Piala Dunia 2018: Gocekan Lionel Messi dan luka Buruh Garmen Indonesia

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto: The Scottish Sun

 

SAAT ini, jutaan pasang mata di seluruh dunia tengah tertuju ke Rusia, tempat dimana kaki-kaki bernilai miliaran rupiah berlari-lari di lapangan hijau memperebutkan Piala Dunia Sepakbola 2018. Di Indonesia, setiap ajang ini berlangsung, selalu muncul pertanyaan dan debat, mengapa penduduk berjumlah 200an juta ini tak bisa menghasilkan sebuah tim sepakbola mumpuni untuk berlaga di ajang tersebut. Apa yang salah?

Namun mengatakan bahwa Indonesia tidak berpartisipasi di ajang Piala Dunia adalah sebuah kekeliruan yang berawal dari ketidakpedulian. Sudah menjadi pengetahuan umum bagi official negara kontestan di piala dunia 2018, tanpa campur tangan Indonesia, mimpi untuk menjadi sang juara di Rusia hanyalah pepesan kosong. Indonesia justru menjadi negara yang paling berpengaruh di piala dunia. Indonesia adalah negara kunci di luar negara kontestan. Tulisan ini akan menunjukan bukti tersebut, melalui lensa kehidupan ribuan buruh di Indonesia.

 

Keringat Buruh Indonesia di Piala Dunia

Posisi penting Indonesia diajang piala dunia bukan tanpa sebab. Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat ramah terhadap kehadiran investor, khususnya yang bergerak di bidang tekstil dan produk tekstil. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM, 2017) menunjukan bahwa negara Indonesia masuk sebagai negara tujuan utama investasi dunia, dengan menduduki urutan keempat negara tujuan investasi. Keramahan pemerintah Indonesia terhadap investasi nampak pada berbagai kebijakan yang disinyalir sangat menguntungkan kapital dan disaat yang sama merugikan posisi buruh di Indonesia. Salah satunya adalah kebijakan soal pengupahan.

Sejak lima tahun terakhir, industri tekstil dan produk tekstil mulai menyerbu Indonesia khususnya penghujung tahun 2015. Sejak tahun 2015, pemerintahan Jokowi-Jk menggenjot perluasan lapangan pekerjaan di Indonesia, dimana perluasan pekerjaan itu dimaknai sebagai perluasan kesempatan investasi dengan memastikan komponen upah buruh berada dalam kontrol yang sangat ketat. Tidak terlalu sulit untuk mengingat bahwa tahun 2015 adalah awal dari fase sulit bagi gerakan buruh karena masih hangatnya kebijakan upah murah yang baru saja dicetuskan oleh pemerintahan Jokowi-Jk melalui PP 78/2015. PP ini semakin menguatkan arus investasi padat karya yang akan terus bergulir ke Indonesia. Bagi investor, ketakutan atas tuntutan buruh akan upah yang tinggi tidak perlu lagi di khawatirkan, karena melalui skema PP 78/2015 upah buruh sebagai elemen penting bisa ditekan serendah-rendahnya.

Terbukti, dari data yang dilansir oleh BKPM tercatat sejak tahun 2015 modal asing untuk investasi terus menggurita, dimana pada tahun yang sama realisasi investasi mencapai Rp. 545 Triliun, dan di tahun 2016 menjadi Rp. 613 Triliun. serta di tahun 2017 sudah mencapai Rp. 678 Trilliun (BKPM, 2017). Dari data tersebut tampak jika investasi selama kurang dari 5 tahun terakhir terus mengalami kenaikan hingga menjelang tahun 2018. Dari total investasi yang tersedia, alokasi investasi yang diperuntukkan bagi perluasan industri tekstil dan produk tekstil di sepanjang daerah Jawa yang sejak tahun 2015-2017 mencapai 30,289 proyek dengan total modal mencapai Rp. 717 Trilliun[1]. Hal ini mengonfirmasi bahwa besarnya gelombang masuk industri tekstil dan produk tekstil sebagai industri padat karya, salah satunya, karena rayuan penerapan upah murah itu. Jika dibandingkan dengan negara di Asia, Indonesia menempati urutan bawah untuk soal upah sangat rendah dibanding negara-negara di Asia lain seperti Kamboja[2].

