Pertautan Terorisme, Fundamentalisme dan Kapitalisme: Tantangannya Bagi Gerakan Kiri

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: https://theredphoenixapl.org

 

MENGAPA agama yang mengajarkan cinta kasih, keadilan, kesetaraan, serta solidaritas kemanusiaan yang terangkum dalam konsep penyelamatan universal, rahmatan lil alamin, justru paling subur melahirkan gerakan fundamentalis serta pelaku teror? Jika dikatakan terorisme tidak inheren dalam Islam, melainkan disebabkan oleh kait kelindan berbagai aspek, khususnya fundamentalisme Islam dan dinamika ekspansi spasial kapital global, mengapa terorisme lebih mudah tumbuh di jantung dunia Islam ketimbang, misalnya, di dalam tradisi Hindu, Konghucu, atau Budha yang sama-sama menjadi korban kolonialisme di belahan Dunia Ketiga? Atau lebih mudahnya, mengapa Islam yang menjadi ladang subur terorisme, sementara dalam tradisi keagamaan lainnya tidak? Mengapa kebencian terhadap apapun yang dianggap sebagai Barat, dalam skala identitas, sangat kuat di belahan dunia Islam namun tidak dengan belahan dunia lainnya? Apakah tindakan teror Al-Qaida dan ISIS pertama-tama disebabkan oleh kekeliruan dalam menafsir nilai-nilai normatif Islam serta gagal menerjemahkan Islam perdana sebagaimana dipraktikkan Nabi dan kaum salaf al-salih dalam konteks hari ini, atau ada aspek lain yang juga turut berperan mengeraskan kebencian dan permusuhan terhadap Barat?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan menuntun pembahasan kita mengenai pertalian antara terorisme, fundamentalisme dan kapitalisme, serta tantangannya bagi gerakan kiri. Sehingga pertanyaan tersebut tidak bermaksud menafikan kenyataan bahwa fundamentalisme dan aksi teror juga muncul di agama lainnya.

Bahkan istilah fundamentalisme, yang belakangan seringkali disematkan pada Islam pasca peristiwa 11 September 2001, sebagaimana jamak diketahui banyak orang, pertamakali lahir dari tradisi Kristen yang didefinisikan sebagai sebuah gerakan protestantisme abad kedua puluh yang menekankan penafsiran Injil secara literal sebagai hal yang fundamental bagi kehidupan dan ajaran Kristen.[1] Dari definisi ini seringakali fundamentalisme diidentikan dengan orang-orang yang literalis yang mengidealkan kemurnian nilai-nilai agama dari residu dunia yang berpotensi menggerogotinya.

Sebelum melangkah lebih jauh, yang perlu digarisbawahi tulisan singkat ini tak bisa ditempatkan sebagai sebuah pembacaan holistik yang hendak meneropong secara detil aspek teologis dan historis gerakan fundamentalisme Islam di masa-masa awal kelahirannya hingga dinamika internalnya hari ini. Tapi pertama-tama harus ditempatkan sebagai prolegomena menuju pembacaan alternatif terhadap terorisme dan fundamentalisme Islam dalam terang dinamika ekspansi spasial kapital global pasca
Perang Dunia kedua. Dengan demikian rute yang ditempuh hanya sebatas menggali sebab-sebab lain yang turut menyuburkan baik terorisme dan fundamentalisme yang menjadi ancaman dunia hari ini.

 

Sekilas Melihat Tiga Wajah Utama Fundamentalisme Islam

Fundamentalisme dalam Islam seringkali dikaitkan dengan gerakan Wahabi di Arab Saudi yang dibawa oleh Abdul Wahab, serta gerakan Ikhawanul Muslimin di Mesir di bawah pimpinan Hasan Al-Banna (1906-1949) dan gerakan Jamaah Islamiyah di Paskitan dibawah pimpinan Abul A’la al-Maududi (1903-1979). Ketiga gerakan tersebut kelak memberi pengaruh pada peta gerakan Islam secara umum hingga hari ini. Meski belum ada bukti yang kuat kaitan secara organisasional pelaku teror dengan paham Wahabi dan kedua gerakan tersebut, namun pandangan keagamaan pelaku teror beririsan dengan paham wahabisme dan berkesesuaian dengan visi gerakan Ikhwanul Muslimin maupun Jamaah Islamiyah. Dengan demikian, pandangan keagamaan al-Qaeda dan ISIS memperoleh pendasarannya dari paham wahabisme.

Agar pembaca mendapat gambaran yang lebih utuh mengenai wahabisme, Ikhwanul Muslimin serta Jamaah Islamiyah, baik kiranya kita ketengahkan terlebih dahulu pokok-pokok pikiran keagamaan ketiga tokoh pendiri gerakan tersebut. Saya akan mengutip secara utuh pokok-pokok pikiran mereka dari rangkuman yang telah dikerjakan Harun Nasution untuk pemikiran Abdul Wahab dan John L. Esposito untuk pemikiran Hasan al-Banna dan Abul A’la al-Maududi.

Pokok-pokok pikiran keagamaan Abdul Wahab:[2]

  1. Yang boleh dan harus disembah hanyalah Tuhan, dan orang yang menyembah selain dari Tuhan telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.
  2. Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya mereka meminta pertolongan bukan lagi dari Tuhan, tetapi dari syekh atau wali dan dari kekuatan gaib. Orang Islam demikian juga telah menjadi musyrik.
  3. Menyebut nama Nabi, syekh atau malaikat sebagai perantara dalam doa juga merupakan syirik.
  4. Meminta syafa’at selain dari Tuhan adalah juga syririk.
  5. Bernazar pada selain Tuhan juga syirik.
  6. Memperoleh pengetahuan selain dari Al-Qur’an, hadis dan qiyas (analogi) merupakan kekufuran.
  7. Tidak percaya pada qada dan qadar Tuhan juga merupakan kekufuran.
  8. Demikian pula menafsirkan Al-Qur’an dengan takwil (interpretasi bebas) adalah kufur.

Pokok-pokok pikiran keagamaan al-Banna dan al-Maududi:[3]

  1. Islam adalah material yang komplit bagi individu dan kehidupan bersama, bagi negara dan masyarakat.
  2. Al-Qur’an, yang merupakan wahyu Allah dan teladan (sunnah) Rasululah adalah dasar bagi kehidupan kaum muslim.
  3. Hukum Islam (syari’ah, atau jalan Allah) didasarkan pada Al-Qur’an dan teladan Rasulullah, yang menjadi cetak biru bagi kehidupan kaum muslim.
  4. Keteguhan dalam berpegang pada tujuan Muslim dalam menegakkan kerjaan Allah melalui penerapan hukum Allah akan membawa keberhasilan, kekuasaan, dan kesejahteraan bagi masyarakat Islam (ummah) di dunia dan di akhirat.
  5. Kelemahan dan perbudakan yang dialami masyarakat muslim bersumber pada ketiadaan iman kaum muslim. Mereka telah terjauhkan dari jalan yang telah ditetapkan Allah dan mengikuti jalan sekular, ideologi-ideologi materialistik, dan nilai-nilai yang datang dari Barat atau Timur – yakni kapitalisme dan marxisme.
  6. Untuk menumbuhkan kembali harga diri, kekuatan, dan kekuasaan kaum muslim (dengan merujuk ke masa lalu yang gemilang yang pernah dicapai oleh kerajaan-kerajaan Islam, menaati kembali hukum-hukum Allah dan bimbingan dalam hidup bernegara dan bermasyarakat.
  7. Ilmu dan teknologi harus diperkuat dan digunakan dalam kerangka Islam dan konteks terencana untuk menghindari proses westernisasi dan sekularisasi dalam diri masyarakat muslim.

Kalau kita cermati dengan teliti perbedaan antara Wahabisme dengan Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Islamiyah dari pokok-pokok pikiran para tokoh tersebut, akan tampak bahwa yang pertama sebatas sebagai kebutuhan pemurnian ajaran Islam, sedangkan yang terakhir lebih jauh, selain sebagai agenda pemurnian Islam juga sebagai respon pada musuh lama, Barat-Kristen, yang dianggap mengancam identitas Islam.

Jika dalam pengalaman historis di Barat yang suci dipisahkan dengan politik oleh sekularisme, fundamentalisme Islam justru hendak menyatukan kembali antara yang suci dan politik. Mereka memandang bahwa kejumudan yang melanda kaum muslim karena kaum muslim meninggalkan yang suci, dan meninggalkan hukum Tuhan. Dengan demikian mereka menyerukan: go back to the Qur’an and the sunnah of the Prophet.

Meski demikian, secara umum kaum fundamentalis atau Islam politik semuanya merujuk pada masa 10 tahun kekuasaan Nabi Muhammad di Madinah (622-632 M) dan masa Khulafaur Rasyidin (632-661) sebagai zaman keemasan yang menjadi model untuk diikuti. Kalau kita tarik lebih ke belakang, gerakan fundamentalis, juga gerakan reformasi (ishlah) dan pembaruan (tajdid) dalam Islam berakar pada pemikiran keagamaan Ibn Taimiyah (1263-1328) yang tak jauh berbeda dengan gerakan fundamentalis Kristen abad 20 yang berakar pada reformasi Kristen yang dilakukan Martin Luther (1483-1556), dan John Calvin (1509-1564) jauh sebelumnya. Artinya, fundamentalisme, baik dalam Islam maupun Kristen, sebagai sebuah gagasan pemurnian, telah berakar kuat jauh sebelum abad 20. Yang membedakan keduanya terletak pada imajinasi politiknya. Fundamentalis Kristen tidak hendak membangun sebuah imperium Kristen, sedangkan dalam Islam menjadikan agama dan politik sebagai satu kesatuan. Kemurnian Islam bisa ditegakkan hanya melalui kekuasaan dan pemerintahan yang dianggap Islami yang memanifestasikan hukum Tuhan di bumi.

 

Terorisme Sebagai Anak Kandung Fundamentalisme dan Imperialisme

Di kalangan para sarjana Islam, perdebatan seputar apa yang disebut sebagai fundamentalisme, terorisme, ekstrimisme, radikalisme, Islam politik atau kadang juga disebut sebagai Islamisme—yang terakhir ini seringkali dipakai oleh Asef Bayat, masih sedikit yang melihatnya di luar cangkang debat teologis-hermeneutis seputar apakah benar Islam melegalisasi kekerasan atau tidak, apakah makna jihad hanya berusaha secara sungguh-sungguh dalam kebenaran ataukah juga berarti mengangkat senjata dalam medan pertempuran, apakah Nabi dan para sahabat mengajarkan kebencian atau tidak, dan lain sebagainya.

Sejauh ini, pembahasan para sarjana Islam mengenai terorisme dan fundamentalisme, sebagian besar masih dimaksudkan sebagai penyangkalan atas kekeliruan tafsir kaum fundamentalis atas keberisalaman Rasulullah serta kaum salaf al-Shalih. Meski upaya tersebut sangat penting dan berharga sebagai medan perebutan tafsir yang benar terhadap Islam yang “telah dibajak” oleh para pelaku teror, namun sayangnya tak cukup mampu memberi jawaban yang kokoh atas kondisi aktual bangkitnya fundamentalisme di dunia Islam serta aksi-aksi teror yang mengiringinya.

Apa yang diabaikan dari perdebatan teologis-hermeneutis para sarjana Islam adalah aspek ekonomi-politik tumbuh suburnya benih-benih fundamentalisme dan tendensi anti kemanusiaan terorisme. Dari pengabaian ini terbitlah beberapa persoalan: pertama, gagal memberi argumen materialis-historis atas suburnya fundamentalisme dan aksi teror yang muncul di jantung Islam. Kedua, pada tataran permukaan, argumen teologis-hermenutis justru makin menebalkan antinomi di dalam tubuh Islam sendiri yang menganjurkan kebaikan di satu sisi, dan kekerasan di sisi lainnya. Ada ayat perdamaian dan anjuran peperangan sekaligus dalam al-Qur’an. Orang awam akan dengan mudah mengatakan, bagaimana mungkin Al-Qur’an yang mengajarkan kebajikan hidup sekaligus menganjurkan peperangan? Bukankah itu artinya ada kontradiksi internal dalam Islam yang tak bisa didamaikan? Apakah itu artinya ada anomali di jantung ajaran Islam yang saling bertabrakan? Ini dimungkinkan karena para sarjana Islam menggali jawaban dengan berpijak pada sumber yang sama, yang menjadi dasar keberislaman yang luhur sekaligus menganjurkan perang tanpa mengajukan penjernihan dengan meletakkan konsep Jihad sebagai manifestasi empirik cinta kasih dalam wujud perjuangan melawan hawa nafsu maupun bertempur di medan perang melawan kebatilan (bukan memusuhi agama lain). Ketiga, argumen para sarjana Islam seringkali tampak berusaha menghapus kenyataan Islam sebagai agama politis dalam pengertiannya yang generik dengan menganulir konsep jihad yang selain berarti berjuang dengan sungguh-sungguh, juga sebagai jalan perlawanan atas tiap segala rupa kezaliman yang melecehkan kemanusiaan. Bahkan tak hanya konsep jihad, kelima rukun Islam pada dirinya adalah politis, yang berfungsi sebagai simbolisasi solidaritas kemanusiaan yang imanen.

Dengan demikian diperlukan pembacaan lain untuk menggenapi perdebatan teologis-hermeneutis dengan penekanan pada kondisi material yang memungkinkan suburnya wabah terorisme dan fundamentalisme, sekaligus melihat persoalan terorisme dan fundamentalisme tidak melulu disebabkan oleh tafsir atas agama yang keliru, tapi juga sebagai reaksi keliru atas pelbagai situasi aktual ekspansi spasial kapitalisme global di dunia Islam, khususnya di Timur Tengah.

Eksperimen bom bunuh diri para pelaku teror yang belakangan secara keliru oleh media-media Barat disebut sebagai Jihadis, pertama kali lahir dari situasi frustasi perlawanan rakyat Palestina menghadapi kebrutalan tentara Zionis Israel yang merampas tanah mereka dan tanpa henti-hentinya membombardir mereka dengan rudal yang bisa menyasar siapa saja dan dimana saja. Tak sedikit di media diberitakan bagaimana sebuah keluarga yang tengah merayakan pernikahan, sedang terlelap tidur atau sekedar makan bersama, tiba-tiba tewas oleh rudal yang menghantam rumah mereka.

Dari situasi seperti itulah bom bunuh diri menjelma sebagai alternatif jalan perjuangan setelah kebiadaban Zionis melucuti kehormatan mereka sebagai manusia dan sebuah bangsa. Situasi semacam itu juga yang telah menyeret para pemuda-pemudi Palestina memikirkan ulang batas kemanusiaan bagi diri mereka: menerima kekalahan atau mencari jalan perjuangan dengan bom bunuh diri. Pada titik ini, misalkan ada tinjaun filosofis-etis apapun yang hendak menilai perjuangan bom bunuh diri di Palestina dengan mengabaikan kondisi aktual-objektif yang dihadapi rakyat Palestina, bisa dipastikan hanya akan menjadi kesia-siaan belaka.

Eksperimentasi perjuangan di Palestina ini kelak diduplikasi dan diekspor ke belahan dunia Islam lainnya oleh para propagandis fundamentalis Islam sebagai jalan perjuangan sembari mencari justifikasi legalnya dalam agama. Di tambah dengan kondisi di Timur Tengah sejak pasca Perang Dunia Kedua, benih-benih fundamentalisme Islam yang mulanya hanya sekedar agenda teologis pemurnian ajaran Tauhid sebagaimana kasus Wahabisme di Arab Saudi, kini tampil sebagai respon politik atas dominasi kapitalisme dalam wajah imperialisme di Timur Tengah. Meski faktanya kerajaan Arab Saudi yang menjadi embrio wahabisme menjadi sekutu abadi Amerika Serikat, paham fundamentalis Wahabi turut menyumbang sebagai landasan teologis aksi-aksi teror di banyak belahan dunia .

Fatalnya lagi, prasyarat perang yang berpijak pada prinsip-prinsip hukum Islam klasik, kini, di hadapan mesin canggih peralatan perang, menjadi berantakan berkeping-keping. Bahkan fiqih perang pun harus mesti disusun ulang mengingat perang tak lagi bisa dibatasi oleh kaidah-kaidah etis berperang klasik, seiring berubahnya konsepsi spasial perang sebagai efek perkembangan peralatan perang. Jika dalam hukum perang klasik sekumpulan pasukan saling berhadap-hadapan di medan tempur yang telah ditentukan dan disepakati bersama. Hari ini di seluruh penjuru bumi bisa menjadi medan tempur. Seorang mantan kombatan perang Afghanistan misalnya pernah berujar pada saya atau lebih tepatnya mengajukan pertanyaan: “di manakah sebenarnya medan perang sesungguhnya, Afghanistan atau di Pentagon? Serdadu Amerika dengan mudah bisa mengendalikan drone memuntahkan rudal sembari menikmati kopi di ruang ber-AC di lokasi yang jaraknya ratusan mil dari lokasi pengeboman. Apakah serdadu tersebut bisa dikatakan terlibat dalam perang? Jika, iya, apakah keliru kalau kami menjadikan lokasinya minum kopi dan mengendalikan drone sebagai sasaran? Jika kami dituding sebagai pengobar kekerasan dan menjadikan warga sipil sebagai target penyerangan, bagaimana dengan rudal yang menghantam siapa saja dan di mana saja, yang melihat Iraq, dan Afghanistan, bukan pertama-tama sebagai lokasi yang dihuni oleh banyak orang, ibu-ibu dan anak-anak yang mempunyai nama, melainkan wilayah musuh yang harus dibasmi?”

Sedemikian, terorisme lahir dari situasi krisis kapitalisme. Ia lahir dari rahim fundamentalisme Islam yang dibuahi oleh kapitalisme. Pertempuran brutal ala Coboy Amerika di Palestina yang dipraktikkan tentara Zionis, serta hegemoni Amerika di Timur Tengah, telah memicu kaum muda menjadi teroris dengan melakukan penyerangan membabi buta sebagai rasa frustasi menghadapi persenjataan cangggih yang bisa menghantam siapa saja, kapan saja dan dimana saja.

Terorisme merupakan pengalaman baru yang tak pernah ada sebelumnya dalam pemaknaan Jihad maupun dalam sepanjang sejarah Islam sebelum abad 20. Ia merupakan bayi yang baru dilahirkan oleh relasi antagonistis antara fundamentalisme Islam dan imperialisme yang bercampur dengan kesalahpahaman Islam dan Barat yang berlangsung berabad-abad lamanya. Kesalahpahaman yang disebabkan oleh miskinnya informasi yang benar mengenai Islam hingga keengganan untuk saling belajar.

Kesalahpahaman Barat pada Islam telah berlangsung lama. Melalui karyanya Fanatism, or Muhammad the Propet, Voltaire sang filsuf avant garde Perancis, sekaligus dramawan handal pada masanya, mengolok-olok Islam dengan menggambarkan Muhammad sebagai sosok tiran dengan pemerintahan yang teokratis. Ernest Renan mengatakan Islam tidak sesuai dengan sains dan menganggap kaum muslim sebagai kumpulan orang picik yang tak mampu membuka diri bagi gagasan-gagasan baru.[4] Jauh sebelum itu, Martin Luther melihat Islam sebagai suatu gerakan kekerasan anti-Kristus yang berbahaya dan hanya bisa dihentikan dengan pedang.[5] Secara umum Islam di Barat dilihat sebagai ajaran bid’ah yang disiarkan oleh Nabi sesat dan palsu yang mengancam misi Kristen. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai seorang Kardinal gereja Roma yang gagal mewujudkan ambisinya untuk menjadi Paus, kemudian memberontak dan melarikan diri ke Arab dan membangun gerejanya sendiri.[6]

Begitu pula kesalahpahaman Islam pada Barat, dalam skala identitas, yang selalu diidentikkan dengan Kristen, telah mengaburkan jalan perjuangan melawan kapitalisme menjadi salah arah anti pada Kristen dan apapun yang berbau Barat. Sehingga pesan cinta kasih: ‘kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’ (Imamat 19: 18, Matius 22: 39) dalam Kristen tak pernah sampai pada kaum muslim yang telah tertutup oleh kebencian yang diakibatkan oleh parade kekerasan negara-negara Utara khususnya Amerika.

Sedemikian terorisme tak bisa dipandang semata-mata persoalan tafsir teologis yang terisolir dari kondisi objektif umat Islam. Romantika kejayaan masa lalu Islam, beban psikologis-historis persaingan antara Islam dan Barat yang teramat pekat sebagai musuh lama yang telah melahirkan berlapis-lapis peperangan sebelumnya, suatu hubungan yang lebih banyak menimbulkan kesalahpahaman ketimbang kesepahaman, kondisi keterhinaan dan terbelakang oleh kolonialisme, hegemoni ekonomi dan politik kapitalisme dalam perebutan sumber-sumber minyak, semuanya berbaur mendorong rasa kebencian terhadap apa saja yang dianggap sebagai produk Barat yang kafir dan menindas, serta turut mempercepat proses kelahiran jabang bayi teroris dari rahim fundamentalisme Islam.

 

Catatan Akhir

Jauh sebelum serangan terhadap Pentagon dan WTC pada 11 September 2001, jauh sebelum Bush memulai pidato deklarasi War on Terrorism-nya, Malcom X dengan menakjubkan menggambarkan Islam dalam otobiografinya:

‘Amerika perlu belajar memahami Islam, sebab agama ini merupakan satu-satunya agama yang terhapus dari masyarakatnya karena masalah ras. Melalui perjalanan saya di dunia Islam, saya bertemu, bercakap-cakap dengan, bahkan makan bersama dengan orang-orang seperti orang “berkulit putih Amerika, tetapi sikap dan mental “kulit putih” mereka telah mengalami pergeseran, cara berpikir mereka telah berubah karena Islam. Sebelumnya saya tidak melihat praktik kehidupan persaudaraan yang rukun dan benar yang dilakukan oleh orang-orang kulit berwarna secara bersama-sama, tanpa mempedulikan waran kulit mereka.

Selama sebelas hari berada di sini, di dunia Islam, saya makan dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama, dan tidur di tempat tidur yang sama (atau di permadani yang sama) —juga berdoa kepada Allah yang sama dengan para pengikut muslim yang memiliki mata paling biru sekalipun dan rambut paling pirang, serta kulit paling putih dari yang putih. Dari kata-kata, perbuatan dan kegiatan orang Islam berkulit putih, saya rasakan kehalusan yang sama dengan yang saya rasakan di kalangan orang-orang Afrika yang beragama Islam, misalnya dari Nigeria, Sudan dan Ghana.

Sesungguhnya, kita semua adalah sama.’[7]

Penggambaran Malcom X mengenai Islam tentu sangat subjektif dan bisa jadi keliru. Namun kesiapan untuk saling memahami dengan rendah hati menjadi jalan satu-satunya jalan menuju perdamaian sejati, sembari berani mengakui dengan jujur berbagai teror dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh kapitalisme dalam wujud imperialisme di berbagai belahan dunia telah memicu kebencian pada Barat, khususnya di Timur Tengah.

Cerita tentang penyiksaan tahanan di Abu Ghuraib serta Guantanamo, pelecehan terhadap Al-Qur’an oleh serdadu-serdadu Amerika usia remaja menjadi suatu eksemplar yang makin memperburuk citra Barat di depan mata kebanyakan kaum muslim. Fundamentalisme, juga aksi-aksi terorisme, sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda akan surut melalui penanganan perang ala Amerika, sebaliknya, diramalkan akan makin tumbuh subur di Barat sendiri. Sekarang, simpatisan dan pelaku teror makin meluas ke belahan bumi Barat. Mereka pemuda-pemudi usia 20-an tahun yang terdorong oleh campuran solidaritas dan kebencian yang serupa pada Barat sebagai anak-anak imigran yang mengalami keterbelahan psikologis sebagai Barat atau sebagai muslim yang harus bersolidaritas pada saudaranya di Timur Tengah.

Apapun alasan dan bentuknya, terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan. Fundamentalisme, entah Islam atau Kristen, atau ide pemurnian agama apapun, atau sekte apapun, merupakan ancaman keberlangsungan hidup bersama di dunia. Demikian juga dengan merampas ruang hidup yang menimbulkan rasa frustasi, yang bisa dengan mudah mendorong seseorang melakukan tindakan teror juga tak kalah mengancamnya.

Kemudian apa yang bisa dipetik dari situasi ini bagi gerakan kiri? Mengambil bagian dalam perang melawan terorisme ala Amerika, atau berani menempuh jalan sendiri menyiapkan trajektori jangka panjang dalam upaya membangun aliansi permanen perjuangan anti kapitalisme dan imperialisme di abad ini dengan beberapa langkah: a) merebut basis massa rakyat yang berpotensi menjadi basis fundamentalisme agama; b) Turut meluruskan kekeliruan pikir dan jalan perjuangan kaum fundamentalis [karena tidak semua kaum fundamentalis adalah teroris dan mendukung terorisme] dari anti kepada Barat menjadi anti kepada kapitalisme dan imperialisme; c) Mencanangkan program pendidikan politik kelas untuk mensubstitusi tendensi eksklusif dan pemurnian agama di basis massa rakyat tertindas.

Atau sekali lagi, bersekutu dengan negara-negara imperialis membumi hanguskan para fundamentalis, baru sesudahnya bertempur dengan para kapitalis? Tak ada jalan yang mutlak benar. Semua jalan mungkin, dan kita memilih kemungkinan-kemungkinan tersebut dengan menimbang resiko terkecil dari resiko terbesar, karena tugas gerakan kiri adalah memastikan hidup yang lebih baik, saling menghormati keragaman budaya dan agama, menyerukan solidaritas kemanusiaan dan pembebasan rakyat tertindas seluas-luasnya, dan yang paling penting sirnanya eksploitasi manusia atas manusia lainnya, bukan sebaliknya, menimbulkan malapetaka. Naudzubillah mindzalik ***

 

Jombang, 2 Agustus 2017

 

[1]A movement in 20th century Protestantism emphasizing the literally interpreted Bible as fundamental to Christian life and teaching” (suaru gerakan protestantisme pada abad ke 20 yang menekankan penafsiran al-kitab secara literer/harfiah sebagai sesuatu yang mendasar bagi kehidupan dan pengajaran Kristen) juga didefiniskan sebagai “a movement of attitude stressing strict and literal adherence to a set of basic principles” (suatu gerakan atau sikap yang menekankan ketelitian dan ketaatan secara harfiah terhadap sejumlah prinsip-prinsip dasar). Istilah fundamentalisme pertama kali muncul dalam booklet berjudul ‘The Fundamentals’ pada tahun 1910-1915 yang berisi sejumlah persoalan doktrinal di seputar ke-Allah-an Yesus, otoritas al-Kitab, dan kelahiran Yesus dari seorang perawan.

[2] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 23.

[3] John L. Esposito, Ancaman Islam Mitos atau Realitas (Bandung: Mizan, 1996), hal. 136.

[4] Albert Hourani, Europe and the Middle East (Berkeley: University of California Press, 1980), hal. 12.

[5] Ibid., hal. 10.

[6] Ibid., hal. 9.

[7] Malcom X, The Autobiography of Malcom X (New York: Grove Press, 1960) hal. 345.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.