Perlunya Memaknai Kembali Konsep Negara
Tambahan untuk Coen Husain Pontoh MELANJUTKAN kritik Coen tentang peran negara dalam “Masih Efektifkah Negara Budiman?” di blog ini (lihat di sini), saya ingin turut
Tambahan untuk Coen Husain Pontoh MELANJUTKAN kritik Coen tentang peran negara dalam “Masih Efektifkah Negara Budiman?” di blog ini (lihat di sini), saya ingin turut

Sumber ilustrasi: atlasobscura.com POLITIK Paman Sam hari-hari ini makin seperti film horor Indonesia, sebuah negeri nun jauh di sana. Ngeri-ngeri bikin geli. Terutama karena
Simak tulisan terbaru di rubrik Kajian dari George Junus Aditjondro berjudul: Dinamika Politik dan Modal di Sulawesi. Artikel ini disampaikan untuk Konsultasi Regional KKJD (Kelompok
Tentu saya mengapresiasi komitmen berbagai kalangan kaum Muslim Demokrat Indonesia atas agenda-agenda politik progresifnya, seperti pembelaan terhadap kelompok minoritas keagamaan dan isu-isu sosial dan politik yang mendesak. Namun, menurut saya, mereka telah gagal dalam menganalisa permasalahan yang lebih besar dari berbagai permasalahan yang terkait dengan diskursus keagamaan di Indonesia, serta dalam memperjuangkan agenda demokrasi yang lebih luas, mendalam dan partisipatoris. Fenomena munculnya kelompok-kelompok vigilantis yang bernuansa kegamaan dan etnis, misalnya, tidak dapat disimplifikasi menjadi sekedar masalah ‘fundamentalisme versus moderatisme dan liberalisme Islam.’ Kita perlu melihat bagaimana sejarah dari berbagai kelompok tersebut, dampak transisi politik dari otoritarianisme menuju demokrasi, serta perubahan pola politik kuasa dan patronase, serta aliran dana yang memungkinkan kelompok-kelompok tersebut terus aktif.
Mengenang Ong Hok Ham CIPINANG Muara pada awal tahun 1999. Lelaki tua berkepala plontos dan berkacamata itu, setiap hari selalu lewat di depan kantor saya.

SELEPAS salat isya, sebelum memenuhi kewajiban menelepon pacar, saya melakukan obrolan imajiner dengan Presiden Jokowi melalui aplikasi chatting masa kini, LINE. Inilah sebagian isi wawancara
GLOBALISASI adalah ‘akhir dari negara bangsa’. Demikian kredo neoliberalisme dalam melukiskan nasib negara dalam rejim perdagangan bebas. Steger (2002) menamakan ideologi tersebut sebagai ‘globalisme’, sementara
Noer Fauzi Masalah penguasaan tanah (dapat diluaskan kepenguasaan alam), sangat relevan dipersoalkan saat ini. Sependek masa yang dikenal sebagai masa “reformasi,” semenjak 1998, di seantero

Imperialisme kapitalis dicirikan oleh proses di mana wilayah yang didominasi diubah, diadaptasi, dan dimanipulasi untuk memenuhi kebutuhan akumulasi kapital di pusat.

AKHIR dan awal bulan, lumrahnya pusat-pusat perbelanjaan hingga pasar tradisional akan dibanjiri ibu-ibu yang berbelanja bulanan untuk stok kebutuhan rumah tangga. Namun tidak pada awal

MAJELIS Hakim PTUN Semarang kalahkan gugatan warga Rembang dengan alasan sederhana: gugatan kadaluarsa karena diajukan lebih dari 90 hari. Siti Zaenab dan Karni binti Medi

Melalui lensa konseptual kekerasan kolonial dan pengalaman historis orang Yéi, tampak jelas bahwa masa lalu dan masa kini merupakan satu kesatuan kontinuum dari praktik kolonial yang sama. Kesinambungan inilah yang pada akhirnya membuka jalan bagi keruntuhan sebagian, bahkan seluruh, kehidupan dan kebudayaan Yéi-nan di Selatan Papua.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.