Ex-Gafatar: Kami Cuma Upgrade Keyakinan Dengan Sikap Egaliter

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto: www.suaramuhammadiyah.id


ADAM Mirza (41) dan Faldiaz Bachtiar (45) duduk di bangku depan gardu. Mereka sedang bercerita dengan Imam Shofwan (Direktur Yayasan Pantau) yang berdiri di depannya. Keduanya adalah ex-Gafatar. Sebuah komunitas Eko-Spiritual atau mereka sendiri menyebutnya persaudaraan iman Millah Abraham, yang anggotanya kerap mendapat persekusi dan intimidasi bahkan tiga pimpinan mereka sudah dipenjarakan.

Pagi itu, sabtu 3 agustus, ada janji peretemuan di kantor YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) yang sudah direncanakan sebelumnya. Tak seperti kebanyakan gerakan spiritual yang cenderung berseragam agamis. Mereka justru tampil necis. Adam, misalnya, mengenakan kemeja kotak-kotak biru-putih yang tampak ketat di badannya. Rambut kilimis – berjambul, chino pants berwarna krem, dan boots.

Diaz sedikit berebeda. Selain tentu lebih tinggi dibanding Adam, dia Lebihkasual. Berkacamata, brewokan namun tipis saja, kemeja hitam polos, celana bahan warna abu-abu, dan sneakers puma. Di bawah telapak tangan kanannya ada tato karakter cina yang artinya Harimau, sedikit tertutupi oleh jam tangan. leher belakangnya dirajah dengan kata “freedom”.

Gambar karakter cina merujuk shio tahun kelahiran Diaz, sementara“freedom” baginya adalah kata yang bermakna bebas dari hawa nafsu, belenggu dogma, jeratan ekonomi dan ikatan sosial.

Saya tak sengaja melewati mereka berdua, mungkin karena penampilannya itu. Dan lagi saya belum pernah menemui anggota ex-Gafatar sebelumnya. Belum juga Imam Shofwan memperkenalkan mereka, dengan luwes Adam dan Diaz menunjukkan senyum keakraban. Senyum yang sama terlihat di garis wajah anggota ex-Gafatar dan anak-anaknya kala memulai sistem pertanian terpadu bebas limbah di Kalimantan.

Satu video yang diteruskan oleh Adam Mirza ke whatsapp saya memperlihatkan kerukunan dan kebahagiaan itu. Beternak sapi, menggarap sawah, menanam sayur-sayuran. Anak-anak bermain bola, bercengkrama di kebun, dan emak-emak sedang bersenam.

Mereka membangun turbin sebagai pembangkit listrik, mencipta satu mekanisasi untuk air sungai yang keruh supaya bisa dikonsumsi. Semua dilakukan bersama dan hasilnya dirasakan bersama. Dari tanah bergambut, mereka bisa menghasilkan 6 ton beras dari luas lahan 1,8 hektare.

2015 mereka ke Kalimantan. Adam mengatakan sebanyak 12 ribu orang yang ikut dengan menempati 33 titik di Kalimantan. Kalimantan Barat sebanyak 10 titik, Kalimantan Timur 11 titik, dan Kalimantan Tengah 12 titik. Masing-masing orang menjual apapun yang bisa dijual: rumah, perusahaan, dan lainnya untuk membeli tanah dan kebutuhan hidup di Kalimantan.

Adam sendiri bersama 16 orang lainnya, termasuk Diaz, dengan barang-barang hasil jualannya berurunan untuk membeli tanah  seluas 200 hektare di Kabupten Melawi, Kalimantan Barat. Kepindahan mereka bukan tanpa sebab. Izin organisasi tidak diperpanjang oleh Kementerian Dalam Negeri dengan alasan doktrin mereka. Ya tuduhan atas Gafatar – penyebutan yang digunakan sebelum mereka membubarkan diri pada Agustus 2015 – melakukan separatis dan akan mendirikan negara agama selalu dijadikan wacana tunggal. Bahkan kepindahan anggota ex-Gafatar ke Kalimantan tidak terkonfirmasi dengan baik sehingga pemberitaan yang muncul bahwa sebagian dari mereka diculik. Seperti kasus dokter Rica Tri Handayani di Jogja. Hamir semua media memberitakan bahwa dokter itu diculik. Sementara kita tahu bahwa dokter itu diajak dan diapun merupakan anggota Gafatar.

Adam berceletuk dengan nada candaan, “ada om saya juga tidak menerima (maksudnya ikut ke Kalimantan) dan menganggap kami di culik.”

Satu orang menimpali, “kenapa harus Kalimantan?” – sementara di sana kita tahu tanah bergambut, yang ada hanya tambang dan sawit.

“Di tempat yang lebih sulit, orang lebih struggle”, jawab Adam yakin.

Ada beberapa hal yang mengemuka dalam melihat permasalahan ex-Gafatar. Persekusi terus terjadi karena narasi datang dari satu sumber. Banyak yang belum terkonfrmasi namun sudah mengambil kesimpulan terhadap ex-Gafatar. Dengan cepat-cepat merasa bahwa permasalahan ex-Gafatar adalah masalah hukum dan tentunya mereka telah melanggar hukum tanpa mau tahu ada atau tidaknya hukum yang dilanggar.

Sementara permasalahan ex-Gafatar ini sebaiknya dilihat dari perspektif korban. Karena realitanya ada orang yang dilanggar haknya. Bertani diintimidasi, jalan sana-sini dituduh “sesat”. Ada pembatasan ruang. Laporan Human Rights Watch juga menunjukkan bahwa tahun 2015 enam anggota Gafatar dihukum tiga sampai empat tahun penjara di Banda Aceh.

Hingga akhirnya peristiwa di Januari 2016. Massa datang memasuki lahan, menolak kehadiran ex-Gafatar. Kejadian ini terjadi di Kabupaten Mampawah Kalimantan Barat. Alasannya anggota ex-Gafatar dinilai terlalu eksklusif, padahal mereka mempersilahkan masyarakat setempat mengambil air bersih dari hasil proyek peyaringannya. Mereka juga membeli tanah masyarakat di sana, bahkan ada yang dengan surat MoU.

Perkiraan Adam ada ratusan massa datang – perhitungannya mencapai 300-an orang –  sebagian membawa balok kayu. Berlari memasuki lahan, menginjak sayuran, memaki, dan memorak-porandakan rumah sampai membakarnya. Yang tersisa hanya bendera merah-putih yang tetap berkibar di halaman rumah. Terlihat juga beberapa polisi, berjejalan di kebun, melindas sayur yang segar berwarna hijau. Tak berusaha menenangkan amarah masyarakat.

Adam meyakini massa tersebut sengaja dimobilisasi untuk mengusir mereka.

Penyerangan terhadap anggota ex-Gafatar ini terjadi di dua titik di Kabupaten Mempawah. Andreas Harsono, peniliti Human Rights Watch yang hadir dalam diskusi pagi itu memotong sejenak cerita Adam untuk menjelaskan kondisi sosial-politik di wilayah itu. “Mempawah adalah basis Muhamadiyah. Mempawah juga salah satu titik yang paling banyak terjadi pembunuhan terhadap orang madura di tahun 1999. Waktu itu Mempawah ada di bawah Kabupaten Sambas, ” katanya.

Setelah penyerangan itu, anggota ex-Gafatar yang lainnya dijemput oleh aparat dengan bersenjata lengkap. Mereka dipaksa keluar dari Kalimantan dengan 9 pesawat komersil dan 4 kapal perang. Anggota ex-Gafatar di usir dari tanah garapan mereka.

Andreas Harsono menilai bahwa tindakan yang dilakukan oleh pemerintah tidak bisa disebut pemulangan tapi pengusiran paksa. Dan memang demikian. Laporannya menuliskan jika anggota ex-Gafatar yang terusir dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur sebanyak 6.000 orang ditahan ke tempat penahanan tak resmi di Jakarta, Surabya, Yogyakarta, Bekasi, dan Boyolali .

“Ketika kami dihadapkan dengan pilihan pergi meninggalkan semua aset. Menurut kami itu aneh,” tukas adam.

Anggota ex-Gafatar mengalami nuansa yang problematis ketika harus berhadapan dengan kenyataan yang dialami. Kemungkinan akan dihina oleh keluarga dan lingkungan begitu menguat. Bahkan melintas pertanyaan apakah keluarga mau menerima mereka?

Sedangkan yang mereka lakukan selama ini untuk dua hal, yakni menjalani hidup dengan kesabaran dan mengejar amal soleh. Hanya itu. Meninggalkan semua yang dimiliki sebelumnya dan memilih bertani ke Kalimantan adalah cara bagi mereka untuk menguji kesabaran. Sementara itu kedatangan mereka ke tempat yang baru supaya lebih berguna dengan orang-orang yang ada di sana.

Untuk konsep toleransi sendiri, adalah bagian yang tak terpisahkan dari kesabaran dan mengejar amal soleh. Dari latar belakang sosial yang berbeda, kedua hal itu diharapkan masih tetap bekerja. Di Gafatar atau ex-Gafatar memang anggotanya ada yang beragama Kristen Protestan, Katolik, Islam, Penghayat, dan Yahudi. Dari situ mereka meyakini bahwa toleransi bukan sekadar menerima perbedaan tapi bagaimana membangun ikatan yang intim satu dengan yang lainnya.

“Kita (ex-Gafatar) bisa membuktikan keuniversalitasan agama itu sendiri,” aku Diaz.

Namun karena perbedaan itu sendiri yang menjadikan mereka dibenci oleh banyak pihak. Tuduhan bahwa mereka “sesat” karena Millah Abraham adalah ajaran yang menggabungkan antara Islam, Kristen, dan Yahudi. Juga dituduh membawa misi Negara Islam Indonesia (NII). Sampai akhirnya Februari 2016, keluar Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menyatakan bahwa mereka adalah kelompok spiritual terlarang. Padahal mereka hanya mencoba mengelola kesabaran dan amal soleh untuk menjadi manusia paripurna.

“Kami cuma upgrade keyakinan kami dengan sikap egaliter,” ujar Adam kemudian.


Kredit foto: beritakaltara.com

Jejak Langkah Diaz

Diaz lebih banyak diam, sesekali menambahkan jawaban Adam dengan singkat. Sesaat matanya melirik ke atas seperti sedang memikirkan sesuatu. Atau mengumpulkan jawaban. Entahlah…

Dulunya Diaz adalah seorang pemuda yang meragu. Ragu terhadap agama-agama. Dia sendiri tumbuh dalam lingkungan Islam. Dari TK – SMA di Al-Azhar. Ungkapan bahwa hanya agamanya yang masuk surga adalah satu hal yang tidak bisa diterima oleh Diaz. Akhirnya ia memilih melakukan perjalanan spiritual. Tahun 1999 ia ke Bali, mengunjungi pura dan banyak bertanya soal ajaran yang di anut oleh orang-orang di sana. Dua tahun setelahnya, ia memperjauh jangkaunnya sampai ke Thailand. Mengunjungi kuil-kuil.

Baginya semuanya sama, hanya masing-masing punya ritus berbeda. “Saya masuk ke yang lain ohh sama juga cuma dalam bahasa yang berbeda. Dagangannya surga dan neraka,” kata Diaz.

Tahun 2013 menjadi titik balik dalam kehidupan Diaz. Di tahun itu ia bergabung dengan Millah Abaraham, juga menikahi anak Ahmad Mushaddeq – penggerak ajaran Millah Abraham-cum guru spiritual bagi anggota Gafatar.

Beberapa hari setelah pertemuan di kantor YLBHI, saya menghubungi Diaz melalui email. Penasaran bagaimana tanggapan Mushaddeq soal tato yang ada di tangan dan lehernya.

“Pak Mushaddeq tidak menganjurkan tato karena sebenarnya prosesnya merusak tubuh, sesuatu yang tidak perlu dilakukan dan tak bernilai apa-apa,” tulis Diaz. Tubuh manusia baginya merupakan titipan sementara agar dapat menjadi makhluk utuh yang bisa menjaga alam.

Diaz mengakui bahwa bertemu dengan Millah Abraham membuka cakrawala berpikirnya: bersikap toleran dan menjadi naturalis.

2015 Ia ikut hijrah ke Kalimantan dengan modal tabungan dan menjual vespanya. Dari uang yang dimiliki, ia menyewa rumah dua tingkat selama dua tahun. Namun tak cukup dua tahun ia diusir dari Kalimantan.

Kini Diaz sedang menyibukkan dirinya dengan Proudction House (PH) yang dimiliki. Temata namanya, sebuah akronim dari Telinga Mata Nusantara. Bersama Temata, Diaz berkreasi demi upaya memperkenalkan Indonesia dari berbagai perspektif. Mungkin masih ingat video Presiden Joko Widodo saat pembukaan Asian Games yang melakukan aksi freestyle dengan motor gede? Nah, itu Temata yang memimpin produksinya. PH Diaz ini  berada di kawasan Fatmawati, di wilayah selatan kota Jakarta.

Terlibat dalam tim produksi video atapun film bukan sesuatu yang baru bagi Diaz. Sebelum bergabung dengan Gafatar, dirinya sudah bekerja di PH bidang iklan, korporasi dan dokumenter. Di Flex Films Asia.

Diaz termasuk orang yang memiliki selera musik cukup unik. Meyukai Grunge, Psikedelis, Progressive Rock, juga Hip-Hop. Bahkan band favoritnya tergolong tidak maisntream. Beberapa nama yang ia sebutkan ketika saya tanyai ialah Nine Inch Nails, Pink Floyd, Velvet Underground, Soulwax, dan Massive Attack. Tiga nama band yang disebutkan lebih awal juga biasa saya dengarkan.

Pernah ia terlibat dalam pembuatan film drama komedi Make Money, sebagai Music Producer. Film yang disutradarai oleh Sean Monteiro – waktu itu Sean menempuh pendidikan Performing Arts di Monash University dan Make Money adalah film panjang pertamanya. Film ini rilis 14 November 2013, dibintangi oleh Pandji Pragiwaksono, Ray Sahetapy, Ence Bagus, juga Tara Basro.

“Hidup saya memang dikelilingi oleh dunia film dan musik,” jawab Diaz melalui email.


Arus Balik Adam

Di ruang PK Ojong di kantor YLBHI, Adam begitu bersemangat menceritakan kisahnya. “Nah itu nanti, mungkin kita selesaikan ceritanya dulu,” kata Adam ketika orang di sebelah saya bertanya. Memang Adam kelihatan percaya diri menceritakan segala sesuatunya.

Adam muda adalah seorang pecandu narkoba. Keluar masuk tempat rehabilitasi sampai dibawa ke pesantren oleh keluarga. Dan akhirnya ia masuk penjara. Di sanalah menjadi titik awal bagi Adam dalam menekuni ajaran agama.

Dia bertemu dengan kelompok Milata Ibrahim – kelompok yang terindikasi sebagai teroris, anggotanya ditahan karena kasus pemboman. Dari cerita Adam, kelompok ini sangat khusuk dalam beribadah. Sehingga itulah yang membuat dia bergabung. Tapi Adam tak dijadikan “penganten” – sebutan untuk pengebom. Dia dijadikan sebagai komunikator Milata Ibrahim.

Di Milata Ibrahim, Adam memiliki guru spiritual, dipanggil Abu Mushaf, nama sebenarnya Agus – sekarang Agus ditahan di Rutan Cipinang dengan kasus terorisme.

Fase kedua yang menjadi titik balik bagi Adam sekaligus keluar dari Milata Ibrahim saat ibunya meninggal. Itu terjadi di tahun 2009. Di pemakaman ibunya di Aceh, Adam bertemu dengan kakak iparnya. Mereka berdebat soal teologi. Adam kalah. Dia kemudian mendalami ajaran kakak iparnya sehingga bertemu dengan Millah Abraham. Di tahun yang sama ia bergabung dengan Millah Abraham.

“Sampai detik ini saya tidak pernah mencopot keislaman saya. Saya tidak pernah convert menjadi Millah Abraham karena Millah Abraham menjadikan saya umat muslim yang memahami keislaman saya,” ungkap Adam.

Adam termasuk salah seorang yang ikut mengembangkan komunitas Millah Abraham yang kemudian menamai dirnya Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar, lalu berganti lagi menjadi ex-Gafatar setelah pembubarannya pada Agustus 2015. Tapi perjalanannya tidak mulus, Gafatar mendapat penolakan dari masyarakat kebanyakan. Pernah ketika menggalang aksi donor darah di Bali mereka mendapat penolakan. Mereka mendatangi tiga rumah sakit di satu Kabupaten di Bali dan di tolak. Kata Adam penolakan itu berdasarkan instruksi dari Bupati. Cuma satu rumah sakit di Provinsi yang menerima aksi donor darah mereka.

Puncak dari intimidasi yang diperlakukan kepada anggota ex-Gafatar saat terjadi pengusiran paksa di Kalimantan. Ribuan anggotanya dipaksa meninggalkan wilayah pertanian mereka. kebetulan Adam saat itu berada di Jakarta.

Adam mencoba melihat peristiwa ini dari sudut pandang berbeda. “Pengusiran ini sesuatu yang baik buat kita… kita susah cari sabar, kita dapat ujian ini kalo dapat koin bisa seabrek,” candanya.

Memilih untuk bergabung dengan Millah Abraham merupakan arus balik yang paling menentukan dalam kehidupan Adam. “Millah Abaraham yang membuat saya sembuh dari radikalisme,” kata Adam.

Dalam hitungan saya, Ia menyebut kata itu dua kali di Ruang PK Ojong.***


Arief Bobhil, peserta kursus jurnalisme Yayasan Pantau. Menggemari musik dan sastra, meraba-raba sosial dan politik.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus