Perempuan dan Laki-Laki, Bersatulah! Lawan Penindasan terhadap Perempuan!

Print Friendly, PDF & Email

Fathimah Fildzah Izzati, anggota redaksi Left Book Review IndoProgress, peneliti di Pusat Penelitian Politik LIPI

 

Barrett - Womens Oppression Today - PRINT

 

Judul buku                : Women’s Oppression Today: The Marxist/Feminist Encounter

Penulis                       : Michele Barrett

Penerbit                     : London, Verso

Tahun terbit              : 2014

Jumlah halaman      : xix+285 hlm

 

PENINDASAN terhadap perempuan sebagai basis dari analisis feminisme tentunya dapat diidentifikasi dengan mudah di berbagai tempat dalam berbagai rentang sejarah. Tesis-tesis mengenai penindasan terhadap perempuan pun muncul dari para feminis dengan beragam pendekatan teoritis. Salah satu di antaranya ialah pendekatan feminisme Marxis. Perkembangan kajian, analisis, serta teori feminisme, khususnya feminisme Marxis, telah berkembang dengan pesat setidaknya dalam tiga hingga empat dekade terkahir. Bagi para pembaca dan peminat kajian feminisme Marxis, perkembangan terbaru mengenai kajian, studi, dan teori dalam feminisme Marxis tentu sangat dinantikan. Michele Barrett menyajikan perkembangan tersebut secara lengkap, meski tidak dengan cara yang sederhana, dalam buku setebal 285 halaman berjudul ‘Women’s Oppression Today: The Marxist/Feminist Encounter. Dalam pengantarnya untuk buku ini, Kathi Weeks, seorang feminis Marxis otonom menyatakan bahwa buku Barrett penting karena menunjukkan bahwa hubungan kapitalisme dengan penindasan terhadap perempuan harus dipahami sebagai buah bukti pembentukan empiris daripada sebagai sebuah prasyarat logis. Selain itu, Weeks juga menghargai upaya Barrett untuk menunjukkan kemungkinan-kemungkinan sekaligus keterbatasan studi psikoanalisis bagi perkembangan teori feminisme Marxis.

Dengan meninjau beragam pemikiran, kajian, dan studi yang telah dilakukan berbagai teoritisi feminisme, sosiologi, hingga psikoanalisis, Barrett seperti menghadirkan sebuah ensiklopedia feminisme Marxis dalam bukunya ini. Dalam buku ini, Barrett menguraikan posisinya terhadap beragam konsep yang selama ini sering digunakan dalam berbagai analisis feminisme Marxis. Sebagai seorang Althusserian, Barrett menolak teori-teori feminis dengan pendekatan post-Althusserian, yang meletakkan seluruh aspek penindasan terhadap perempuan dalam teori diskursus. Bagi Barrett, posisi perempuan dan laki-laki dalam pembagian kerja dan juga struktur kelas adalah konkret secara sejarah dan dapat diidentifikasi dengan sangat mudah. Dengan menjadikan Inggris sebagai lokasi studi, Barrett sangat menyoroti perihal ideologi yang menurutnya memiliki posisi penting dalam pembentukan/konstruksi dan reproduksi penindasan terhadap perempuan serta tidak dapat dilepaskan posisinya dari hubungan-hubungan ekonomi. Ia menekankan bahwa ideologi gender-pemaknaan maskulinitas dan femininitas-secara sejarah sangat beragam dan tidak semestinya diperlakukan dengan statis, melainkan seharusnya dijelaskan dalam konteks sejarah dan kelas yang berbeda dimana hal tersebut berada.

 

Kritik Terhadap Penggunaan Konsep-Konsep dalam Feminisme

Dalam membuka tulisannya, Barrett mengajukan posisinya mengenai relasi antara perjuangan melawan kapitalisme dengan perjuangan untuk pembebasan perempuan. Menurutnya, feminisme tidak diasosiasikan secara alami dengan gerakan Kiri. Maka, gerakan perempuan dengan komitmen untuk sosialis harus dimajukan karena penindasan terhadap perempuan tidak hanya bisa selesai di level teori. Di sini, ia menolak bahwa perempuan adalah pondasi satu-satunya dari gerakan feminisme. Menurutnya, perempuan bukanlah kelas sosial tersendiri dan hal ini ia tunjukkan dengan menguraikan ketegangan yang terjadi, misalnya, antara perempuan Asia dan Barat, serta antara perempuan kulit putih dan kulit hitam, yang biasanya berangkat dari perbedaan posisi mereka dalam struktur sosial masyarakat. Terkait hal ini, ia mengkritik feminisme radikal yang menurutnya tidak memiliki analisis mumpuni mengenai strategi politik untuk mencapai perubahan politik yang memadai.

Pada bab 1 yang berjudul ‘Some Conceptual Problems in Marxist Feminist Analysis’, Barrett mengungkapkan bahwa terdapat problem konseptual dalam analisis feminis Marxis dimana hal ini disebabkan oleh keterbatasan analisis Marxis yang menurutnya masih gender blind. Akibatnya, para feminis Marxis seringkali menggunakan konsep-konsep yang kurang tepat dalam kerangka Marxis ketika mengkaji feminisme. Oleh karena itu, ia kemudian menguraikan tinjauannya atas tiga konsep yang sering digunakan dalam teori-teori feminisme, termasuk feminis Marxis, yaitu patriarki, reproduksi, dan ideologi. Dalam hal konsep patriraki, Barrett mengkritik Kate Millet yang menolak adanya perbedaan kelas di antara perempuan (hlm. 11). Menurut Barrett, problem dalam konsep patriarki ialah bahwa patriarki digunakan untuk menjelaskan dominasi laki-laki tanpa mampu menjelaskan keterbatasannya dalam konteks sejarah yang spesifik, perubahan-perubahan serta perbedaan-perbedaannya. Masalah utama dari konsep patriarki ialah bahwa patriarki merupakan sebuah sistem dominasi yang mandiri sepenuhnya dari relasi organisasi produksi kapitalis dan kemudian analisisnya seringkali jatuh ke dalam universalistik yang kemudian berujung ke dalam biologisme.

Diskusi mengenai konsep patriarki sebagaimana yang ada saat ini, menurut Barrett masih belum banyak berkembang. Padahal, konsep patriarki sebagai konsep yang mengungkapkan kuasa garis ayah dengan patriarki sebagai dominasi laki-laki atas perempuan perlu dibahas lebih lanjut. Meski demikian, diskusi mengenai hal ini dapat ditemui dalam usaha terkini yang menggunakan konsep patriarki dalam konjungsinya dengan analisis Marxis, seperti dalam analisis Eisenstein yang mengungkapkan bahwa patriarki mendahului kapitalisme (hlm. 16-17).

Kemudian, mengenai konsep reproduksi, Barrett membedakan reproduksi biologis dengan reproduksi sosial yang mana jika kedua jenis reproduksi ini tidak dibedakan maka akan menimbulkan problem dimana relasi reproduksi seringkali dideskripsikan sebagai relasi patriarkal yang berada di luar relasi produksi kapitalis.

Pembahasan seputar analisis mengenai reproduksi sosial amat erat kaitannya dengan persoalan mengenai kerja, termasuk mengenai kerja domestik.[1] Terkait hal ini, Barrett kemudian meninjau pandangan Wally Seccombe, Olivia Adamson, dan Veronica Beechey. Seccombe mengkaji fungsi kapital dalam penindasan terhadap perempuan di ranah domestik dan Adamson berpandangan bahwa penindasan terhadap perempuan ditujukan untuk dan dilakukan oleh relasi produksi kapitalis. Adamson juga melihat bahwa perjuangan melawan kapital adalah perjuangan melawan kerja domestik dan perjuangan melawan kerja domestik adalah perjuangan melawan kapital (hlm. 21-23). Argumennya berangkat dari kerja domestik yang tidak dibayar dan penuh ketidakpastian, serta upah rendah sebagai mekanisme ganda dimana kapitalisme mengeksploitasi bukan hanya perempuan tapi juga seluruh kelas pekerja (hlm. 22-23).

Barrett kemudian bersepakat dengan poin-poin yang diajukan Beechey dimana buruh perempuan upahan lebih menguntungkan kapital karena upah buruh perempuan sangat murah. Upah murah buruh perempuan merefleksikan sebuah situasi dimana perempuan dibayar di bawah nilai tenaga kerja dan atau nilai dari tenaga kerja perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Hal ini jelas menguntungkan kapital karena menurunkan tingkat upah secara keseluruhan sehingga terkait hal ini, keberadaan keluarga pun kemudian mensyaratkan perempuan untuk menghadiahi keuntungan bagi kapital (hlm. 25-27). Selanjutnya, menurut Barrett, usaha-usaha untuk mengombinasikan analisis reproduksi sosial dengan analisis mengenai reproduksi manusia yang patriarkal merepresentasikan masalah fundamental yang dihadapi feminis Marxis. Maksudnya, konsep reproduksi sosial yang sangat berhubungan erat dengan hubungan kelas di akar produksi kapitalis tidak dapat disambungkan langsung secara tepat dan pas dengan konsep mengenai dominasi laki-laki (hlm. 27-29). Oleh karena itu, menurut Barrett, konsep patriarki tidak selalu bisa digunakan dalam analisis feminisme Marxis.

Mengenai konsep ideologi, Barrett setuju dengan pemikiran Louis Althusser dan menyatakan bahwa pemikiran Althusser mengenai ideologi merupakan pemikiran penting dalam pendekatan teori Marxisme. Pengertian ideologi menurut Althusser adalah pengalaman hidup yang merepresentasikan hubungan individual yang imajiner ke dalam kondisi yang nyata. Individu dibentuk atau dikonstruksi serta direproduksi di dalam ideologi (hlm. 30). Menurut Barrett, pembangunan dalam teori feminis Marxis berhutang pada pemikiran Althusser mengenai ideologi. Dalam bab 1 ini sangat terlihat bahwa Barrett merupakan Althusserian dimana ia kerap menujukan kritiknya terhadap para teoritisi feminis post-Althuserrian. Selain itu, Barrett mengungkapkan bahwa di dalam kesimpulan nanti, ia harus kembali kepada pertanyaan krusial mengenai hubungan antara kapitalisme dengan penindasan kepada perempuan dan kemugkinan pembebasan perempuan dalam masyarakat kapitalis. Dalam hal ini. Barrett menegaskan bahwa salah satu tujuan bukunya ini adalah untuk menambahkan beberapa detail hubungan antara proses ekonomi dan ideologi dari penindasan terhadap perempuan. Di akhir, berdasarkan uraiannya mengenai ketiga konsep yang sering digunakan dalam feminisme tersebut, Barrett mencatat bahwa ketiga konsep ini sangat penting dan utama untuk dibahas lebih lanjut pemaknaan dan penggunaannya dalam analisis feminis Marxis mengingat ketiga konsep ini digunakan dengan perbedaan makna yang luas (hlm. 38-41).

Pada bab 2 ‘Femininity, Masculinity, and Sexual Practice’, Barrett membahas persoalan yang berkaitan dengan perempuan dan seksualitas dimana di dalamnya mencakup pembahasan mengenai romantisme, cinta, perkosaan, dan sebagainya. Pemikiran yang ia tinjau dalam bab ini di antaranya ialah pemikiran Margaret Mead dan Ann Oakley dimana mereka memberikan sumbangan penting terhadap pemahaman yang diterima oleh para feminis hingga saat ini mengenai perbedaan antara sex dan gender (hlm. 43). Tesis Barrett, seksualitas perempuan dan dorongan umum mengenai perkawinan monogami heteroseksual dapat dijelaskan bukan dengan merujuk pada patriarki atau supremasi laki-laki, tetapi pada fungsi yang dibutuhkan mode produksi kapitalis. Dalam hal ini, Barrett meninjau pemikiran beberapa teoritisi seperti Frederick Engels dan Juliet Mitchell mengenai keluarga, untuk menjawab pertanyaannya mengenai hubungan antara gender, seksualitas, dan formasi sosial kapitalis secara umum. Pembahasan mengenai keluarga diletakkan Barrett dalam hubungannya dengan negara dan struktur penindasan terhadap perempuan di bawah kapitalisme. Dalam kaitan dengan analisis mengenai seksualitas yang banyak menggunakan pendekatan psikoanalisis, Barrett menyatakan bahwa usaha untuk mengintegrasikan perspektif meterialis dengan psikoanalisis masih selalu menjadi usaha yang tidak memuaskan (hlm. 243).

 

Penindasan Perempuan Dilanggengkan secara Ideologis

Kemudian, dalam bab 3 ‘Ideology and the Cultural Production of Gender’, Barrett menguraikan beberapa tesisnya mengenai ideologi dan produksi kultural gender. Sebagaimana dua bab sebelumnya, Barrett meninjau beberapa pemikiran teoritisi untuk menunjang tesis-tesisnya. Pada bab ini, ia mengajukan tesisnya mengenai ‘materialitas dari ideologi’ setelah mengritik para pemikir post-Althusserian seperti Paul Hirst dan Barry Hindess, dimana Barrett mengemukakan bahwa ia lebih sejalan dengan argumen yang dikemukakan Althusser bahwa ideologi berada dalam aparatus-aparatus dan praktik-praktik material sehingga ideologi ini bersifat material (hlm. 84-90). Barrett menggunakan karya Virginia Woolf sebagai contoh dari hal tersebut, bahwa seberapapun Woolf berimajinasi dalam novelnya, imajinasi tersebut tetaplah berpijak pada suatu kondisi yang bersifat material (hlm. 89). Terkait dengan itu, Barrett menolak teori diskursus pada feminisme karena penjelasan eksklusif yang ditempatkan dalam praktik yang diskursif membawa permasalahan bagi feminisme itu sendiri. Soal diskursus mengenai kategori ‘perempuan’ misalnya, hal tersebut menurut Barrett hanya akan membawa ketidakjelasan agenda dalam perjuangan feminisme dan pada akhirnya membuat feminisme tidak dilihat sebagai praktik politik yang berbasis kepada analisis mengenai dunia (hlm. 93-95). Dalam bab ini, Barrett menekankan bahwa ideologi sebagai kerja untuk mengkonstruksikan arti tidak dapat dipisahkan dari kondisi material dalam sebuah periode sejarah.

Pada bab 4 yang berjudul ‘The Educational System: Gender and Class’, Barrett menguraikan sistem pendidikan dalam membentuk pemahaman mengenai gender dan kelas. Dalam menguraikan hal tersebut, Barrett membahas pemikiran Althusser mengenai pendidikan dimana pendidikan ditujukan untuk mempertahankan/mereproduksi ideologi dominan (hlm. 116). Femininitas dan maskulinitas misalnya, dikonstruksi melalui pendidikan dan hal ini ditunjukkan dengan jelas misalnya dalam sistem pendidikan di Inggris. Barrett kemudian membahas artikel AnnMarie Wolpe berjudul ‘Education: the Road to Depedency’ (1977) yang ia anggap sebagai artikel penting yang menjelaskan pendidikan sebagai agen dominan dalam reproduksi kapitalis. Dalam artikel tersebut, Wolpe menjelaskan sistem pendidikan merupakan kunci dalam produksi dan reproduksi struktur ideologi. Menurut Wolpe, pembagian kerja secara seksual yang ada di dalam keluarga sejalan dengan pembagian kerja yang ada di tempat kerja dimana kedua sistem ini sangat berhubungan dan sistem pendidikan berfungsi untuk memuaskan kebutuhan dari keduanya (hlm. 119-121). Selain Wolpe, Barrett juga membahas pandangan Bourdieu dan Passeron mengenai pendidikan dimana kedua pemikir ini menyatakan bahwa sistem pendidikan yang ‘netral’ melegitimasi keberadaan kelas yang diuntungkan sistem. Di akhir, Barrett menyatakan bahwa pendekatan yang digunakan oleh Gramsci mengenai sistem pendidikan berguna bagi analisis feminisme Marxis (hlm. 123). Kesimpulan Barrett, gender bukanlah unsur yang terpisahkan dari hubungan kelas meskipun belum ada formulasi yang memuaskan mengenai hubungan antara kelas dan gender.

Selanjutnya, dalam bab 5 ‘Gender and the Division of Labour’, Barrett menguraikan pandangannya mengenai gender dan pembagian kerja. Uraiannya berangkat dari permasalahan klasik mengenai pembagian kerja di rumah dan di tempat kerja. Selain upah yang rendah, jam kerja yang panjang, perempuan juga seringkali diupah di bawah standar minimum. Struktur dan ideologi keluarga menjadi bagian tidak langsung dari terbatasnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja (hlm. 158). Barrett juga membahas konstruksi femininitas dalam kerja yang pada akhirnya membuat posisi perempuan terpinggirkan. Barrett mengemukakan bahwa relasi produksi kapitalis ditandai oleh pemisahan rumah dan tempat kerja yang diikuti oleh pembangunan produksi dalam skala besar di bawah sistem upah. Konsekuensi dari pemisahan rumah dan tempat kerja ialah munculnya proses ideologis yang melibatkan pendirian area domestik yang terprivatisasi yakni ‘rumah’ sebagai wilayah khusus bagi perempuan, ‘femininitas’ dan maternalitas. Perempuan bergantung pada upah laki-laki dan ketergantungan yang dimediasi melalui upah ini dikondisikan oleh ideologi yang melibatkan ketergantungan lainnya seperti ketergantungan emosi, fisik, dan moral.

Adanya studi terhadap perempuan misalnya mengenai kebiasaan permepuan yang lebih mengutamakan laki-laki dan anak anak mereka dalam hal memakan makanan, juga membuat kapitalisme bersemangat untuk melegitimasi hal-hal yang ‘feminin’ tersebut melalui pemberian upah yang lebih rendah terhadap perempuan (hlm. 182-183). Terlebih lagi, konsep ‘feminin’ ini juga telah masuk ke dalam kecenderungan umum yang membedakan tenaga kerja berdasarkan tingkat keahlian (skill) dimana hal ini memberikan konsekuensi yang signifikan bagi perempuan, dimana tingkat skill pun kemudian tidak dengan sendirinya menentukan tingkat upah mereka (hlm. 167-169). Menurut Barrett, pertanyaan mengenai skill adalah pertanyaan utama untuk memahami bagaimana gender menyatu ke dalam pembagian kerja. Ini misalnya, dapat dilihat dari distribusi kerja perempuan yang tidak merata dan lebih banyak ke industri-industri tertentu dengan kondisi kerja lebih buruk dan penuh kerentanan.

Di dalam bab ini, Barrett kembali menyoal kerja domestik. Barrett menekankan bahwa kerja domestik dapat dipahami dalam fungsinya untuk kapitalisme dan hal tersebut dapat dilihat dalam dua hal. Pertama, reproduksi tenaga kerja; kedua, reproduksi relasi produksi. Ini sejalan dengan Seccombe yang memandang kerja domestik sebagai behind the scene dari produksi kapitalis (hlm. 174). Dengan demikian, intensifikasi kerja domestik ini bersifat fungsional bagi kapital. Menurut Barrett, kapitalisme sendiri tidak dapat bertahan tanpa kerja domestik. Kapitalisme tidak menciptakan kerja domestik atau area ‘feminin’ dari buruh upahan, tapi kapitalisme menciptakan seperangkat hubungan sosial dimana pembagian kerja tidak hanya mereproduksi tapi juga menyolidkan hubungan yang berbeda-beda dalam sistem buruh upahan. Berangkat dari hal ini, maka, karakter penindasan terhadap perempuan berbeda-beda di setiap kelas sosial. Pembagian kerja secara gender dari produksi sosial dalam kapitalisme sendiri tidak dapat dipahami tanpa referensi atau rujukan mengenai organisasi rumah tangga dan ideologi familialism. Area ini merepresentasikan lokasi utama dari hubungan antara laki-laki dan perempuan, konstruksi gender secara individu, dan sangat dekat dengan organisasi sosial produksi. Menurut Barrett, struktur dan ideologi keluarga dalam kapitalisme kontemporer adalah isu yang paling penting bagi pendekatan feminis Marxis manapun (hlm. 186).

Di bab berikutnya, yakni bab 6 yang berjudul ‘Women’s Oppression and the Family’, Barrett memfokuskan pencariannya atas jawaban untuk menghasilkan analisis yang memadai mengenai keluarga, sebaga tempat utama dari penindasan terhadap perempuan. Barrett meninjau pemikiran Eli Zaretsky yang menurutnya berhasil menjelaskan bahaya dari asumsi pemisahan ‘yang personal’ dan ‘yang sosial’, dimana hal tersebut berangkat dari kritik Zaretsky terhadap feminis lain seperti Shulamith Firestone dan Kate Millet. Akan tetapi, analisis Zarestky, menurut Barrett, juga mengandung bahaya, dimana Zaretsky gagal membedakan ideologi individualisme dalam struktur keluarga yang berbeda dalam periode sejarah yang berbeda (hlm. 190-191). Selain itu, Barrett juga mengkritik pemikiran Ann Foreman yang melihat sistem buruh upahan dalam kapitalisme sebagai perusakan keberadaan subjektif individual sebagai tenaga kerja dan pada saat yang bersamaan menghancurkan organisasi produksi rumah tangga. Meskipun demikian, Barrett melihat bahwa sintesis yang dihasilkan Foreman mengenai Marxisme dan psikonalisis lebih memadai daripada Zaretsky (hlm. 191-192).

