
Pengorganisiran dan Gerakan Menanam
TENTANG Pengorganisiran Pengorganisiran tidak bisa difokuskan hanya pada satu segmen atau bidang. Karena bidang yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Seperti halnya mengorganisir buruh,

TENTANG Pengorganisiran Pengorganisiran tidak bisa difokuskan hanya pada satu segmen atau bidang. Karena bidang yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Seperti halnya mengorganisir buruh,
[Tulisan di hadapan pembaca ini berasal dari era yang berbeda: masa muda. Ini adalah contoh dari tulisan yang dihasilkan dari ketidakmatangan, baik secara metodologis maupun teoretis. Di dalamnya, si penulis mencampur-adukkan Marxisme, anarkisme dan sentimen romantik Goenawan Mohamad. Maklum, ketika itu si penulis masih duduk di bangku SMA. Tulisan ini dibuatnya sebagai tugas mata pelajaran Sosiologi, sekitar tahun 2004 atau 2005. Judul aslinya adalah ‘Perlawanan Sistematik Atas Kezaliman Global’ dan berikut ini dimuat tanpa perubahan. Kalau ada nilai didaktis dari tulisan berikut ini bagi kita di masa kini, itu tak lebih sebagai contoh tulisan Kiri yang ruwet secara metodologis: ilustrasi dari moralisme, voluntarisme, humanisme universil, Bonoisme dan kebodohan yang bersembunyi di balik kesimpulan-kesimpulan paradoksal, lengkap dengan segala tetek-bengek ideologi ‘kelas menengah ngehe’ pada umumnya. Itulah saya—sembilan tahun yang lalu.]

BILA Anda termasuk penggemar kajian sejarah berlatar peristiwa 1965, tentulah film Senyap atau dalam versi internasionalnya berjudul The Look of Silence, adalah tontonan yang tidak
Pendahuluan AWAL tahun ini kita dikejutkan dengan gejolak yang terjadi di dunia Arab. Dimulai dengan “révolution de jasmin” – revolusi melati di Tunisia yang berpuncak pada

MEMPELAJARI Marxisme di awal abad-21 sebenarnya memiliki banyak keuntungan. Dibanding generasi para Marxis pertama misalnya, kita punya hampir semua karya Marx-Engels yang bebas dan gratis

Kredit foto: The Scottish Sun SAAT ini, jutaan pasang mata di seluruh dunia tengah tertuju ke Rusia, tempat dimana kaki-kaki bernilai miliaran rupiah berlari-lari

Judul: ISLAM POLITIK: Sebuah Analisis Marxis Penulis: Deepa Kumar Editor: Coen Husain Pontoh Penerbit: Resist Book Yogyakarta ISBN: 978-979-1098-07-6 Jenis Cover: Soft Cover Halaman: 74

Tidak seperti biasanya, petang itu terasa aneh. Kami hanya bertemu beberapa orang saja dari anggota SENJA. Kami menunggu satu atau dua jam, berharap yang lain segera berkumpul seperti biasanya. Tapi, rupanya itu penantian yang sia-sia. Sungguh berbeda dengan waktu-waktu yang lalu ketika kampi mampir ke tempat ini, dimana dalam hitungan menit tempat ini sudah penuh sesak oleh mereka yang mampir dan nongkrong.
‘Kalau mau ketemu, kawan-kawan jangan hari Sabtu, bung. Itu haram. Hari sabtu pasti pada ngelayap ke mana-mana. Istilahnya, hari itu hari mereka untuk kejar setoran,’ ujar Heri Sunandar, koordinator SENJA saat ini.
SAAT menelusuri memori traumatik terbesar dalam kehidupan kolektivitas kita berbangsa, yaitu peristiwa kekerasan massal yang berlangsung pasca 1965, narasi penafsiran kita terhadap peristiwa tersebut seringkali

PADA 30 Oktober 2015, puluhan ribu buruh melakukan aksi menolak Peraturan Pemerintah (PP) No. 78/2015 Tentang Pengupahan. PP 78/2015 dianggap merugikan buruh, karena penetapan upah
Kapitalisme tidak lagi mengeksploitasi ‘status simbolik’ atau ‘utilitas’ yang dimiliki oleh sebuah produk, melainkan ‘pengalaman’ yang disediakan oleh produk tersebut. Dengan kata lain, kapitalisme menikmati ‘hasrat’ manusia yang muncul dari rasa nyaman ketika ia menikmati produk tersebut. Propaganda kapitalisme sekarang berkutat pada beberapa diksi seperti ‘nikmati!’ ‘nyamankan dirimu,’ dan ‘be a man,’ dan lain sebagainya, yang tidak lagi memberikan pilihan-pilihan utilitas kepada orang-orang untuk memilih, melainkan untuk menikmati parade yang ditampilkan oleh jejaring-jejaring kapitalisme.
Dalam konteks gerakan mahasiswa, kecenderungan sama juga dapat kita lihat. Alih-alih melakukan kritik, gerakan mahasiswa justru dihadapkan pada ‘kenikmatan’ ketika bersetubuh dengan kekuasaan politik. Kapitalisme telah menawarkan berbagai modes of jouissance, seperti ‘bantuan sosial,’ ‘proposal proyek,’ dan produk-produk yang ditawarkan oleh kapitalisme via ‘negara.’ Akhirnya, muncul kosakata baru, ‘jaringan’ yang bisa dinikmati sebagai privilege seseorang ketika menjadi aktivis. Kapitalisme membuat dimensi ‘aktivis’ menjadi kian absurd: ia tidak lagi menghambat seseorang untuk menjadi aktivis, tetapi justru menawarkan kenyamanan-kenyamanan tertentu yang membuat mahasiswa akhirnya ‘menikmati’ statusnya sebagai aktivis tersebut.
PADA situasi krisis di dalam masyarakat, ketika perjuangan kelas menajam, dimana kelas borjuasi tidak mampu lagi mengembalikan kestabilan sementara kelas pekerja walaupun bergejolak tetapi tidak mampu merebut kekuasaan, maka Negara dapat meraih kemandirian tertentu untuk bertindak guna menyelamatkan situasi. Sebuah masyarakat tidak bisa terus menerus ada di dalam tungku panas perjuangan kelas. Negara, dalam hal ini militer, mengintervensi. Di babak pertama revolusi Mesir, dengan menendang keluar Mubarak ketika ia dan partainya NDP tidak dapat lagi mengendalikan situasi dan menjadi liability; di babak kedua, dengan menendang keluar Morsi dan IM, juga untuk alasan yang sama. Inilah fenomena yang disebut Bonapartisme, yakni dimana, seperti yang dipaparkan oleh Ted Grant, ‘antagonisme di dalam masyarakat sudah menjadi begitu luar biasa sehingga mesin Negara, yang “meregulasi” dan “menertibkan” antagonisme ini, sementara masih tetap merupakan instrumen dari kelas yang berpunya, meraih kemandirian tertentu dari semua kelas.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.