntut untuk diartikulasikan dalam kehidupan sehari-hari. Al-Alaq adalah wahyu pertama. Hingga bertahun-tahun setelahnya, turunlah ayat-ayat berikutnya. Dalam surah Al-Alaq, Allah menyuruh Nabi untuk membaca, agar di kemudian hari bisa menerima wahyu-wahyu berikutnya. Artinya, kita disuruh membaca karena pengetahuan dan ayat-ayat Allah, pada dasarnya sangat luas.

Inilah pentingnya membangun tradisi ilmiah sebagai pengejawantahan dari ‘Teologi Al-Alaq’. Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip oleh Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, mengatakan bahwa,

Tidak didapat kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang lebih sempurna daripada ayat ini di dalam menyatakan kepentingan membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bahagianya. Dengan itu mula dibuka segala wahyu yang akan turun di belakang.”

Hamka, 1977[8]

Islam dituntut untuk punya peran dalam menghadapi gempuran ‘kapitalisme digital’ dan ‘fabrikasi kebohongan’ hari ini. Jalan keluarnya adalah kembali mentradisikan budaya literasi di antara penganutnya. Revolusi digital yang tampil di tengah masyarakat yang tidak sepenuhnya mawas dengan modernitas telah melahirkan fitnah, prasangka, dan kebodohan yang massif. Berita-berita hoax, pemahaman agama yang salah kaprah, prasangka dan isu-isu yang merebak, kebencian terhadap minoritas, hingga pembakaran buku-buku yang dianggap ‘kiri’ adalah refleksi dari semakin jauhnya umat Islam dari tradisi literasi yang diperintahkan oleh Allah dalam Surah Al-Alaq.

Artinya, ‘Teologi Al-Alaq’ perlu dibumikan dalam kenyataan sehari-hari. Sebagaimana dulu KH Ahmad Dahlan mentradisikan Teologi Al-Maun dengan cara membangun Rumah Sakit, Sekolah, dan Panti Asuhan, kita juga perlu mentradisikan Teologi Al-Alaq dengan cara mentradisikan aktivitas membaca, menulis, berpikir kritis, dan mengajarkan bacaan dan tulisan kita di masyarakat –minimal di tengah keluarga kita sendiri. Literasi adalah kunci. Pendidikan –formal ataupun non-formal— adalah keharusan bagi umat Islam saat ini.

Saat ini, teologi Al-‘Alaq mungkin tidak hanya kita maknai sebagai ‘membaca teks’ Al-Qur’an hanya sebagai ritus yang diamalkan setiap Ramadhan, tetapi juga sebagai ‘membaca realitas sosial secara kritis’. Dengan kata lain, teologi Al-‘Alaq bisa kita maknai sebagai perintah untuk membaca setiap realitas sosial yang ada dan mengembalikannya pada asal hakikatnya: diciptakan oleh Allah dari segumpal darah (Al-Alaq: 2). Iqra’ berarti berpikir kritis terhadap tatanan sosial yang ada di dunia ini. Berpikir kritis ini hendaknya kita letakkan dalam kacamata agama, yang pada hakikatnya adalah berserah diri kepada Allah (aslama).

Sebagai kekuatan pencerah, agama mesti kita tempatkan sebagai semangat untuk membebaskan mereka yang tersingkir oleh sistem masyarakat dan menjadikan mereka sebagai ‘manusia’ yang punya hak dan eksistensi untuk hidup di dunia. Maka, Relevansi agama dalam kehidupan sehari-hari menjadi jelas, yaitu dengan menjadikan agama sebagai sebuah cara untuk ‘memanusiakan manusia’.

Namun, membaca realitas secara kritis, sebagai perwujudan dari Iqra’ juga punya implikasi lain: berpikir kritis tentang realitas yang timpang, yang di dalamnya terjadi pergumulan kekuasaan, dan dimana kezaliman merajalela. Pada titik inilah kemudian muncul wahyu kedua, yang turun 2 tahun setelah turunnya Surah Al-Alaq di Gua Hira: Al-Muddatsir.

