Malapetaka ‘65 yang Belum Usai
Resensi Buku Judul buku: Malapetaka di Indonesia: sebuah renungan tentang pengalaman sejarah gerakan kiri Penulis: Max Lane Penerbit: Penerbit Djaman Baroe, 2012 Tebal: xiv +
Resensi Buku Judul buku: Malapetaka di Indonesia: sebuah renungan tentang pengalaman sejarah gerakan kiri Penulis: Max Lane Penerbit: Penerbit Djaman Baroe, 2012 Tebal: xiv +
MENYIMAK berbagai artikel dan editorial IndoPROGRESS dalam kurun waktu 4 bulan terakhir ini, diskursus utama yang coba dihadirkan adalah soal bagaimana kalangan kiri progresif
“Working men of all countries, unite!”[1] adalah kalimat penutup Manifesto Komunis (selanjutnya Manifesto) yang paling sering dilafalkan. Frasa ini bukan slogan tanpa landasan teoritik. Pertama,

Jalan yang kutuju amat panas, Banyak duri pun anginnya keras Tali-tali mesti kami tatas Palang-palang juga kami papas Supaya jalannya SAMA RATA Yang berjalan

Ilustrasi: Illustruth KAUM borjuis Prancis telah lama meraih kemenangan. Sejak revolusi 1789, mereka adalah kelompok yang meraup kekayaan, sementara kelas pekerja secara terus-terusan harus menanggung

Kredit ilustrasi: NCCJ SYAHDAN, Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya ‘Ulumuddin pernah membagi puasa ke dalam tiga kategori. Puasa kategori pertama adalah puasa awwam, puasa

Kredit foto: abc.net.au (1) DELAPAN tahun silam, ketika masih bergiat di satu organisasi mahasiswa Muslim di Indonesia, saya mendapat kesempatan memoderatori sebuah diskusi seru: bedah

Di zaman Orde Baru, tuduhan komunis jelas bukan perkara main-main, karena itu bisa berarti kematian hak-hak sipil dan politik serta hak ekonomi, sosial dan budaya bagi si terduduh. Karena itu, setelah kejatuhan rezim orba, seluruh elemen pro-demokrasi berusaha sekuat mungkin untuk tidak menggunakan kata komunis sebagai alat untuk memojokkan lawan-lawan politiknya. Pertama, karena faktor kesejarahannya yang berdarah dan brutal tersebut; dan kedua, karena memang telah terjadi pemutarbalikkan dan penjungkirbalikkan yang luar biasa terhadap sejarah gerakan dan pemikiran komunis itu sendiri.
Tentu saja tetap ada yang getol menggunakan kata komunis untuk menyerang atau menyingkirkan lawan politiknya. Siapa mereka? Tidak lain adalah tentara dan kalangan Islam Politik. Tapi, sejauh ini tuduhan-tuduhan komunis itu sudah dianggap sebagai lelucon belaka, sebuah cara berpolitik yang tak beradab. Mereka yang menuduh lawan politiknya sebagai komunis, pasti si penuduh dianggap sebagai politisi yang goblok dan tukang konspirasi.

Pesta Oligarki masih percaya bahwa demokrasi dapat ditubuhkan menjadi negara melalui prinsip representasi. Padahal, prinsip representasi negara telah nyaris sepenuhnya terintegrasi ke dalam mekanisme oligarki yang mereproduksinya.

KALAU di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan kepada Anda soal meditasi dan apa yang bisa kita petik dari sana, kali ini saya akan meneruskan
SEPI sudah. Tak ada diskusi-diskusi, tak ada canda. Tak ada panutan. Selepas pemakaman A.S. Dharta atau Klara Akustia, anak dan cucu-cucunya terdiam di kamar kecil

MENGIKUTI perkembangan wacana pembangunan partai politik alternatif, ‘anak muda’ mulai diperbincangkan sebagai elemen yang perlu terlibat di dalamnya. Tulisan Kawan Danang Pamungkas dan Rio Apinino
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.