Marxisme dan Masa Muda

Print Friendly, PDF & Email

Marx-MasaMuda

[Tulisan di hadapan pembaca ini berasal dari era yang berbeda: masa muda. Ini adalah contoh dari tulisan yang dihasilkan dari ketidakmatangan, baik secara metodologis maupun teoretis. Di dalamnya, si penulis mencampur-adukkan Marxisme, anarkisme dan sentimen romantik Goenawan Mohamad. Maklum, ketika itu si penulis masih duduk di bangku SMA. Tulisan ini dibuatnya sebagai tugas mata pelajaran Sosiologi, sekitar tahun 2004 atau 2005. Judul aslinya adalah ‘Perlawanan Sistematik Atas Kezaliman Global’ dan berikut ini dimuat tanpa perubahan. Kalau ada nilai didaktis dari tulisan berikut ini bagi kita di masa kini, itu tak lebih sebagai contoh tulisan Kiri yang ruwet secara metodologis: ilustrasi dari moralisme, voluntarisme, humanisme universil, Bonoisme dan kebodohan yang bersembunyi di balik kesimpulan-kesimpulan paradoksal, lengkap dengan segala tetek-bengek ideologi ‘kelas menengah ngehe’ pada umumnya. Itulah saya—sembilan tahun yang lalu.]

 

Sejak kehidupan terhampar di planet ini, ada dua naluri dasar yang tetap tinggal pada setiap organisme. Naluri untuk hidup dan naluri untuk mengembangkan kehidupan itu sendiri. Hal ini nampak lewat mekanisme DNA yang terdapat pada setiap unsur kehidupan. Seperti yang diungkapkan oleh Harold Morowitz:

Pesan yang terus menerus ada (DNA) adalah kebutuhan untuk memahami jaringan kompleks reaksi-reaksi organik yang mengandung perantara yang bersifat katalis bagi reaksi-reaksi lain…[1]

Berdasarkan naluri-naluri itulah, akhirnya kita tahu mengapa manusia mengembangkan otaknya dan melahirkan penemuan-penemuan seperti perkakas batu, pembuatan pakaian hingga pembuatan rumah-rumah primitif.

Akan tetapi di antara penemuan-penemuan itu, mungkin penemuan uang sebagai alat tukarlah yang merupakan perkembangan yang memiliki efek katalis luar biasa. Dari penemuan uang, manusia belajar bahwa penguasaan atas uang merupakan jalan yang paling efektif untuk memastikan kelangsungan dan kenikmatan hidupnya. Dan dengan menguasainya dalam jumlah besar, seorang manusia bisa menjadi lebih perkasa dibanding manusia lain.

Dari sinilah hasrat untuk mengakumulasi modal yang menjadi semangat kapitalisme itu berakar. Dengan akumulasi modal raksasa, seorang kapitalis merasa dapat menentukan ‘hitam-putih’-nya segala apa yang ada di dunia ini. Dari harapan semacam itu, persaingan modal demi perebutan hegemoni atas pasar tercipta. Semangat ini pulalah yang mendorong bangsa-bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudra. Sebuah tindakan yang menghasilkan eksplorasi menyeluruh atas dunia. Lebih jauh lagi, penjelajahan samudra memungkinkan modal merengkuh sampai sudut-sudut bumi. Menyelinap dalam relung dedaunan pohon purba di rimba gelap Afrika. Menculik suku-suku primitif Afrika untuk dijadikan budak. Atau dalam kata-kata Franz Fanon yang dikutip Goenawan Mohamad, ‘diundang untuk jadi manusia.’[2]

Konsekuensi logis dari penjelajahan samudra ini adalah eksplorasi total atas dunia. Pantai-pantai liar pada benua yang terlupakan di ujung samudra tak lagi punya tuah. Ia hanya punya harga. Jeram-jeram purba, rimba gelap gulita dan suku-suku terasing yang mendendangkan lagu di bawah purnama telah menyerah dalam rengkuhan modal lewat sederet konvensi. Garis-garis wilayah kekuasaan direntang seluas-luasnya. Dari utara, selatan, barat dan timur. Di segala penjuru mata angin modal mewujudkan diri.

Akhirnya pada suatu titik, modal juga menemukan bahwa pasar telah dibatasi oleh luas dunia ini. Pada bumi yang ternyata bulat ini, eksplorasi atas pasar akhirnya menemukan batasnya. Namun modal dapat mengatasi keterbatasan ruang itu dengan melakukan intensifikasi pasar. Efektivitas dan efisiensi proses produksi dan juga kelancaran distribusi produk menjadi pusat perhatian para pemodal. Oleh karenanya, teknologi lalu menjadi bidang yang disokong oleh pemodal. Teknologi ini ternyata memang mampu menyelesaikan inefektivitas dan inefisiensi produksi. Hal ini terbukti dalam revolusi industri di Eropa. Sejak saat itu, teknologi menjadi instrumen baru dari kaum pemodal.

Perkembangan teknologi menjadi pesat sejak revolusi industri karena persaingan antar pemodal untuk menguasai teknologi baru yang produktif. Semua itu semakin memicu berbagai penemuan baru yang terkait dengan pasar. Layanan pengiriman kilat, transportasi, telekomunikasi, manufaktur dan internet. Sehingga muncullah pelipatan ruang-waktu.[3] Seseorang dapat bepergian secara cepat dengan pesawat. Industri semakin efektif dan efisien dengan robot-robot yang selalu patuh dan tak pernah mengeluh. Setiap orang dari berbagai belahan dunia dapat bertemu dalam teleconference lewat internet. Pada akhirnya muncullah globalisasi. Sebuah tatanan dunia yang terangkai di mana seluruh aspeknya jalin-menjalin dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Dalam ranah globalisasi yang didasarkan oleh persaingan modal dalam memperebutkan hegemoni atas pasar, terdapat sebuah kekuatan baru yang seringkali tidak disadari. Kekuatan itu adalah citra. Setiap hari, sadar ataupun tidak, kita selalu dibombardir oleh citra. Citra tentang tubuh langsing ataupun kulit yang putih. Citra tentang obat mujarab ataupun kecap yang nomor satu. Seluruh citra tersebut tidak lain merupakan kepanjangan tangan dari modal. Dalam kondisi persaingan yang ketat, masing-masing pemodal pasti akan menggunakan segala cara untuk merebut dan mempertahankan ‘kepatuhan’ konsumen atas produk-produknya. Dan teknologi mutakhir memungkinkan citra-citra tersebut tampak begitu indah, begitu dramatis, begitu ‘benar.’

Globalisasi semacam itu menghasilkan ekses negatif yang niscaya. Pertama, pemotongan waktu turn over produk yang menyeret negara-negara ke model ekonomi-cepat. Persaingan ekonomi dalam skala global memaksa setiap pemodal untuk melakukan peremajaan kembali produknya. Seringkali perkembangan teknologi justru tertinggal di belakang produk-produk baru tersebut. Sehingga sebenarnya produk baru yang dilepaskan ke pasar tidak memiliki nilai objektif baru bila dibandingkan dengan produk yang lama. Contohnya, setiap jenis HP baru yang dilepas di pasaran belum tentu memiliki fasilitas baru dibanding jenis HP sebelumnya. Namun pasar masih dapat menerima produk semacam itu karena pemodal mampu menyuntikkan nilai subjektif ke dalamnya. Dengan kemasan baru, dengan iklan baru, dengan ‘makna’ baru yang dipompakan ke dalmnya, produk itupun remaja kembali dan diterima dengan senang hati oleh pasar. Di sini mulai tampak jelas peran yang dijalankan oleh citra. Konsekuensi dari pemotongan usia produk ini adalah munculnya dromonomic.[4] Siklus pemakaian produk menjadi pendek dan pasar dipacu untuk terus-menerus menerima produk-produk baru. Dan bagi mereka yang tidak mau ataupun tidak mampu mengikuti pola ini akan dikenai ‘sanksi’ berupa citra ketinggalan zaman. Hakikat ekonomipun bergeser, bukan untuk memenuhi kebutuhan tetapi untuk, di sisi pemodal, menciptakan rasa ‘kebutuhan’ dan, di sisi pasar, terus-menerus membutuhkan. Dalam hal ini pemodal memainkan peranan baru dalam proses produksi, yaitu memproduksi lack (kekurangan).

Ekses kedua ialah perubahan budaya yang terjadi terus-menerus dan dalam tempo yang cepat. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi logis dari pemotongan waktu turn over produk. Setiap produk yang dilemparkan ke pasar selalu membaya ‘pesan budaya.’ Contohnya, produk fast-food dan minuman instan membawa pesan budaya berupa budaya hidup cepat. Pesan budaya semacam ini sebenarnya juga termasuk komoditas yang ditawarkan oleh pemodal. Oleh karena itu, setiap pemodal pasti berupaya memperbarui pesan budaya yang ditawarkannya. Sebab dalam persaingan global, pemodal yang masih menawarkan ikon-ikon budaya yang kuno akan segera tersisih oleh pemodal-pemodal lain yang mengusung ikon-ikon baru yang lebih menggelitik pasar. Akibatnya terjadi perubahan budaya yang berlangsung terus-menerus dalam tempo yang cepat. Yasraf Amir Piliang menyebutkan bahwa dalam era globalisasi, muncullah manusia-manusia nomad, dalam artian orang yang tak lagi memiliki budaya atau nilai yang benar-benar dipegang teguh.[5] Namun saya kira, Yasraf tak sepenuhnya benar. Menurut saya, sebenarnya mereka memiliki sebuah budaya atau nilai yang mereka pegang, yaitu budaya ‘awan dele sore tempe’.[6] Manusia semacam itu beranggapan bahwa berganti-ganti nilai hidup adalah sesuatu yang wajar, tak ubahnya seperti berganti pakaian. Sehingga satu-satunya nilai yang mereka pegang adalah ketiadaan nilai tetap itu sendiri. Sekali lagi citra memainkan peranan yang penting. Citraan yang luar biasa membuat mereka justru tidak sadar bahwa mereka sebenarnya berada dalam krisis nilai hidup. Mereka mengalami keterasingan atas keterasingannya atas kemanusiaan. Mereka tidak menyadari ketercerabutan mereka sendiri dari akar kemanusiaan yang sejati. Hal ini terjadi karena citraan yang ada membentuk pola pikir mereka bahwa nilai hidup memang harus mampu berubah-ubah mengikuti tren yang ada. Dan kehidupanpun kian banal.

Ketiga, jebakan peraturan global. Organisasi dunia macam PBB memiliki andil penting dalam proses penetapan segala peraturan global. Dengan mengatasnamakan globalisasi, peraturan demi peraturan ditetapkan. PBB memang merupakan representasi dari negara-negara di dunia. Namun seringkali tidak disadari bahwa sebenarnyaada kekuatan sebagian kelompok kecil yang mendominasi. Jika kita mencermati peraturan semacam perdagangan bebas, kita akan dapat melihat lebih jelas. Bagi negara dunia ketiga, peraturan semacam itu jelas merupakan jurang kehancuran mereka. Dengan dihapuskannya tarif masuk, industri dalam negeri negara dunia ketiga akan hancur dan negara-negara dunia ketiga hanya akan menjadi jajahan dari negara-negara maju. Sebuah imperialisme akan tercipta. Namun ini bukan neo-imperialisme yang biasa diserang oleh Bung Karno. Saya akan menyebut fenomena ini sebagai postmodern imperialism. Saya mengusulkan istilah itu karena dalam imperialisme baru ini, citra memainkan peranan penting. Terjadi permainan bebas tanda-tanda (free play of signs) berupa citra-citra yang berseliweran yang membentuk dan memaknai realitas.[7] Contohnya, citra tentang demokrasi global sebenarnya merupakan alat yang digunakan negara-negara maju pemodal untuk membentuk kesadaran negara dunia ketiga bahwa PBB adalah lembaga dunia yang legitimate dan akhirnya membuat negara dunia ketiga menurut pada aturan PBB yang sebenarnya dikontrol oleh modal negara maju.

Telah kita tahu bahwa negara dunia ketiga merupakan korban dari globalisasi semacam itu. Oleh karena itu, sebelum kita merumuskan solusi yang tepat, mari kita melihat beberapa aspek yang terkait. Aspek pertama, kehadiran perusahaan-perusahaan transnasional. Perusahaan semacam ini memiliki pengaruh yang besar dalam peta kekuatan dunia. Bahkan beberapa pakar mengemukakan bahwa paradigma nation-state centered telah tergantikan oleh paradigma trans-national corporation centered. Hal ini dapat dipahami berdasarkan asumsi bahwa modal selalu terdorong untuk berakumulasi sebesar-besarnya. Awalnya modal dapat merealisasikan dirinya dalam ranah negara. Tetapi kemudian dirasakan bahwa operasi dalam tataran negara selalu terbatas. Sehingga akhirnya modal merealisasikan diri secara penuh tak lagi dalam negara tetapi dalam perusahaan transnasional. Namun saya lebih memandang kehadiran perusahaan semacam ini sebagai aliansi modal negara-negara maju. Mereka membentuk aliansi-aliansi untuk mengakumulasi modal yang lebih besar dan berkekuatan dahsyat untuk saling bersaing dalam memperebutkan hegemoni total atas pasar dunia.

Aspek kedua, matinya perjuangan kelas di negara-negara maju. Dalam era globalisasi sekarang ini, perjuangan kelas di negara maju untuk menumbangkan otoritas negara dan menggantikannya dengan kediktatoran proletariat speerti dalam wacana Marxisme telah berakhir. Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan kematian perjuangan kelas dalam negara. Hal pertama adalah Taylorisme. Frederic Taylor merumuskan teorinya dalam buku ‘The Principles of Scientific Management’ yang terbit tahun 1911. Antonio Gramsci menyimpulkan pandangan Taylorisme ke dalam tiga hal.[8] Yaitu, seperti diungkapkan Nezar Patria dan Andi Arief, pertama, pembatasan pada tugas tertentu dalam proses produksi. Kedua, sikap otomatisasi yang mekanis sebagai proses produksi; dan ketiga, proses penyuapan berbentuk insentif yang melunturkan semangat solidaritas kaum pekerja. Oleh karena itu, Taylorisme ‘telah menekan kemampuan kritis kaum buruh dan membunuh tendensi-tendensi alamiah mereka untuk mewujudkan organisasi-organisasi kolektif.’[9]

Hal kedua adalah tumbuhnya model ekonomi demassifikasi.[10] Hal ini berdasarkan ramalan Alvin Toffler yang sekarang mulai terbukti. Ia menyebutkan bahwa:

Dalam sektor Gelombang Ketiga, produksi massal digantikan oleh lawannya, yaitu produksi demassifikasi—rentang produksi yang pendek, bahkan yang menurut pesanan, diproduksi satu demi satu, didasarkan pada program komputer dan pengendalian numerik.[11]

Dengan model semacam itu, buruh akan semakin tersegmentasi ke dalam beragam jenis industri. Sehingga kesadaran kirits kaum buruh sebagai massa proletariat yang sama-sama tertindas menjadi luntur. Lebih jauh lagi, demassifikasi juga memotong jumlah buruh karena, sesuai dengan pengertian Alvin Toffler, teknologi dan komputasi mulai memagang peranan penting. Pada akhirnya kedua hal tersebut menggantikan fungsi buruh sehingga pemotongan besar-besaran terhadap jumlah buruh tidak terelakkan lagi.

Hal ketiga, buah dari penerapan konsep negara kesejahteraan. Segala tunjangan sosial dan subsidi diberlakukan di negara-negara maju yang menganut prinsip welfare state. Sehingga kesadaran akan ketertindasan rakyat menjadi luntur. Hal ketiga dan kedua ini pada gilirannya akan ikut membentuk generasi baru di negara maju. Persoalan tentang generasi baru ini akan diuraikan pada aspek ketiga yang akan membantu merumuskan solusi kita.

Aspek ketiga, munculnya pekerja berpengetahuan sebagai kelas sosial baru terutama di negara-negara maju. Dalam hal ini saya mengikuti asumsi Peter F. Drucker bahwa ‘sekarang pengetahuan telah menjadi modal sejati bagi perekonomian maju.’[12] Di negara maju, kondisi ekonomi yang mapan dan dengan banyaknya tunjangan sosial dan pendidikan pada akhirnya menciptakan gelombang generasi baru yang well-educated. Pasar tenaga kerja merespon perkembangan ini dengan menciptakan bidang pekerjaan yang mampu mengoptimalkan kekuatan baru ini. Bidang-bidang penelitian dan pengembangan serta bidang-bidang lain yang sarat dengan intelektualitas menjamur di setiap perusahaan. Kondisi ini menciptakan keniscayaan terhadap munculnya kelas sosial baru, yaitu kelas pekerja berpengetahuan. Namun kondisi semacam ini tidak terjadi secara merata di seluruh dunia. Di negara maju yang kekayaannya berlimpah, riset-riset dan sekolah bermutu tercipta secara besar-besaran. Sementara itu, di negara dunia ketiga yang perekonomiannya morat-marit dan sarat akan utang, perkembangan itu merayap dengan amat perlahan. Situasi ini menciptakan ketimpangan yang jelas antara negara maju dan negara ketiga. Hal ini digambarkan dengan sangat baik oleh Kwik Kian Gie:

Kemampuan ekonomi suatu bangsa ditentukan oleh kemampuannya untuk memproleh nilai tambah tertinggi. Hal ini hanya bisa dicapai melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Swiss tidak menghasilkan sebijipun kopi, tetapi Nescafe merajai dunia.[13]

Realitas ketimpangan alat produksi berupa intelektual ini menyebabkan ekses yang sangat jelas, pertentangan langsung antara negara maju dan negara ketiga.

Aspek keempat, lahirnya kelas buruh dan kelas majikan global. Ketimpangan alat produksi berupa intelektualitas tersebut menciptakan dua kelas global yang saling bertentangan, yaitu negara dunia ketiga sebagai kaum proletar dan negara maju sebagai kaum borjuis. Negara maju yang menguasai modal dan intelektual menciptakan teknologi dan industri baru. Sementara, negara ketiga mengalami penghisapan atas barang­-barang mentah yang mereka miliki dan mengerjakan pekerjaan kasar seperti menjadi penebang kayu, buruh dan pembantu rumah tangga. Globalisasi yang berjalan selama ini akhirnya mereduksi dunia sebagai ‘pabrik-dunia’ di mana negara maju hadir sebagai kelas majikan dan negara dunia ketiga sebagai kelas buruhnya. Dalam hal ini, tampak bahwa Marxisme tidaklah seusang yang dikira orang. Kita teringat kembali akan kata-kata Marx yang menggelegar dan bernada profetis dalam Manifesto of the Communist Party yang dikutip sebagai berikut:

Jadi dengan perkembangan industri besar, dari bawah kaki borjuasi mereka berproduksi dan mencaplok produk-produknya. Borjuasi memproduksikan penggali kuburnya sendiri. Keruntuhannya dan kemenangan proletariat tak terelakkan.[14]

Namun beberapa dari kita mungkin akan mempertanyakan mengapa keadaan pertentangan secara langsung tersebut belum tampak sampai sekarang. Hal ini berhubungan dengan persoalan citra yang telah saya singgung sebelumnya. Oleh karena itu, mari kita membahasnya lebih lanjut.

Aspek kelima, matinya kesadaran akan penindasan rezim modal global atas rakyat negara dunia ketiga. Selama ini jika terjadi kesulitan ekonomi dalam negara dunia ketiga, rakyatnya akan justru memprotes negara itu sendiri. Harga BBM naik, harga sembako naik, harga kebutuhan hidup naik, rakyat cenderung akan menyalahkan pemerintah negaranya. Mereka seringkali tak menyadari bahwa naiknya harga-harga tersebut bisa saja terjadi karena pertemuan suatu elit kecil pemimpin bisnis yang sebagian besar berkulit putih yang berkumpul di tempat sunyi yang berjarak ratusan mil dari negara mereka. Rakyat belum memiliki kesadaran bahwa pengaruh globalisasi bisa sangat mendalam pada setiap negara di dunia. Sekarang negara dunia ketiga justru merupakan korban dari tatanan global yang tidak adil.

Lebih lanjut lagi, pencitraan yang dipompakan oleh kepentingan modal mampu menyusup sampai ke media-media lokal. Mempengaruhi pola pikir setiap manusia di negara dunia ketiga. Menghanyutkan mereka ke dalam ekstase tren yang berubah-ubah kian cepat. Membuat mereka menyembah lembaga-lembaga global dengan kepatuhan buta. Membuat mereka terpana memandang ‘dewa-dewi’ yang kemilau di televisi. Membuat mereka lupa bahwa tidak semua yang berkilau itu emas. Membuat mereka lupa bahwa ketika esok tiba, ‘dewa-dewi’ itu menghilang di antara asap-asap pabrik dan deru mesin yang bising. Dan akhirnya mereka harus mengerjakan pekerjaan rutin keseharian mereka. Menyekrup, menyapu, menebang, mencangkul. Melakukan pekerjaan yang bukan pekerjaan ‘dewa-dewi.’ Dan terus mengulang-ulang hal itu sampai ke liang kubur. Terpesona-tertindas, terpesona-tertindas dan begitu seterusnya. Tenggelam dalam absurditas kehidupan.

Maka dari itu, hanya ada satu kata: Lawan! Untuk itu pula, saya mengajukan sebuah solusi yang akan saya namai sebagai Solusi X. Solusi ini menggunakan model perlawanan sistemik yang berbasis pada isu-isu anti-kekerasan, kultural, feminisme, ekologi, ekonomi, politik dan kemanusiaan. Saya mengadopsi solusi strategis ini dari Fritjof Capra dengan beberapa perubahan fundamental. Capra mengusulkan strategi perlawanan atas ketidakadilan global dengan berdasar pada model jaringan seperti dalam tubuh organisme. Ia sangat yakin bahwa keberhasilan model perlawanan yang dipraktekkan dalam ‘Koalisi Seattle’ pada bulan November 1999. Koalisi Seattle adalah semacam upaya terorganisir NGO (Non-Governmental Organization) di seluruh dunia dalam menolak sidang WTO di Seattle, AS. Hasilnya memang menakjubkan. Sekitar 50.000 demonstran dari ratusan NGO di seluruh dunia turun ke jalan dan memblokade gedung pertemuan. Pertemuan WTO tersebut gagal dan walikota Seattle memberlakukan darurat sipil. Mereka bubar setelah pada hari kedua, polisi menyerang secara brutal kerumunan massa aksi. Peter Walken, salah seorang peserta aksi, mengomentari aksi tersebut secara menggugah, seperti yang dikutip oleh Capra:

The Ruckus Society, Rainforest Action Network, Global Exchange dan ratusan lainnya ada di sana, dikoordinasikan melalui telepon seluler, email dan Direct Action Network … Mereka terorganisasi, terdidik dan berkemauan. Mereka adalah aktivis hak asasi manusia, aktivis buruh, masyarakat adat, kaum agama, buruh pabrik baja dan petani. Mereka adalah aktivis pelestarian hutan, aktivis lingkungan, aktivis keadilan sosial, mahasiswa dan guru. Dan mereka ingin World Trade Organization mendengar. Mereka berbicara atas nama dunia yang tidak dibuat lebih baik oleh globalisasi.[15]

Saya sendiripun sepakat bahwa model perlawanan yang tepat atas ketidakadilan global adalah perlawanan yang berdasarkan model jaringan seperti yang diusulkan Capra. Lebih lanjut, saya menambahkan bahwa perlawanan ini seharusnya dipandang sebagai wadah aliansi kelas buruh baru, yaitu negara dunia ketiga, yang melawan tirani negara maju dan trans-national corporation sebagai kelas majikan baru. Dengan pemahaman semacam ini, perjuangan yang nantinya digulirkan seharusnya tidak berhenti pada kemenangan-kemenangan palsu dan sesaat, tetapi benar-benar mampu mengubah sistem sampai ke akar-akarnya.

Terkait dengan itu, jaringan antar NGO di seluruh dunia harus menyatukan kekuatannya dalam sebuah wadah organisasi global yang hegemonik dan kontra terhadap PBB yang telah terkooptasi rezim modal global. Dengan akumulasi kekuatan semacam itu, pesan perlawanan yang hendak diserukan kepada warga dunia akan terdengar lebih kuat dan berpengaruh. Jaringan antar-NGO ini seharusnya berbasiskan kaum middenstand yang terpelajar dari negara dunia ketiga dan juga dari negara maju yang rela melakukan ‘bunuh-diri kelas’ seperti yang terbukti pada Koalisi Seattle.

Menurut saya, NGO-NGO yang terangkai dalam jaringan di dalam wadah organisasi global itu seharusnya bergerak dalam unit-unit organisasi kecil yang mampu menyusup ke tingkat mikro. Masuk ke dalam masyarakat lokal dan memberikan penyadaran-penyadaran pada rakyat kecil di berbagai negara. Ketimbang melakukan serangan langsung atas permasalah global yang ada, seperti Koalisi Seattle yang melawan kebijakan ekonomi WTO, serangan pertama seharusnya justru ditujukan pada perebutan kepemilikan alat produksi citra yang hegemonik. Penyadaran langsung rakyat di negara dunia ketiga harus menjadi perhatian utama. Kesadaran akan ketertindasan mereka harus dibangkitkan terlebih dahulu sebelum serangan umum terhadap globalisasi dilancarkan. Lewat dominasi atas citra-citra yang hegemonik, gerakan ini dapat menciptakan deprivasi relatif[16] dalam tubuh masyarakat negara dunia ketiga sehingga melepaskan belenggu ketaksadaran terhadap ketertindasan mereka. Dalam hal ini, keberadaan seniman dan budayawan adalah sebagai lokomotif kesadaran kritis bagi rakyat negara dunia ketiga. Keduanya harus mampu memadukan unsur pop dan revolusioner menjadi budaya ‘pop baru’ yang menguakkan tabir ketaksadaran masyarakat.

Tujuan akhir dari Solusi X bukanlah menghancurkan globalisasi itu sendiri, melainkan menghancurkan sistem yang membuat globalisasi menjadi jahat. Cita-cita Solusi X bukanlah tatanan komunis dunia seperti yang ada dalam wacana Marxisme. Namun mewujudkan suatu sistem global baru yang lebih ramah terhadap kehidupan. Kehadiran organisasi global baru yang hegemonik itu, setelah berhasil menghancurkan sistem global yang ada, lebih berfungsi sebagai penjaga keseimbangan dinamika manusia yang seringkali menghancurkan kehidupannya sendiri. Kita menyadari, dengan segala kelebihannya manusia dapat menciptakan penemuan-penemuan baru yang tak jarang justru merusak dunia. Namun, dengan segala kelebihannya itu, manusia juga dapat menjadi pemelihara alam, seorang warga bumi. Oleh karena itu, sistem global yang tepat menurut saya justru bukan sistem yang menciptakan ‘dunia orang-orang sama.’ Bukan juga sistem yang menciptakan ‘dunia orang-orang kaya.’ Justru dengan kesadaran bahwa semua manusia selalu dapat berbuat khilaf, baik terhadap sesama maupun alam, sistem global yang ada seharusnya justru mampu menjaga titik keseimbangan alam. Bukankah selama ini Ibu Bumi telah mengajarkan itu kepada kita?

Namun, kita mungkin akan melihat, bertahun-tahun dari sekarang, perjuangan itu berhasil dan terbentuk organisasi global baru. Dengan nilai-nilai baru. Dengan aturan-aturan baru. Dan akhirnya dengan penindasan-penindasan baru. Mungkin juga dengan penghancuran-penghancuran baru. Mungkin. Tak seorangpun tahu. Mengutip Goenawan Mohamad, ‘kita tahu perjalanan sejarah manusia ibarat pematang yang genting: berlumpur, tak bersih, licin… Lebih gampang menghasilkan hukum fisika di sebuah laboratorium: di keheningan itu, yang dihadapi adalah sehimpun benda yang tanpa kata.’[17] Ya. Mungkin… Sayapun tahu, di sini, di depan komputer ini, pada sebuah kamar yang penuh asap rokok dalam keheningan dini hari, manusia bisa salah. Namun, apakah kita tak punya harapan?***

[2004-2005]



[1] Fritjof Capra. The Hidden Connections. Jalasutra. 2004.

[2] Goenawan Mohamad. Pada Suatu Hari, Ikarus. Tempo. 2003.

[3] Yasraf Amir Piliang. Dunia Yang Dilipat. Jalasutra. 2004.

[4] Dromonomik (dromos: cepat) adalah sebuah tatanan ekonomi di mana yang tercepatlah yang akan menang (survival of the fastest). Ibid.

[5] Yasraf Amir Piliang. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Jalasutra. 2004.

[6] Sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang menggambarkan orang yang tidak memiliki pegangan nilai yang tetap.

[7] Yasraf Amir Piliang. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Jalasutra. 2004.

[8] Nezar Patria dan Andi Arief. Antonio Gramcsi: Negara & Hegemoni. Pustaka Pelajar. 2003.

[9] Ibid.

[10] Alvin Toffler. Kejutan dan Gelombang. Pantja Simpati. 1987.

[11] Ibid.

[12] Peter F. Drucker. The New Reality. Elex Media Komputindo. 1997.

[13] Iman Toto K. Rahardjo dan Herdianto W.K. (ed.). Bung Karno dan Ekonomi Berdikari. Grasindo. 2001.

[14] Franz Magnis-Suseno. Pemikiran Karl Marx. Gramedia Pustaka Utama. 1999.

[15] Fritjof Capra. The Hidden Connections. Jalasutra. 2004.

[16] ‘Deprivasi relatif adalah perbedaan situasi yang kita kehendaki dengan situasi kita sekarang ini. Supaya terjadi revolusi, penderitaan itu harus disadari oleh kebanyakan orang.’ John Foran (ed.). The Future of Revolutions. Insist Press. 2004.

[17] Goenawan Mohamad. Tempurung. Tempo. 2002.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.