
Bela Islam, Bela Prabowo? Kegagalan Kampanye Toleransi
Reuni 212 jilid 2. Kredit foto: journalbuzz.co FAKSI terbesar dari elemen gerakan ‘Aksi Bela Islam’, GNPF Ulama dan Persaudaraan Alumni 212, kembali berhasil mengumpulkan

Reuni 212 jilid 2. Kredit foto: journalbuzz.co FAKSI terbesar dari elemen gerakan ‘Aksi Bela Islam’, GNPF Ulama dan Persaudaraan Alumni 212, kembali berhasil mengumpulkan

Aktivis harus belajar hidup dan berkembang dari dukungan rakyat itu sendiri. Langkah ini pun bersifat revolusioner—membebaskan gerakan dari ketergantungan dan memulai dekolonisasi tahap kedua yang bertujuan membongkar warisan kolonial yang masih membelenggu Indonesia.

TIDAK dapat dipungkiri bahwa kota adalah salah satu entitas yang berkaitan sangat erat dengan pengalaman modern kemanusiaan. Walau demikian, bukan perkara mudah untuk memahami hubungan keduanya. Alienasi atau keterasingan manusia dalam pengalaman berkota menunjukkan bahwa hidup di kota tidak bermakna memiliki kehidupan di kota itu sendiri. Penyakit akut perkotaan seperti kemacetan, banjir, minimnya penghijauan, masalah perumahan layak, kriminalitas, dsb membuat mudah untuk menyimpulkan bahwa kota yang dihidupi warganya adalah kota yang tidak manusiawi. Tidak heran jika kemudian kondisi alienatif ini menciptakan kesadaran palsu di kalangan warga bahwa situasi berkota mereka adalah sesuatu yang terberi, ‘udah dari sononye’ dan tidak dapat diubah lagi.

Kredit foto oleh Alit Ambara (nobodycorp) RENCANA proyek Reklamasi Teluk Benoa di Bali tampaknya tidak akan surut. Proyek kontroversial ini mendapatkan tentangan yang tidak

Kredit foto: The Scottish Sun SAAT ini, jutaan pasang mata di seluruh dunia tengah tertuju ke Rusia, tempat dimana kaki-kaki bernilai miliaran rupiah berlari-lari

DALAM beberapa masa ke depan, politik Indonesia akan tetap berada dalam bayang-bayang kebangkitan populisme. Dari konteks nasional, efek dari mobilisasi populisme Islam (baca: kanan) 411
Papua adalah gambaran paling buruk tentang apa yang merupakan cita-cita terbaik dari para pejuang dan pendiri bangsa Indonesia. Di Papua lah, seluruh ideal-ideal republik itu

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) SAYA pernah mencoba berpikiran baik. Dan kalau dipikirkan baik-baik, pandangan “mayoritas melindungi minoritas, minoritas menghormati mayoritas,” yang belakangan diumbar
Tanggapan untuk Surya Tjandra AKHIR tahun kemarin, “jagad persilatan” gerakan buruh diwarnai peristiwa menarik. Saat itu, 23 November 2009, berlangsung “Trade Unions Meeting for Political
Kapitalisme tidak lagi mengeksploitasi ‘status simbolik’ atau ‘utilitas’ yang dimiliki oleh sebuah produk, melainkan ‘pengalaman’ yang disediakan oleh produk tersebut. Dengan kata lain, kapitalisme menikmati ‘hasrat’ manusia yang muncul dari rasa nyaman ketika ia menikmati produk tersebut. Propaganda kapitalisme sekarang berkutat pada beberapa diksi seperti ‘nikmati!’ ‘nyamankan dirimu,’ dan ‘be a man,’ dan lain sebagainya, yang tidak lagi memberikan pilihan-pilihan utilitas kepada orang-orang untuk memilih, melainkan untuk menikmati parade yang ditampilkan oleh jejaring-jejaring kapitalisme.
Dalam konteks gerakan mahasiswa, kecenderungan sama juga dapat kita lihat. Alih-alih melakukan kritik, gerakan mahasiswa justru dihadapkan pada ‘kenikmatan’ ketika bersetubuh dengan kekuasaan politik. Kapitalisme telah menawarkan berbagai modes of jouissance, seperti ‘bantuan sosial,’ ‘proposal proyek,’ dan produk-produk yang ditawarkan oleh kapitalisme via ‘negara.’ Akhirnya, muncul kosakata baru, ‘jaringan’ yang bisa dinikmati sebagai privilege seseorang ketika menjadi aktivis. Kapitalisme membuat dimensi ‘aktivis’ menjadi kian absurd: ia tidak lagi menghambat seseorang untuk menjadi aktivis, tetapi justru menawarkan kenyamanan-kenyamanan tertentu yang membuat mahasiswa akhirnya ‘menikmati’ statusnya sebagai aktivis tersebut.

Sumber ilustrasi: Financial Times PAK, Bapak Luhut mau ambil hati orang Papua? Supaya tolak merdeka? Sini saya kasih tahu. Bapak sudah pernah bertemu Letjen
Ilustrasi gambar oleh Andreas Iswinarto BEBERAPA hari lalu, saya berkesempatan membaca tulisan Gerry van Klinken tentang pembantaian pada Februari 1966 di Maumere, Flores, NTT.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.