Musik Warnet Akhir Abad ke-20

Print Friendly, PDF & Email

MIXTAPE INI SAYA BIKIN untuk mengenalkan “anak zaman sekarang” pada soundscape warnet Semarang dari dekade 90-an abad yang lalu. Panorama suara ini mungkin sudah punah hari ini, bersama dengan fenomena warnet itu sendiri.

Di akhir abad yang lampau, saya adalah seorang bocah warnet. Salah satu warnet yang sering saya kunjungi—namanya Dimensia—terletak di sebuah kompleks ruko seberang Pasar Johar, Semarang, yang belakangan ditelan kebakaran hebat akibat listrik korslet. Dimensia menempati sebuah ruko tiga lantai: dua lantai pertama dipakai untuk warnet, sedang lantai ketiga dijadikan tempat tinggal pemiliknya. Pada saat itu belum dikenal pembedaan antara warnet game dan warnet biasa; keduanya masih campur-aduk. Di sana, saya menjumpai bermacam manusia. Suatu kali, ada ibu-ibu yang mau nge-print tugas anaknya. Kali lain, ada tukang bakso langganan yang mengaso di sofa tempat orang biasanya duduk mengantri sebelum mendapat bilik. Beberapa kali, datang om-om yang belajar chatting via mIRC dengan gadis-gadis ababil (entah betulan atau bukan). Saat itu kalau tak salah tahun 1997 atau 1998 dan saya masih duduk di bangku SMP.

Dari beragam orang yang saya jumpai di sana, ada dua yang terus saya ingat. Yang pertama adalah Pak D, sang pemilik warnet—seseorang yang saya perkirakan berada di penghujung usia 40-an, dengan rambut gondrong agak kelabu mirip Ian Antono, brengos acak-acakan, kuku panjang dan tajam, serta sorot mata seperti orang yang malas hidup. Ia saya kenang persis karena ia hampir tak pernah bicara, selalu duduk sendirian di salah satu bilik dengan muka yang memantulkan cahaya kebiruan dari layar monitor. Ia, dalam arti tertentu, seperti Segitiga Bermuda. Segala sesuatu tentang sosoknya seakan diselubungi misteri. Ada yang bilang bahwa di masa mudanya, Pak D adalah seorang bandar judi dari Jakarta, ada yang bilang ia anak kolong dari Bandung, ada yang bilang ia memperoleh modal untuk membuka warnet dari temannya yang jadi preman kelas wahid di pelabuhan-pelabuhan Sumatra. Kesan saya sendiri, ia lebih nampak seperti tumbuh-tumbuhan: pasif, reseptif, vegetatif. Yang kedua adalah segerombolan mahasiswa tingkat akhir yang selalu berisik dan tampak tak punya prospek. Mereka berasal dari berbagai kampus kecil di kota Semarang: Udinus, Untag, Stikubank, dan sebagainya. Praktis setiap hari mereka ada di sana: makan di warnet, tidur di warnet, mandi di warnet. Mereka termasuk hackers pertama yang dimiliki kota Semarang. Mereka membobol kartu kredit orang, memborong barang-barang mewah, dan menjualnya di bawah meja. Tapi mereka juga termasuk gamers MMORPG pertama di Semarang—waktu itu yang biasa dimainkan adalah game Nexia, jauh sebelum Ragnarok dan era MMORPG berbasis vocer. Mereka inilah yang menguasai musik apa yang akan diputar di playlist mp3 meja admin. Si admin, merangkap sebagai “kurator”, menyeleksi mana dari lagu-lagu pilihan mereka yang layak diputar menurut seleranya sendiri.

Sepuluh lagu yang saya hadirkan dalam mixtape ini adalah fragmen lagu-lagu yang selalu terdengar di Dimensia, juga beberapa warnet lain pada masa itu. Hampir semuanya glam metal atau biasa juga disebut hair metal. Supaya tidak diprotes ibu-ibu atau bapak-bapak pengguna warnet, biasanya musik glam yang diputar sengaja dipilih dari nomor-nomor yang lebih bernuansa power ballad ketimbang yang sungguh-sungguh metal. Kadang-kadang ada pengecualian, memang, khususnya bila waktu telah begitu larut. Sekitar jam 2 sampai 3 dini hari, terkadang diputar beberapa nomor trash metal dari Anthrax atau Sepultura. Namun pengecualian itu langka. Yang lebih sering terjadi adalah diputarnya beberapa nomor grunge, kadang juga blues, seiring dengan semakin larutnya malam. Namun tak bisa dipungkiri, power ballad dengan lirik melodramatis dan solo gitar yang cheesy, biasanya di akhir refren kedua, menjadi pilihan utama di berbagai warnet di Semarang. Lagu-lagu seperti “Honestly” (Harem Scarem), “Tears of The Dragon” (Bruce Dickinson) atau “I Remember You” (Skid Row) nyaris universal diputar di seluruh warnet.

Sudah tentu beberapa lagu dari band lokal era 90-an awal juga jadi pilihan. Voodoo, Whizz Kid, RC Formation, U’Camp, Bayou, Powerslaves, Andy Liany (mantan vokalis Slank formasi awal), dan Sket adalah komponen kunci dalam racikan lagu lokal yang diputar di warnet-warnet Semarang akhir abad ke-20 itu. Pembaca bisa bayangkan suasananya: lengkingan melodi gitar dalam lagu Bayou, “Hanya Dirimu”, berbaur dengan pekat asap rokok yang menyerupai kabut putih di jalan sempit menuju Bandungan. Bayangkan juga: orang-orang spontan menyanyi bersama dari bilik masing-masing begitu lagu Sket, “Takkan Kembali”, memasuki refren yang klimaktik. Lalu bayangkan ini: salah seorang dari gerombolan mahasiswa madesu itu galau berat akibat prospek cinta yang buruk, minum Congyang pelan-pelan, lalu dihibur kawan-kawannya dengan diputarkan balada sentimentil yang mengena, semisal “Malam Ini” dari album Kereta Rock N Roll garapan band legendaris asal Semarang, Powerslaves. Di saat-saat seperti itu, bahkan Pak D pun tersenyum-senyum.

Saya yang ketika itu masih SMP hanya bisa menatap semuanya dan terpana. Sewaktu kita duduk di bangku SMP, anak-anak mahasiswa kelihatan seperti orang dewasa sementara orang yang baru menginjak usia 40 nampak seperti sesepuh yang sudah paham pahit-getir hidup. Kita memandang semuanya dengan penuh ketakjuban, tak jarang juga dengan semacam perasaan bangga kalau kita bisa disertakan dalam gerombolan madesu itu—mirip seperti antusiasme William Miller yang mengekor band Stillwater dalam film Almost Famous. Spirit bohemian pun tertanam dalam-dalam dalam diri setiap kita yang mengalami semua itu. Pulang pukul empat pagi, menginap berhari-hari di warnet, makan mie instan selama tiga hari berturut-turut, hal-hal semacam itu. Dalam suasana pening semacam itulah pada suatu hari saya melihat Suharto turun berok di televisi.

Setelah duduk di bangku SMA, saya tak pernah datang lagi ke Dimensia. Menjelang kelulusan, saya dengar Dimensia bangkrut dan ruko itu berubah menjadi toko perkakas kelistrikan: kabel-kabel, lampu, saklar, stop kontak, steker, dinamo, dan seterusnya. Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Semarang untuk kuliah di Jakarta, listrik korslet menjelma menjadi kebakaran yang melalap ruko itu seutuhnya. Banjir tahunan dan rob khas Semarang menggenangi sekitaran kompleks ruko itu sehingga membuatnya menjadi tidak ideal untuk bisnis apapun juga. Beberapa tahun setelah itu, Pasar Johar kebakaran hebat. Semuanya terbakar. Semuanya jadi puing. Dekade 90-an sudah berlalu. Abad ke-20 sudah habis. Warnet sudah semakin sedikit. Semua orang punya akses internet. Tapi suara dari zaman itu terus menghantui saya.

We’re just children of tomorrow hanging on to yesterday,” kata Joey Tempest.


Side A

Poison – Talk Dirty To Me

Motley Crue – Without You

REO Speedwagon – Can’t Fight This Feeling

Europe – Prisoners in Paradise

Harem Scarem – Honestly

Side B

Powerslaves – Find Our Love Again

Andy Liani – Ingin Rasanya

Bayou – Hanya Dirimu

Sket – Takkan Kembali

Jingga – Tentang Aku

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.