Soegija: Perang dan Kemanusiaan Itu (?)

Print Friendly, PDF & Email

Soegija adalah film yang ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaan Indonesia tahun 1940-1949. Dan perang dalam pemahaman Soegija adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Dalam kelindan arah narasi itu, posisi Soegija dibentuk sebagai tokoh yang ingin menyatukan kembali keluarga besar kemanusiaan yang terpecah karena perang.

Dari ikhtisar tersebut, setidaknya ada tiga nilai pokok yang saling bertautan dalam Soegija: kemanusiaan, perang dan penokohan Soegija. Dalam latar waktu yang sama (periode perang kemerdekaan Indonesia 1940-1949) tiga nilai pokok tersebut berdialektika. Dalam konteks dan konstelasi tersebut, ulasan ini secara umum akan coba mengkonfrontasikan diri.

***

Kita akan mulai dari nilai pokok yang pertama, yakni: kemanusiaan. Pada dasarnya ada sebuah abstraksi yang coba diposisikan Soegija sebagai kerangka umum narasinya. Abstraksi yang dimaksud adalah gagasan berikut: “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan keluarga besar. Satu keluarga besar, di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak melukiskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan.”

Kalimat di atas adalah gagasan dari Mgr. Albertus Soegijapranata SJ atau Uskup Soegija. Dalam Soegija, kita mendengar gagasan humanis itu digaungkan dua kali oleh tokoh Soegija (Nirwan Dewanto), pada adegan pembuka dan penutup film. Ia digaungkan separuh dalam adegan pembuka kemudian digaungkan secara utuh dalam adegan penutup. Dalam dua kali penggaunganya itu, konstruksi visualnya sama-sama dibangun dari rangkaian shot yang padat. Dengan shot yang demikian, Garin hendak mengakatan bahwa itu adalah gagasan penting. Penting dalam posisinya sebagai pembuka dan penutup narasi; ataupun sebagai abstraksi yang mengkerangkai keragaman tokoh-tokoh fiksional Soegija.

Kita simak saja Robert (Wouter Zweers): komandan tentara Belanda yang bengis, Hendrick (Wouter Braaf): wartawan asal Belanda yang simpatik kepada pribumi, Nobuzuki (Suzuki): komandan tentara Jepang yang tak pernah tega melihat anak-anak disakiti, Ling-ling (Andrea Reva): gadis kecil keturunan Tiong Hoa yang terpisah dari ibunya, Mariyem (Annisa Hertami): perempuan Jawa yang mengenyam pendidikan keperawatan, Lantip (Rukman Rosadi): pemimpin barisan pemuda rakyat yang progresif, Banteng (Adriano Fidelis): salah satu anggota barisan pemuda rakyat yang buta huruf dan susah diatur.

Tokoh-tokoh fiksional tersebut, secara umum menampakkan perbedaan bangsa, asal-usul, bahasa, adat, kemajuan, dan juga cara hidupnya. Dalam kerangka humanisme Soegija (kemanusiaan itu satu), mereka semua pada dasarnya terangkum dalam keluarga besar kemanusiaan. Demikianlah gagasan Soegija bekerja sebagai kerangka umum yang membentuk sebagian besar narasi Soegija.

Namun asumsi dasar dari gagasan Soegija tersebut perlu kita timbang ulang karena membawa beberapa implikasi logis yang perlu kita baca secara kritis. Dua diantaranya adalah sebagai berikut: pertama, karena dengan mengasumsikan bahwa kemanusiaan itu satu maka distingsi antara siapa penjajah dan siapa yang dijajah atau siapa yang menindas dan siapa yang ditindas, akhirnya menjadi kabur; kedua, karena dengan mengasumsikan bahwa kemanusiaan itu satu, maka semua persoalan tentang perbedaan seolah telah selesai dalam satu naungan keluarga besar kemanusiaan.

Lebih lanjut, spirit humanisme universal yang bercokol dalam gagasan Soegija tersebut terasa kontras dengan kenyataan yang eksis di luar gagasan itu sendiri. Maka dari itu, dalam Soegija yang menempatkannya sebagai kerangka umum, narasi kemanusiaan ini terasa canggung, khususnya ketika ia coba mengartikulasikan gejolak-gejolak empirik yang terjadi di masa perang kemerdekaan.

Misalnya seperti dilaporkan oleh tokoh Lantip kepada tokoh Soegija berikut: “Sekarang ini kondisi rakyat kelaparan, Romo. Buruh kerja keras hanya untuk mendapatkan sedikit garam. Dan banyak toko-toko dijarah, Romo.” Sayangnya, dalam Soegija laporan Lantip tersebut lebih terasa sebagai selingan. Narasi Soegija lebih asyik bermain-main dengan gulir peristiwa yang dialami tokoh fiksionalnya yang satu dan yang lain. Dengan demikian, di satu sisi peristiwa Soegija memang jamak dan variatif tetapi di sisi lain, terasa canggung dalam menjejakkan diri pada kenyataan sosial yang spesifik.

Jadi keberadaan humanisme Soegija sekalipun berfungsi sebagai kerangka atau laso yang mengikat keseluruhan narasi Soegija, pada intinya gagal meraih sublimitasnya. Sebab eksplorasi Garin terhadap gagasan humanis Soegija tersebut, lebih mirip sebagai kerja pengutipan, ketimbang penafsiran. Maka dari itu, spirit humanisme dan pluralisme yang dirangkum dalam narasi Soegija, akhirnya lebih terasa sebagai sekedar perayaan atas keragaman manusia yang berangkat dari asumsi kemanusiaan itu satu.

***

Selanjutnya kita akan menuju pada pembahasan elemen kedua dalam narasi Soegija, yakni perang. Dalam salah satu adegannya, tokoh Soegija berkata di hadapan umatnya: “kita semua terlibat di dalam perang, penderitaan, kesakitan, dan kematian, kesepian. Duka dan kesakitan juga menimpa sekarang.” Konteks terdekat yang bisa kita rengkuh dari adegan ceramah tersebut tidak lain adalah kecamuk Perang Dunia II di Eropa sejak  1939.

Merasakan atmosfer tersebut, pihak pastoral Hindia Belanda secara sigap mendesak Vatikan untuk segera mengangkat uskup dari kalangan pribumi. Singkatnya, pada tanggal 6 November 1940, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ ditahbiskan sebagai Vikaris Apostolik Semarang. Dan sejarah mencatatnya sebagai uskup pribumi pertama di Indonesia.

Kesigapan Pastoral Hindia Belanda ternyata tak salah. Kondisi politik memang benar-benar berubah. Perang Dunia II yang tadinya hanya berkobar di Eropa, akhirnya menjalar cepat hampir di seluruh Asia—termasuk Hindia Belanda. Perang Dunia II yang berlangsung di Asia tersebut, jamak disebut sebagai “Perang Asia Pasifik”.

Tahun 1942, Jepang resmi menginjakkan kaki di Indonesia. Situasi Indonesia dengan peristiwa ini pada dasarnya semakin sulit. Hal ini mengakibatkan Indonesia harus berhadapan dengan dua penjajah sekaligus; Jepang dan Belanda. Hal tersebut sempat di singgung dalam salah satu adegan Soegija, ketika Lantip berkata kepada Sang Uskup: “Situasi sulit dikendalikan Romo Kanjeng (baca: Soegija). Kita tidak hanya berperang melawan Jepang, tapi kita juga berperang melawan Belanda.” 

Lebih lanjut, perang yang oleh Soegija diartikan sebagai kisah terpecahnya keluarga besar manusia, persisnya mulai terartikulasikan pasca adegan yang menggambarkan kedatangan Tentara Jepang. Lepas dari adegan tersebut, Soegija menunjukan keterpisahan-keterpisahan dengan orang-orang terdekat yang dialami tokoh-tokoh fiksionalnya yang menonjol. Peristiwa tersebut menyeruakkan kegamangan tersendiri dalam kedirian tokoh-tokohnya. Entah bagi mereka yang terepresentasikan sebagai yang dijajah: Ling-ling dan Mariyem ataupun tokoh-tokoh yang terepresentasikan sebagai yang menjajah: Robert dan Nobuzuki.

Ling-ling terpisah dari ibunya, ketika tentara Jepang mengangkutnya di atas truk. Tapi kita tak diberitahu, Ibu Ling-ling diangkut ke mana dan untuk apa (?). Untuk hal ini, Soegija tidak berniat menjelaskannya secara lebih lanjut. Kemudian Mariyem terpisah dari kakanya: Maryono (Abe). Maryono adalah kakak semata wayag Mariyem yang sekaligus menjadi satu-satunya keluarga Mariyem yang tersisa. Maryono terpaksa meninggalkan adiknya karena merasa terpanggil untuk terlibat dalam perang kemerdekaan. Dalam perjuangan, Maryono mengambil peran sebagai penyebar poster-poster propaganda. Namun dalam Soegija aktivitas-aktivitasnya tersebut tidak digambarkan secara lebih lanjut. Maryono kemudian hanya dihadirkan kembali sebagai jenazah yang terbaring dengan lubang kecil di dadanya. Sedangkan Robert dan Suzuki, mereka semua muak dengan perang yang berkepanjangan. Robert rindu ibunya yang berada di Belanda sedangkan Suzuki rindu istri dan anaknya yang ditinggalkannya di Jepang.

Namun kisah kegalauan manusia di masa perang tersebut banyak meringkus kisah perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan, baik perjuangan di meja diplomatik maupun perjuangan di medan perang. Dalam Soegija, kisah perjuangan dalam kondisi perang tersebut terasa minim sehingga tegangan-tegangan yang terjadi dalam dua jalur perjuangan tersebut tak terasa signifikan. Keberadaannya seolah terselip di antara kisah kemanusiaan yang memang lebih dikedepankan Soegija.

Walaupun demikian, kita tetap perlu bertanya. Atas nama kemanusiaan itu satu atau keluarga besar manusia, Soegija menempatkan perang hanya sebagai penyebab galaunya hubungan antar manusia namun lupa menempatkannya sebagai kisah yang kehadirannya juga disertai penyebab. Maka, kisah perang dalam narasi Soegija sejatinya adalah peristiwa natural yang steril dari sebab konkret-material. Dengan kata lain, kisah perang dalam Soegija cenderung diartikan sebagai kisah jahat yang menyembul dari rahimnya sendiri untuk mengoyak keluarga besar bernama manusia.

Jika demikian maka, militansi barisan Pemuda Rakyat dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia dari Jepang dan Belanda pada akhirnya hanya menjadi sebuah perjuangan yang mengarah pada kejahatan dan jauh dari nilai kemanusiaan. Karena militansi semacam itu hanya semakin meramaikan perang. Dan semakin ramainya perang berarti adalah semakin ramainya kisah terpecahnya keluarga besar bernama manusia. Hal ini bisa kita lihat pada salah satu adegan ketika markas tentara Belanda diserbu oleh gerilyawan Indonesia dan Robert gugur dalam serangan tersebut. Padahal, Robert baru beberapa saat sebelumnya bercerita dalam keadaan teler tentang rindunya akan Sang Ibu yang menanti di Negeri Kincir Angin nun jauh di sana. Maka, serangan para gerilyawan yang sejatinya ingin merubah nasibnya dari terjajah menjadi merdeka, melalui adegan ini, menjadi sebuah tindakan yang menghancurkan sisi kemanusiaan seorang anak manusia. Betapa perang, entah alasannya adalah untuk merebut kemerdekaanmu yang diambil orang lain, sungguh jahat dan tak berperi-kemanusiaan.

Sekali lagi atas nama kemanusiaan itu satu atau keluarga besar manusia, persoalan kenapa sampai bisa terjadi perang dan penjajahan dan kenapa kita harus berperang melawan penjajah sejatinya tak penting dan tak perlu dipergunjingkan lagi. Sebab ketika perang diceritakan telah reda dan kita telah merdeka, kita telah kembali lagi menjadi satu keluarga besar bernama manusia, di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak lagi melukiskan kata-kata bermandi darah, tidak lagi mengenal kecurigaan, kebencian dan permusuhan.

soegija-5

***

Selanjutnya kita akan masuk pada pembahasan tentang nilai pokok ketiga dari Soegija, yakni penokohan Soegija. Jika perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia, maka Soegija oleh Garin diposisikan sebagai tokoh yang ingin menyatukan kembali kisah-kisah keluarga besar kemanusiaan yang terpecah oleh perang.

Dengan demikian, secara tidak langsung, posisi Soegija sebagai tokoh yang hadir dalam narasi Soegija secara umum lebih steril dari hempasan perang. Ia seolah bisa dihadirkan kapan saja dan dimana saja. Karena pada dasarnya, dalam Soegija, kita tak melihat tokoh Soegija mengalami kisah keterpecahan yang spesifik dengan orang terdekatnya, misalnya seperti kisah keterpecahan yang dialami Mariyem dan Ling-ling. Mariyem, karena perang ia terpisah dari kakaknya sedangkan Ling-ling, karena perang ia terpisah dengan ibunya.

Padahal potensi semacam itu bisa saja dilekatkan pada tokoh Soegija yang juga punya orang terdekat, yakni: Koster Toegimin (Butet Kertaradjasa). Namun, Garin tak terlihat sedang mengeksplorasinya. Ia lebih memilih untuk mengisahkan Soegija dan Toegimin sebagai dua tokoh yang nyaris selalu hadir bersama-sama.

Selanjutnya, kita akan segera menyaksikan ambivalensi Garin yang inheren dalam tokoh Soegija. Betapa tidak?! Pertama, di satu sisi, Garin berusaha memperkecil kehadiran tokoh Soegija dalam narasi Soegija yang terpecah-pecah namun di sisi lain, Garin berusaha memperbesar tokoh Soegija sebagai orang yang ingin menyatukan kembali keluarga besar kemanusiaan. Dari situ, mungkin kita bisa menganalogikan narasi Soegija dengan sebuah puzzle. Atau spesifiknya adalah sebuah puzzle persegi bergambar manusia dan kemanusiaan di masa perang.

Posisi tokoh Soegija lebih berlaku sebagai bingkai puzzle. Sedangkan, mosaik peristiwa yang dialami tokoh-tokoh fiksionalnya kurang lebih berlaku sebagai kepingan-kepingan puzzle bergambar kisah-kisah kemanusiaan di masa perang. Namun, posisi Soegija sebagai bingkai pada dasarnya kurang proporsional dalam mewadahi kisah-kisah kemanusiaan di masa perang, bahkan untuk dirinya sendiri. Dalam konteks ini, narasi Soegija rumpang secara internal.***

Yogyakarta, 2 September 2012 

Suluh Pamuji, Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta.

foto-foto: http://danieldokter.wordpress.com/2012/06/08/review-soegija-2012/

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus