
David Hume [2]
LEWAT artikel sebelumnya kita berkenalan dengan pemikiran David Hume lewat pamflet An Abstract of a Treatise of Human Nature [1740]. Di sejarah ilmu, pemikiran Hume

LEWAT artikel sebelumnya kita berkenalan dengan pemikiran David Hume lewat pamflet An Abstract of a Treatise of Human Nature [1740]. Di sejarah ilmu, pemikiran Hume

Kredit foto: matthewoldfield.photoshelter.com PERBUDAKAN bukan merupakan fenomena baru di wilayah NTT. Duarte Barbosa, geografer Portugis, pada tahun 1518 mencatat budak sebagai salah satu komoditas perdagangan,

Loke matan loro foun to’o iha o knuak Loke matan loro foun iha ita raim Hader kaer rasik kuda talin eh Hader ukun rasik ita

MIXTAPE INI SAYA BIKIN untuk mengenalkan “anak zaman sekarang” pada soundscape warnet Semarang dari dekade 90-an abad yang lalu. Panorama suara ini mungkin sudah punah hari ini,

Pembaca yang rajin beribadah di gereja dan berteduh setiap hari mungkin terkejut ketika membaca puisi di atas. Judulnya berbunyi ‘Himne kepada Allah’, tetapi isinya jauh dari puji-pujian dan pengagungan akan kebesaran Allah. Dalam puisi itu, kita malah menemukan semacam gugatan atas kebijaksanaan Allah serta eksistensi-Nya. Klaim-klaim teologis tentang kemahakuasaan, kebaikan, serta kedaulatan Allah yang memelihara sejarah, dibenturkannya dengan potret kenyataan yang penuh dengan kemiskinan, penderitaan, dan kematian manusia.

DI AWAL abad ke-20, kesusastraan avant-garde adalah hamparan stepa luas, langit yang seperti selalu biru muda dan terbuka, pulau-pulau terpencil yang memikat siapa saja yang
Tanggapan Untuk Martin Suryajaya Pengantar: Dalam indoprogress.com yang lalu dimuat tulisan Martin Suryajaya, ‘Kritik dan Emansipasi: Kontribusi bagi Pendasaran Epistemologi Politik Kiri: Sebuah Kritik Umum atas Goenawan Mohamad.’. Di

Revitalisasi Danau Rawa Pening, Jawa Tengah, memiliki potensi melanggar hak-hak warga, termasuk hak milik atas tanah dan hak atas penghidupan yang layak.

SAYA manggut-manggut setuju atas saran Irwansyah dalam tulisannya Kritik Atas Analisa Politisasi SARA Pasca Pilkada DKI Jakarta untuk mendasarkan analisa situasi Jakarta pada konsep kelas.
Apakah yang menjamin bahwa Marxisme benar adanya? Banyak orang akan menjawab pertanyaan ini dengan berkata: Marxisme benar karena apa yang dinyatakannya tentang kenyataan—sejarah perkembangan masyarakat, misalnya—sesuai dengan kenyataan itu sendiri. Dengan kata lain, kenyataan merupakan hal yang membuat benar (truthmaker) Marxisme. Tentu saja. Namun, ini belum menjawab pertanyaan kita, sebab yang kita tanyakan bukanlah apa yang membuat Marxisme benar, melainkan apa yang menjamin Marxisme benar. Apakah yang memungkinkan Marxisme disebut sebagai benar? Pertanyaan soal jaminan kebenaran Marxisme ini dapat dijernihkan melalui sederet eksperimen-pikiran.

GILLES Deleuze dan Felix Guattari suatu kali pernah mengatakan bahwa pertanyaan mendasar yang selalu menghantui kolaborasi mereka adalah sebuah puzzle mengenai perlawanan: ‘the problem is not why people revolt, but why they don’t.’ Bahkan, di Anti-Oedipus, keduanya juga terpusingkan dengan teka-teki ‘why do people desire their own repression?’
Pertanyaan-pertanyaan ini tentu saja berseberangan dengan pandangan umum yang selalu menyatakan (kadang secara mesianik), apabila seseorang ditindas sampai titik nadirnya maka ia akan melawan balik. Jika masa-masa perjuangan anti-kolonial (formal) dulu yang menjadi backdrop sosial-politik bagi pertanyaan-pertanyaan ini, maka bisa saja pertanyaan ini menjadi tidak relevan. Sebabnya, para pejuang anti-kolonial toh pada akhirnya bangkit balik melawan penjajahnya demi merebut kemerdekaan. Adalah kapitalisme pasca-industri (atau pasca-Fordis) yang menjadi latar yang memungkinkan pertanyaan ini muncul dan menjadi relevan, setidaknya bagi Deleuze dan Guattari. Lebih spesifiknya, Deleuze akan menyebut kapitalisme seperti ini sebagai ‘masyarakat kontrol’ (society of control).
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.