Impunitas dan Kegilaan Sepanjang Dua Jam

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

KEGILAAN   sepanjang dua jam itu menonjok kita lewat segala media: narasi dramatis di surat kabar komplit dengan gambar seonggok tubuh gosong dilalap api. Juga rekaman video yang menayangkan M Alzahra, kerap dipanggil Joya, 30 tahun, yang dihajar membabi buta.

“Saya bukan maling!” ujarnya menghiba.

“Maling mana ada mau ngaku!” Massa terlanjur beringas.

Awalnya ia dituduh mencuri amplifier di sebuah mushala. Kasak-kusuk yang sampai ke kerumunan massa, Joya adalah maling motor. Massa menggebukinya tanpa ampun. Joya berlutut dan mencium kaki mereka. Tapi kerumunan massa yang dibalut amarah sudah tak bisa dikendalikan. Di sebuah got kecil, di antara gerobak makanan yang siap dijajakan menjelang sore, seorang laki-laki menyiramkan bensin dari sebungkus plastik yang ditentengnya. Korek api disulut. Tubuh Joya pun terpanggang hidup-hidup, hingga menjemput maut.

Seorang perempuan bernama Zubaedah tiba-tiba kehilangan suami. Jabang bayi berusia enam bulan dalam kandungannya mendadak menjadi yatim. Peristiwa itu terjadi pada 1 Agustus 2017 di Babelan, Bekasi.

Kegilaan ini berlangsung tak lebih dari dua jam. Diawali dari ia singgah ke mushola Al Hidayah untuk menumpang sholat Ashar. Lantas ada amplifier yang mendadak lenyap. Lantas ia dikejar dan motornya terjengkang. Massa pun memburunya dengan amukan. Segalanya terjadi secepat kilat. Seorang saksi mata yang melihat kobaran api cepat-cepat menutup rapat tokonya . Kelak ia akan menyimpan kengerian itu sepanjang hidupnya.

Potongan foto dan video itu secepat kilat menyebar. Ada sorak-sorai dan tepuk tangan massa yang menonton. Ada yang menginjak-injak kepala dan memukulnya bertubi-tubi. Ada yang sanggup mengabadikan lewat kamera serangkaian parade bar-bar itu dan kemudian menyebarkannya. Ada yang menyaksikan rekamannya dan kemudian tak kuasa menanggung marah: ‘Biadap pelakunya! Kalau ketemu, harus disiram bensin dan dibakar juga!’ Yang lain menimpali, dengan lebih sangar. Lebih sadis. Lebih kejam.

Parade brutal, yang melingkar-lingkar seperti ini, sesungguhnya bukanlah hal baru. Amuk massa dan membakar orang yang dituduh maling sudah banyak terjadi. Copet tertangkap di pasar dan terminal lalu keroyok secara sadis. Jadi ini bukan peristiwa yang mengagetkan. Orang mungkin agak tergagap, lantaran masih membayangkan sebuah bangsa sopan santun dan rajin bertutur tentang agama dalam setiap desah nafasnya. Tiba-tiba berlaku beringas di saat yang sama.

Dalam laku keseharian, peristiwa kekerasan kerap berlangsung di depan mata. Orang dengan mudah menghardik dan main pukul hanya lantaran bersenggolan kendaraan di jalan. Anak usia sekolah dasar menyiksa temannya hingga tewas, seperti yang baru saja terjadi di Sukabumi. Kakak-kakak mereka yang lebih senior atas nama Ospek mem-bully yuniornya hingga hilang nyawa. Tentu, belum lekang dari ingatan kita, parade kebencian yang tak habis-habisnya ditunjukkan dalam pilkada DKI beberapa bulan silam. Teriakan ‘kafir’ dan ‘bunuh‘ disuarakan dengan lantang dari mulut anak-anak dalam sebuah pawai keagamaan.

Bertahun silam, di Cikeusik, sebuah desa di Pandeglang, Banten, tiga orang jemaah Ahmadiyah mati dibantai dan kemudian mayatnya digantung dalam sebuah penyerangan brutal. Lebih dalam lagi membuka lembar sejarah, kita akan menjumpai berlarik-larik kebiadaban dilakukan atas nama negara, yang menewaskan ratusan ribu nyawa manusia dari Aceh, Talangsari, Tanjungpriok, hingga Dilli dan Papua. Semua dilakukan atas nama negara dan juga agama. Semua tak pernah tuntas hingga berpuluh tahun kemudian.

Rupa-rupa keberingasan ini tentu tak muncul begitu saja. Ada jejak yang panjang. Ada memori kelompok yang terlanjur mengakar di alam bawah sadar. Bangsa kita punya beragam diksi atas kekejaman, khususnya di daerah-daerah konflik. Ada memori kebencian yang meluap-luap sebelumnya.

Siapa sanggup lupakan tragedi politik 1965? Ratusan ribu nyawa melayang, dianiaya, ditahan tanpa pengadilan dan terluka hingga anak turunaanya. Pengalaman masa lalu itu dibawa hingga sekarang. Imaji kekerasan yang menjadi fondasi negeri ini, abadi dalam relung gelap para korban dan anak keturunannya. Mengejawantah dalam praktik sehari-hari. Dipertontonkan oleh aparat Negara dalam segala lini.

Kita, seluruh bangsa ini, hidup dengan memanggul luka sejarah yang tak pernah diobati. Atas kekerasan Negara yang tak pernah dibuka, diselesaikan, dimintakan maaf. Kita tak pernah belajar untuk jujur kepada diri sendiri. Luka-luka itu, kita panggul sambil terus berjalan dengan menambah panjang deretan kasus kekerasan masa lalu yang tidak pernah diselesaikan. Impunitas ini telah mendarah daging, masuk dalam imaji manusia Indonesia. Wajah kekerasan hadir dalam berbagai bentuk, dan dianggap sah belaka karena penguasa mengajarkannya, dengan tidak pernah mengakuinya.

Tanpa kehendak untuk belajar dari pengalaman kekerasan masa lalu dan menyelesaikannya, bangsa ini akan langgeng memproduksi dendam dan kebencian. Kita telah lama terseok dan tersesat dalam semak belukar impunitas. Orang-orang yang marah pada ketidak berdayaan, hanya bisa melampiaskannya dengan cara keroyokan. Sesama orang miskin, saling menindas. Saling menghakimi.

Zaman memang belum berubah. Kita hanya punya nyali bertindak keras pada orang miskin, pada penjahat kacangan, yang urusan hidupnya baru pada perihal mencari makan. Kepada mereka, kita timpakan segala salah dan serapah. Maling-maling kroco dikeroyok, disiram bensin dan dipanggang hingga jadi arang. Maling besar tetap tersenyum lebar. Sekeluar penjara pun disambut dengan tebaran pujian. Kita memang belum berubah.***


comments powered by Disqus