Analisis Zizek-Badiou: Anugerah Sebagai Bentuk Intervensi Terhadap Yang Natural

Slavoj Žižek dan Alan Badiou. Kredit foto: filosofiaemvideo.com.br

 

HARI ini kita hidup di dunia yang mengagung-agungkan naturalitas. Dari soal nasi putih, obat diet sampai sepatu kulit, orang-orang cenderung mencari yang organik, yang alami, tanpa (atau seminimal mungkin) rekayasa bahan kimiawi (terlepas dari perdebatan apa yang dimaksud ‘bahan kimiawi’ tersebut). Singkatnya yang organik/natural dipandang sebagai hal yang baik, bahkan yang terbaik. Rupa-rupanya, kecenderungan serupa (baik disadari atau tidak), juga jamak dipakai dalam cara kita melihat tatanan dan situasi ekonomi-politik (ekopol) Indonesia, akhir-akhir ini.

Banyak orang mungkin sadar bahwa hegemoni kapitalisme yang mencengkeram sistem ekopol kita hari ini telah mendatangkan banyak mudharat dan penuh kontradiksi internal di dalamnya. Akan tetapi ketika masuk ke dalam diskursus tentang sistem ekopol alternatif di luar kapitalisme, kita seolah mandek dan kehilangan imajinasi. Salah satu argumen yang umum dipakai untuk menjelaskan kemandekan ini adalah karena kapitalisme merupakan sistem yang paling sesuai dengan sifat alamiah manusia: egosentris dan tamak. Dan bukankah sifat egosentris dan tamak telah dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah kebajikan yang hari ini dikumandangkan berulang-ulang di seminar seminar motivasi? Maka membayangkan tatanan alternatif selain kapitalisme dianggap sebagai usaha yang naif dan melawan kodrat. Pilihannya hanya beradaptasi atau memodifikasi sistem yang ada menjadi lebih manusiawi dan beradab. Adapt and Adjust. Jangan mimpi bisa hidup di luar sistem ini.

Argumen di atas secara ironis menggambarkan betapa kuatnya hegemoni kapitalisme itu sendiri. Begitu kuat sampai-sampai ia menutup semua pintu dan memandulkan imajinasi akan adanya kemungkinan lain di luar sistem itu sendiri, karena sistem yang sedang berjalan adalah yang natural, kodrati, dan secara otomatis adalah yang terbaik. Akan tetapi benarkah segala sesuatu yang natural, yang kodrati, adalah serta merta baik, dan tidak perlu dikritisi? Dan pertanyaan lebih lanjut: adakah kebaruan di luar hegemoni yang natural?

Seorang filsuf hipster-memeable asal Slovenia, Slavoj Žižek, rupanya turut bergelut memikirkan persoalan tersebut, dan melalui tulisan ini, penulis mencoba mengajukan gagasan alternatif tentang kebuntuan ekopol hari ini berdasarkan pergelutan analisis Žižek yang kemudian terbantu dengan pembacaan Alain Badiou, seorang filsuf analitik Perancis, terhadap kitab Roma dalam Perjanjian Baru.

 

Žižek: Hegemoni & Keterbatasan Psikoanalisis

Slavoj Žižek telah mengerjakan sesuatu yang monumental dalam hal menemukan kembali relevansi kekristenan dan marxisme. Žižek menggunakan metode psikoanalisis Jacques Lacan (yang juga ia gemari) dan berhasil mengembangkan teori marxis tradisional dan membuat analisis material terhadap politik, agama, dan ideologi. Analisis Žižek dengan tajam mampu mengungkap kontradiksi-kontradiksi di balik dominannya neoliberalisme dan political-correctness, sehingga begitu populer di kalangan akademisi ekopol.

Akan tetapi, metodologi Žižek ini mendapat tantangan yang cukup tangguh. Dalam buku Contingency, Hegemony, Universality (2000), Žižek terlibat dalam debat segitiga bersama Judith Butler dan Ernesto Laclau, dua pemikir kontemporer yang begitu digandrungi di kalangan post-strukturalis. Dalam diskusi tersebut, baik Butler dan Laclau, menurut saya, mengajukan pertanyaan yang krusial dan ‘menggigit’ bagi Žižek. Pertanyaan Butler, kira-kira, adalah berikut: Bagaimana mungkin pendekatan marxisme yang berlandaskan psikoanalisis mampu menghasilkan sistem baru di luar kapitalisme? Untuk memahami pertanyaan ini, kita perlu terlebih dahulu memahami konsep dasar dari psikoanalisis Lacan.

Secara singkat, psikoanalisis Lacan menjabarkan bahwa subjek senantiasa dikutuk di antara tarikan The Symbolic dan The Real. The Real adalah dunia sebelum ditangkap oleh bahasa atau arena yang belum terbahasakan, yang diidentikkan dengan yang natural (state of nature) sebagai wujud ‘kepenuhan’. Subjek berusaha memahami, meraih, dan mengungkapkan The Real akan tetapi selalu terhalangi oleh The Symbolic. Oleh karena itu dalam pemikiran Lacan, The Symbolic yang mewujud dalam bentuk struktur sosial, The Big Other, atau ‘figur ayah’ adalah sebentuk konstelasi yang sebenarnya rapuh (bahkan tidak ada!) yang menjauhkan subjek dari The Real namun diperlukan subjek sebagai jaring pengaman dalam proses budaya dan sosial. Implikasinya, segala bentuk simbolik yang menghalangi The Real adalah tipuan dan karenanya harus disingkirkan.[1]

Kembali ke pertanyaan Butler di atas, psikoanalisis Lacan mungkin mampu dengan tajam membedah cara kerja hegemoni dominan melalui relasi hasrat dan simbolik, akan tetapi hegemoni, sama seperti The Real, senantiasa dibentuk dan ditegaskan dari setiap perlawanan terhadapnya. Keterlibatan dalam usaha melawan hegemoni, secara tidak langsung turut melanggengkan hegemoni itu sendiri. Dalam konteks sistem ekopol (lagi-lagi sama seperti The Real), bukankah kapitalisme juga berasal dari sifat alamiah dan natural manusia? Dengan kata lain The Real adalah kapitalisme itu sendiri, dan sayangnya pendekatan psikoanalisis Lacan menutup semua pintu kebaruan, karena setiap perlawanan adalah prasyarat dari hegemoni itu sendiri.

Menjawab tantangan Butler, Žižek berusaha menggabungkan aspek politik dari teori Marx klasik dengan metode psikoanalisis Lacan. Žižek berargumen bahwa kapitalisme dan subjek yang mengalami kekurangan adalah prasyarat dari hegemoni, tanpa menjelaskan relasi keduanya.[2] Hal ini jugalah yang ditangkap Laclau, yang begitu curiga dengan segala bentuk marxisme tanpa melalui proses dekonstruksi, ketika mengajukan tantangan kepada Žižek:

“Saya pikir pemikiran politik Žižek punya masalah pada ‘konstruksi yang campur-aduk dan tidak seimbang’. Sementara ia menggunakan pendekatan Lacan, beriringan dengan gagasannya, yang menghasilkan pemahaman yang lebih maju tentang proses ideologi di masyarakat kontemporer, akan tetapi pemikiran politisnya tidak semaju analisis (psikoanalisis) nya, dan masih terpaku pada kategori-kategori tradisional”.[3]

Singkatnya, ketika diperhadapkan dengan pertanyaan terkait ekopol, Žižek berpaling kepada teori Marx klasik sebagai ‘penambal’ metode psikoanalisis Lacan yang ia ajukan. Terlepas dari segala bantahan yang ia ajukan kepada Butler dan Laclau terkait kesalahpahaman tentang istilah Lacan & Marx, Žižek belum sepenuhnya mempu menjawab pertanyaan besar dari Butler dan Laclau soal sistem ekopol baru yang melampaui hegemoni kapitalisme, khususnya dalam tradisi Marxis.
 

Tantangan Badiou: Anugerah sebagai Truth-Event

Sebelum Contingency, Hegemony, Universality (2000), tantangan serupa terhadap Žižek sudah lebih dulu diajukan oleh Alain Badiou.[4]  Walaupun Žižek juga berusaha membantah kritik Badiou, laiknya yang ia lakukan terhadap Butler, tetapi analisis Badiou sesungguhnya bisa menjadi titik mula pencarian Žižek akan kebaruan. Titik mula itu adalah pembacaan Badiou (dan juga Žižek) terhadap ‘Surat Paulus kepada jemaat di Roma (kitab Roma)’ pasal 7, khususnya ayat 6, 7, dan 24 yang berbunyi demikian:

7:6 Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.

7:7 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini!”

7:24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

Badiou dan Žižek terlibat perang analisis yang menarik terhadap nats di atas, terutama menjawab isu keterbelahan subjek, yang diwakili oleh jeritan Paulus di ayat 24. Bagi Žižek, ayat 7 adalah kunci dari penjelasan Paulus akan dilema hukum (Taurat) versus hasrat. Sebagaimana penjelasan di awal tulisan, dalam psikoanalisis Lacan, subjek senantiasa berada dalam dialektika hasrat dan simbolik. Ranah simbolik yang digambarkan dengan ‘hukum’ adalah objek yang membangkitkan ‘hasrat kepada kematian’ yang inheren dalam subjek, sehingga alih-alih dipandang negatif, ‘hasrat kepada kematian’ ini justru adalah yang melampaui status quo, walaupun lagi-lagi ‘hasrat’ bukanlah kebaruan karena ia berasal dari ‘kekurangan’ (lack) dalam diri subjek.

Berbeda dari Žižek, bagi Badiou dilema hukum versus hasrat atau yang natural berada dalam ranah being, dan di luar being terdapat ranah lain yaitu truth-event. Truth-event adalah ranah yang tak terduga, tak terprediksi, di luar pengetahuan, sekaligus kontingen, yang hadir mengintervensi dan mendobrak being untuk mengungkap kebenaran. Badiou berpendapat, segala hal yang berkaitan dengan tindakan maupun subjek politis, berada di ranah truth-event. Namun, sesuai kontingensinya, truth-event bukanlah sesuatu yang memiliki makna pada dirinya sendiri. Ia perlu dipersepsikan dan dideklarasikan oleh sosok yang menantikannya, sosok inilah yang disebut sebagai subjek dalam terminologi Badiou:

“Subjek adalah agen yang, atas nama Truth-Event, meng-intervensi in the multiplisitas situasi dalam sejarah dan mendeklarasikannya melalui tanda-tanda dan dampak dari kejadian (event) tersebut. Yang mendefinisikan subjek adalah kesetiaannya (fidelity) terhadap kejadian (event): subjek muncul setelah kejadian (event) dan bertahan untuk mengantisipasinya”.[5]

Kembali ke pembacaan kitab Roma di atas, Paulus, menurut Badiou, adalah subjek, sang deklarator dari truth-event bernama ‘Kebangkitan Yesus Kristus’. Fondasi dari truth-event bukanlah dari isi atau hal faktual peristiwa itu sendiri, melainkan bagaimana kesetiaan (fidelity) dan militansi sang subjek mengartikulasikan truth-event yang lahir tanpa prasyarat. Dalam kekristenan, bentuk intervensi yang Ilahi terhadap sistem yang berjalan alamiah dipahami dengan istilah anugerah (grace). Anugerah (peristiwa kebangkitan Yesus Kristus) inilah yang diartikulasikan Paulus, menurut Badiou, pada ayat 6 nats di atas, sebagai “yang membebaskan dari hukum Taurat (being)” dan “melayani dalam keadaan baru”. Bagi Badiou, The Real bukanlah tentang sesuatu yang alamiah atau kodrati. The Real adalah truth-event itu sendiri karena ia melampaui sistem apapun dalam ranah being. Anugerah adalah The Real justru karena ia melampaui yang natural dan dan meng-intervensi-nya.

Pada tulisan-tulisan selanjutnya, seperti The Fraigle Absolute dan On Belief, Žižek (secara mengejutkan) perlahan-lahan mengafirmasi kerangka pikir Badiou dalam wujud pencarian bentuk materialis dari anugerah, khususnya dalam sistem politik. Tetapi di sinilah titik balik pemikiran Žižek. Melalui pendekatan Badiou, bahwa anugerah sebagai truth-event membuka kemungkinan akan kebaruan di luar hegemoni, Žižek menemukan ‘jalan keluar’ pada pemikiran Vladimir Lenin (sekaligus menjawab kritik Laclau), yaitu kebebasan aktual sebagai bentuk materialis dari anugerah. Menurut Lenin, ada dua jenis kebebasan: kebebasan formal dan kebebasan aktual. Kebebasan formal adalah kebebasan dimana seseorang terkesan bisa memilih sesuai keinginan, tetapi sesungguhnya ia dibatasi oleh struktur atau kondisi tertentu, sedangkan kebebasan aktual bukanlah bebas memilih dari pilihan yang tersedia, melainkan kemampuan untuk berpikir melampauinya, melihat struktur atau kondisi yang membatasi pilihan tersebut sekaligus mengatasinya.

 

Anugerah Dan Kemungkinan Sistem Alternatif

Intrik-intrik yang terjadi sepanjang isu RUU Pemilu, Presidential Threshold, maupun RUU Ormas beberapa bulan lalu menggambarkan dengan telanjang buntunya konstelasi perpolitikan kita dalam dua ekstrim: miskinnya imajinasi masyarakat akan sistem ekopol di luar rezim yang berkuasa, dan gencarnya usaha rezim berkuasa menutup kemungkinan baru melalui regulasi. Begitu mandul gagasan akan sistem alternatif, sampai-sampai setiap kritik terhadap rezim serta-merta diartikan sebagai tindakan mendukung oligarki oposisi. Boro-boro revolusi, untuk memikirkan lahirnya partai politik kolektif tanpa dukungan cukong properti dalam tujuh tahun ke depan rasanya sangat-sangat berat (kalau tidak mau dibilang mustahil).

Di tengah segala ketidakmungkinan inilah, gagasan anugerah sebagai truth-event memberi kita landasan bahwa yang natural, yang kodrati sekalipun tidak selalu berarti yang mutlak benar dan karenanya harus diterima seutuhnya. Adalah alamiah bagi manusia untuk tamak, serakah, dan menindas satu sama lain, namun anugerah membuka kemungkinan untuk intervensi dan manipulasi terhadap yang natural, melampaui yang kodrati, bahwa kehidupan lebih besar dari sekedar adapt and adjust. Anugerah sebagai truth-event juga menantang kita untuk militan apabila kita benar-benar menginginkan kebaruan tersebut mewujudnyata di bumi sebagaimana Doa Bapa Kami: ‘Datanglah KerajaanMu di bumi seperti di sorga’.

Aksi Kamisan yang telah berlangsung lebih dari 500 kali di seberang Istana Negara, terlepas dari berbagai kontroversi yang menyertainya, menurut saya adalah gambaran dari militansi subjek truth-event Badiou. Tidak peduli betapapun mustahilnya berharap pemerintah Indonesia menyelesaikan tragedi kemanusiaan secara adil, namun ada militansi yang tak kunjung surut setiap Kamis sore mulai 2007 (setidaknya) sampai tulisan ini terbit, sekalipun tidak ada yang bisa menjamin kapan anugerah itu datang.

Sebagaimana anugerah yang tak terpikirkan itu muncul secara tak terduga sebagai wujud ‘kontingensi yang Ilahi’, hanya militansi dan kesetiaan dari subjek yang mengantisipasi lah yang mampu melihat truth-event untuk kemudian melahirkan sebuah gerakan. Maka, sekalipun untuk saat ini usaha untuk mewujudkan sistem politik alternatif terlihat mustahil, namun upaya penggagasan dan pembentukannya tidak lantas berhenti, malahan upaya ini harus senantiasa diperjuangkan dan diuji dengan kompleksitas sosial di lapangan. Sehingga ketika truth-event itu datang, kita telah siap bergerak.***

 

Penulis adalah aktivis Diskusi Selasaan, sebuah kegiatan diskusi teologi yang diadakan rutin setiap Selasa malam pukul 19:00 WIB di Thamrin Residence

Artikel ini adalah pengembangan dari bedah buku “Criticsm of Heaven: Chapter 7: The Conversion of Slavoj Zizek” karya Roland Boer, pada acara Diskusi Selasaan, Gereja Komunitas Anugerah – Reformed Baptist Salemba.

 

—————-

[1] Penjelasan lengkap tentang psikoanalisis Lacan dapat dibaca pada tautan https://plato.stanford.edu/entries/lacan/

[2] Butler in Žižek 2002, pp. 137–9.

[3] Laclau in Žižek 2002, p. 206.

[4] Žižek 1999, p. 3.

[5] Badiou 2003, p. 2

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus