Membaca di Antara Barisan

Print Friendly, PDF & Email

Korespondensi Theodor Adorno dan Herbert Marcuse Mengenai Gerakan Mahasiswa Jerman

 

PADA 31 Juli, Marcuse membalas telegram dan sebuah surat  dari Adorno. Sayangnya, surat itu tak bisa dibaca sebab tulisannya teramat kecil. Marcuse meminta Adorno untuk mengetik ulang isi surat karena kata-kata Adorno teramat penting untuk Marcuse. Marcuse juga meminta Adorno untuk membaca sebuah wawancara yang dicetak di Spiegel pada 28 Juli di mana Marcuse menghindari segala acuan Horkheimer. Meskipun demikian Adorno menutup catatan singkat dengan sebuah pertanyaan: ‘Jika kutipan Spiegel pun keliru—kenapa Max [Horkheimer] tidak mengoreksinya?’ Pada hari yang sama, Marcuse menulis ucapan terima kasih kepada Rudi Dutschke yang mengirimkan dukungan berupa surat terbuka kepada Spiegel dan ditandatangani oleh sejumlah aktivis Kiri Baru. Surat terbuka yang mengecam serangan-serangan atas Marcuse serta taktik-taktik kotor Stalinis yang dijajakan oleh kaum reaksioner dari segala penjuru.

Selang beberapa hari, Adorno meminta sekretarisnya untuk mengetikkan surat balasan. Ketika sekretaris mengetik surat itu pada 6 Agustus, Adorno sedang terbaring sekarat. Meskipun sudah diperingatkan oleh dokter, Adorno masih bepergian menggunakan kereta kabel pada ketinggian 3000 meter menuju puncak gunung Swiss. Jantungnya nyeri. Ketika turun gunung, ia pergi ke toko sepatu. Di sana, ia mengalami serangan jantung yang mematikan pada usia enam puluh lima tahun.

Enam bulan kemudian, pada malam 14 Februari 1970, Hans Jurgen Krahl—kala itu berusia 27—tengah menumpang mobil yang menuju Frankfurt. Mobil itu tergelincir di atas salju dan hancur ditimpa sebuah truk yang melaju dari arah berlawanan. Krahl meninggal di tempat.

***

 

Prof.  Theodor Adorno

6 Frankfurt am Main

Kettenhofweg 123

14 Februari 1969

 

Herbert,

Aku menulis untukmu pada tanggal 24 Januari dan melampirkan undangan resmi berbahasa Inggris dari Institut [Institut für Sozialforschung atau Institut Kajian Sosial, lembaga yang menaungi para anggota Mazhab Frankfurt—Red.] untuk Dekan Fakultasmu. Sementara ini aku masih belum mendapat jawaban. Aku agak khawatir hal ini ada kaitannya dengan beberapa kekacauan yang terjadi—baik kekacauan alamiah ataupun sosial—hingga suratku tak sampai. Aku meminta jawaban segera, siapa tahu aku butuh mengirimimu salinan karbon.

Omong-omong, aku salah mengirim formulir: undangan dari Institut secara de jure hanya bisa berasal dari Friedeburg, Gunzert, atau aku, bukan dari Habermas. Meskipun Habermas adalah wakil ketua jurusan Sosiologi, ia secara formal bukan bagian dari Institut. Dua hal tersebut harus tetap terpisah satu sama lain demi kepentingan organisasional. Undangan yang aku kirimkan juga telah mendapat persetujuan penuh dari Habermas.

Beberapa hal mengerikan terjadi lagi di sini. Kelompok SDS [Sozialistische Deutsche Studententbund, Kelompok Mahasiswa Sosialis Jerman—Red.] yang dipimpin oleh Krahl menduduki sebuah ruangan dalam Institut dan menolak untuk pergi,meskipun sudah tiga kali diminta. Kami menelepon polisi, yang lantas menangkap semua orang yang mereka temukan di dalam ruangan itu. Situasinya sudah cukup mengerikan. Untungnya, Friedeburg, Habermas, dan aku berada di sana ketika hal tersebut terjadi, sehingga kami bisa mencegah penggunaan kekerasan fisik. Sangat disayangkan, pada mulanya Karl membuat keonaran itu hanya supaya ditahan polisi, dan dengan demikian mempertahankan SDS  Frankfurt yang mulai pecah—yang berhasil ia lakukan meski hanya sebentar. Propaganda yang mereka pakai adalah dengan menunjukkan segala sesuatu secara terbalik, seolah-olah kami yang melakukan tindakan represif, bukan para mahasiswa yang berteriak kepada kami bahwa kami harus menutup mulut dan tidak berkata apapun tentang apa yang terjadi. Hal ini aku ceritakan kepadamu hanya untuk memberimu gambaran, barangkali ada rumor dan beragam berita yang sudah tersebar.

Terlepas dari berbagai hal di atas, bukuku mengalami perkembangan yang cukup baik; Aku hampir menyayangkannya, karena peristiwa-peristiwa yang tengah terjadi membuatku kebas sedemikian rupa dengan cara yang tak bisa kujelaskan. Aku bahkan tidak merasa takut yang semestinya kurasa. Di sisi lain, intensitas yang telah kucurahkan dalam karyaku mungkin sedikit menguatkanku. Kuharap aku bisa merampungkan banyak hal dalam minggu-minggu liburan ini supaya tinggal menyisakan hal-hal yang bersifat teknis.

Aku ingin kamu tahu bahwa Max juga berencana untuk berada di sini pada hari yang sama denganmu.

Kondisiku cukup sehat walau aku masih kerap kekurangan waktu istirahat. Malah, aku bisa bertahan dalam musim dingin—yang dalam beberapa hari terakhir makin beringas—tanpa terserang flu Hongkong.

Salam hangat untuk kalian berdua—juga dari Gretel.

Teman lamamu,

Theodor

 

***

 

Herbert Marcuse

Jurusan Filsafat

Universitas California, San Diego

5 April 1969

 

Teddy,

Sejatinya, sulit bagiku untuk menulis surat ini. Namun bagaimanapun ini harus kulakukan. Menurut hematku, menulis surat ini lebih baik daripada menutupi perbedaan pendapat di antara kita berdua. Sejak suratku yang terakhir, situasi makin jelas bagiku: untuk pertama kalinya, aku bisa membaca laporan yang lebih terperinci tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Frankfurt. Malah, aku juga telah menerima laporan langsung dari mahasiswa Frankfurt yang ‘ada di sana’. Tentu saja, aku sadar atas bias yang menyertai keterangan itu, namun apa yang kutemukan tak jauh beda dari apa yang kau ceritakan. Kalau ada detail baru, itu malah menambah jelas duduk perkaranya.

Pendeknya; Aku percaya bahwa jika aku menerima undangan Institut tanpa berbicara kepada mahasiswa, aku akan menyamakan diriku dengan (atau aku dipandang sebagai bagian dari) sebuah posisi yang tidak secara politik tidak aku amini. Kasarnya: jika pilihannya memihak polisi atau mahasiswa sayap kiri, maka aku memilih berada di pihak mahasiswa—dengan satu pengecualian krusial: jika hidupku terancam atau jika kekerasan mengancamku secara pribadi dan kawan-kawanku, dan jika ancaman adalah satu hal yang serius. Bagiku, pendudukan ruang (terpisah dari apartemen milikku) tanpa ancaman kekerasan tidak bisa dijadikan alasan untuk memanggil polisi. Aku akan membiarkan mereka mendudukinya; biar orang lain yang memanggil polisi. Aku masih percaya bahwa tujuan yang kita miliki (yang bukan hanya  milik kita) lebih baik diejawantahkan oleh para mahasiswa pemberontak daripada oleh polisi, dan, di sini di California, aku melihat demonstrasi  hampir tiap hari (dan tidak hanya di California). Malah, jika konflik terjadi makin serius, aku bisa saja mengubah cara pandang yang setiap hari kupegang. Kau kenal aku cukup baik untuk tahu bahwa aku menolak penerjemahan langsung dari teori menuju praksis sebagai empati, belaka seperti yang kau lakukan. Tapi aku kemudian percaya bahwa ada beberapa situasi, beberapa peristiwa, di mana teori didorong lebih jauh oleh praksis—beberapa situasi dan peristiwa yang memisahkan suatu teori dari praksis sehingga menjadi tak setia pada dirinya sendiri. Tentunya, kita tak bisa memungkiri bahwa mahasiswa-mahasiswa terpengaruh oleh kita (dan tentu saja tidak sedikit oleh dirimu)—aku bangga dan aku bersedia berdamai dengan kenyataan bahwa meraka pada akhirnya mendurhakai kita, walau kuakui rasanya kadang menyakitkan. Dan cara-cara yang mereka gunakan dalam rangka menerjemahkan teori ke dalam aktivitas?? Kita tahu (dan mereka juga tahu) bahwa situasi itu bukan situasi revolusioner, bahkan prarevolusioner pun tidak. Tapi situasi yang sama memang sangat mengerikan, begitu mencekik dan merendahkan sehingga pemberontakan terhadapnya melecutkan reaksi biologis dan fisiologis.  Kita tak bisa menahannya lagi, kondisi begitu menyesakkan dan kita butuh menghirup udara segar. Dan udara segar ini bukanlah berwujud ‘fasisme kiri’ (contradictio in adjecto!). Udara segar ini adalah udara yang hendak kita (setidaknya aku) hirup suatu hari nanti. Tentu, udara segar yang berasal dari kemapanan. Aku kerap mendiskusikan beberapa hal dengan mahasiswa dan aku menyerang mereka jika, menurut pendapatku, mereka bodoh dan bisa menguntungkan pihak lain. Tapi aku mungkin tidak akan mengganggap pertolonganku itu jelek, senjata yang lebih mengerikan daripada yang mereka miliki. Dan aku akan kecewa dan putus asa terhadap diriku (kita) jika aku (kita) muncul mendukung pembunuhan massal di Vietnam, atau tidak mengatakan apa-apa tentang itu.

Kembali ke masalah pribadi: aku tidak dapat datang ke Frankfurt, kecuali jika aku juga bisa berdiskusi dengan mahasiswa, mendengarkan mereka dan memberitahu mereka apa yang kupikirkan. Lantas,  jika itu tidak mungkin terjadi tanpa sebuah rapat akbar,  sebuah sirkus—maka ini sama saja dengan mimpi buruk bagiku. Itu bertentangan dengan kemauan dan pendirianku, tetapi itu bukanlah alasan bagiku untuk menghindari konfrontasi. Maaf,  bagiku, itu adalah bentuk pengesahan (tanpa tedeng aling-aling?) atas loyalitas dan terima kasih yang kusimpan untuk kalian semua. Dan dalam semangat loyalitas ini, aku pun  ingin kau tulis jawabanmu. Bagiku, pilihannya cuma: datang ke Frankfurt dan  berdiskusi dengan mahasiswa secara baik-baik, atau tidak datang sama sekali. Jika kau berpikir pilihan terakhir lebih baik—‘Aku cuma bisa memakluminya’. Mungkin kita dapat bertemu di suatu tempat di Swiss di musim panas dan menyelesaikan masalah-masalah ini. Tentunya,  akan lebih baik jika Max dan Habermas bisa bergabung. Kita tentu perlu mengklarifikasi beberapa hal.

Herbert

***

 

Prof. Dr. Theodor W. Adorno

6 Frankfurt am Main

Kettenhofweg 123

5 Mei 1969

 

Herbert,

Suratmu,  tertanggal 5 April, sampai ketika aku sedang liburan singkat di Baden-Baden. Isinya melecutkan dampak yang luar biasa padaku dan—kalau aku boleh berterus terang—melukai hatiku. Meskipun aku menyadari bahwa perselisihan kita hanya dapat disiasati dengan tatap muka, aku tidak ingin berutang padamu sebuah balasan surat.

Pertama-tama, aku tidak mengerti mengapa situasi berubah demikian drastis bagimu setelah sekali percakapan, yang mana, seperti yang telah kau konfirmasikan, sama sekali tidak bertentangan dengan laporanku, dan hampir dipastikan tidak ada sesuatu yang baru di dalamnya. Pada akhirnya, aku pikir, kau mungkin mengkaitkan beberapa ketidakcocokkan di antara laporan, dan memberiku kesempatan untuk berkomentar. Yang jelas, bagiku tampaknya mustahil membentuk pendapat mengenai sebuah insiden dari jarak enam ribu mil; dan kau melakukannya tanpa satu kali pun mendengarkan ucapanku.

Gagasan untuk tidak membicarakannya kepada mahasiswa dan tidak memperbincangkannya di depan khalayak ramai bermula dari gagasanmu. Tentu saja, itu sesuai dengan rencanaku. Selebihnya, aku harus melihat kepentingan Institut—Institut lama kita, Herbert —dan kepentingan tersebut akan langsung terancam oleh sebuah sirkus, percayalah padaku: kecenderungan untuk menghentikan setiap subsidi kepada kita akan makin parah. Oleh karena itu, jika kau benar-benar harus berdiskusi dengan mahasiswa di Frankfurt, sebenarnya lebih baik jika kau mengambil tanggung jawab itu tanpa melibatkan Institut, atau jurusan. Aku percaya bahwa aku bisa mengira-ngira dari suratmu bahwa kau memahami reaksiku dan tak akan menaruh dendam padaku.

Polisi seharusnya tidak boleh—menggunakan jargon ApO [Ausserparlamentarische Opposition, Oposisi Ekstra-Parlemen)[i]—secara abstrak dianggap sebagai iblis. Yang ingin kutekankan adalah mereka telah memperlakukan mahasiswa jauh lebih beradab ketimbang mahasiswa memperlakukanku: hal ini setidaknya akan sedikit memberikan gambaran. Aku tidak sepakat denganmu tentang kenapa polisi kemudian harus dipanggil. Baru-baru ini, dalam sebuah diskusi fakultas, Mr. Cohn-Bendit berkata kepadaku bahwa aku hanya berhak memanggil polisi jika serangan menghujaniku; kemudian aku menjawab, ‘Itu mungkin sudah terlambat.’ Dalam kasus pendudukan Institut, tidak ada tindakan lain yang mungkin untuk dilakukan. Karena Institut pada dasarnya independen dan tidak berada di bawah perlindungan Universitas, tanggung jawab untuk segala hal yang terjadi di sini terletak di antara Friedeburg dan aku. Alih-alih menduduki Jurusan, para mahasiswa memutuskan untuk menduduki Institut ‘yang telah dimodifikasi’, sebagaimana mereka menyebutnya pada waktu itu; semua bisa membayangkan apa yang bisa terjadi dengan grafiti dan seterusnya. Hari ini, aku akan bereaksi sama dengan cara yang kulakukan pada tanggal 31 Januari. Aku memandang permintaan mahasiswa bahwa aku mencermati kritisisme-diri publik sebagai Stalinisme murni. Hal ini tidak ada hubungannya dengan ‘kesibukan sehari-hari’.

Aku tahu bahwa kita cukup dekat dengan persoalan tentang hubungan antara teori dan praktik, meskipun kita benar-benar perlu membicarakan keberkaitan tersebut secara menyeluruh suatu saat (aku hanya mengerjakan tesis yang berkaitan dengan hal itu). Aku juga mengakui bahwa ada peristiwa-peristiwa di mana teori didorong lebih lanjut oleh praktik. Namun, secara objektif situasi itu tidak ditemui saat ini. Lagi pula, praktisisme yang brutal ini tak beririsan dengan teori manapun juga.

Poin terkuat yang kau buat adalah gagasan bahwa situasi bisa begitu mengerikan sehingga seseorang harus coba menghancurkannya, bahkan jika seseorang mengakui yang objektif adalah mustahil. Aku memikirkan argumen itu dengan serius. Tapi kupikir itu bisa saja keliru. Kita telah melewati banyak situasi yang jauh lebih mengerikan—misalnya pembunuhan terhadap orang Yahudi—tanpa berlanjut ke praksis hanya karena kita tidak memiliki akses terhadapnya. Kupikir kejelasan tentang lapisan dingin pada diri adalah masalah kontemplasi. Terus terang: kupikir kamu sedang menipu diri sendiri karena tidak mampu melanjutkan tanpa berpartisipasi dalam aksi mahasiswa, karena apa yang terjadi di Vietnam atau Biafra. Jika itu benar-benar reaksimu, maka kau tidak hanya harus protes terhadap kengerian bom napalm tetapi juga pada siksaan ala Cina yang dilakukan Vietkong selama ini. Jika kau tidak bisa menerimanya, maka protes perlawanan orang-orang Amerika mendapatkan sebuah karakter ideologis. Max memberikan perhatian, dan dengan pembenaran, hanya pada titik itu. Aku, yang pada akhirnya meninggalkan AS, berhak berpendapat sepertiku.

Kau keberatan dengan ‘fasisme kiri’ yang diajukan Jurgen dan menyebutnya contradictio di adjecto. Tapi kau menganut dialektika, bukan? Seolah-olah kontradiksi tersebut tidak ada—Bukankan memungkinkan sebuah pergerakan, dengan kekuatan dari antinomi-antinomi imanen, mengubah diri menjadi sebaliknya? Aku tidak meragukan bahwa gerakan mahasiswa dalam bentuk yang sekarang sedang mengarah pada teknokratisasi universitas yang mereka daku ingin mereka cegah, bahkan secara cukup langsung. Dan dalam pengamatanku, tindakan-tindakan ini seperti yang kulihat dengan mata kepalaku, dan gambaran yang kuceritakan padamu benar-benar menampilkan sebentuk kekerasan yang dangkal, yang dulu melekat pada fasisme.

Jadi, untuk menjawab pertanyaanmu dengan jelas: maka datanglah ke Frankfurt untuk berdiskusi dengan para mahasiswa yang telah membuktikan sendiri kepadaku dan kami semua di sini melalui tindakan yang regresif, maka lakukanlah atas nama sendiri, dan jangan berada di bawah naungan kami. Apakah kau akan benar-benar melakukannya atau tidak, itu terserah dirimu.

Tentu saja, akan menyenangkan jika kita bisa bertemu di Swiss dengan Max, tapi aku ragu kita bisa bertemu karena kami hanya singgah sebentar di Basel. Pun, perselisihan kita benar-benar menuntut diskusi yang panjang. Zermatt akan menjadi tempat berdiskusi yang sempurna. Bagaimanapun, Zermatt tak punya banyak danau khas seperti Italia, kau akan tetap bisa menikmatinya. Kebetulan, aku berada di Italia pada awal September, dan sekitar 8 dan 9 aku akan berada di Venesia.

Salam,

Theodor

***

 

Herbert Marcuse

London

4 Juni 1969

 

Teddy,

Aku merasa perlu untuk berbicara jujur bahkan lebih jujur daripada sebelumnya.

Ini perkaranya: suratmu tak memberi sedikit pun petunjuk mengapa para mahasiswa memusuhi Institut. Kau menuliskan mengenai ‘kepentingan Institut’ sembari menyisipkan penegasan: ‘Institut lama kita, Herbert’. Bukan Teddy, para mahasiswa tidak menyusup ke dalam Institut lama kita. Kau pasti tahu, seperti halnya aku, betapa penting perbedaaan antara hasil kerja Institut pada tahun 1930-an dan hasil kerjanya saat ini di Jerman. Perbedaan kualitatif bukanlah salah satu hal yang berasal dari perkembangan teori itu sendiri: ‘subsidi’ yang kau sebut secara sangat kebetulan—apakah benar-benar kebetulan belaka? Kau tahu bahwa kita tergabung dalam penolakan terhadap politisasi teori yang tidak dapat ditengahi. Tapi teori (lama) kita memiliki muatan politik internal, sebuah politik internal yang dinamis, yang hari ini, lebih daripada sebelumnya, memaksa kita untuk masuk ke dalam posisi politik yang konkret. Itu tidak berarti—sebagaimana penilaianmu terhadapku dalam wawancaramu dengan Spiegel—memberikan ‘nasihat praktis’. Aku tak pernah melakukan itu. Seperti dirimu, aku percaya, duduk di meja kerja sambil mengusulkan langkah-langkah kepada orang-orang yang siap dipenggal kepalanya untuk tujuan-tujuan yang mereka percaya adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Tapi, menurut pendapatku, hal itu berarti: agar tetap menjadi Institut lama kita, kita menulis dan bertindak secara berbeda pada hari ini dibanding tahun 30-an. Bahkan teori yang utuh pun tidak kedap realitas. Meniadakan perbedaan antara keduanya (seperti yang dilakukan oleh para mahasiswa, menurutmu) adalah keliru, dan begitu juga halnya dengan berpegang pada perbedaan secara abstrak dari suatu bentuk lama, sementara ia telah berubah dalam kenyataan yang mencakup (atau terbuka pada) teori dan praktek.

Benar bahwa polisi seharusnya ‘tidak secara abstrak diposisikan sebagai yang iblis’. Dan, tentu saja, aku juga akan memanggil polisi pada kondisi tertentu. Baru-baru ini, dengan rekomendasi dari universitas (dan bukan dari tempat lainnya), aku merumuskan demikian: ‘Apabila terdapat ancaman atau cedera fisik pada orang-orang, serta perusakan material dan fasilitas pelayanan fungsi pendidikan milik universitas’. Dengan kata lain, aku percaya bahwa, pada kondisi tertentu, penguasaan terhadap gedung dan gangguan terhadap kegiatan kuliah adalah bentuk sah protes politis. Contohnya: di Universitas California, demonstrasi yang pecah pada bulan Mei di Berkeley yang terbilang amat sangat brutal.

Dan sekarang, untuk menerka hal yang sangat penting: hikmah dari kondisi mengerikan ini, aku tidak dapat menemukan ‘corengan dingin dalam diri seseorang’. Apabila hal ini adalah ‘delusi-diri’, maka ia sudah sangat bercokol di dalam daging dan tulangku sehingga aku tidak lagi merasa dingin. Apakah setidaknya hal tersebut sama mungkinnya dengan mengakui delusi-diri itu sendiri sebagai sebuah ‘mekanisme pertahanan diri’? Serta, untuk mengatakan bahwa seseorang  tidak boleh melakukan protes melawan penderitaan imperialisme, tanpa sekaligus menyalahkan mereka yang dengan putus asa melawan neraka ini, menggunakan alat apapun yang mereka bisa gunakan, bagiku terlihat kejam. Sebagai sebuah dasar metode, ini bisa berubah menjadi sebuah justifikasi dan permintaan maaf para penyerang.

Mengenai ‘fasisme kiri’: tentu saja aku tidak lupa bahwa ada kontradiksi dialektis—namun aku juga tidak lupa bahwa tidak semua kontradiksi itu bersifat dialektis—beberapa bisa saja keliru. Kiri (yang autentik) tidak mampu mentransformasikan dirinya sendiri ke Kanan ‘dengan paksaan dari antinomi-antinomi yang melekat’, tanpa mengubah basis sosial dan kejelasan tujuan. Tidak ada aksi mahasiswa yang menunjukkan perubahan tersebut.