1). Hai orang yang berselimut), 2). Bangunlah, lalu berilah peringatan! 3). Dan Tuhanmu agungkanlah! 4. Dan pakaianmu bersihkanlah, 5). Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6). Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7). Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah .(QS.Al-Mudatsir-1-7)

Membaca dua surah ini secara beriringan menunjuukkan satu hal penting: bahwa pengetahuan yang sudah terbangun, harus diartikulasikan dalam gerakan. Mengacu pada Al-‘Alaq di atas, bias jadi caranya cukup sederhana, namun tak mudah untuk dilakukan secara konsisten: kembali membangun tradisi pengetahuan Islam dengan dua tradisi literasi, yaitu ‘bacaan’, ‘pengajaran’, dan kemudian membangun ‘gerakan’ secara kolektif. Membangun ‘bacaan’ berarti menghidupkan kembali tradisi penulisan di kalangan intelektual muslim, sementara membangun ‘pengajaran’ berarti menghidupkan universitas, forum pengkajian, serta pusat penelitian sosial dan kemasyarakatan.

Dan tentu tidak berhenti di sana: menghidupkan ilmu pengetahuan dalam Islam untuk melawan kezaliman dan penindasan manusia atas manusia, meninggalkan maksiat, dan berbuat baik pada sesama. Namun demikian, tentu tantangan masa kini lebih kompleks. Ilmu pengetahuan berkembang di ranah sains dan teknologi, ilmu sosial, hingga filsafat –bidang-bidang yang sebetulnya dulu dikembangkan oleh ilmuwan muslim melalui tradisi literasi. Tantangan itulah yang perlu dijawab secara lebih konkret oleh semua komponen umat Islam.

Tiga hal inilah yang membangun satu kesatuan Teologi Al-Alaq. Konsekuensi langsung dari Teologi Al-Alaq ini adalah tuntutan untuk ‘beragama secara ilmiah’, yakni dengan mentradisikan pengetahuan dan berpikir kritis di kalangan umat Islam ketika menerima informasi yang ada. Artinya, setiap informasi perlu disaring dengan kerangka pengetahuan yang utuh. Dengan demikian, ‘teologi Al-Alaq’ menolak bentuk-bentuk hoax, fitnah, atau propaganda yang kerap dilakukan di media sosial, ironisnya oleh umat Islam sendiri.

Artinya, sudah saatnya kita kembali beragama dengan ‘ilmiah’, mengedepankan tradisi literasi, dan menghentikan sikap saling tuding-menuding atau mengkafirkan. Kembali pada QS Al-Alaq, ini mungkin bias dimulai dengan membaca kembali khasanah keilmuan klasik hingga modern, mengajarkannya, dan mulai membangun nalar kritis. Perwujudan langkah ini, merujuk pada sejarah turunnya Al-Qur’an, adalah meneladani ayat berikutnya: Al-Muddatsir –perintah untuk bangkit dari selimut dan bergerak bersama ummat.***

Brisbane, 26.3.2018

 

*Versi awal dari tulisan ini dimuat dalam Gading EA dan Mhd Iqbal(eds). Semangat Zaman dan Intelektualitas Kita: Pikiran-Pikiran tentang Literasi, Pergerakan, dan Peradaban. Surabaya: Pustaka Saga, 2016.

 

———–

[1] Kutipan lengkapnya, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, berbunyi, “the first step in emancipating oneself from political and social slavery is that of freeing the mind.  I put forward this new idea: popular schooling should be placed under the control of the great workers’ unions. The problem of education is the most important class problem.” Dikutip dari Paul Ransome, Antonio Gramsci: A New Introduction (New York: Harvester Wheatsheaf, 1992).

[2] Kutipan lengkapnya berbunyi, “In our opinion, the starting-point of our activities, the first step towards creating the desired organisation, or, let us say, the main thread which, if followed, would enable us steadily to develop, deepen, and extend that organisation, should be the founding of an All-Russian political newspaper…” Lihat V. Ilyich Lenin. “Where to Begin”[1901] in.” Collected Works 5: 13-24.

[3] Christian Fuchs dan Sebastian Sevignani, Mengenal Perbedaan Kerja-teralienasi Digital (Digital Labour) dan Kerja-Umum Digital (Digital Work). Indoprogress, 2018.

[4] Benedict Anderson, Imagined communities: Reflections on the origin and spread of nationalism. Verso Books, 2006.

[5] Slavoj Zizek,First as tragedy, then as farce. Verso, 2009.

[6] Azyumardi Azra. Jaringan ulama: Timur Tengah dan kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII: melacak akar-akar pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Mizan, 1994.

[7] Hadits Riwayat Bukhari dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu.

[8] Buya Hamka. Tafsir al-Azhar. Pustaka Panjimas, 1988.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus