
Matinya Serikat Pekerja, Matinya Demokrasi
Kekuasaan lahir dari kepemilikan alat produksi.

Kekuasaan lahir dari kepemilikan alat produksi.

fight to vote, vote to fight. Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) Peran Sentral Negara dalam Penegakan HAM SELAMA ini kita sudah terbiasa dengan definisi

TULISAN-tulisan di bagian sebelumnya mendiskusikan bagaimana pergerakan bintang, Matahari, dan Bulan dilihat dari Bumi. Pergerakan benda-benda langit tersebut ini, dan juga pergerakan planet-planet (yang bisa

Kredit ilustrasi: https://miettha.wordpress.com Dunia Kekinian: Aku Membeli, Maka Aku Ada! DUNIA saat ini menuntut kita untuk selalu meng-update segala informasi yang berhubungan dengan barang-barang
Kisah Umi Sarjono, yang keluar masuk penjara di masa revolusi kemerdekaan. Memimpin organisasi perempuan terbesar. Meninggal dalam sunyi, di usia 87.

Mitrardi Sangkoyo, anggota serikat mahasiswa progresif (SEMAR) UI dan mahasiswa ilmu politik UI Judul Buku: Economic Valuation of Nature: The Price to Pay

Kredit ilustrasi: Wikimedia Commons DALAM Catatan-Catatan Penjara-nya yang terkenal itu, Antonio Gramsci pernah berkata, “semua orang adalah intelektual, tapi tidak semua orang menjadi intelektual

KONFLIK lahan dan perampasan tanah petani dalam beberapa tahun belakangan ramai terjadi di Indonesia. Tak jarang konflik tersebut diwarnai kriminalisasi hingga kekerasan terhadap petani yang

Anzi Matta Lahir pada 3 Oktober 1996. Lulus SMA di tahun 2014. Pernah menerbitkan buku dengan sistem produksi independen ketika kelas 1 SMA lalu menghentikannya dan memfokuskan diri menulis essai, menyelanggarakan beberapa pameran kolektif dan mini solo exhibition pertama di Porto, Portugal. Kegiatan menulis, menggambar, berencana untuk kuliah di tahun mendatang.

Soegija adalah film yang ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaan Indonesia tahun 1940-1949. Dan perang dalam pemahaman Soegija adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Dalam kelindan arah narasi itu, posisi Soegija dibentuk sebagai tokoh yang ingin menyatukan kembali keluarga besar kemanusiaan yang terpecah karena perang.
Dari ikhtisar tersebut, setidaknya ada tiga nilai pokok yang saling bertautan dalam Soegija: kemanusiaan, perang dan penokohan Soegija. Dalam latar waktu yang sama (periode perang kemerdekaan Indonesia 1940-1949) tiga nilai pokok tersebut berdialektika. Dalam konteks dan konstelasi tersebut, ulasan ini secara umum akan coba mengkonfrontasikan diri.
RAKYAT jelata membuat sejarah. Tidak percaya? Mari palingkan wajah sejenak ke dunia seberang. Hari itu, 1 Januari 2001. Usai hingar-bingar pergantian tahun baru, dunia sontak menoleh ke Chiapas, provinsi termiskin di Meksiko. Tiga ribu petani angkat senjata. Mereka merangsek ke kota, memprotes pemerintah Meksiko yang bersekutu dengan Amerika Serikat dan Kanada meneken perjanjian kawasan perdagangan bebas Amerika Utara (NAFTA). Akibat liberalisasi perdagangan itu, petani miskin – kebanyakan masyarakat adat Indian – dipaksa bersaing dengan pemodal raksasa dari negara-negara besar.

KETIKA mendengar nama ‘Bali’, yang pertama muncul dalam benak kita adalah tujuan pariwisata dengan tawaran menggiurkan; masyarakat yang ramah, serta budaya unik yang menjadi ciri khasnya. Hal ini tampak pada kita sebagai suatu yang niscaya, sesuatu yang ‘sudah dari sononya’. Bali sering kita anggap sebagai daerah yang ‘netral’, bebas dari pengaruh global dan kuat bertahan dengan tradisinya. Pandangan ini mendudukan Bali sebagai semacam suaka yang harus dijaga dan dijauhkan dari perubahan-perubahan yang disebabkan berbagai krisis, entah tingkatan nasional maupun global. Di sinilah pra-anggapan tentang Bali ini menjadi semacam disiplin, yang ditaati oleh segenap manusia Bali dan menjadi tolak ukur perkembangan Bali yang normal.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.