Pameran Candu-Candu

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

Die religion … ist das opium des volkes

APAKAH Anda pernah mendengar atau membaca kalimat di atas? Bagi yang belum pernah, kalimat tersebut adalah kalimat yang ditulis Karl Marx pada pembukaan tulisannya yang berjudul A Contribution to The Critique of Hegel’s Philosophy of Right.

Kalimat ini jika diartikan ke bahasa Inggris atau Indonesia, berarti kurang lebih seperti kalimat di bawah ini. ‘The religion is the opium of the people’
Agama adalah candu masyarakat.
Apa hubungan kalimat ini dengan tulisan saya sekarang?

Tulisan ini mencoba menjelaskan bagaimana masyakarat sekarang mabuk akan candu. Candu di sini bukanlah akar kata kerja ‘kecanduan’, yang berarti ketagihan atau tidak mampu berhenti mengonsumsi. Tetapi adalah sebuah benda yang pada abad ke-19 banyak diperjualbelikan dan dikonsumsi. Candu atau Opium ini memberikan efek mabuk untuk penggunanya sehingga untuk beberapa saat tidak sadar dengan yang terjadi sesungguhnya.

Lantas?

Di tulisan ini, kita akan berdiskusi tentang candu yang mungkin menghinggapi sebagian besar masyarakat kita, begitu memabukkan sehingga tanpa sadar selalu saja dikonsumsi setiap hari tanpa henti. Jika Marx memusatkan perhatiannya pada agama, karena saat tulisan itu ditulis, lebih dari 150 tahun yang lalu, agama memang salah satu faktor penting dalam pergerakan masyakarat. Juga, karena Marx seorang filsuf beraliran materialis sehingga faktor agama ini dikaitkan dengan munculnya kapitalisme setelah runtuhnya feodalisme kerajaan dengan ditandainya dengan revolusi industri di Eropa. Pada tulisannya itu, sebenarnya Marx tidak mengkritik agama, tetapi bagaimana agama kala itu digunakan oleh borjuis dalam mengokohkan kapitalisme di masyarakat. Dia mengkritik bagaimana masyakarat yang tertindas oleh kapitalisme, lupa untuk melawan, karena mereka hanya berpasrah dan kembali kepada agama. Lebih lengkapnya bisa dilihat di link ini, karena di sini tidak akan membahas hal itu lebih dalam.

Bagaimana dengan di sini?

Jika dilihat sekarang, dari sosial media, media cetak, televisi ataupun online, candu yang disebut oleh Marx tidak hanya satu versi saja, namun sudah masuk ke hal-hal lain yang memiliki sifat yang sama. Sama-sama dianggap kultus, dibuat anti-kritik, dan diklaim memiliki kebenaran absolut. Jika pada abad ke 19 lalu, candu ini hanyalah satu, sehingga sifat-sifat dari candu ini tidak bisa berlawanan dengan apapun. Tapi, pada jaman modern sekarang, dengan keterbukaan akses terhadap dunia luar, dan beralih-nya komunikasi pada media yang lebih mudah didapat orang, candu-candu ini akan dengan mudah berhadap-hadapan dan bergesekan. Sehingga, tidak dapat dihindari adanya konflik antara penikmat candu-candu ini pada media-media yang mampu mempertemukan mereka. Iya, saya tahu Anda menyaksikan hal ini setiap hari.

Apa saja yang bisa menjadi candu-candu itu?

Untuk menjawab hal ini, saya ingin memberikan disclaimer bahwa tulisan ini murni pendapat atau opini, yang didukung oleh hasil observasi yang dilakukan dari hari ke hari. Tulisan ini tidak memiliki landasan teori ilmu sosial manapun, sehingga tidak akan dicap sebagai tulisan ilmiah.

Pertama, Agama. Meski ini adalah hal yang sensistif, sebagai orang yang beragama, harus diakui ada sebagian orang menjadikan agama sebagai candu.

Kedua, Negara. Poin ini bisa diuniversalkan dengan sebutan nasionalisme. Negara, di Indonesia, akan selalu berhubungan dengan ideologi, beserta semboyan-semboyannya.

Ketiga, Kebebasan. Liberalisme seperti menjadi anti-tesis dari dua poin sebelumnya. Namun, hal yang sangat berlawanan ini pun bisa menjadi candu bagi setiap orang yang meyakininya.

Bagaimana mereka menjadi candu bagi masyarakat?

Kunci utamanya adalah keabsolutan. Ketika sebuah nilai menjadi absolut sehingga nilai yang lain di-nafi-kan. Sehingga, lupa akan makna nilai-nilai itu yang sebenarnya. Karena absolut, maka dengan bangga memamerkannya, dan melawan yang bertentangan dengannya. Sehingga, lupa akan permasalahan dalam bernegara.

Pada kelompok-kelompok ini lah, candu-candu tersebut sangat memungkinkan diproduksi. Narasi-narasi yang dikumandangkan seperti keagamisan, kenasionalan, dan kebebasan, akan selalu didengungkan kepada setiap kelompok agar lupa pada permasalahan sebenarnya.

‘Tidak apa-apa saya menyebarkan hoax, yang penting saya membela ulama’. ‘Tidak apa-apa saya mempersekusi, yang penting saya nasionalis’. 
‘Tidak apa-apa minuman keras dijual di minimarket, karena semua harus bebas’. ‘Tidak apa-apa saya menghujat, karena dia tidak mengakui agama’. ‘Tidak apa-apa mereka kelaparan, yang penting tidak minta merdeka’.
 ‘Tidak apa-apa kaki-lima digusur, karena saya ingin jalan saya bebas hambatan’. Dan sejenisnya.

Kemudian?

Setelah narasi didengungkan, dibantu dengan kemudahan komunikasi, setiap kelompok akan memamerkan candu-candu di timeline mereka masing-masing. Semua akan mengkalim candu mereka yang paling manjur, perdebatan dimulai, diskursus-pun beralih menjadi nilai-nilai siapa yang paling benar. Diskursus yang tidak akan berakhir.

Lalu?

Mereka lupakan si miskin yang masih saja menjadi korban kapitalisme, si tani yang lahannya akhirnya dibeli paksa, dan si kampung yang dibiarkan tertinggal begitu saja.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus