LKIP Edisi 33

Karya – Musik Warnet Akhir Abad ke-20

Teori – Tentang Jam Kerja, Jam Tidur, Begadang, dan Malam Mingguan Borjuis Mini

Kliping – Saya adalah Monumen: Pengantar Karya Irwan Ahmett Spatial History

Catatan Kawan – Pasca Brexit: Inggris Goyah, Keminggris Kokoh?


TAK DIRASA MUSIM PUASA SUDAH LEWAT. Kemenangan sudah dirayakan—bagi mereka yang percaya. Permintaan dan pemberian maaf bertebaran di mana-mana; dari tua dan muda, miskin dan kaya, beragama dan tak beragama. Tentu, setelah kurang lebih 71 kali merayakan lebaran sejak sejak pertama berdiri, Negara tak kunjung juga meminta maaf pada korban kekerasan yang pernah ia ciptakan.

LKIP edisi pasca-lebaran ini tidak bicara soal tragedi kemanusiaan yang dimotori oleh negara. Meski isu ini penting dan momen Idul Fitri mestinya jadi momen yang baik buat mengingat kesalahan-kesalahan kita, kami datang dengan konten yang lebih—katakanlah—romantik.

Lebaran adalah waktu untuk mengingat dan kembali. Mengingat kesalahan-kesalahan, sanak keluarga, dan petualangan-petualangan yang sudah lewat. Kembali pada kampung halaman, pada tempat permulaan. Sejak permulaan sejarah, umat manusia percaya pada waktu dan tempat yang keramat, yang punya makna lebih signifikan dibanding waktu dan tempat lainnya. Barangkali hal ini adalah sesuatu yang biologis—mungkin pada suatu titik dalam evolusi manusia terjadi suatu hal yang membuat rancangan genetik kita mampu memberi makna bagi ruang-waktu yang pernah kita alami. Atau, barangkali, ini sepenuhnya efek kebudayaan.

Jawaban bagi pertanyaan semacam ini umumnya tidak bisa direduksi jadi satu atau dua elemen saja. Kehidupan manusia sangat berkait kelindan dengan ruang-waktu yang melingkupinya. Bukan cuma hidup di dalam ruang, Filosof Henri Lefebvre bahkan sempat menyatakan bahwa manusia juga menciptakan ruang itu sendiri. Manusia menciptakan kota, dengan taman, mall, terminal, jalan, warnet, dst., dengan fungsi-fungsi sosialnya tersendiri. Manusia juga menciptakan waktu; mematok tanggal, merayakan peristiwa, mengetatkan detik, dan membagi aktivitasnya dalam jam-jam tertentu.

Sebagaimana telah kami nyatakan sebelumnya, edisi yang ‘agak’ romantik ini dimulai dengan nostalgia Martin Suryajaya tentang masa mudanya—meski sekarang ia masih belum bisa dibilang tua—mendekam di sudut-sudut gelap warnet Semarang. Sebagai penanda ruang urban, barangkali warnet sudah jadi relik. Keberadaannya makin tergeser oleh berkembangnya provider internet rumahan serta koneksi seluler. Namun, warnet-warnet ini juga menjadi saksi sekaligus menciptakan generasi awal gamer online, hacker kacangan, tukang download Torrent, sampai Om-Om mesum Twitter, yang hari ini berkembang biak seperti ayam di kamar masing-masing. Tak seperti robohnya bangunan bersejarah pada umumnya, kematian warnet belakangan ini tak diiringi tangis atau demonstrasi. Warnet, tak ayal, cuma remah kehidupan sehari-hari yang tak punya tempat dalam buku sejarah.

Dalam rubrik Teori, Hizkia Yosie Polimpung menyumbangkan karya “Jam Tidur, Jam Begadang, dan Malam Minggu Borjuis Mini”.  Sebagaimana tersirat dalam judulnya, tulisan Yosie menginterogasi perihal pembagian waktu, lebih tepatnya waktu di malam hari, dengan aktivitas manusia. Lagi, sebagaimana bisa diendus dari judulnya, Yosie pun bicara tentang bagaimana posisi kelas mempengaruhi makna sosial dari pembagian waktu ini.

Pada rubrik Kliping, Gesyada Siregar membuatkan pengantar atas dokumentasi pameran Spatial History karya Irwan Ahmett pada 11 Maret 2015 lalu. Pameran—atau pertunjukan, kami sering kebingungan kalau menamai peristiwa seni kontemporer—Ahmett ini berupaya menggarisbawahi aspek virtualitas dari seni, ingatan, dan sejarah kita. Sebagaimana yang akan Anda temukan dalam dokumentasi tersebut, Ahmett menawarkan sebuah dimensi ketika di luar ruang dan waktu ketika bicara tentang sejarah 1965/66: imajinasi.

Pada Catatan Kawan, Joss Wibisono memberi catatan tentang konsekuensi Brexit, atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Langkah Inggris ini, selain sekelumit masalah ekonomi-politik lain, juga mengundang pertanyaan: apakah Uni Eropa masih akan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi? Lalu, apakah ada pengaruhnya bagi Indonesia yang sudah terlanjur “keminggris” ini?

Sebelum menutup pengantar ini, kami mula-mula hendak menghaturkan permintaan maaf sedalam-dalamnya atas kesalahan yang terjadi dalam penerbitan kami setahun belakangan. Mumpung lebaran. Selain itu, juga maafkan keterlambatan terbit kami selama berbulan-bulan. Di luar kesibukan masing-masing, dua redaktur kami pun sedang mengalami perubahan besar dalam kehidupannya. Redaktur pertama baru saja menikah, sementara yang satu lagi masih belum terbiasa patah hati. Santai saja, dua kasus ini tidak saling berhubungan.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus