1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 112

Paling Sering Dibaca

Malapetaka ‘65 yang Belum Usai

Resensi Buku Judul buku: Malapetaka di Indonesia: sebuah renungan tentang pengalaman sejarah gerakan kiri Penulis: Max Lane Penerbit: Penerbit Djaman Baroe, 2012 Tebal: xiv +

Strategi Alternatif Politik Elektoral (kiri)

  MENYIMAK berbagai artikel dan editorial IndoPROGRESS dalam kurun waktu 4 bulan terakhir ini, diskursus utama yang coba dihadirkan adalah soal bagaimana kalangan kiri progresif

Membaca Manifesto Komunis Secara Dialektis

“Working men of all countries, unite!”[1] adalah kalimat penutup Manifesto Komunis (selanjutnya Manifesto) yang paling sering dilafalkan. Frasa ini bukan slogan tanpa landasan teoritik. Pertama,

Jalan Terjal Komune Paris (Bagian I)

Ilustrasi: Illustruth KAUM borjuis Prancis telah lama meraih kemenangan. Sejak revolusi 1789, mereka adalah kelompok yang meraup kekayaan, sementara kelas pekerja secara terus-terusan harus menanggung

Ahok dan Komunis

Di zaman Orde Baru, tuduhan komunis jelas bukan perkara main-main, karena itu bisa berarti kematian hak-hak sipil dan politik serta hak ekonomi, sosial dan budaya bagi si terduduh. Karena itu, setelah kejatuhan rezim orba, seluruh elemen pro-demokrasi berusaha sekuat mungkin untuk tidak menggunakan kata komunis sebagai alat untuk memojokkan lawan-lawan politiknya. Pertama, karena faktor kesejarahannya yang berdarah dan brutal tersebut; dan kedua, karena memang telah terjadi pemutarbalikkan dan penjungkirbalikkan yang luar biasa terhadap sejarah gerakan dan pemikiran komunis itu sendiri.

Tentu saja tetap ada yang getol menggunakan kata komunis untuk menyerang atau menyingkirkan lawan politiknya. Siapa mereka? Tidak lain adalah tentara dan kalangan Islam Politik. Tapi, sejauh ini tuduhan-tuduhan komunis itu sudah dianggap sebagai lelucon belaka, sebuah cara berpolitik yang tak beradab. Mereka yang menuduh lawan politiknya sebagai komunis, pasti si penuduh dianggap sebagai politisi yang goblok dan tukang konspirasi.

Film Pesta Oligarki: Apakah Oligarki Membunuh Demokrasi?

Pesta Oligarki masih percaya bahwa demokrasi dapat ditubuhkan menjadi negara melalui prinsip representasi. Padahal, prinsip representasi negara telah nyaris sepenuhnya terintegrasi ke dalam mekanisme oligarki yang mereproduksinya.

Marxisme dan Meditasi (2)

  KALAU di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan kepada Anda soal meditasi dan apa yang bisa kita petik dari sana, kali ini saya akan meneruskan

In Memoriam A.S. Dharta (1924-2007)

SEPI sudah. Tak ada diskusi-diskusi, tak ada canda. Tak ada panutan. Selepas pemakaman A.S. Dharta atau Klara Akustia, anak dan cucu-cucunya terdiam di kamar kecil

Anak Muda, Kerentanan dan Partai Politik Alternatif

MENGIKUTI perkembangan wacana pembangunan partai politik alternatif, ‘anak muda’ mulai diperbincangkan sebagai elemen yang perlu terlibat di dalamnya. Tulisan Kawan Danang Pamungkas dan Rio Apinino

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.