1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 100

Paling Sering Dibaca

Retorika Sapaan Louis Althusser

BAGI beberapa orang, terutama yang memiliki nama asli yang panjang dan njlimet, nama panggilan yang singkat (dan cenderung imut) adalah solusi yang paling mudah dan

Marxisme dan Epikureanisme

DALAM perbincangan sehari-hari, Marxisme punya hubungan yang agak aneh dengan hedonisme. Di satu sisi, ada orang kebanyakan yang setidaknya pernah mendengar bahwa Marxisme didasarkan pada

Negeri, Negara & Menjadi Merdeka (I)

Kredit ilustrasi: akarfoundation.wordpress.com ‘Tim-Tim’, Orde Baru & Nasionalisme-Amarah “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya ..” (W.R. Soepratman, Indonesia Raya, 1945) POLITISI mempunyai budaya politik tertentu. Di Indonesia,

Marxisme dan Matematika

TAK BANYAK orang yang tahu bahwa Marx meninggalkan manuskrip seribu lembar tentang matematika. Manuskrip itu ia tuliskan selama waktu senggang pada tahun 1881. Isinya adalah pemaparan tentang kalkulus diferensial. Proyek penulisan itu tak hanya memiliki nilai rekreasional bagi Marx, tetapi juga ditujukan untuk menguasai salah satu sarana kunci dalam program kritik ekonomi-politik yang tengah ia jalankan. Paul Lafargue melaporkan bagaimana Marx percaya bahwa ‘sebuah ilmu tak akan sungguh-sungguh berkembang sebelum ilmu tersebut belajar menggunakan matematika.’

Elite Serikat Buruh Ngehek

Kredit foto: Didaktika UNJ DEMONSTRASI kaum muda (Mahasiswa dan Pelajar/STM) sejak tanggal 19 hingga 30 September 2019, merupakan fenomena baru di zaman milenial. Mahasiswa dan

Bergereja Berarti Melawan

Kredit foto: Anakpawis Partylist   SEBENARNYA, apakah gereja itu? Gereja, selama ini, selalu dipahami hanya sebatas gedung. Biasanya, itu adalah tempat orang Kristen berkumpul tiap

Kala Butet Memuji Freeport

SIAPA tak kenal Butet Kertaradjasa? Ia lebih dari sekadar seniman penghibur. Bersama Djaduk Ferianto dan Agus Noor, ketiganya sering membuat pementasan akbar. Cirinya selalu sama:

Strategi Defensif dan Ofensif

Beberapa waktu lalu, secara tidak langsung, saya mendapatkan kiriman artikel yang ditulis James Petras, guru besar sosiologi di universitas Binghamton, AS. Dalam artikel berjudul ,

Ketidakberdayaan sebagai Landasan Kebenaran

“Menghadirkan suara-suara marjinal dalam ruang maupun wacana publik bukan lagi sekadar soal inklusivitas, melainkan juga soal sejauh mana kita ingin mendekatkan diri kepada kebenaran yang membawa kita kepada pembebasan.”

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.