Laboratorium Komunitas: “Di Bawah Tanah”

Print Friendly, PDF & Email

Salah satu aktivitas Komunitas Hysteria. Kredit foto: Greeners.Co

 

TELAH lama, kota identik menjadi wilayah pertempuran sengit antardimensi. Mulai dari dimensi sosial, sampai dimensi yang jarang terjamah, seperti penanganan limbah industri. Namun tak bisa dipungkiri, kota juga menjadi lahan impian dimana jutaan warga menggantungkan hidupnya untuk bekerja, tanpa begitu memperhatikan pembangunan serta ketimpangan yang tumbuh subur di dalamnya. “What is a city, but its citizen” celoteh Shakespeare (Budiharjo, 2014: 4).

Saat ini kota Semarang, Jawa Tengah, kian tumbuh dan berkembang, berikut dengan gurat pengalaman, asa, pun nelangsa yang tak abai menyelimutinya. Ia turut mencampuri tiap segi kehidupan warga. Termasuk persoalan hak atas ruang, pendidikan, ketahanan bencana, upaya mitigasi, tantangan sosial-budaya, dan sebagainya.

Sejak tahun 2006, komunitas Hysteria, sudah terbiasa bekerja dan berkolaborasi dengan sejumlah komunitas. Salah satunya, merintis beberapa festival lintas-disiplin dan seri diskusi terbuka. Namun pada tahun 2011, Hysteria fokus pada pengembangan komunitas, seni, anak muda, dan tata kota. Munculnya term ini tidak terlintas begitu saja; selain pada praktiknya sejak lama, namun terdapat kebutuhan untuk rebranding mengenai apa yang telah dikerjakan. Sebagai laboratorium komunitas, rangkaian program juga diadakan Hysteria untuk meningkatkan kapasitas komunal, mulai dari pelatihan hingga fasilitasi. Contohnya, penggunaan properti, layanan konsultasi, dan pemakaian ruang.

Beberapa waktu lalu, dalam wawancara bersama Ahmad Khairudin, atau akrab disapa “Adin”; salah satu penggagas Hysteria, terungkap bahwa persinggungan dengan banyak hal sebelumnya, membuat komunitas ini bergerak mendalami isu pengembangan masyarakat kampung kota. Terlebih, jika ingin membangun ekosistem kota yang baik; terutama dalam berkesenian, hal ini jelas membutuhkan dukungan antarpihak. Persinggungan dapat kita amati dalam ranah kehidupan sehari-hari. Seperti di isu lingkungan, wacana ekofeminisme kian terdengar luas, atau di isu budaya, kita tak hanya mengenal budaya sebagai nilai; identitas bagi suatu kelompok, namun juga sebagai media untuk penyadartahuan masyarakat, bahkan mampu melanggengkan hegemoni kalangan tertentu. Oleh karena itu, basis pengetahuan dan jaringan kelompok yang ada, butuh diketahui dan dielaborasikan untuk membangun komunikasi dan kerjasama multi-pihak.

Hysteria pun lahir sebagai buah kegelisahan yang kerap menyertai anak muda kala itu. Adin menjelaskan “mulai declare itu 2011, tapi dari 2007 sudah mulai gelisah… 2007 udah bikin kayak pemetaan, undang teater Semarang… Teater Semarang Hari Ini beberapa episode, terus Membaca Sastra Semarang Hari Ini… Karena kita itu pengin tahu, sebenarnya apa sih yang terjadi di kota ini… Kita ngga tahu kalo kita mau riset sejarah sastra di sini, mau riset sejarah pergerakan mana… Kita ngga tahu karena orang-orang itu ngga meninggalkan catatan. Lengkong Cilik, misalnya, ngga ada bukunya… Sanggar Seni Paramesthi yang udah dari tahun 90-an itu ngga ada bukunya, mana…” Adapun serpihan-serpihan esai yang orang-orang kumpulkan. Oleh sebab itu, Hysteria mengambil jalan tengah dengan mengundang orang-orang tersebut, dan akhirnya mereka menjajal bidang pemetaan, arsip, serta mendokumentasikan kumpulan data yang tersisa.

Adin menanggapi bahwa ketika kota ini hanya sibuk menjadi “konsumen” apapun; termasuk konsumen wacana, akan disayangkan karena perubahan membutuhkan pendekatan dan strategi holistik, baik secara budaya, ekonomi, politik, maupun bidang lainnya. Hysteria pun menjaring serta mendirikan basis pengetahuan sebagai bentuk aktivasi warga dalam pembangunan kota yang kreatif, humanis dan berkeadilan.

Dalam menyikapi kontestasi ruang atas kota, hak, peran maupun tanggung jawab masyarakat di dalamnya, Hysteria ikut meneliti, mengidentifikasi, dan memverifikasi persoalan yang melingkupi Kota Semarang, khususnya. Mereka berkarya melalui dialog, aktivasi ruang publik, serta mendorong masyarakat untuk aktif terlibat. Alfonso Gumucio-Dagron dkk, menjelaskan dalam buku Communication for Development and Social Change, bahwa jika masyarakat sipil bertujuan mengambil peran yang lebih besar dalam memahami dan bekerja untuk pembangunan, maka dialog tidak dapat dihindari. Begitu pula dengan organisasi pembangunan, dialog merupakan kunci dalam menjembatani kepentingan dan tujuan bersama; baik dari organisasi, pemerintah, ataupun masyarakat sipil.

Dalam hal tersebut, Hysteria menggunakan ‘seni’; apapun pendekatan, jenis, dan dialektika di dalamnya, sebagai wahana untuk memunculkan narasi-narasi baru tentang kota. Kemudian, narasi tentang bagaimana anak muda bisa mengasosiasikan karyanya dengan sejumlah isu di kampung kota, hingga menyebarluaskan aspirasi, kepentingan, dan peran anak muda dalam membangun kota yang mereka impikan. Hal selanjutnya tentu bagaimana meningkatkan kohesi sosial, mengembangkan kapasitas maupun keterampilan masyarakat (sebagai subjek aktif dalam pembangunan kota), serta mengadakan diskusi rutin mengenai persoalan di lingkungan sekitar; termasuk dualisme kepentingan kuasa dan modal yang cukup mendapatkan tempat tersendiri di Kota Semarang.***

 

Penulis aktif menjadi staf komunikasi INFIS (Indonesia Nature Film Society) di Bogor, di bawah Yayasan Rekam Nusantara

 

Kepustakaan:

Budiharjo, Eko. (2014). Reformasi Perkotaan: Mencegah Wilayah Urban menjadi ‘Human Zoo’. Jakarta: Kompas Gramedia.

Thomas, Pradip; Jan Servaes; Alfonso Gumucio-Dagron; dkk. (2007). Communication for Development and Social Change. New Delhi: SAGE Publications India Pvt Ltd.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus