1. Beranda
  2. /
  3. Harian Indoprogress
  4. /
  5. Page 166

Harian Indoprogress

Selain kelindan totalitas kapitalisme yang tetap tak terjamah, kita pun tidak dapat membayangkan horizon transformasi yang lebih radikal. Horizon itu menyempit hanya pada upaya memperbaiki kualitas kepemimpinan, memperkuat kapasitas teknokratis, atau mengganti figur yang dianggap bermasalah, alih-alih mencari kemungkinan transformasi terhadap tatanan yang terus mereproduksi krisis itu sendiri.
Modernitas membuat kehidupan bergerak semakin cepat, sementara kemampuan manusia untuk benar-benar mengalami hidup justru semakin menipis. Teknologi menghadirkan koneksi tanpa henti, tetapi pada saat yang sama banyak orang merasa semakin jauh dari dirinya sendiri.
Lemahnya penyerapan tenaga kerja berubah menjadi persoalan kualitas lulusan, serta pekerjaan yang rentan berubah menjadi persoalan kemampuan individu untuk beradaptasi. Menyempitnya basis produktif ekonomi berubah menjadi persoalan perguruan tinggi yang dianggap usang.
Penderitaan yang meluas akibat kapitalisme menuntut kita untuk mengorganisir harapan melalui perjuangan kolektif; hanya dengan cara itulah kita dapat membangun masa depan di mana martabat manusia mengungguli motif keuntungan yang destruktif.

Harian Indoprogress

Nasionalisme: Siapa Takut?

Kredit foto: Duta Damai Muda   MENANGGAPI pro-kontra penggarapan ladang minyak Blok Cepu, Rizal Mallarangeng (“Blok Cepu, Mission Accomplished,” Tempo, 27/3/06), menulis dengan lantangnya bahwa

Buruh Dalam Cengkeraman Globalisasi

Kredit foto: kompasiana.com   ISU PERBURUHAN kembali menjadi berita hangat. Media Eropa ramai dengan berita perlawanan jutaan rakyat Perancis yang tumpah ruah di jalan menentang

Pemilu Lokal di Kuba

Fidel Castro sedang memberikan hak suaranya pada pemilu nasional/lokal Kuba, 2010. Kredit foto: Reuters/Ismael Fransisco/Cubadebate.Handout   BANYAK kalangan berpendapat, bahwa komunisme tidak mengenal kosakata demokrasi.

Willy Aditya: Ini Rejim ‘Tukang Kantau’

BARU setahun pemerintahan SBY-JK berkuasa, kebijakan-kebijakan ekonomi yang ditempuhnya makin menyengsarakan rakyat. Hanya dalam waktu setahun, rejim ini telah menyangkal janji-janjinya selama masa kampanye pemilu.

Kutuk Herbert Feith

BAGI para pengkaji sejarah politik Indonesia modern, nama Herbert Feith adalah salah satu yang tak bisa dilewatkan. Bukunya, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia,

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.