Momen Epifani dan Iman yang Membebaskan

Print Friendly, PDF & Email

Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil – Matius 11:25 (TB)

MENYAMBUT awal tahun, sebagian denominasi gereja Kristen merayakan minggu Epifani, yang dalam kalender gerejawi biasa dirayakan mulai tanggal 6 Januari. Epifani secara sederhana berarti penampakan, perwujudan, atau manifestasi (yunani: ephiphanea). Dalam hal ini, Epifani dimaknai sebagai momen manifestasi Tuhan ke dalam dunia lewat kelahiran dan karya pelayanan Yesus Kristus. Gereja ritus Barat umumnya mengasosiasikan Epifani dengan kelahiran Kristus dan kedatangan orang Majus (Matius 2), sementara gereja Timur lebih menghayati peristiwa pembaptisan Yesus (Matius 3:13-17) sebagai momen manifestasi Kristus yang memulai pelayanannya di dunia sebagai Anak Allah.

Merayakan minggu Epifani di tahun 2018 yang diawali dengan banyak gejolak sedikit banyak mendorong kita untuk berefleksi, apakah tanda-tanda kehadiran Kristus sudah bisa dijumpai di lingkungan sekitar kita terutama di gereja dan umatnya? Apakah manifestasi Kristus dan perjumpaan rohani dengan Kristus sudah membuat orang Kristen mengembangkan spiritualitas yang kritis, atau justru orang Kristen masih terlena dalam kemapanan iman dan menutup mata terhadap manifestasi Kristus?

 

Iman: Meninabobokan atau Membebaskan?

Bagi orang awam mungkin salah satu kutipan paling terkenal dari Karl Marx, sekaligus biang kekeliruan terbesar terhadap komunisme, adalah “Agama adalah candu masyarakat”. Kutipan ini sering diambil secara parsial dari karya Marx: A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1844), dimana Marx bukannya mengharamkan agama, namun menjelaskan bahwa agama adalah cerminan sekaligus pelarian dari penderitaan nyata yang disebabkan eksploitasi kelas. Lebih lanjut, agama dipakai menjadi alat kelas penguasa untuk meninabobokan masyarakat dan mengaburkan kenyataan dari akar penindasannya. Di sini, spiritualitas atau keimanan seakan bisa dimaknai sebagai sekadar kesadaran palsu yang menghalangi dan tidak punya tempat dalam perjuangan revolusioner

Namun di lain pihak, dalam karyanya On the History of Early Christianity (1894), Friedrich Engels menjelaskan betapa miripnya kekristenan mula-mula dengan gerakan kelas pekerja sosialis. Keduanya berakar pada gerakan orang-orang yang tertindas, yang terpinggirkan, yang ditaklukkan. Keduanya menjanjikan pembebasan manusia dari belenggu penderitaan. Pengikut keduanya pun sama-sama dipersekusi, dibenci, dan dijadikan musuh oleh kelas penguasa. Sampai-sampai, sejarawan Prancis Ernest Renan turut berujar dalam rangkaian epos L’Histoire des Origines du Christianisme (1863):”Bila Anda mau membayangkan tentang kekristenan mula-mula, saya sarankan Anda lihat saja perkumpulan Internasionale terdekat”.

Lebih lanjut, dalam Bruno Bauer and Early Christianity (1882), Engels menjelaskan latar belakang material yang memungkinkan berkembangnya kekristenan: dekadensi dan keruntuhan Imperium Romawi beserta segala aparatus budayanya yang hegemonik. Kekosongan dan ketidakpastian yang ditinggalkan Imperium digumuli lewat iman dan pengharapan Kristen yang menggerakkan gereja mula-mula. Kondisi ini mirip dengan kemunduran aristokrasi feodal yang melatarbelakangi bangkitnya gerakan sosialis di abad 18-19. Dari sini, ada ilustrasi kedua dimana selain meninabobokan semata, dalam kondisi material yang mendukung, iman dan pengharapan ternyata juga berpotensi memberi dorongan revolusioner.

 

Kekristenan dalam Internasionale Pertama

Intenational Workingmen’s Association, yang dikenal juga sebagai Internasionale Pertama, mencatat bagaimana spiritualitas Kristen turut berkiprah di dalamnya. Meskipun Marx dan Engels cukup kritis dengan kekristenan ‘sosialis’ ini dan menggolongkannya sebagai sosialisme feodal yang reaksioner dalam Manifesto Komunis (1848), toh kelas pekerja ‘beriman’ ini dirangkul juga bahkan berperan cukup penting pada tahap awal pendirian Internasionale. Kaum chartist, kelas pekerja radikal Inggris, bahkan menjadi pintu Marx memasuki dunia pergerakan kelas pekerja yang luas, salah satunya lewat pimpinan chartist Ernest Charles Jones (1819-1869). Selain chartist, ada juga kaum sosialis utopis seperti Wilhelm Weitling (1808-1871) yang kerap menggunakan retorika kekristenan mula-mula dalam agitasi politiknya.

Kaum chartist terbentuk dari pergerakan massa yang memperjuangkan sejumlah reforma politik, terutama terkait pemilu parlementer, yang dipantik dari proklamasi People’s Charter (1838). Banyak di antara mereka menganut pemahaman Kristen radikal dan menentang pandangan Gereja Inggris yang memutuskan untuk ‘cuci tangan’ dari urusan politik dan mengelola dana gereja dengan tidak adil. Kaum chartist percaya iman Kristen haruslah bersifat politis, berpihak, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan menurut Harold Faukner dalam tesisnya Chartism and The Churces (1916), banyak lahir gereja-gereja dan pendeta ‘alternatif’ yang menggabungkan praksis kekristenan dengan politik radikal masa itu, seperti Joseph Barker (1806-1875) dan J.R Stephens (1805-1879).

 

Perjumpaan dengan Kristus dan Iman Revolusioner

Dalam pelayanannya yang relatif singkat, Kristus menyatakan dirinya sebagai Mesias lewat tanda-tanda dan orang merespons manifestasi Kristus dengan berbeda-beda. Dalam Yohanes 1:37-51, misalnya, Petrus, Andreas, dan Filipus langsung saja mengikut Yesus setelah menjumpainya. Tidak demikian dengan Natanael. Perjumpaan Natanael dengan Kristus diwarnai dengan keraguan dan kehati-hatian. Namun, Yesus justru memuji Natanael, dan melihatnya sebagai orang bijak yang mampu membaca tanda-tanda jaman (“Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara” – suka merenung/berpikir – bd Yoh 1:48). Ilustrasi ini menggambarkan perjumpaan dengan Kristus tidak melulu mensyaratkan iman yang pasifis dan naif, namun sebaliknya kritis dan berwawasan luas.

 Uraian singkat ini hanyalah sekedar refleksi bahwa iman masih dapat berperan untuk menjadi katalis pergerakan dan perubahan sosial. Setidaknya, lewat iman yang revolusioner, kesadaran kita dapat lebih diasah agar tidak larut dalam kemapanan melainkan lebih sensitif terhadap perubahan tanda-tanda jaman. Adapun momen Epifani dan perjumpaan dengan Kristus di dalam dunia menjadi titik refleksi dan koreksi atas orientasi spiritualitas kita saat ini, apakah menidurkan, atau justru membebaskan?

Sebagai penutup, berikut sebuah humor yang dikutip dari buku Roland Boer berjudul In the Vale of Tears: On Marxism and Theology V (2013):

Alkisah, Karl Marx Meninggal. Di pintu Surga, dia berjumpa dengan rasul Petrus. Tatkala mendengar perihal jati diri Marx sang “Bapak Komunis”, Tuhan langsung melabeli dia pengacau dan menyuruh dia dikirim ke Neraka.

Saat itu, ada perjanjian ‘dagang’ Surga-Neraka. Neraka memproduksi hawa panas, lalu ditukar dengan roti Manna bikinan Surga. Tapi setelah sekian lama, Petrus bertanya ke ahli Neraka: Kok gak kirim hawa panas lagi? Iblis jawab dengan santai: Si Marx menghasut buruh-buruh Neraka untuk mogok menuntut upah layak. Maka dikembalikanlah si Marx ke Surga supaya produksi panas berlanjut.

Tidak lama kemudian, giliran Surga yang berhenti mengirim Manna. Iblis pun marah-marah ke Petrus: Kok gak kirim Manna lagi? Petrus jawab dengan santai: perjanjian dagang itu borjuistis. Iblis pun tambah kalut: Mana bisa begitu? Sini, panggil bos kamu si Tuhan!

(Kamerad) Petrus pun akhirnya menimpali: Siapa tuh Tuhan?***

 

Penulis adalah pegiat Diskusi Selasaan dan Rabuan Gereja Komunitas Anugerah (GKA) Reformed Baptist Salemba


comments powered by Disqus