
Ancaman Nalar Pada Film Pengkhianatan Gerakan 30 September
Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan
Foto diambil dari http://akrockefeller.com PADA 10 Mei lalu[1], Jokowi mengunjungi Papua Barat. Ia singgah di Merauke dan sekaligus melakukan panen padi. Sembari tersenyum, Jokowi seakan

PADA hari perayaan kemerdekaan tahun ini, di sebuah pojok dinding dekat perempatan jalan sekitar pinggiran selatan perbatasan Jakarta, terpajang sebuah spanduk coretan pylox bertuliskan “Tak

Foto diambil dari www.repelita.com ISLAM Politik sektarian menjadi wajah dominan dari Islam Politik dewasa ini. Aksi demonstrasi besar-besaran pada 4 November kemarin yang dilakukan

KETIKA mendengar nama ‘Bali’, yang pertama muncul dalam benak kita adalah tujuan pariwisata dengan tawaran menggiurkan; masyarakat yang ramah, serta budaya unik yang menjadi ciri khasnya. Hal ini tampak pada kita sebagai suatu yang niscaya, sesuatu yang ‘sudah dari sononya’. Bali sering kita anggap sebagai daerah yang ‘netral’, bebas dari pengaruh global dan kuat bertahan dengan tradisinya. Pandangan ini mendudukan Bali sebagai semacam suaka yang harus dijaga dan dijauhkan dari perubahan-perubahan yang disebabkan berbagai krisis, entah tingkatan nasional maupun global. Di sinilah pra-anggapan tentang Bali ini menjadi semacam disiplin, yang ditaati oleh segenap manusia Bali dan menjadi tolak ukur perkembangan Bali yang normal.

Foto Rumah Contoh di Kampung Tongkol Catatan Diskusi Arsitektur Partisipatoris di Ruang Gerilya, Bandung, 11 November 2016 PADA akhir tahun 2015 dan awal 2016,

LAYAKNYA sebagian besar anak muda di negeri ini, saya dididik untuk menjadi pemuda yang nasionalis—kalau bukan fasis, malah. Saya dilatih untuk mencintai Indonesia, mengagungkan sejarahnya,

Kredit foto: Khazanah | Republika DALAM banyak sumber catatan sejarah, sebagaimana telah diketahui, gerakan tarekat mempunyai kontribusi besar bagi pemberontakan rakyat di masa kolonial.
RAKYAT jelata membuat sejarah. Tidak percaya? Mari palingkan wajah sejenak ke dunia seberang. Hari itu, 1 Januari 2001. Usai hingar-bingar pergantian tahun baru, dunia sontak menoleh ke Chiapas, provinsi termiskin di Meksiko. Tiga ribu petani angkat senjata. Mereka merangsek ke kota, memprotes pemerintah Meksiko yang bersekutu dengan Amerika Serikat dan Kanada meneken perjanjian kawasan perdagangan bebas Amerika Utara (NAFTA). Akibat liberalisasi perdagangan itu, petani miskin – kebanyakan masyarakat adat Indian – dipaksa bersaing dengan pemodal raksasa dari negara-negara besar.

KAMARKU MALAM INI penuh dengan nada-nada tiupan suling dan petikan gitar yang berbunyi tanpa jeda bahkan terus mengisi sudut-sudut di ruang kosong. Lengkingan suling
Bagi Marley, di antara lagu dan liriknya, yang terpenting adalah liriknya. Musiknya adalah musik rakyat, yang membawa pesan tentang sejarah rakyat, serta cerita-cerita lain yang tidak diajarkan di bangku sekolah. Namun ‘One Drop’ masih menyimpan tendensi messianisme. Baiklah kita membacanya dalam kerangka Walter Benjamin; messianisme atau Keselamatan tak bisa diharapkan dari hal yang ada di luar diri manusia—dari sesuatu yang Ilahiah. Ia harus diusahakan sekarang dan di sini oleh manusia itu sendiri. Tentu, ini berarti mengesampingkan kepercayaan Marley terhadap Jah Rastafari dan Haile Sellasie yang sedikit banyak merasuki lirik-lirik gubahannya. Pasalnya, ketika lagu itu dibaca dalam kerangka ‘messianisme minus penantian’ yang demikian, ia justru menjadi lagu yang lebih mendorong dan lebih membakar, lebih revolusioner—kalau boleh dikatakan demikian.

Tidak ada yang namanya homofobia. Itu bukan jenis fobia. Mereka tidak takut. Mereka benci. Dan kebencian terhadap homoseksualitas bukan phobia. Itu kejahatan. BEBERAPA hari ini
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.