Mengapa Gereja Harus Membela Buruh dan Petani?

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

GEREJA itu apolitis. Ini merupakan kesimpulan terpendek jika mengamati fenomena kontemporer gereja-gereja di Indonesia. Lembaga ini seolah tercerabut dari kenyataan sosialnya. Suara kenabiannya membisu di hadapan banyak ketidakadilan dan ketimpangan yang kerap terjadi. Jurang kesenjangan ekonomi yang kian menganga seolah tidak pernah mengusik nuraninya. Pemilik modal memasung petani dalam konflik agraria, yang kian hari kian ngeri, dibiarkannya berdarah-darah berjuang sendirian. Apalagi jika mengingat nasib buruh, gereja malah seolah tak mau tahu.

Tentu saja ini sebuah kenyataan pilu. Gereja, sebagai bagian entitas realitas sosial, justru mengasingkan diri dari persoalan habitatnya. Fungsi gereja sebagai garam dan terang dunia (Mat. 5:13-14) ditelantarkan begitu saja.

Tulisan ini diperuntukkan bagi jemaat yang jengah dengan dekadensi gereja. Orang-orang yang sudah jenuh melihat status quo. Umat yang sudah bosan melihat pertengkaran, percekcokan, dan bahkan rebutan uang sebagai ornamen utama gereja. Atau kepada orang-orang yang rasa keadilannya tersinggung ketika melihat “Pendeta naik Alphard, sementara jemaat naik angkot.”

Tulisan ini dipersembahkan kepada seluruh warga gereja yang rindu sebuah perubahan segar. Mereka yang mengidamkan agar gereja mewujudnyatakan kesejatian visi Yesus. Gereja yang tidak hanya mengurusi “paspor transmigrasi” kematian menuju surga “di sana”. Tapi, juga peduli untuk membangun tatanan Kerajaan Surga di sini.

Gereja berdiri di atas batu karang pengakuan mesianik Petrus kepada Yesus (Mat. 16:18). Anak Allah, Sang Firman yang Hidup, suatu kali berjanji akan menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dia bertekad untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan. Ikhtiar-Nya untuk memberikan penglihatan bagi orang-orang buta. Tekad-Nya padu demi pembebasan orang-orang yang tertindas. Hanya dengan cara itulah pemberitaan tahun rahmat Tuhan telah datang menjadi nyata (Luk. 4:18-19). Inilah salah satu prinsip yang memaksa gereja harus menyatakan keberpihakan kepada kelas masyarakat tertindas.

 

Memperjuangkan Keadilan adalah Degup Jantung Kekristenan

Kebenaran dalam tradisi pemikiran Yahudi bukanlah seperangkat abstraksi normatif metafisika. Gerhard von Rad, teolog Perjanjian Lama asal Jerman, mendefinisikan kebenaran dalam tradisi Yahudi dengan sederhana. Kebenaran adalah keadilan (Old Testament Theology, 1975). Itu sebabnya nubuatan tentang mesias bukanlah sebagai raja yang bergelimang harta dan tahta. Mesias adalah Dia yang membawa keadilan Allah turun melingkupi dunia (Yesaya 11:1–9).

Wahyu 21 menggambar imajinasi eskatologis Kristen perdana tentang “langit dan dunia yang baru.” Sebuah kota kudus “yang berhias bagai pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.” Namun, dalam imaji itu dilukiskan bahwa “laut pun tidak ada lagi.” (Wahyu 21:1). Kota yang penuh dengan kemuliaan Allah serta bercahaya seperti permata terindah ternyata kehilangan lautan.

N. T. Wright dalam Evil and Justice (2006) memberi penjelasan tentang ini. Dalam tradisi kuno masyarakat Israel, dimana kebanyakan dari mereka bukanlah pelaut, laut adalah representasi dari evil and chaos. Dari sanalah, segala yang buas, keji, kejam, dan sadis bermunculan.

Daniel 7 bisa jadi bukti pandangan mitologis ini. Ceritanya mengenai penglihatan Daniel. Dihadapannya, empat binatang besar mengerikan muncul tiba-tiba. Sosoknya menakutkan, dahsyat, sangat kuat, bergigi besi, serta pelahap segala yang ada. Dengan brutal, diinjaknya segala yang dilewati (ayat 7). Dari mulutnya keluar perkataan sombong (ayat 11). Semua monster ini, dalam penglihatan Daniel, keluar dari laut (ayat 2).

Jika kembali pada sketsa eskatologis di Wahyu 21, hilangnya laut berarti sirnanya kejahatan. Surga, dalam pemikiran kekristenan perdana, adalah sebuah semesta dimana kezaliman kehilangan daya. Nadi kekristenan berdenyut karena impiannya terhadap tatanan keadilan. Inilah orientasi gerak dan arah juang komunitas Kristen pada mulanya.

 

Yesus dan Visi Kerajaan Allah

Sesungguhnya, seluruh agenda Yesus bersifat teologis-politis, bukan moralis. Skenario perjuangan-Nya bertujuan mengganti tatanan sosial, yang dinilai-Nya, tidak adil. Struktur penindasan, di masa Yesus, dibidani Imperium Romawi. Yesus hadir untuk mengonfrontasi keadaan itu dengan pemerintahan Kerajaan Allah sebagai tandingan. “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga (Matius 6:10).

Untuk memahami pesan Yesus, kita tak bisa mencabut konteks sosio-politik Israel kala itu. Jika dilepaskan, itu persis sama dengan kegagalan kita memahami mengapa 22 orang berlari mengejar satu bola tanpa pernah mengetahui apa itu sepak bola.

Pada masa Yesus, bangsa Israel memang sudah tinggal di tanah sendiri. Namun, kehidupan mereka sama saja seperti bangsa terbuang. Silih berganti banyak kerajaan besar datang menjajah. Awetnya derita membuat mereka bertanya, “Apakah Allah masih setia pada janji-Nya kepada Abraham? Apakah Tuhan masih berniat menjadikan Israel sebagai bangsa besar?” Pertanyaan ini membesarkan janin pengharapan Israel akan kedatangan figur Mesias. Sebuah harapan yang murni politis sekaligus teologis.

Di era Yesus, kata N. T. Wright, agama dan politik berbaur jadi satu (The Meaning of Jesus, 2009). Seluruh peta geopolitik Israel mengarah pada visi perjanjian antara Allah dan leluhurnya. Tuhan berjanji kepada Abraham akan membuat Israel sebagai bangsa yang besar (Kejadian 12:2). Mereka akan menduduki tanah yang melimpah susu dan madunya (Kejadian 3:17). Tuhan bersumpah akan memberikan suatu negeri jadi milik Israel. Yesus pun menggenggam erat perjanjian (covenant) ini. Israel harus jadi bangsa merdeka.

Di tengah konteks penjajahan, Yesus meneriakkan Kerajaan Allah sudah dekat (Markus 1:15). Seruan bahwa ada kerajaan lain di luar Kekaisaran Romawi, jelas merupakan sebuah tindakan subversif. Dalam sejarahnya, istilah “Kerajaan Allah” memang lahir dari rahim pemberontakan. Yudas dari Galilea, pelopor kelompok orang Zelot (Kis. 5:37), disebut sebagai orang yang memopulerkan istilah ini. Dia menginspirasi pemberontakan pada tahun 6 dengan satu motto, “no master but God!” Mereka menolak kedaulatan Kerajaan Romawi dan pemerintahan boneka Herodes. Mereka menampik kerajaan apa pun di dunia, kecuali Kerajaan Allah. Yesus pun berkeyakinan sama.

Sampai di sini, keberpihakan Yesus jelas. Dia menentang segala bentuk penjajahan. Bagi-Nya, itu adalah kejahatan (evil). Jelaslah mengapa Yesus mengajari murid-Nya berdoa, “lepaskanlah kami dari yang jahat karena Engkaulah yang empunya kerajaan” (Mat. 6:13). Kerajaan, ketika Allah memerintah, berarti penindasan tidak akan pernah ada.

 

Yesus Membela Korban Tatanan Curang

Selama di dunia, keberpihakan Yesus kepada mereka yang miskin, lapar, dan menangis kentara terlihat. Yesus berbela rasa kepada mereka. Dia tergerak oleh belas kasihan (Matius 9:36). Bukti pembelaan-Nya muncul ketika Dia menjuluki mereka sebagai orang yang berbahagia (Lukas 6: 20-22).

Apakah Yesus menyetujui penderitaan? Kenapa Dia menyebut mereka sebagai orang bahagia? Sebenarnya, pesan apa yang ingin disampaikan-Nya?

Yesus tentu tidak pernah menyetujui segala bentuk kesengsaraan. Karena penderitaan bukanlah kehendak Allah. Kehadiran-Nya ke dunia justru ingin memberitakan pembebasan tahun rahmat Tuhan telah tiba. Eksploitasi dalam bentuk apa pun harus pergi. Manusia harus merdeka dan bebas menentukan pilihan.

N. T. Wright menyebutkan segala bentuk penderitaan itu ada karena ketidakadilan tatanan (Luke for Everyone, 2004). Yesus melihat akar persoalan itu dan menyerukan revolusi. Imperium Romawi, sebagai kambing hitam, harus ditukar dengan tatanan Kerajaan Allah. Nada sumbang kebiadaban kolonial harus diaransemen ulang dengan nada keadilan. Hanya dengan cara inilah kedamaian baru bisa diwujudkan.

Lalu kemudian dimana letak kebahagiaannya? Sumber kebahagiaan si miskin bukan karena derita itu dispiritualkan. Mata air sukacita itu datang karena Yesus Kristus berpihak membela mereka, korban tatanan curang. Yesus mengatakan mereka berbahagia karena Dia membuka tabir harapan baru. Sebuah narasi tentang kehidupan yang lebih baik dalam naungan Kerajaan Allah: mereka yang lapar akan dikenyangkan; mereka yang menangis akan tertawa; dan mereka yang miskinlah yang empunya Kerajaan Allah.

 

Gereja Harus Membela Buruh dan Petani

Gairah terbesar Yesus Kristus adalah membangun pemerintahan Kerajaan Allah yang berkeadilan. Dengan demikian, jika setiap orang Kristen berusaha menghindari ini, sejatinya mereka telah membuang elemen sentral dari iman kekristenan.

Tatanan Imperium Romawi, di masa Yesus, merusak hampir semua sendi kehidupan bangsa Israel. Pertanyaannya sekarang adalah “Siapakah ‘Imperium Romawi’ yang sedang kita hadapi?” Musuh kita hanya satu: kapitalisme.

Tidak perlu ulasan panjang lebar untuk membuktikan bahwa kapitalisme adalah “laut” sumber evil and chaos. Eksploitasi, yang menjadi syarat utama penimbunan laba, jadi pemicu penindasan. Selain melecehkan manusia sebagai sebatas alat, kapitalisme juga merusak keutuhan ciptaan dengan memperkosa alam membabi buta.

Sekarang, siapakah korban tatanan curang ini? Kelas masyarakat yang paling mudah terdeteksi adalah buruh dan petani. Mereka adalah korban langsung dari imperium kapitalisme. Buruh dihisap tenaganya dalam kerja agar pemodal bisa mendapat laba. Kapitalisme, yang mensyaratkan penguasaan atas ruang, menyingkirkan petani dari tanahnya. Mereka adalah orang yang miskin, lapar, dan menangis. Mereka adalah orang yang rasa keadilannya tersakiti. Kepada merekalah sabda “berbahagia” itu ditujukan. Dalam konteks inilah, inti seruan Injil Kerajaan Surga dari Yesus harus dikumandangkan: keberpihakan kelas!

Tapi, masalahnya adalah Yesus sudah tidak ada lagi di bumi. Kepada siapakah tongkat komitmen visi Kerajaan Allah ini diestafetkan? Siapakah pejuang keadilan yang menggantikan Yesus? Siapakah yang akan membela hak buruh dan petani kini? GEREJA!

Gereja adalah tubuh (1 Korintus 12:27) dan Yesus kepalanya (Kolose 1:18). Artinya Yesus masih ada di tengah dunia melalui gereja. Umat manusia masih bisa melihat Yesus via gereja. Pendeknya visi, tugas, dan tanggung jawab Yesus kini berpindah ke pundak gereja. Gerejalah penerus pekerjaan Yesus.

Gereja harus berani membuka suara kenabian yang selama ini bungkam. Seperti Yesus, gereja harus tegas menyatakan keberpihakan kepada buruh dan petani, sebagai perwakilan masyarakat tertindas. Tidak peduli apa agamanya, gereja harus membela karena di dalam mereka pun ada gambar dan rupa Allah tertanam (Kejadian 1:27). Mereka haus keadilan dan gerejalah yang bertugas mengusir dahaga itu.

Akhirnya kita tiba pada satu kesimpulan: gereja apolitis adalah sebuah pengkhianatan pada Injil Kerajaan Allah. Gereja model ini, sejatinya, sedang menjinakkan wajah Yesus. Dia dilukis tak lebih hanya sebagai sosok moralis, pasifis, cinta damai, dan anti kekerasan. Gereja menjadikan Dia hanya sebatas instrumen keselamatan menuju surga yang entah dimana. Dia terlalu sering dinarasikan sebagai domba lemah tak berdaya di hadapan kecurangan tatanan. Oh, tentu saja, itu bukan Yesus yang aku kenal.

Gereja harus merevolusi diri. Kita harus menyingkirkan segala adat dan paham tua yang membius kesadaran bahwa gereja harus mengasingkan diri dari realitas politik. Buta terburuk, kata Bertolt Brecht, adalah buta politik. Dari kebijakan politik culas lahirlah pelacur di bawah umur, anak tanpa bapak, penjualan manusia, dan semua bentuk pengingkaran asas kemanusiaan. Sikap “netral” gereja sama saja dengan melestarikan penderitaan. Kebisuannya adalah persetujuan terhadap penindasan. Mau sampai kapan gereja tetap diam?**

 

Penulis adalah alumnus Sekolah Tinggi Teologi Bandung


comments powered by Disqus