Jokowi Yang Memunggungi Nawacita
Ilustrasi oleh Andreas Iswinarto SETAHUN lebih pemerintahan Joko Widodo berkuasa, sudah dengan tepat meringkus 10 tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): pemerintahan yang berjalan
Ilustrasi oleh Andreas Iswinarto SETAHUN lebih pemerintahan Joko Widodo berkuasa, sudah dengan tepat meringkus 10 tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): pemerintahan yang berjalan

SEORANG kawan pernah menulis bahwa dalam tradisi Marxis, partai bergerak berdasarkan tuntunan program. Program yang utama, partai menyesuaikan dengannya. Program adalah jiwanya dan partai adalah
DUA pekan menjelang Kongres ke-17 Partai Komunis Cina, pada 15 Oktober 2007, pemerintah Cina menekan penerbit Jurnal pemikiran bergengsi Dushu (Readings), untuk tidak lagi menerbitkan

SEBAGAIMANA gen yang merupakan materi dasar penyusun kehidupan fisik, meme adalah unsur dasar yang membentuk kehidupan mental dan kebudayaan. Ketakutan dan amarah –demikian dalam perspektif
TUILISAN ini melengkapi tulisan Berto Tukan, yang mengingatkan kita tentang sejarah sekolah modern dalam hubungannya dengan masyarakat kapitalis-industri. Berto menunjukkan hubungan intim antara ketidakadilan akses pendidikan dengan ketidakadilan dalam dunia kerja sistem ekonomi kapitalisme. Sistem pendidikan modern dan mekanisme proletarisasi subjek pendidikan adalah dua sisi dari mata uang yang sama; ketika lulus, seorang sarjana hanya bisa memilih untuk menjual keahlian yang terbatas pada apa yang telah diajarkan di sekolahnya. Karenanya, ia akan menjadi sebuah sekrup dari sebuah mesin raksasa, tidak lebih. Pilihannya adalah menjadi setia atau terbuang dari sistem, mengingat masih banyak sekrup-sekrup lain menanti.

PADA tahun 1977, terdengar gema pidato kebudayaan dari mulut seorang Mochtar Lubis yang berjudul Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban. Pidato yang disampaikan di Taman Ismail Marzuki
SIAPA yang patut dihukum oleh aparat dan kenapa mereka dihukum? Alasan yang biasanya digunakan untuk menghukum di Negara ini adalah: “Demi menjaga kestabilan dan meredakan
HUKUMAN pancung yang dilakukan pemerintahan Kerajaan Arab Saudi terhadap Ruyati binti Sapubi, telah menggetarkan dan menghentakkan sentimen kemanusiaan kita semua. Hukuman penggal kepala itu, membuat kita marah, sedih, sekaligus malu bahwa sebagai bangsa kita tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan atau membatalkan keputusan barbar tersebut.
Tetapi kalau kita cermati lebih jernih dan teliti, di sekeliling kita sedang terjadi sebuah proses sosial yang membuat kasus yang dialami Ruyati, bukanlah kejadian tragis terakhir. Di depan mata kita saat ini, terjadi kontradiksi antara kebijakan kenaikan anggaran pendidikan 20 persen, privatisasi kampus yang memaksa orang miskin sulit, atau bahkan, hampir mustahil untuk mendapat akses pendidikan tinggi. Pada ranah lainnya, negeri ini telah ‘digoreng’ sedemikian rupa untuk menjadi tempat yang ramah bagi investasi asing, dengan menekan upah buruh sedemikian rupa hingga kaum borjuis dapat menghisap dan mengakumulasi kapital dengan nyaman. Di arena politik formal, para politisi yang berumah di Senayan, Istana Merdeka dan pusat-pusat kekuasaan, berpesta pora menjarah uang rakyat. Di sektor pertanian, dengan dalih menekan harga bagi konsumen, liberalisasi pangan dibuka seluas-luasnya sehingga daya tahan kaum marhaen akhirnya hancur.

Selama lorong-lorong rusun masih menyimpan perlawanan, kota belum sepenuhnya dikuasai kapital.

Alih-alih mempersoalkan kekurangan gerakan rimpang, lebih baik kita memikirkan cara-cara untuk memastikan agar muara dari segala model gerakan justru menjadi gerakan politik transformatif.

PARA Ibu dari Rembang, ditemani mahasiswa, menggeruduk Universitas Gajah Mada (UGM). Mareka marah pada dua akademisi UGM, Eko Haryono dan Heru Hendrayana, dari Kehutanan dan

PERAYAAN Idul Fitri di Indonesia sangat khas. Berbeda dengan di Timur Tengah, di sini dikenal tradisi mudik. Asalnya dari kata udik, yang artinya kembali ke
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.