1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 100

Paling Sering Dibaca

Penjara dan Sejarah

Sehimpunan sajak SA memang lahir dari penjara, bukan dari Grand Indonesia—karena itulah editor dari penerbit Ultimus memberikan judul Puisi-Puisi dari Penjara, bukan Puisi-Puisi dari Grand Indonesia. Dengan demikian, penjara menjadi situs kelahiran sehimpunan sajak SA—sajak-sajak SA yang terhimpun dalam Puisi-Puisi dari Penjara merupakan hasil kreasinya pada kurun waktu 1966-1978, masa-masa ketika SA menjalani kehidupan sebagai tahanan. Dari sudut pandang demikian, saya melihat kata “penjara” dalam sehimpunan sajak SA pertama-tama bukan sebagai metafora, melainkan sebagai realitas. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga: penjara yang masuk dalam nomenklatur kata benda berarti bangunan tempat mengurung orang hukuman; bui; lembaga pemasyarakatan. Inilah arti (sense) dari penjara versi KBBI. Lantas bagaimana dengan makna (meaning) dari “penjara” itu sendiri?

‘Front Pembela Islam’ yang Sesungguhnya

Kita perlu front pembela Islam yang sesungguhnya: membela umat yang harus membayar mahal untuk pengobatan COVID-19, mereka yang tidak bisa mengakses dan membeli vaksin, atau mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi.

Orde Baru dan Budaya Anti Intelektual

Beberapa Catatan Untuk Coen Husain Pontoh   TULISAN ini dimaksudkan untuk menanggapi tulisan Coen Husain Pontoh berjudul Buta Huruf Marxisme yang dimuat di IndoPROGRESS pada

Suluh Yang Tunduk Di Hadapan Kapital

Tanggapan Untuk Goenawan Mohamad (GM) TULISAN panjang GM, Emansipasi: Ngelmu Kuwi, menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut. Tanggapan saya ini, khusus menyoroti pemaparan GM tentang aliran

Tuhan Di Bumi

TUGAS utama teologi materialis bukan hanya memahami tuhan materialis, namun terlebih ia juga menginvestigasi segala daya upaya untuk mengondisikan kehadirannya. Hal ini utamanya dilakukan dengan menetapkan dimensi ontologis dari materi, yaitu sebagai suatu totalitas yang sepaket dengan negativitasnya, lack-nya. Mengapa demikian? tuhan yang imanen dalam materi tidak akan pernah kompatibel dengan sifat keterhinggaan materi tersebut; ia akan selalu melubangi materi.

Percetakan

Di percetakan, isi buku juga tak bermakna. Sang doktor luar negeri yang harus membaca puluhan buku teori politik dan menulisnya banting-tulang, tak akan mendapat ‘belas kasihan’ atau ‘salut hormat’ dari percetakan. Kedoktorannya tak membuat harga cetak bukunya lebih murah atau lebih mahal atau lebih diprioritaskan waktu cetaknya dari buku resep masakan tulisan sarjana Google. Jika perkara teknisnya sama, maka sebuah majalah berisi ide-ide progresif nan heroik pun pasti setara posisinya dengan selebaran harga barang-barang Alfamart.

Melawan Fundamentalisme Agama: Perppu Bukan Solusi

Kredit ilustrasi: http://newsfirst.lk   PERATURAN Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 tahun 2017 tentang Ormas resmi diberlakukan oleh pemerintah, Rabu (12/7) pekan lalu. Alasan pemerintah

Retorika Sapaan Louis Althusser

BAGI beberapa orang, terutama yang memiliki nama asli yang panjang dan njlimet, nama panggilan yang singkat (dan cenderung imut) adalah solusi yang paling mudah dan

Marxisme dan Epikureanisme

DALAM perbincangan sehari-hari, Marxisme punya hubungan yang agak aneh dengan hedonisme. Di satu sisi, ada orang kebanyakan yang setidaknya pernah mendengar bahwa Marxisme didasarkan pada

Kritik Ideologi atas Agama Sebagai Akar Kekerasan

SEPANJANG tahun 2010, kita menyaksikan rangkaian konflik berlatar-belakang agama. Dari penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah di Desa Manis Lor, sengketa pendirian tempat ibadah, hingga penusukan seorang pendeta di Bekasi. Kondisi ini seolah menunjukkan, sebagai bangsa kita tidak bisa hidup bersama dalam pluralitas.

Celakanya, aksi kekerasan berlatar agama biasanya “ditutup-tutupi” oleh pemuka agama itu sendiri. Mereka berdalih agama pada dasarnya menganjurkan kebaikan, perdamaian, hidup rukun, dan saling menghormati. Konflik agama muncul karena adanya oknum-oknum yang memanfaatkan agama demi kepentingan politik maupun golongan tertentu (Haryatmoko, 2003:73). Sejarah membuktikan agama selalu dekat dengan konflik dan kekerasan. Pertentangan antara Protestan dan Katolik di Eropa abad ke-17, perang salib yang melibatkan dua peradaban besar, juga konflik antara Hindu dan Muslim di India. Fakta-fakta ini menunjukkan, agama rentan dengan konflik dan kekerasan. Perlu sikap hati-hati dalam memandang agama, sebab realitas terkadang dimentahkan oleh argumen-argumen keinginan (baca: ideologi agama).

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.