Dalam analisis mengenai konsep keluarga, Barrett menolak untuk meletakkan keluarga dan pembagian kerja di dalamnya sebagai sebuah proses natural yang bersifat biologis. Menurut Barrett, konsep keluarga harus dibaca secara historis dimana konsep mengenai keluarga berubah-ubah dari waktu ke waktu dan dibentuk atau dikonstruksi dalam mode atau corak produksi tertentu. Barrett pun kemudian mengajukan studi Jean-Louis Flandrin yang mengungkap perubahan konsep keluarga di Perancis dari waktu ke waktu (abad 16 hingga 18) sebagai studi rujukan. Selain itu, Barret juga menjadikan studi Mark Poster sebagai rujukan (hlm. 200). Poster mengkaji struktur keluarga dari kelas yang berbeda dimana Poster mengkaji perbedaan keluarga petani dan aristokrat. Poster menyatakan bahwa konsep keluarga yang dominan di kalangan kelas pekerja ialah konsep keluarga borjuis. Dalam konteks kapitalisme abad 21, Barrett menguraikan proses yang terjadi dalam sistem organisasi rumah tangga dimana terdapat hubungan antara aspek ekonomi rumah tangga dan ideologi keluarga. Barrett mengungkapkan bahwa ideologi keluarga dimana konstruksi individual mengenai gender dibentuk, kemudian beranjak ke wilayah dimana housework atau kerja domestik dan childcare/tempat penitipan anak ditempatkan dalam hubungannya dengan sistem produksi ekonomi. Barrett menyimpulkan bahwa kemungkinan pembebasan perempuan secara krusial berada di dalam sebuah re-alokasi tempat penitipan anak, meskipun pembagian kerja secara gender dalam ruang buruh upahan tidak akan mengakhiri penindasan terhadap perempuan (hlm. 226).[2]

Di bab 7 yang berjudul ‘Feminism and the Politics of the State’, pembahasan Barrett difokuskan pada bagaimana hubungan antara perjuangan feminisme dan negara. Dalam penjelasannya, Barrett menunjukkan contoh-contoh yang membuktikan keterlibatan negara dalam praktik penindasan terhadap perempuan, seperti misalnya sistem pendidikan yang mereproduksi ideologi yang mensubordinasi perempuan dan hukum yang merugikan posisi perempuan ketika misalnya terjadi kasus perkosaan dimana aparat penegak hukum malah menuduh perempuan sebagai penyebab terjadinya perkosaan. Demi melawan kondisi sedemikian, ia menyimpulkan bahwa negara bukanlah alat yang telah pada dasarnya merupakan alat penindas, melainkan ia adalah lokasi perjuangan yang harus dipertimbangkan dengan serius. Oleh karenanya, penting bagi feminisme bertarung di level negara dengan merumuskan strategi politik yang jelas. Dalam agenda perjuangan politik ini, ia menekankan prinsip bahwa perempuan bukanlah kelas sosial tersendiri dan oleh karenanya sulit untuk mengatakan bahwa bahkan jika representasi perempuan dalam politik meningkat akan secara otomatis menguntungkan kepentingan perempuan secara umum. Dalam hal ini, Barrett mencontohkan apa yang terjadi di Inggris, dimana perdana menteri perempuan pertama di Inggris memotong anggaran pengeluaran publik untuk perumahan, sekolah, kesehatan, dan masih banyak lagi dimana kebijakannya ini berkonsekuensi buruk terhadap perempuan (hlm. 242).[3]

Terakhir, dalam bab 8 yang berjudul ‘Capitalism and Women’s Liberation’, Barret menegaskan kembali posisinya bahwa analisis feminis Marxis harus berangkat dari kerangka ideologi yang materialis. Selain itu, ia juga menekankan posisinya bahwa perempuan bukanlah kelas tersendiri, sehingga dalam perjuangan melawan penindasan terhadap perempuan, tidak cukup hanya menggunakan analisis patriarki mengenai dominasi laki-laki, melainkan harus beranjak dari bagamana posisi perempuan dalam relasi sosial produksi kapitalisme. Oleh karena penindasan yang terjadi terhadap perempuan berbeda-beda di setiap kelas sosial, maka perjuangan gerakan perempuan, termasuk yang berpijak pada analisis feminis Marxis harus segera menyadari pentingnya berjuang bersama laki-laki yang anti terhadap penindasan pada perempuan (hlm. 258).

 

Epilog

Dalam tinjauan ini, saya tidak meninjau semua pemikiran yang ditinjau Barrett dalam bukunya ini. Namun demikian, saya setuju dengan posisi Barrett dalam membaca ideologi dimana ideologi merupakan sesuatu yang beranjak dari realitas material dan tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan hubungan-hubungan ekonomi yang berlaku. Selain itu, saya juga bersepakat dengan posisi Barrett sebagaimana para feminis Marxis lainnya seperti Mies, Federici, Weeks, Dalla Costa, hingga Fortunati, bahwa perempuan bukanlah kelas sosial tersendiri. Meskipun buku ini merupakan buku yang sangat baik, akan tetapi jika saja saya bisa menyarankan, saya ingin menyarankan Barrett untuk meninjau pemikiran dan studi yang dilakukan oleh feminis Marxis lainnya seperti Leopoldina Fortunati, Silvia Federici serta Maria Rosa Dalla Costa yang melakukan analisis feminis Marxis mengenai reproduksi sosial dalam ekonomi kapitalisme serta Maria Mies yang seperti Foreman, juga berusaha menghadirkan sistesis antara analisis Marxis dengan psikoanalisis. Meski demikian, saya sangat merekomendasikan siapapun yang tertarik dengan kajian feminisme untuk membaca dan mengkaji buku ini. Meski cukup rumit, namun buku ini menghadirkan pengetahuan dan perdebatan penting dalam upaya menuju pembebasan perempuan. Namun demikian, sayangnya, Barrett tidak mengajukan analisisnya lebih jauh mengenai strategi politik apa yang mesti ditempuh gerakan perempuan dengan tendensi sosialis untuk menuju pembebasan perempuan. Adapun apa yang diajukan Barrett mengenai perjuangan bersama antara laki-laki dan perempuan dalam melawan penindasan terhadap perempuan sebenarnya sudah banyak dilakukan, khusunya dalam konteks Indonesia, seperti munculnya komunitas bernama Aliansi Laki-Laki Baru.

 

Penulis beredar di twitland dengan ID @ffildzahizz

 

Referensi bacaan pendukung

Costa, Mariarosa Dalla dan Selma James. The Power of Women and the Subversion of the Community. Bristol: Falling Walls Press Ltd., 1972.

Federici, Silvia. Revolution at Point Zero: Housework, Reproduction, and Feminist Struggle. PM Press, 2012.

Fortunati, Leopoldina. The Arcane of Reproduction: Housework, Prostitution, Labor and Capital. New York: Autonomedia, 1995.

Mies, Maria. Patriarchy & Accumulation on a World Scale: Women in the International Division of Labour. London: Zed Book, Ltd., 1998.

Power, Nina. One Dimensial Woman. O Books, 2009.

 

[1] Beberapa feminis Marxis yang melakukan studi dan menganalisis hubungan antara reproduksi sosial dan kerja, termasuk kerja domestik di antaranya ialah Maria Mies, Silvia Federici, Leopoldina Fortunati, dan Maria Rosa Dalla Costa.

[2] Persoalan mengenai housework dan tempat penitipan anak dalam hubungannya dengan negara dan feminisme pernah dibahas di antaranya oleh Silvia Federici dalam bukunya yang berjudul Revolution at Point Zero: Housework, Reproduction, and Feminist Struggle.

[3] Hal yang sama juga banyak terjadi di negara-negara lainnya, termasuk Indonesia. Nina Power, seorang feminis Marxis, memperkenalkan kerangka “feminis Imperialis” untuk menjelaskan fenomena ini. Lihat Nina Power. One Dimensial Woman. O Books, 2009.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus