Adakah “Ulama Organik”?

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Wikimedia Commons

 

DALAM Catatan-Catatan Penjara-nya yang terkenal itu, Antonio Gramsci pernah berkata, “semua orang adalah intelektual, tapi tidak semua orang menjadi intelektual bagi masyarakatnya”. Menurut Gramsci, dalam pengalamannya di masyarakat Eropa, intelektual bukan hanya mereka yang ‘bicara’ –atau menulis— tentang hasil pikirannya; lebih jauh lagi, mereka adalah orang-orang yang secara aktif mengartikulasikan, mendorong, dan memobilisasi gagasannya di masyarakat.

Dari sinilah Gramsci punya istilah yang kemudian terkenal: “intelektual tradisional” dan “intelektual organik”. Menurutnya, semua orang punya fungsi intelektual (tak peduli apapun pekerjaannya) dengan banyak kader tertentu. Namun, tidak semua intelektual itu punya fungsi sosial. Ada intelektual yang mengabdi untuk kepentingan kuasa, dan ada yang mengabdi untuk kepentingan masyarakat.

***

Islam punya istilah lain yang agak berbeda, tapi mirip: “ulama”. Rasulullah pernah berkata, “Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar.”(HR Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibn Hibban).

Dalam hadits tersebut, digunakan kata “ilmu” yang berada dalam posisi diametral dengan kapital (dinar dan dirham). Artinya, “ulama” adalah mereka yang membuka cahaya pengetahuan kepada umat dengan ikhlas, tanpa ada kepentingan kuasa atau modal di dalamnya.

Ulama adalah manifestasi sifat kenabian yang menyampaikan sesuatu tanpa mengharapkan apa-apa selain Ridha Allah. Dalam surah Fathir: 28 Allah bersabda, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah (yakhsyallah) di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”. Kriteria ulama yang paling penting adalah punya rasa takut kepada Allah.

Ayat lain mempertegas hal ini, “Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan“. Ada tiga kriteria ulama dari ayat itu: pertama, mempunyai sifat tabligh yaitu menyampaikan risalah Allah; kedua, takut kepada Allah; ketiga, tidak takut selain kepada Allah.

***

Apa makna ulama dari ayat dan hadits tersebut? Sederhananya, ulama bukan hanya mereka yang punya pengetahuan –apalagi mereka yang mungkin sering tampil di publik sebagai ‘pendakwah’ (da’i). Ulama punya makna dan kriteria yang lebih luas. Paling tidak, ia punya integritas ‘personal’, kedalaman dalam pengetahuan (keagamaan maupun yang sifatnya lebih umum), dan ada satu hal lain: sebagai pewaris Nabi, ia juga punya fungsi sosial untuk mendorong masyarakat ke arah yang lebih baik, karena Nabi Muhammad (dan banyak Nabi dan Rasul sebelum beliau) adalah para pemimpin bagi masyarakatnya, baik ‘pemimpin formal’ maupun pemimpin kultural dan intelektual. Ulama adalah mujaddid –pembaharu bagi masyarakatnya.

Jika kita pakai kriteria ini, mencari ulama yang punya integritas Islam sungguh tidak mudah. Sebab, ia tidak hanya punya kedalaman ilmu, tapi juga punya integritas, ketegasan dalam bersikap, dan pemihakan terhadap kebenaran dan masyarakat yang tertindas, sebagaimana diperintahkan oleh Allah.

Saat ini, kriteria “ulama” lebih cenderung bersifat “politis” daripada keagamaan. Demikian pula mereka yang punya label “Kyai”, “Tuan Guru”, “Profesor”, “Doktor”, dan sejenisnya, semakin sering terserimpung oleh politik praktis daripada memecahkan persoalan masyarakat.

Ahli-ahli agama banyak yang hanya menjadi alat politik untuk mendapatkan kekuasaan, karena posisi kharismatik dan kekuasaan kultural yang ia miliki di masyarakat. Setiap kali mau pemilihan kepala daerah, ada saja alim agama yang muncul di media-media kampanye dan dijadikan tim sukses kandidat tertentu sebagai alat mendulang suara. Jika hanya fenomena demikian yang terjadi, adakah waratsatul ‘anbiya yang muncul? Anda bisa jawab sendiri.

Sementara itu, masyarakat kian terhimpit oleh “kegelapan-kegelapan” ekonomi, sosial, bahkan budaya. Secara ekonomi, masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Struktur sosial-politik memarjinalkan orang-orang miskin karena tidak punya dana, melahirkan kesenjangan sosial yang begitu besar.  Pendidikan kian mahal, membuat orang-orang tak berpunya tambah miskin dan bodoh.

Jika mau dirunut, problem-problem demikian akan melahirkan catatan yang sangat panjang. Dan di saat bersamaan, kita krisis ulama yang punya integritas dan pemihakan kelas tertindas.

Pada titik inilah gagasan mengenai “ulama organik” perlu dimunculkan. Tugas para ulama adalah melanjutkan estafet misi kenabian dalam melakuan emansipasi di tengah masyarakat. Memberi peringatan kepada manusia adalah wahyu kedua yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad. Pada titik inilah, kita mengharapkan lahirnya “ulama” yang punya integritas moral dan iman yang jelas, tetapi di sisi lain juga melakukan aktivitas-aktivitas pemberdayaan dan pengorganisasian yang progresif.

Ulama bukan hanya mereka yang mumpuni di bidang ilmu agama. Ia juga mesti kita perluas kepada bidang-bidang umum, yang selama ini sering disangka menjadi domain para cendekiawan. Mereka yang punya kompetensi profesional dalam salah satu disiplin ilmu, dan memberi sumbangsih atas dasar agama sebagai etika sosial, juga merupakan “ulama”. Parameternya jelas, yaitu integritas Islam yang dirujuk pada Al-Ahzab: 39 di atas.

***

Dalam sirah, kita memahami bahwa Rasulullah bukan sekadar seorang pemimpin keagamaan. Beliau juga seorang pemimpin sosial, bahkan pemimpin politik. Ketika terjadi peperangan, beliau tampil di medan perang, memimpin dan mengatur strategi pasukan.

Contoh menarik dari kepemimpinan masyarakat adalah ketika Nabi hijrah ke Madinah. Di Madinah, Nabi menjadi pemimpin yang mendorong masyarakat Muslim menjadi kekuatan yang disegani dalam politik regional (di Timur Tengah) masa itu, ketika jazirah Arabia masih menjadi arena pertarungan kekuasaan dan sphere of influence dari dua kekuatan global masa itu: Persia dan Romawi. Nabi mempersaudarakan kaum Anshar (para penduduk asli Madinah) dengan Muhajirin (pendatang dari Mekkah), bernegosiasi dengan kaum Yahudi, mendorong keadilan sosial dengan mengatasi ketimpangan ekonomi antara orang-orang kaya dan miskin, serta memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi serangan orang-orang Mekkah.

Ketika masyarakat Madinah membuat khandaq (parit), misalnya, sebagai benteng pertahanan dari serbuan kaum Azhab, Nabi langsung turun tangan mengorganisasi umat. Praktik pengorganisasian ini yang menjadi ciri khas nabi dan diwariskan kepada para ulama.

Dari sini, Ada dua hal yang menjadi ciri khas “ulama organik”. Pertama, integritas moral yang dijunjung tinggi, bahwa ulama tidak melayani kepentingan modal atau kuasa tertentu, dan semata-mata mengabdi untuk umat sebagai wujud rasa takut kepada Allah. Ini misi kenabian yang diwariskan kepada ulama.  Kedua, terlibat dalam aktivitas masyarakat secara langsung, sebagai upaya “liberasi” atas praktik sosial yang menyimpang. “Ulama organik” tidak diam dalam melihat kemungkaran, baik itu secara kultural maupun secara struktural. Ia terlibat dalam melakukan kritik-kritik sosial terhadap pemegang otoritas atau justru hadir langsung dalam upaya transformasi sosial yang ada.

***

Di masa-masa awal pergerakan menuju kemerdekaan, misalnya kita mengenal sosok Haji Misbach dan haji-haji lain yang di samping berdakwah dalam hal keislaman, juga mengorganisir massa tanpa harus menanggalkan identitas keislamannya.

Berhaji di masa lampau bukan hanya sekadar prestise sosial; ia juga menjadi ajang untuk memperkuat jaringan dengan ulama-ulama di Mekkah masa itu, dan kembali tidak hanya dengan gelar haji; tetapi juga dengan semangat dan inspirasi untuk melawan kolonialisme Belanda. Haji menjadi “lebih” dari sekadar perjalanan spiritual. Haji, sejatinya, juga adalah perjalanan intelektual bagi seorang ulama. Hal yang saya tidak tahu bisa didapatkan sekarang, mengingat biaya berhaji yang besar dan suasana di Mekkah yang dipenuhi oleh nuansa kapitalisme tinimbang keagamaan.

Banyak cerita tentang Haji-Haji yang justru menjadi penggerak masyarakat setelah pulang haji. Ada KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah, dan kemudian terkenal dengan “teologi Al-Ma’un” beliau –pengejawantahan praksis Surah Al-Ma’un dalam bentuk amal-amal sosial. Semangat yang kemudian mendasari Muhammadiyah. Hal yang menarik adalah bahwa ‘guru’ beliau di tanah suci adalah seorang diaspora Nusantara, Syaikh Ahmad Khatib, yang menjadi salah satu generasi intelektual di Mekkah masa itu.

Semangat keulamaan semacam inilah yang saya kira menjadi penting untuk dipikirkan kembali. Saat ini, kita menghadapi banyak seruan untuk ‘membela ulama’ atau ‘membela fatwa ulama’, namun tanpa kita sadari kita sendiri, bisa jadi, defisit dalam ulama dan intelektual Muslim yang benar-benar organik. Kita punya Doktor, Profesor, Kyai, atau mereka yang punya ilmu. Pertanyaannya, apakah tradisi keilmuan itu kita lestarikan di masa depan –atau jangan-jangan hanya menjadi bagian dari retorika politis kita di tengah tahun politik ini?

Kekuatan politik manapun, baik rezim, status quo, atau oposisi. pasti punya kecenderungan mengontrol dan mengooptasi ulama. Sebab, sejak dulu, ulama punya peran penting untuk melegitimasi (dan mendelegitimasi kekuasaan). Keterlibatannya yang intens dengan rakyat akan membahayakan posisi rejim.

Oleh sebab itu, di masa-masa sekarang ini, kita merindukan ulama-ulama organik: mereka yang berilmu, berpengetahuan, berpihak pada mereka yang lemah dan tidak punya kekuasaan, dan berani untuk ‘mengatakan kebenaran pada kekuasaan’. Sesuatu yang tentu tidak mudah di tahun politik seperti ini.

Fastabiqul Khairat.***

 

Versi awal dari tulisan ini dimuat di Web Nuwo Balak, 3 Mei 2016. http://nuwobalak.id/ulama-organik/

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus