Artikel

Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda memperbesar peran negara dan militer dalam perekonomian, sementara krisis ekonomi yang semakin parah memperuncing persaingan antara Sukarno, PKI, militer, dan kekuatan-kekuatan politik lainnya.
Bertahan dari penggusuran belum cukup untuk mewujudkan reforma agraria perkotaan tanpa pelembagaan hak dan perubahan struktur penguasaan tanah.
Tidak sedikit pekerja yang harus menghabiskan tiga hingga empat jam untuk perjalanan pulang-pergi menggunakan KRL, TransJakarta, MRT, maupun angkutan pengumpan lainnya. Perjalanan panjang semacam ini bukan lagi pengalaman segelintir orang.
Konsolidasi politik Indonesia pada 1950-an hingga awal 1960-an, kebangkitan PKI dan mobilisasi massa, hingga upaya Sukarno menempatkan Indonesia sebagai kekuatan antikolonial di tengah Perang Dingin.

Artikel

Tentara dan Senjata: Cara Jakarta Mengurus Papua

Pendekatan keamanan yang mengedepankan operasi militer dan represif terbukti tidak efektif dalam menyelesaikan konflik di Papua. Buktinya, penyiksaan terus terulang, seperti yang videonya viral baru-baru ini.

Ketidakacuhan Politik

Sebagian kiri terobsesi mengkritik gerakan kelas pekerja dan capaian-capaiannya tanpa menawarkan sesuatu yang bisa dipraktikkan dalam kondisi material yang berlaku. Merekalah objek kritik Marx dalam artikel terjemahan ini.

Mengembalikan Diskursus Agraria pada Tempatnya

Muchtar Habibi, dalam buku Class and Agrarian Changes Under Capitalism, telah memberi ruang bagi perluasan diskursus perubahan agraria di Indonesia yang tidak lagi melihat perdesaan sebagai entitas yang homogen–suatu pendekatan arus utama saat ini.

Mesin yang Tidak Belajar

Keajaiban teknologi sekarang sangat terkonsentrasi di tangan segelintir orang dan perusahaan. Alat-alat seperti ini–betapa pun ajaibnya–akan menjadi musuh kita. Mencari alternatif dari jalur dominan pengembangan teknis merupakan hal yang mendesak.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.