
Tragedi Paris dan Pluralisme yang Plungkar-plungker
PERISTIWA teror kembali terjadi di Paris. Dan seperti sebelumnya, koor hujatan dan kecaman diarahkan ke pelaku teror dan simpati serta duka-cita mendalam kepada korban yang

PERISTIWA teror kembali terjadi di Paris. Dan seperti sebelumnya, koor hujatan dan kecaman diarahkan ke pelaku teror dan simpati serta duka-cita mendalam kepada korban yang
Lagu lama berulang. Pemerintah bermaksud mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton untuk 2007. Entah mengapa, pemerintah yang selalu ambigu mengambil keputusan dalam banyak hal (seperti

PERJUANGAN menuntut upah layak dan pembatalan kenaikan BBM belum selesai. Kepada para pemirsa, dimohon kesabaran dan kebesaran hatinya. Mungkin sementara bisa turut berdoa untuk Ari

Rumput tetangga selalu terlihat jauh lebih hijau. BEBERAPA hari lalu, 23 Maret, Lee Kuan Yew mangkat. Kabar dukanya saya ketahui melalui media sosial, Facebook dan
HUKUMAN pancung yang dilakukan pemerintahan Kerajaan Arab Saudi terhadap Ruyati binti Sapubi, telah menggetarkan dan menghentakkan sentimen kemanusiaan kita semua. Hukuman penggal kepala itu, membuat kita marah, sedih, sekaligus malu bahwa sebagai bangsa kita tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan atau membatalkan keputusan barbar tersebut.
Tetapi kalau kita cermati lebih jernih dan teliti, di sekeliling kita sedang terjadi sebuah proses sosial yang membuat kasus yang dialami Ruyati, bukanlah kejadian tragis terakhir. Di depan mata kita saat ini, terjadi kontradiksi antara kebijakan kenaikan anggaran pendidikan 20 persen, privatisasi kampus yang memaksa orang miskin sulit, atau bahkan, hampir mustahil untuk mendapat akses pendidikan tinggi. Pada ranah lainnya, negeri ini telah ‘digoreng’ sedemikian rupa untuk menjadi tempat yang ramah bagi investasi asing, dengan menekan upah buruh sedemikian rupa hingga kaum borjuis dapat menghisap dan mengakumulasi kapital dengan nyaman. Di arena politik formal, para politisi yang berumah di Senayan, Istana Merdeka dan pusat-pusat kekuasaan, berpesta pora menjarah uang rakyat. Di sektor pertanian, dengan dalih menekan harga bagi konsumen, liberalisasi pangan dibuka seluas-luasnya sehingga daya tahan kaum marhaen akhirnya hancur.
ANGGAP saja ini anekdot Pernah diajukan tanya. Tak pasti jawabannya. Sederhana pertanyaan itu. Semua diawali dengan kata andaikan—agar imajinatif: Andaikan, mamaknya Herman Hendrawan melihat teman-teman
Sumbangan Untuk Diskusi LANDASAN yang saya kemukakan dalam artikel ini, pada mulanya, sesederhana memahami pergulatan hidup Ruyati. Beliau, perempuan Indonesia kebanyakan, yang terpaksa bekerja merantau,

KONTROVERSI diubahnya UU Pilkada Langsung menjadi UU Pilkada Tidak Langsung oleh persekongkolan elite oligarki yang berhimpun dalam Koalisi Merah Putih (KMP), terus menggema. Gerakan aksi

Kredit foto: minanews.net SETELAH hiruk pikuk Pemilu 2019 yang memakan ratusan korban jiwa usai, kini kita harus kembali pada kehidupan masing-masing, menjalankan kembali rutinitas harian
APA BEDA Marissa Haque dan Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama? Banyak. Â Tentunya tidak perlu saya sebutkan lagi. Tapi, apa persamaannya? Mereka sama-sama mencalonkan diri menjadi
TULISAN ini adalah pelengkap dari tulisan Prathiwi dan tulisan dari Berto Tukan sebelumnya, tentang bagaimana pendidikan seharusnya berperan dalam memanusiakan manusia. Berto Tukan mengritik tentang pendidikan yang menciptakan manusia-manusia ambtenaar, sedangkan Prathiwi melengkapinya dengan gagasan untuk meneladani apa yang dilakukan di Brazil sana, solidaritas kaum sekolahan dengan Rakyat yang terpinggirkan.

SETELAH menonton klip-klip seknas Jokowi mempromosikan PDIP, saya pergi menyetrika. Sepanjang melakukannya pikiran melanglang buana. Pemilu 2014 ini saat yang langka, bukan karena Jokowi maju
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.