PT Apparel One Indonesia (AOI) adalah salah satu perusahaan tekstil dan produk tekstil yang beroperasi di Indonesia sejak tahun 2011. Perusahaan yang berkantor di Semarang, Jawa Tengah ini, merupakan perusahaan yang memproduksi garmen dengan skema joint venture dari perusahaan Thailand, Liberty Group dengan Bina Busana Internusa (BBI). PT Apparel One Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang menyuplai produk Adidas di Indonesia untuk kemudian di ekspor. Sejak beroperasi tahun 2011, perusahaan ini telah melayani pasar global dari berbagai belahan dunia, seperti negara di benua Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Afrika dan Asia Pasifik (Lihat Gambar. 1)[3].

 

Gambar 1. Pasar yang dilayani oleh PT Apparel One Indonesia (AOI)

 

 

Selain PT. Apparel One Indonesia, yang juga tidak kalah penting adalah PT. Panarub Dwikarya & PT. Panarub Industry. Kedua PT ini juga menjadi faktor paling penting dihajatan piala dunia. PT. Panarub Dwikarya Group adalah perusahaan yang banyak memproduksi dan menyuplai perlengkapan piala dunia, seperti sepatu. Pada sebuah situs resmi PT. Dwikarya Industri, tercatat bahwa perusahaan ini sudah terlibat dan menjadi pemain kunci pada piala dunia sejak tahun 2002. Perusahaan yang menjadi mitra bisnis dari Adidas ini menjadi pencetus dari metamorfosis sepatu jenis Predatur yang kala itu digunakan para pemain dunia pada perhelatan di piala dunia 2002. Dengan sepatu jenis predaturnya, PT. Dwikarya group menjelma menjadi raksasa produsen sepatu sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai salah satu penyuplai sepatu terbesar di ajang piala dunia yang berlangsung di Korea Selatan dan Jepang pada tahun 2002 silam.[4].

Tidak berhenti di situ, sukses sebagai produsen sepatu jenis predator pada piala dunia 2002, perusahaan yang bermukim di Tangerang ini kembali membuktikan dirinya sebagai perusahaan yang punya andil besar pada hajatan piala dunia dengan kembali memproduksi jenis sepatu model Tunit. Sepatu keluaran Adidas ini menjadi sepatu yang digunakan pada hajatan akbar sepak bola dunia di Jerman, 2006. Sebelumnya, di luar hajatan akbar sepak bola dunia, perusahaan ini juga pernah mencatatkan namanya pada piala Eropa 2004, sebagai perusahaan yang menyuplai sepatu jenis Predatur Pulse dan F50. Bahkan, perusaahan ini bersama dengan Adidas sudah mengantarkan Lionel Messi memperoleh sepatu emas sebanyak lima kali pada ajang yang bergengsi. Diantaranya, sepatu emas Eropa di musim 2017-2018 lalu.

Di Indonesia juga terdapat perusahaan bergerak di bidang tekstil dan produk tekstil (TPT) yang sekaligus  sebagai penyuplai bagi Jersey Inggris yang diproduksi oleh Adidas. Salah satu perusahaan ternama yang sering berlangganan dengan jersey tim nasional Inggris adalah PT. Grand Best Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan ini bahkan menjadi peyuplai baju jersey tim nasiona Inggris sejak perhelatan piala Euro 2016. PT. Grand Best Indonesia menjadi perusahaan yang menopang penampilan Rooney dkk dalam beradu skiil di lapangan hijau.

Karena itu, tidak berlebihan jika tulisan ini menganggap Indonesia ikut berkontribusi pada hajatan piala dunia, lebih spesifiknya lagi adalah buruh garmen. Yah, buruh garmen adalah delegasi Indonesia di piala dunia 2018 yang terlupakan dan terabaikan di tengah-tengah deretan bintang sepak bola dari berbagai penjuru dunia. Meskipun tidak ada data yang konkret soal jumlah pekerja garmen di Indonesia, termasuk pekerja rumahan yang terlibat secara langsung, tetapi sejauh ini dari data BPS dapat dilihat jumlah tenaga kerja yang terlibat di industri pengolahan/manufaktur di atas angka 11 juta-an orang dan sektor ini merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia[5]. Artinya, setiap hajatan piala dunia, ada jutaan buruh di Indonesia yang secara tidak langsung punya kontribusi besar, khususnya dalam menyediakan alas sepatu, sepatu, sampai jersey yang digunakan para pemain bintang.

Delegasi Indonesia ini menjadi sangat penting bagi negara-negara peserta piala dunia, pasalnya tanpa keringat dan campur tangan buruh garmen di Indonesia, kita tidak akan menikmati deretan produk jersey produk Apparel yang merupakan mitra langsung dari Adidas dan model sepatu Adidas yang dikenakan para bintang itu. CR7, Messi dan Muhammad Salah tetap tidak berarti apa-apa tanpa keringat buruh. Capaian mereka hingga saat ini, salah satunya karena hasil kerja keras buruh garmen di Indonesia.

 

Piala Dunia & Kesejahteraan Buruh yang Terabaikan

Sayangnya, (kadangkala) satu-satunya delegasi¬† ini jarang mendapat perhatian orang banyak di Indonesia. Euforia para penikmat bola terlalu tertuju pada rival panas pemain terbaik di lapangan hijau. Sepanjang pertandingan 2×45 menit, penonton hanyut dalam debat soal siapa yang paling hebat, khususnya antara CR7 di Portugal yang hetrik saat melawan Spanyol di debut perdananya di piala dunia 2018 atau Messi yang gagal penalti saat menjamu Islandia di group D dalam babak lanjutan Piala dunia 2018, ataukah Muhammad Salah pemain bintang baru bersinar yang mengemas sepak bola dengan kekuatan religiutasnya namun tak sanggup menolong negaranya maju ke babak selanjutnya. Setelah itu selesai.

Padahal disaat yang sama, debat serius soal nasib buruh garmen sebagai orang yang menopang piala dunia absen. Boro-boro membicarakan nasib buruh garmen, terbesit untuk memikirkan nasib buruh garmen pun masih sangat jarang terjadi. Hingga wasit meniup peluit panjang pertanda pertandingan telah berakhir, perhatian para penikmat bola terlalu tertuju pada kemahiran para idola menari di atas rumput bersama dengan si kulit bundar.

Padahal, keringat pemain sepanjang 2×45 saat di lapangan hijau bahkan belum sebanding dengan keringat buruh untuk menghasilkan sepasang jersey buat Muhammad Salah, Messi dan CR7. Sepasang jersey harus ditukar dengan waktu seharian kerja bagi buruh garmen. Yang paling mencengangkan, adalah hasil investigasi media Inggris The Sun, yang sempat menghebohkan jagad sepak bola dunia. Media itu mengangkat pemberitaan yang membandingkan gaji buruh garmen di Indonesia yang memproduksi jersey buat Wayne Rooney dkk yang sangat tidak layak dibandingkan dengan hasil produski yang dihasilkan[6]. Bahkan sebagian media lokal di Indonesia mengangkat berita dengan narasi bermacam-macam, yang intinya menyayangkan skema pengganjian buruh garmen di Indonesia. Diantaranya Tribunnews, yang menulis upah buruh sebulan hampir setara dengan harga sebuah jersey yang di produksi atau setara dengan waktu bermain 10 menit Rooney[7]. Sekadar diketahui, satu set jersey untuk tim nasional Inggris yang dihasilkan dari tangan buruh di pasang dengan harga Rp 1.9 juta, dengan rincian harga baju Rp 1.1 juta, celana pendek Rp 541 ribu, dan kaos kaki Rp 251 ribu, sementara upah yang diterima saat itu hanya Rp 3.1[8].

Selain itu, nasib buruh di piala dunia yang masih sangat memprihatinkan adalah yang menimpa Kokom beserta ribuan buruh lainnya di PT Panarub Dwikarya (PDK). Kokom adalah buruh di PDK yang telah di PHK bersama dengan 1.300 rekannya dua tahun setelah piala dunia 2010. Alasan PHK hanya karena persoalan buruh menuntut hak untuk berserikat dan perbaikan kondisi kerja, namun disikapi secara tidak bijak oleh manjemen Panarub Dwikarya. Untuk diketahui, kondisi buruh yang mengantarkan dribbling Messi tidak sebaik nasib Messi. 1.300 buruh bekerja dengan kondisi kerja yang sangat memperihatinkan, diataranya kebebasan buruh harus direnggut dan upah selama Januari 2012 yang tidak dibayarkan. Tidak jarang buruh PDK ada yang mendapat kekerasan fisik seperti hukuman berdiri di pabrik hanya karena persoalan sepeleh. Selain itu, buruh yang dalam keadaan hamil juga masih harus bekerja keras. Banyak buruh perempuan yang masih ditempatkan di bagian mesin padahal dalam keadaan yang hamil, hingga ada beberapa buruh yang harus kehilangan bayi sejak dalam kandungan akibat kerja yang terlalu keras[9].

Padahal PDK adalah salah satu perusahaan penyuplai sportwears (alas kaki) merek Adidas. Ketika gocekan Messi dkk di lapangan begitu memukau, sepatu dan kaos kaki yang mereka gunakan adalah hasil keringat dari kawan-kawan buruh di Indonesia yang di PHK di tahun 2012. Saat, itu Adidas, melalui keringat buruh, telah mengantarkan gocekan Messi hingga ke babak seperempat final pada piala dunia 2010. Ironisnya, karier Messi yang terus meroket berbanding terbalik dengan nasib buruh yang memproduksi alas dan sepatu yang digunakannya. Sebuah data bahkan menyebutkan masa ini adalah masa kejayaan Panarub bersama Adidas, setelah sukses di piala dunia 2002 dengan jenis sepatu Prdetaor dan berulang di piala dunia model sepatu Tunit. Setahun setelah pelaksanaan piala dunia 2010, perusahaan ini berhasil mengekspor 12,6 juta pasang sepatu[10]. Dan setahun setelahnya, sebanyak 1.300 buruh harus kehilangan pekerjaannya.

 

Masa Depan Buruh Garmen di Indonessia

Nasib yang menimpa Kokom di PDK bukan tidak mungkin akan terjadi pada buruh yang lain. Di tengah sistem kerja yang sangat fleksibel, kapital akan dengan mudah menyerap tenaga kerja dan disaat yang sama juga sangat rentan untuk di PHK. Alasan mengejar target produksi menjadi salah satu pendorong diterapkannya sistem fleksibilitas kerja. Namun sabda yang sama juga sangat mudah di cetuskan ketika hajatan piala dunia berakhir dan suplay untuk jersey berkurang. Maka tidak menutup kemungkinan, rasionalisasi perusahaan, yang berarti merumahkan sebagian buruh mereka, menjadi bahasa yang akan disodorkan pada buruh.

Karena itu, bagi pecandu bola, tidak ada salahnya mengidolakan kemahiran pemain dalam memainkan tarian tango atau samba di lapangan hijau, namun di balik tarian memukau tersebut ingatlah bahwa ada ribuan buruh yang sedang menderita dan menuntut keadilan. Messi boleh saja piawai dalam menari di lapangan hijau, tetapi publik harus tahu bahwa di balik kepiawaian sang maha bintang itu, terdapat derita buruh garmen yang menuntut keadilan di Indonesia.***

 

Penulis adalah Penggiat di MAPCORNER UGM

 

————–

[1] Laporan BKPM, realisasi investasi di Indonesia tahun 2017.

[2] Lihat, Alih Aji Nugroho. 2017. Wujud Penghambaan Modal dalam kebijakan Pengupahan di Indonesia. MAPCORNER. https://mapcorner.wg.ugm.ac.id/2017/04/wujud-rezim-penghamba-modal-dalam-kebijakan-pengupahan-di-indonesia/, Diakses pada, 19/06/2018.

[3] http://www.aoi.co.id/v2/index.php/page/id/1/1, diakses pada 17/06/2018

[4] http://www.panarub.co.id/profile/company-profile, diakses pada 17/06/2018

[5] Laporan BPS 2018, Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia.

[6] https://soccer.sindonews.com/pialaeropa/read/1114541/200/media-inggris-ribut-soal-jersey-rooney-cs-buatan-indonesia-1465223546, diakses pada, 19/06/2018

[7] http://www.tribunnews.com/superskor/2016/06/07/buatan-indonesia-jersey-inggris-harganya-setara-sebulan-gaji-pekerja-pembuatnya?page=2, diakses pada 17/06/2018

[8] Sunardi. Piala Europa 2016 dan ancaman PHK di Indonesia. Kedaulatan Rakyat. Edisi, 15/6/2016.

[9] Wawancara dengan Kokom (Via Facebook), salah satu korban PHK dari PDK, 19/6/2018.

[10] http://www.panarub.co.id/profile/company-profile, diakses pada 17/06/2018

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus