Roy Murtadho

Teologi Pasifisme dan Nasib kelas Pekerja

KALI ini saya ingin mengawali diskusi kita dengan cerita. Sebuah cerita ringan dan biasa saja, yang bisa jadi, Anda juga pernah mengalaminya. Melalui cerita ringan

Yu Patmi Adalah Sang Mustadh’afin

Kredit ilustrasi: Ivana Kurniawati/www.ingrum.org   لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا

Freeport, Papua dan Hubbul Wathan Minal Iman

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)   SEMULA pada Jumat ini, saya telah menyiapkan tulisan yang mencoba mendiskusikan dan memproblematisir diskursus proletariat dan mustad’afin dalam tradisi

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.