Untuk memperkenalkan konsepmu tentang ‘kebekuan’, kamu mencatat bahwa, pada saat ini, kita bahkan bertahan terhadap pembunuhan orang-orang Yahudi, tanpa tindakan apapun, ‘karena praksis benar-benar tertutup bagi kita’. Kau benar, namun, kesempatan itu tak lagi tertutup. Yang berbeda dari situasi ini adalah perbedaan antara fasisme dan demokrasi borjuis. Demokrasi menjanjikan kepada kita kebebasan dan hak. Namun, mengingat bahwa demokrasi borjuis (berdasarkan pada antinomi-antinomiyang melekat) menutup diri dari perubahan kualitatif—melalui proses demokrasi parlementernya—oposisi ekstra parlementer menjadi satu-satunya bentuk ‘perjuangan’, ‘ketidakpatuhan rakyat’, aksi langsung. Dan bentuk aktivitas ini tidak lagi mengikuti pola-pola tradisional. Aku juga mengutuk banyak hal, seperti halnya dirimu, namun aku sampai pada kesimpulan ini dan mempertahankannya di depan para musuh, sebab bertahan dan terpeliharanya status quo serta risiko yang harus dibayar dengan kehidupan manusia merupakan hal yang lebih mengerikan. Di sinilah, kukira, perbedaan pendapat yang mendalam antara kita berdua. Bicara mengenai ‘Orang Tiongkok di Sungai Rhine,[ii] selama Amerika didasarkan pada Rhine, akan menjadi sebuah hal yang tidak mungkin bagiku. Jelas bahwa semua ini membutuhkan diskusi ‘tanpa berakhir’. Aku tidak paham mengapa hanya Zermatt yang akan menjadi ‘tempat terbaik’ bagimu. Tempat yang paling mudah dijangkau oleh semua orang seharusnya adalah tempat yang masuk akal. Dari 16 Agustus sampai 11 Sepetember kami berada di Swiss; dari 4 Juli hingga 14 Agustus dengan alamatMadam Bravais Turenne, 06 Cabris, Prancis.

Salam hangat,

Herbert

***

 

Prof. Dr. Theodor Adorno

6 Frankfurt am Main

Kettenhofweg 123

19 Juni 1969

 

Herbert,

Terima kasih untuk dua suratmu. Aku akan menjawabnya sesegera mungkin, meskipun aku berada pada fase depresi yang sangat ekstrem, yang menyebabkan gangguan psikologis dan tidak memberikan celah bagiku untuk mengekspresikan diri. Maka, aku meminta kesabaranmu. Bahkan seharusnya aku mengulang kalimat itu pada diriku sendiri, supaya kau merasakan suasana di sini, kukatakan kepadamu bahwa kuliahku mengalami gangguan untuk kedua kalinya, dan kali ini bahkan tanpa adanya pretensi alasan apapun.

Kamu menuliskan bahwa suratku tidak memberikan petunjuk adanya alasan permusuhan para mahasiswa terhadap Institut. Tidak ada alasan apapun hingga saat pendudukan berlangsung. Hal itu terjadi ketika mereka telah memperhitungkan bahwa kita berada dalam tekanan untuk menelepon polisi. Ada penurunan minat siswa pada aksi protes, yang merupakan satu-satunya alat untuk mencapai solidaritas. Krahl memperhitungkan hal tersebut dengan cukup tepat. Kau tidak akan bisa mengambil tindakan lainnya jika berada pada posisi kami; seperti kau bilang sendiri: ‘apabila terdapat ancaman atau cedera fisik pada orang-orang, serta perusakan material dan fasilitas pelayanan fungsi pendidikan milik universitas’ sangat tepat untuk menggambarkannya. Apa yang kamu sebut dengan permusuhan terhadap Institut sederhananya berakar dari fakta bahwa kita bereaksi sesuai provokasi.

Kamu membantah bahwa Institut adalah ‘Institut lama kita’. Jelas bahwa institusi yang kamu maksud tidak bisa disamakan dengan yang ada di New York. Pada masa itu, kita diperbolehkan mengumpulkan sejumlah besar intelektual, yang sebagian besar dari mereka bekerjasama sebelumnya; di sini kami harus melatih sendiri orang-orangnya. Bantuan-bantuan resmi mempengaruhi arah kerja, artinya bahwa kita harus melakukan penelitian empiris; namun, bagaimanapun juga, Otoritas dan Keluarga [1936:Horkheimer] diselesaikan dalam tahun-tahun emigrasi, dan Kepribadian Otoriter [1950:Adorno] sepenuhnya dikerjakan di Amerika. Aku tidak percaya bahwa kita harus malu pada hal-hal empiris yang telah kita capai, seperti penelitian kelompok dengan kajian metodologis, seri buku Pelajar dan Politik [1975:Habermas], buku penelitian mengenai NPD (National demokratische Partei Deutschlands), yang saat ini sedang dalam persiapan, atau sedang dijalankan. Di semua seri itu, kau tidak akan menemukan satu pun yang menunjukkan adanya penyedia uang. Kau tidak bisa menyalahkan Jurgen (yang secara tidak resmi menjadi direktur Institut namun secara de facto menjabat sebagai direktur) atau aku yang mengabaikan ketertarikan teoretis dari penelitian-penelitian tersebut. Seri itu juga berisi sejumlah kerja teoretis, tidak hanya buku yang kutulis bersama Max, namun juga buku Marx yang ditulis oleh Alfred Schimdt, buku mengenai Comte dan Hegel yang ditulis oleh Negt, seorang anggota ApO, serta karya Bergmann yang mengkritik Talcott Parsons. Juga beberapa buku yang sudah kutulis. Kupikir, mempertimbangkantantangan yang harus dihadapi oleh Institut, atau bagaimana hidup kita hingga saat ini, kita punya reputasi yang cukup baik . Menuduh seseorang tidak melakukan sesuatu adalah sebuah cela yang bisa disematkan pada apa saja dan siapa saja, tuduhan semacam itu sudah tak punya taji lagi.

Pokok persoalan dari kontroversi kita sudah dibuktikan oleh Crans. Kau berpikir bahwa level tindakan—dalam konteks empati—sudah terbuka untuk saat ini; aku justru berpikir hal lain. Aku harus menolak semua yang kupikirkan dan kupahami samasekali apabila aku ingin percaya bahwa protes para mahasiswa di Jerman memiliki bahkan prospek sekecil apa pun dalam intervensi sosial. Sebab, protes itu tidak akan mendatangkan apapun apabila masih bisa dipertanyakan dalam dua hal. Pertama, lantaran protes tersebut memantik sebuah potensi fasis di Jerman, tanpa mempedulikan protes itu sendiri. Kedua, sejauh protes itu menumbuhkan dalam dirinya yang—di sini kita harus bedakan—secara langsung berbeda dengan fasisme. Aku menamakannya sebagai teknik simptomatis dalam membangun sebuah diskusi, hanya untuk membuat diskusi tersebut bisa dilaksanakan; kekejaman barbar dari sebuah perilaku yang regresif dan bahkan mecampuradukkan regresi dengan revolusi; aksi membuta yang dibesarkan; formalisme yang acuh tak acuh pada isi dan bentuk yang ia kritik, yakni teori kita. Di sini, di Frankfurt, juga di Berlin, kata ‘profesor’ digunakan dengan rendah untuk mengejek seseorang, atau mereka gunakan dengan sangat baik untuk ‘membuat mereka diam’, sebagaimana Nazi menggunakan kata Yahudi pada masa itu. Aku tidak lagi melihat kebencian total dari apa yang telah kuhadapi selama dua bulan belakangan sebagai sebuah pengelompokan dari insiden-insiden kecil yang terjadi. Untuk menggunakan kembali sebuah kata yang telah membuat kita berdua tersenyum pada hari-hari yang telah lewat, kesemuanya itu membentuk sebuah sindrom. Cara dialektis, antara lain, yang pada akhirnya tidak berbeda sebagai sebuah alat; apa yang terjadi di sini secara drastis menunjukkan, tepat pada detail paling kecil sekalipun, seperti misalnya birokrasi yang berpegang teguh pada agenda, ‘keputusan-keputusan yang terikat’, komite yang tidak terhitung jumlahnya dan hal lain semacam itu, ciri-ciri teknokratisasi yang mereka klaim ingin mereka tentang, serta yang sebenarnya kita tentang. Aku menganggap serius hal ini, lebih daripada dirimu, betapa berbahayanya gerakan mahasiswa ini jika terlempar pada fasisme. Setelah mereka meneriaki duta besar Israel di Frankfurt, jaminan bahwa hal tersebut tidak terjadi karena anti-Semitis dan pendaftaran beberapa orang-orang ApO berkebangsaan Israel tidak membantu sama sekali. Seseorang tidak perlu menunggu adanya ‘Orang Tiongkok di Sungai Rhine’. Kau hanya perlu melihat satu kali ke dalam mata yang penuh kegilaan, di manapun juga mereka mengenali kita, berbalik mengarahkan kemarahan mereka kepada kita. Aku rasa sulit untuk membayangkan bahwa kau memiliki sejenis sublimasi semacam ini di dalam pikiranmu, meskipun aku tidak pernah menemukan pengganti Simfoni ke 9 yang dimainkan oleh Jazz dan Beat, sampah dari industri budaya, yang dengan tepat menjelaskan. Namun ini topik yang perlu kita diskusikan secara langsung, bukan melalui surat.

Bisakah diskusi itu tidak dilakukan di Zermatt? Mengingat negara yang sedang kusinggahi sekarang, dan demi Tuhan aku tidak melebih-lebihkan, secara fisik akan sangat tidak mungkin bagiku untuk pergi ke daerah berhawa hangat, baik itu di Italia atau di Zona Fohn, tepat ketika aku akan menjalani minggu-minggu pemulihan kesehatan. Tidakkah cukup bagi kita sebagaimana air di air mancur mamot [di Zermatt] dengan ukiran: Domine, conserva nos in pace?

Kami berada di sini hingga 21 Juli, kemudian pindah ke sana; tolong segera balas surat ini.

Salam hangat,

Theodor

***

 

Herbert Marcuse

Chez Madame Bravais-Turenne,

Cabris, Perancis

21 Juli 1969

 

Teddy,

Suratmu yang bertanggal 19 Juni tiba sekembalinya kami dari Italia. Perjalanan dengan Cohn-Bendit sangat menyenangkan; bukan hanya karena aku bisa memaksa dia untuk diam dan menyampaikan ceramahku hingga selesai sebagaimana direncakanan (laporan berita di koran salah), namun juga karena diskusi dengan siswa di Italia mengenai insiden yang menunjukkan bahwa Cohn-Bendit dan metodenya terisolasi secara penuh dari inti gerakan mahasiswa. Aku mendengar hal yang sama dari temanku yang tinggal di Berlin.

Dengan surat ini, aku sampaikan kepadamu apa yang kamu sebut dengan ‘pokok persoalan kontroversi kita’. Tentu saja aku percaya bahwa gerakan mahasiswa memiliki kemungkinan melakukan apa yang disebut dengan ‘sebuah intervensi sosial’. Aku pikir di sini, di hampir sebagian besar Amerika Serikat, namun juga di Prancis (kunjunganku ke Paris memperkuat keyakinan ini) dan Amerika Selatan. Tentu saja, penyebab yang memantik proses tersebut pastilah berbeda-beda, namun, tidak seperti Habermas, meskipun berbeda-beda, motivasi yang menggerakkan mereka menuju ke satu tujuan masih sama. Dan tujuan itu adalah sebuah protes melawan kapitalisme, memotong langsung akar eksistensinya, melawan pengikutnya di Dunia Ketiga, budayanya, moralitasnya. Tentu saja, aku tidak pernah menyuarakan pendapat yang tidak masuk akal, bahwa gerakan mahasiswa adalah revolusi itu sendiri. Namun gerakan itu adalah katalis yang terkuat, mungkin juga satu-satunya, untuk kehancuran dalam tubuh sebuah sistem yang sekarang mendominasi. Gerakan mahasiswa di Amerika Serikat tentu saja berhasil secara efektif mengintervensi sebagai sebuah katalis semacam itu: pada masa tumbuhnya kesadaran politik, pergolakan yang terjadi di perkampungan kumuh, alienasi radikal dari sistem berlapis yang dulunya terintegrasi, serta, yang terpenting, mobilisasi dari lingkaran masyarakat melawan imperialisme Amerika (aku benar-benar bisa melihat tidak adanya alasan untuk alergi menggunakan konsep ini). Lingkaran masyarakat itu bisa saja tidak berjumlah banyak, namun tidak akan tercipta sebuah situasi yang revolusioner di negara-negara industrial yang maju, dan tingkat integrasi membatasi bentuk pertentangan radikal yang baru dan tidak ortodoks. Sebagaimana kasus yang selalu terjadi, pemerintah memiliki penilaian yang akurat dari makna perlawanan mahasiswa: di Amerika Serikat, represi paling besar dilakukan di sekolah dan universitas—ketika kooptasi tidak lagi bisa membantu, maka polisi yang turun tangan.

Pergerakan mahasiswa saat ini putus asa mencari teori dan praktik. Mereka mencari bentuk organisasi yang bisa menerangkan dan mengkontradiksikan masyarakat kapitalis belakangan ini. Pergerakan ini terbelah, terinfiltrasi oleh provokator atau oleh mereka yang secara jelas memantik provokasi. Aku menemukan beberapa halangan, seperti yang kudengar dari Frakfurt dan Hamburg, celaan  yang sama seperti yang kau rasakan di sana. Aku telah cukup melawan secara publik slogan ‘hancurkan universitas’, yang kupahami sebagai sebuah tindakan bunuh diri. Aku percaya bahwa tepat pada situasi semacam inilah tugas kita untuk membantu gerakan tersebut, secara teoritis, begitu juga mempertahankannya dari represi dan celaan.

Pertanyaanku adalah apakah Institut hari ini adalah masih institut yang sama dengan yang dulu, yang secara definitif tidak merujuk pada publikasi, namun pada absennya posisi politik. Biar kuulang lagi: apakah aku telah membuang konsep mediasi, namun ada beberapa situasi yang benar-benar memanifestasikan hal tersebut secara konkret. Berdasarkan pada dinamikanya sendiri, yang besar, dan tentu saja historis, karya yang lahir dari Institut meminta adanya pengambilan posisi yang jelas melawan imperialisme Amerika dan untuk perjuangan kebebasan di Vietnam, dan tidak hanya berbicara mengenai ‘Orang Tiongkok di Sungai Rhein’, selama kapitalisme masih mengeksploitasi secara dominan. Pada awal 1965, aku mendengar penyamaan antara Institut dengan kebijakan Amerika di Jerman.

Dan sekarang adalah bagian paling tidak menyenangkan dari suratku. Tanpa sengaja, aku membaca di Spiegel bahwa Max juga telah bergabung ke dalam rombongan yang menyerangku. Aku dengan susah-payah menghindar dari tindakan menunjukkan perbedaan kita secara terbuka. Sekarang aku harus menjawab kepada publik. Kelihatannya sangat luar biasa bagiku bahwa, dalam serangannya, Max menggunakan kembali gagasan mengenai properti pribadi yang berhasil diterapkan pada diskusi bersama; aku dengan senang hati menerima bahwa pemikiran-pemikiran semacam ini menjadi ‘lebih mentah dan gampang’ dalam karya-karyaku. Aku percaya bahwa kementahan dan kemudahan telah membuat substansi radikal dari pemikiran ini, yang tadinya tidak bisa dengan mudah dikenali, menjadi tampak. Dan lagi, Habermas mengutip kalimat berikut ini dari sebuah pengantar pada edisi terbaru esai-esai dari tahun 1930-an (tidak dikirimkan kepadaku): ‘perbedaan menitikberatkan pada hubungan kekuatan yang menjalankan para pemberontak ketika mereka tidak memiliki daya apapun. Demi sebuah kebenaran, aku merasa perlu untuk mengatakannya secara terbuka bahwa, dengan semua kesalahannya, demokrasi yang dicurigai selalu lebih baik daripada pemerintahan diktator, yang akan muncul ketika demokrasi runtuh’. Bisakah Horkheimer pada tahun 1930-an benar-benar menulisnya secara tidak dialektis, secara tidak teoretis hari ini? Kalimat itu kurasa hanya sebuah versi dari kata-kata yang hampa mengenai ‘kejahatan yang lebih sedikit’. Namun apakah benar-benar itu yang dimaksud? ‘Demokrasi’ itu terisolasi, tertutup dari isinya yang sebenar-benarnya: bentuk dominasi dari kapitalisme lanjut. Isolasi ini menyuburkan represi mengenai pertanyaan: ‘baik’ untuk siapa? Untuk Vietnam? Biafra? Budak-budak di Amerika Selatan, di perkampungan kumuh? Sistemnya telah mengglobal, dan inilah demokrasinya, yang dengan semua kesalahannya, juga melakukan, membayar, dan mempersenjatai neokolonialisme dan neofasisme, dan menghalangi adanya kebebasan. Isolasi ganda: neofasisme dan demokrasinya bukanlah pilihan alternatif: demokrasi ini, sebagai sebuah kapitalisme, mengarahkan, pada jalur dengan dinamikanya yang melekat, menuju sebuah rezim kekuatan? Dan kenapa keruntuhannya harus membawa pada pemerintahan diktator yang tentunya lebih mengerikan? Ini tentu saja bukan tugas gerakan protes, terutama mahasiswa, untuk mencegah perkembangan semacam itu? Dan mengapa seseorang harus mencela gerakan ini dari awal sebagai sebuah ‘kekuatan yang tidak berdaya’—ketika, pada mulanya, hal itu lebih bisa dipertanyakan apakah seseorang berbicara mengenai kekuatan dengan suara hati yang jernih—ketika dibandingkan dengan yang telah diatur oleh pemerintah? Apa yang ‘menggerakkan’ pemberontak ini dengan lebih baik: jaminan kekuatan dari ketidakberdayaan gerakan ini, atau gerakannya yang semakin kuat? Para mahasiswa itu tahu betul batasan tujuan dari protes yang mereka lakukan—mereka tidak membutuhkan kita untuk menunjukkan kepada mereka, namun mungkin mereka membutuhkan kita untuk membantu mereka sampai pada titik apa untuk melampaui batas tersebut. Pemanfaatan kekuatan, ‘praktisi kekerasan’, semua yang berada pada sisi yang sebaliknya, yang berdiam pada sisi musuh, dan kita seharusnya waspada terhadap kelompok ini dan menggunakan mereka untuk menamai gerakan protes tersebut. Dan pemerintah diktator setelah mereka runtuh? Kita sebaiknya memiliki keberanian secara teoretis tidak untuk mengidentifikasi kekerasan untuk kebebasan dengan kekerasan untuk represi, semuanya digolongkan di bawah kelompok umum pemerintahan diktator. Memang mengerikan, petani Vietnam yang menembak tuan tanahnya yang telah menyiksa dan mengeksploitasinya selama bertahun-tahun tidak sama dengan tuan tanah yang menembak budaknya yang memberontak.

Tentu saja, seseorang harus membela institusi demokratis-parlementer ketika mereka masih menjamin hak atas kebebasan dan pekerjaan melawan represi yang semakin dalam. Namun hal tersebut tidak dibuka oleh aktivitas siswa tetapi oleh kelas yang berkuasa. Sekarang ini di Amerika Serikat, anggota legislatif negara adalah pusat represi yang kuat, serta pendudukan Mahkamah Internasional yang dilakukan baru-baru ini oleh Nixon menunjukkan arah politik yang sedang dituju.

Beberapa hal tadi perlu kita bicarakan. Mungkin kita masih bisa mengatur waktunya. Ada kereta langsung dari Zermatt menuju Pontresina (keretanya bernama Glacier Express), dan dari Pontresina ke Zermatt jaraknya sama dengan Zermatt ke Pontresina. Aku berharap bisa bertemu dengan Habermas pada pertengahan Agustus di Zurich. Kami masih berada di sini hingga 14 Agustus: berenang setiap hari di Laut Mediterania dan makanan Prancis bisa membantu penyembuhan penyakit pada jiwa dan raga.

Salam hangat untuk kalian berdua.

Herbert.

***

 

Institut für Sozialforschung

Universitas Johann Wolfgang Goethe

Prof. Dr. Th. W. Adorno

6000 Frankfurt A. M. 1

Senckenberg-Anlage 26

6 Agustus 1969

 

Herbert,

Aku mengirim telegram untuk membalas suratmu. Aku ingin mencegah adanya bencana besar. Konyol rasanya apabila ada keretakan serius yang berkembang di antara kau pada satu sisi dan aku serta Max pada sisi lainnya, semua karena masalah ini. Aku tidak mengerti mengapa bukan kau yang tidak menghubungi Max, tepat ketika kau mendengar mengenai hal ini, seperti biasa, hubungan manusia cepat sekali berubah, untuk memisahkan fakta pada kejadian sebelum memberikan reaksi. Omong-omong, aku harus mengatakan kepadamu bahwa serangan itu, dan fakta bahwa ini membuat musuh kita senang, menjijikkan. Rasanya tak perlu kukatakan kamu harus menuntut Matthias, yang juga sedang sakit seperti aku [untuk] datang ke pengadilan. Aku terseret ke dalam hubungan yang sama dengan yang dilakukan oleh Benjamin demikian juga oleh pihak Kanan (Hannah Arendt) serta aktivis ApO.

Tanpa mesin tik, aku hanya bisa menjawab suratmu dengan sewajarnya ketika aku sudah kembali ke Frankfurt. Aku adalah orang terakhir yang meremehkan manfaat gerakan mahasiswa: karena gerakan semacam ini telah menganggu transisi yang lancar ke dalam dunia yang sepenuhnya mapan. Namun gerakan itu dicampur dengan sedikit kegilaan, di mana totalitarian didorong untuk diletakkan di situ, dan semuanya buakan sekadar akibat (meski memang sebuah akibat juga). Dan aku bukanlah seorang masokis, bukan, ketika sedang bicara mengenai teori. Lagi pula, situasi Jerman sangatlah berbeda.  Omong-omong, dalam sebuah ujian baru-baru ini, aku mendapatkan sedikit dosis gas air mata; yang membuatku lebih menderita, mengingat belek di mataku yang parah.

Mengingat kondisi Institut hari ini, sudah diterapkan bahwa tidak ada lagi sikap absen dalam politik dibandingkan dengan kasus yang terjadi di New York. Kau jelas tidak memiliki konsep yang cukup untuk membenci Friedeburg, Habermas, dan aku. Bacalah FAZ [Frankfurter Allgemeine Zeitung], mungkin bisa memberimu beberapa ide.

Dengan penyederhanaan yang teliti aku memliki pandangan yang sangat berbeda—sama seperti yang kulakukan ketika mengkritik Brecht pada masanya—namun aku tidak bisa melakukan hal itu lagi.

Herbert, aku benar-benar tidak bisa datang ke Zurich atau ke Pontresina. Seperti yang sudah kukatakan di suratku yang terakhir, kamu harus bertemu dengan Teddie yang sangat sakit, sebagaimana Max akan ceritakan kepadamu. Namun, kupikir egoisme yang dirasionalkan ini sah-sah saja, dan, dengan senang kukatakan, kalimatmu mengenai deskripsi jarak antara Pontresina dan Zermatt adalah sama. Dan di sini, seseorang, sebagaimana kamu tahu, lebih tenang dan damai daripada saat di Engadin. Pada akhirnya, kami akan bertemu denganmu di sini. Apakah kamu merasa situasinya buruk sekali di sini? Dan aku yakin kamu harus setuju tidak ada yang perlu diragukan lagi, bahwa kita memang harus bertemu empat mata? —Kurasa aku telah memberitahumu bahwa aku akan berada di Venice dari tanggal 5 sampai 9 September (Hotel Regina); dan di sini hingga tanggal 27 Agustus.

Salam paling hangat dari Gretel dan Inge.

Aku punya beberapa hal yang harus kuceritakan padamu mengenai Danny-le-rouge:[iii] hanya sebuah lelucon konyol. Pasti ia sudah terlibat dalam perkelahian yang menyenangkan di jalanan. Dan di Frankfurt dia masih terhitung sebagai salah satu orang yang ramah. Quel Monde!

Disalin dari catatan yang ditulis tangan.

Salam hangat,

(Herta Georg, sekretaris)

 

 

[i]Gerakan protes mahasiswa Jerman yang lahir dari kekecewaan atas koalisi SPD (Partai Sosial Demokrat Jerman) dan CDU (Partai Kristen Demokrat).

[ii] Sebutan untuk mahasiswa Jerman pada tahun 1960-an yang teradikalisasi oleh Buku Merah Mao.

[iii]Rouge, artinya merah (Pcs). Sebutan popular untuk Daniel Cohn-Bendit, ikon protes Mei 1968 di Prancis.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus